Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Sudah pukul sepuluh malam ketika Viola sampai di rumah. Ia membawa es krim sesuai dengan janjinya pada Vita. Tetapi, Vita sudah terlanjur kecewa sebab mamanya ingkar janji.
"Maafin Mama, ya?" bujuk Viola. Vita mengabaikan permintaan maaf mamanya. Meskipun ia baru berusia empat tahun, namun ia sudah memahami rasa kecewanya.
"Mama bawain es krim. Vita boleh kok makan es krimnya sekarang," ucap Viola lagi. Dan tidak digubris.
Tidak menangis keras, Vita hanya diam. Sama sekali tidak merespon perkataan Viola. Sikap itu yang dia tunjukkan jika merasa sangat kecewa.
Viola menghela napas. "Yaudah kalau nggak mau makan es krimnya sekarang, mama simpan di kulkas, ya?"
Vita tidak menjawab. Ia berbaring menyamping menghadap tembok dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Mama tadi disuruh lembur dadakan, makanya gak bisa penuhin janji pulang sore. Maafin Mama, ya? Mama kan masih baru, jadi harus nurut kalau disuruh lembur, biar mama gak dipecat," tutur Viola. Biarpun Vita masih kecil, namun Viola selalu memberikan penjelasan yang apa adanya. Baginya, itu adalah salah satu cara untuk menghargai kehadiran Vita.
Karena waktu sudah semakin malam, maka Viola memutuskan untuk ikut tidur si samping Vita. Menemani balita itu hingga terlelap. Ia sendiri tidak bisa tidur. Matanya seolah enggan terpejam. Pikirannya sibuk dipenuhi oleh kejadian dua hari ini yang mengingatkannya pada kepingan kenangan masa lalu.
Saat Rasta masih menjadi suaminya. Saat ia mempersiapkan kejutan berupa kehamilannya, namun Rasta malah membalasnya dengan kemarahan dan tuduhan perselingkuhan.
Ketika Rasta mengusirnya dalam keadaan hamil, Viola bertekad untuk benar-benar menghilang dari hidup Rasta. Ia berharap tidak akan pernah bertemu dengannya lagi, dan biar saja Rasta tak usah mengenal Vita.
Tapi mengapa, semesta kembali mempertemukan mereka lagi setelah lima tahun berlalu?
Rasta masih sama. Ia membenci Viola, dan tetap menganggap Viola sebagai pengkhianat.
Tidak! Viola tidak tahan terus-terusan berada di dekat Rasta yang sangat membencinya. Secepatnya, Viola harus menjauh.
Ia membuka ponselnya, mengecek sisa tabungan yang tersimpan di rekeningnya.
"Huft ... Tabungan tinggal dikit gara-gara aku nganggur kemarin selama dua minggu. Nggak cukup untuk modal pindah kota."
Bertemu kembali dengan Rasta membuat Viola berpikir untuk menjual rumah ibunya dan pindah ke luar kota. Tapi, keadaannya tidak memungkinkan.
Satu-satunya cara untuk menghindar dari Rasta adalah dengan berhenti bekerja di restorannya. Dan itu tidak bisa Viola lakukan dalam waktu dekat, karena ia sedang membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidup.
*
Melihat Viola menderita nampaknya menjadi hiburan tersendiri bagi Rasta. Kerjaannya sehari-hari hanya untuk mengawasi Viola, ia akan memberikan perintah untuk melakukan ini, itu, jika melihat wanita itu sedang tidak ada kerjaan.
Acap kali bicara dengan Viola, nada suaranya selalu tajam dan ketus. Tak jarang, Rasta sengaja mencari-cari kesalahan Viola, lalu kemudian akan memarahinya.
"Vi, kamu disuruh nganterin makan siangnya Pak Rasta ke ruangannya," suruh Gia siang itu.
"Iya, Mbak Gia," Viola mengangguk. Nampan berisi makanan dan minuman untuk Rasta sudah ada yang menyiapkan. Viola hanya perlu mengantarnya ke ruangannya Rasta yang ada di lantai atas.
Sebelum memasuki ruangan itu, ia mengetuk pintu. Baru akan membuka pintu setelah ada sahutan dari penghuni di dalamnya. Viola meletakkan nampan di atas meja, di hadapan pria dingin itu.
"Makan siangnya, Pak Rasta," ucapnya dengan setengah hati, terpaksa.
"Kurang sopan!" komentar Rasta, suaranya tetap dingin.
Viola mengernyit. "Maksud anda?"
"Kamu kalau menyajikan makanan untuk bos kamu, suaranya yang lembut, harus sambil senyum, kepalanya ditundukin, tunjukkan rasa hormat kamu!" suruh Rasta.
Viola memejam sesaat. "Maaf."
"Ulangi!"
Ingin rasanya Viola menampar wajah Rasta dengan nampan yang kembali ia angkat.
"Ulangi dari pertama kamu masuk ke dalam ruangan saya."
Viola menatap Rasta, tanpa berkata-kata tetapi matanya mengatakan protes. Yang benar saja?
"Ayo!" Rasta mendesak.
Viola menurut, meski hatinya dongkol luar bisa. Ia mengulangi adegan yang sama dengan beberapa menit yang lalu. Masuk ke dalam ruangannya Rasta, kali ini sambil tersenyum, tundukan kepala, dan meletakkan nampan dengan lebih sopan.
Dan berkata dengan suara yang jauh lebih lembut, "Makan siangnya, Pak Rasta, silakan."
Rasta menarik sudut bibirnya, tersenyum puas. Ia suka saat melihat Viola tertindas dan terintimidasi seperti ini.
"Mulai hari ini dan seterusnya, saya mau kamu yang membawakan makan siang saya dan harus seperti tadi, seperti yang saya mau," tukas Rasta. "Kamu ngerti?" tanyanya dengan kedua alis terangkat.
Viola menelan ludah, lalu mengangguk. "Baik."
"Jangan lupa sebelum lanjut kerja lagi, rapikan rambut kamu. Rambut kamu sebagian ada yang keluar dari ikatan, dilihatnya tidak sopan," sambung Rasta lagi.
Anggukan kepala yang Viola berikan diiringi dengan geraman tersembunyi di dalam hatinya. Rasta telah berubah total semenjak hari itu. Tak ada lagi Rasta yang penuh kelembutan dan kasih sayang.
Tadinya, Rasta ingin menyuruh Viola untuk kembali ke bawah, namun tiba-tiba ia mendapatkan ide lain.
"Duduk di depan saya, tungguin saya sampai selesai makan."
"Apa?" Viola terhenyak.
"Kamu nggak dengar? Apa perintah saya kurang jelas?" Rasta menaikkan sebelah alisnya.
Viola menghembuskan napas sebelum akhirnya menarik kursi yang ada di hadapan Rasta. Ia duduk di sana, diam, menunduk, sementara Rasta mulai memakan makanannya sambil menatap Viola.
Dering ponsel tiba-tiba memecah keheningan. Rasta dan Viola saling tatap sesaat. Rasta refleks mendengkus kesal.
"Maaf, Pak, saya lupa tidak mengaktifkan mode silent," rutuk Viola. Ia segera merogoh ponselnya dari saku celana, membaca sekilas nama ibunya yang terpampang di layar, namun Viola menolak panggilan itu.
"Hadeehh, aturannya kalau lagi kerja itu hapenya dinonaktifkan. Gimana kalau hape kamu bunyi di depan pelanggan? Kan nggak sopan!" omel Rasta.
"Saya minta maaf."
"Dihukum!"
Viola mendongak, matanya melebar penuh.
"Lembur sampai malam lagi!"
Sial! Sial! Sial! Hanya perkara ponsel berdering di depan Rasta pun, Viola kena hukum. Lalu, bagaimna dengan karyawan lain yang dengan bebas memainkan ponselnya di sela-sela jam kerja? Mereka aman, Rasta tidak memberikan hukuman lembur.
*
"Vi, kok lo lama banget sih? Ngapain aja di ruangannya Pak Rasta?" cecar Widia begitu melihat Viola kembali dari ruangannya Rasta sambil membawa piring kotor.
Viola pergi ke belakang, tempat menyimpan piring kotor, wajahnya datar. Widia mengikutinya.
"Kenapa? Kok ditanya diem aja sih?" tanya Widia lagi. Dia adalah yang paling dekat dengan Viola, meski mereka baru berteman selama satu minggu.
"Heh, lo nggak diapa-apain, kan, sama Pak Rasta?" Widia memutar tubuh Viola. Ia menatap lekat, barulah ia sadari ada cairan bening yang tertahan di kedua matanya.
Widia semakin curiga. Ia yakin Rasta sudah melakukan sesuatu yang buruk terhadap Viola.
"Wid, gue ... Nggak betah."
Widia menarik Viola menjauh. Lebih ke belakang, di tempat yang lebih sepi.
"Lo diapain sama Pak Rasta?" tanya Widia. "Gue rasa lo ada sesuatu sama Pak Rasta. Sebenarnya ada apa, Vi?"
Kali ini Viola benar-benar menangis. "Dia mantan suami gue, Wid."
Dan hari itu, Viola menceritakan semuanya, Widia tahu segalanya.
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu