Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Istrimu, Tapi Bukan Milikmu”
Cessa bangun lebih pagi dari biasanya.
Jam dinding baru menunjukkan pukul lima. Rumah masih sunyi. Tidak ada langkah kaki, tidak ada suara air, tidak ada aroma kopi seperti kemarin. Cessa menatap langit-langit kamar tamu tempat ia tidur sejak pindah ke rumah Benny.
Kamar tamu.
Ia tersenyum tipis.
Sudah hampir dua minggu ia tinggal di rumah ini, tapi posisinya masih sama—tamu yang diberi tempat, bukan istri yang dimiliki.
Cessa bangkit, merapikan tempat tidur, lalu berjalan ke dapur. Ia menyiapkan sarapan sederhana. Nasi goreng, telur, dan teh hangat. Tangannya bergerak cekatan, tapi pikirannya melayang.
Tentang Benny.
Tentang jarak yang selalu ia jaga.
Tentang tatapan Benny yang sering berhenti terlalu lama… lalu buru-buru dialihkan.
Saat meja sudah tertata rapi, Benny muncul dari koridor. Kemeja putih, lengan digulung, rambut masih sedikit basah. Wajahnya tampak lelah.
“Kamu masak?” tanyanya.
“Iya,” jawab Cessa singkat.
Benny duduk. “Kamu nggak perlu repot.”
“Aku mau.”
Benny mengangguk, lalu makan. Tidak ada komentar. Tidak ada pujian. Tidak ada senyum.
Cessa menunggu.
Lima detik.
Sepuluh.
“Rasanya gimana?” akhirnya ia bertanya.
“Enak,” jawab Benny cepat.
Hanya itu.
Cessa menunduk, menyembunyikan raut wajahnya. “Aku ke kampus hari ini.”
Benny berhenti makan. “Jam berapa pulang?”
“Sore.”
“Kabarin.”
Cessa mengangguk.
Ia bangkit, mengambil tas, lalu berdiri sebentar di depan pintu. Menunggu. Entah apa yang ia tunggu.
“Ben,” panggilnya pelan.
“Iya?”
“Kamu… nggak apa-apa?”
Benny menatapnya sekilas. “Kenapa tanya begitu?”
“Karena kamu kelihatan makin jauh.”
Benny terdiam sesaat. “Aku baik-baik saja.”
Jawaban itu seperti tembok.
Cessa tersenyum tipis. “Oke.”
Ia pergi.
Dan rumah kembali sunyi.
Hari itu, Cessa merasa asing di mana-mana.
Di kampus, teman-temannya tertawa, mengobrol, hidup. Cessa ikut tertawa, ikut bercanda, tapi rasanya hampa. Kepalanya terlalu penuh oleh satu nama.
Benny.
Saat istirahat, Raka duduk di seberangnya. “Kamu kelihatan capek.”
“Aku baik,” jawab Cessa otomatis.
“Kalau kenapa-kenapa, bilang,” lanjut Raka. “Kamu nggak sendirian.”
Kalimat itu membuat dada Cessa menghangat… sekaligus perih.
Ia tersenyum. “Makasih.”
Dari kejauhan, seorang karyawan Benny yang kebetulan menjemput klien melihat mereka. Tanpa sadar, foto diambil. Bukan untuk jahat—sekadar iseng.
Namun sore itu, foto itu sampai ke ponsel Benny.
Cessa duduk berhadapan dengan pria lain. Tertawa.
Benny menatap layar lama.
Dadanya panas. Tangannya mengepal.
“Siapa ini?” gumamnya.
Sekretaris berdiri di depan meja. “Teman kuliah Nona Cessa, Pak.”
“Kenapa dia dekat?” suara Benny dingin.
“Sepertinya biasa saja, Pak.”
Biasa saja.
Benny menghela napas kasar. Ia mengusir sekretarisnya, lalu berdiri. Mengambil kunci mobil. Pulang lebih cepat.
Cessa baru saja sampai rumah ketika pintu terbuka keras.
Benny masuk dengan wajah tegang.
“Kamu dari mana?” tanyanya langsung.
“Kampus.”
“Dengan siapa?”
Cessa menoleh cepat. “Kenapa nadanya begitu?”
“Jawab.”
“Dengan teman.”
“Yang cowok itu?”
Cessa membeku. “Kamu ngikutin aku?”
“Jawab, Cessa.”
“Iya,” jawabnya akhirnya. “Kenapa?”
Benny mengusap wajahnya. “Jaga jarak.”
Cessa tertawa kecil, pahit. “Lagi-lagi itu.”
“Ini demi kebaikan.”
“Untuk siapa?” suara Cessa meninggi. “Aku nggak pernah pegang siapa-siapa. Aku cuma duduk dan ketawa.”
“Orang lain bisa salah paham.”
“Terus aku harus ngapain?” Cessa menantang. “Diem di rumah? Nunggu kamu pulang?”
“Jangan memutarbalikkan.”
“Yang muter itu kamu!” mata Cessa berkaca-kaca. “Kamu protektif, tapi nggak mau mengakui apa-apa.”
Benny terdiam.
“Aku istrimu, Ben,” lanjut Cessa pelan. “Tapi aku bukan milikmu.”
Kata-kata itu jatuh pelan… tapi menghantam keras.
Benny memalingkan wajah. “Kita punya kesepakatan.”
“Iya,” Cessa mengangguk. “Dan aku menepatinya.”
Ia menghela napas panjang. “Tapi aku juga manusia. Aku capek mencintai sendirian.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Benny ingin mengatakan sesuatu. Apa saja. Tapi tidak ada satu pun yang keluar.
Cessa tersenyum lemah. “Tenang. Aku nggak akan maksa lagi.”
Ia berjalan menuju kamar tamu. Berhenti di depan pintu. “Mulai hari ini… aku jaga jarak.”
Pintu tertutup.
Dan kali ini, Benny tidak mengejarnya.
Ia berdiri sendiri di ruang tengah. Dadanya terasa sesak. Tangannya gemetar.
Ia menyadari satu hal yang terlambat:
Saat Cessa berhenti mengejar, rumah itu terasa jauh lebih dingin.
Cessa memilih diam.
Dan Benny baru sadar—keheningan itu jauh lebih menyakitkan daripada pertengkaran.