NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:38
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

API YANG BERSAING DENGAN AIR

Pagi itu datang dengan suara mesin pabrik besi dan baja yang menggonggong seperti kuda besar yang siap bekerja. Bunyinya berbeda dari pabrik makanan ringan Murni – lebih dalam, lebih kuat, seperti denyut jantung dunia industri yang bergerak tanpa henti. Dari jendela ruang istirahat pabriknya, Murni bisa melihat area pabrik tetangga yang dikelilingi oleh asap putih yang seperti awan kecil yang terjebak di dekat tanah, dan beberapa pekerja yang mengenakan helm besi seperti prajurit yang siap menghadapi medan perang besi.

Salah satu dari mereka adalah Khem – seorang teknisi yang tinggi badannya seperti tiang pancang yang tegak lurus, wajahnya sedikit kemerahan karena sering terpapar panas dari mesin, dan tangannya penuh dengan bekas luka kecil seperti peta dari setiap perbaikan yang dia lakukan. Dia sering muncul di area persimpangan jalan antara dua pabrik saat jam istirahat, duduk di bawah pohon beringin yang seperti payung besar yang memberikan naungan bagi siapa saja yang datang.

Pertemuan pertama mereka terjadi ketika Murni secara tidak sengaja menjatuhkan bungkusan makan siang yang dibungkus daun pisang seperti bunga yang terjatuh dari tangkai. Isinya yang berantakan seperti kehidupan yang tiba-tiba terganggu, tapi sebelum dia bisa membersihkannya, Khem sudah datang dengan kain lap yang seperti pelampiasan dari orang yang peduli. "Jangan khawatir," katanya dengan suara yang dalam seperti getaran dari mesin yang dia rawat, "daun pisang itu kuat, sebagian masih bisa dimakan kok."

Sejak itu, mereka sering bertemu di bawah pohon beringin itu seperti dua benda yang secara alami tertarik satu sama lain. Khem menceritakan tentang dunia besi dan baja yang dia geluti – bagaimana besi yang keras seperti hati yang tidak bisa diluluhkan bisa menjadi lembut seperti lilin jika dipanaskan dengan benar, bagaimana baja yang kokoh seperti pagar yang tidak bisa ditembus bisa dibentuk menjadi berbagai benda yang berguna seperti perahu yang membawa orang menyeberangi sungai. Ceritanya seperti cerita tentang kekuatan dan kelenturan yang ada dalam hidup.

Murni pun bercerita tentang dirinya – tentang kampung yang jauh seperti mimpi yang selalu ada di balik mata, tentang kuliah yang harus ditinggalkan seperti jalan yang harus ditinggalkan di tengah jalan, tentang pekerjaannya yang membuatnya merasa seperti bagian dari rantai yang menghubungkan banyak orang. Khem mendengarkan dengan penuh perhatian seperti mesin yang berjalan stabil untuk menangkap setiap sinyal, matanya yang hangat seperti panas dari besi yang baru saja dipanaskan, membuat Murni merasa seperti cerita yang layak untuk didengar.

"Kamu seperti air yang mengalir lembut," ucap Khem suatu hari, sambil memegang botol air yang dingin seperti kesejukan di tengah panas pabrik. "Sedangkan aku seperti api yang membakar dengan kuat – kita berbeda tapi bisa saling melengkapi. Air bisa membekukan api yang terlalu besar, dan api bisa menghangatkan air yang terlalu dingin." Murni tersenyum, rasanya seperti gula yang larut di dalam teh, hangat dan manis. Dia mulai melihat Khem bukan hanya sebagai teknisi pabrik tetangga, tapi sebagai orang yang melihat dirinya bukan dari apa yang dia miliki, tapi dari apa yang dia lakukan.

Kemarin datang dengan kejutan yang seperti percikan api yang tiba-tiba menyala. Khem mengajak Murni mengunjungi bengkel kecilnya di belakang pabrik – sebuah ruangan yang penuh dengan alat-alat seperti tulang dan otot dari dunia industri, dan beberapa karya kecil yang dibuatnya dari besi dan baja. Ada sebuah patung kecil berbentuk burung yang sayapnya terbuka lebar seperti harapan yang siap terbang, dibuat dari serpihan besi yang dulunya dianggap tidak berguna seperti hal-hal yang sering diabaikan tapi bisa menjadi indah.

"Ini untukmu," katanya sambil memberikan patung itu. "Kamu bilang kamu merasa seperti daun yang jatuh untuk menyuburkan hidup baru – nah, burung ini adalah untuk mengingatkanmu bahwa kamu juga bisa terbang lagi. Besi bisa jadi keras, tapi jika kita tahu cara membentuknya, bisa jadi sesuatu yang indah dan kuat." Murni menerima patung itu dengan tangan yang sedikit gemetar seperti angin yang menyentuh daun lembut, rasanya seperti mimpi yang tiba-tiba menjadi nyata.

Mereka mulai menghabiskan waktu bersama setelah jam kerja – berjalan di sepanjang jalan raya pinggiran kota yang sepi seperti jalan hidup yang baru saja ditemukan, makan makanan di warung kecil yang makanan nya sederhana tapi penuh rasa seperti hidup yang tidak perlu banyak hal untuk bahagia, atau hanya duduk diam melihat langit yang mulai gelap seperti waktu yang diberikan untuk merenung. Khem tidak pernah memaksakan diri masuk ke dalam kehidupan Murni seperti orang yang mendorong pintu yang belum siap terbuka, dia hanya ada seperti cahaya yang menyala lembut di sudut kamar yang gelap.

Saat hubungan mereka semakin dalam seperti akar yang meresap ke dalam tanah, Murni mulai melihat dunia dengan cara yang baru. Khem mengajarkannya bahwa kekuatan tidak selalu datang dari kemampuan untuk berdiri tegak seperti pohon yang tinggi, tapi juga dari kemampuan untuk membengkok dan kembali tegak seperti besi yang lentur. Murni pun mengajarkan Khem bahwa kelembutan tidak selalu berarti lemah seperti daun yang mudah roboh, tapi bisa jadi kekuatan yang membuat hubungan menjadi kuat seperti air yang menyatukan tanah menjadi lumpur yang kokoh.

"Kita seperti pabrik makanan dan pabrik besi," ujar Murni suatu malam, sambil melihat dua pabrik yang berdampingan seperti dua teman yang saling mendukung. "Kamu membuat benda-benda yang kokoh untuk membangun dunia, aku membuat makanan untuk memberi energi pada orang-orang yang membangunnya. Kita berbeda tapi sama-sama penting." Khem mengangguk, tangannya menyentuh wajah Murni dengan lembut seperti sentuhan dari tangan yang biasa menangani besi tapi tahu cara menyentuh hal yang lembut.

Murni merasa bahwa hati yang dulu seperti tanah yang rusak akibat kekeringan mulai kembali subur seperti tanah yang terkena hujan penyegar. Khem bukanlah pengganti Joko – mereka adalah dua jenis tanah yang berbeda yang bisa membuat tanaman tumbuh dengan cara yang berbeda. Murni mulai menyadari bahwa cinta bisa datang lagi dengan bentuk yang tidak terduga seperti hujan yang datang ketika kita tidak membawa payung, tapi membawa kebahagiaan yang lebih besar dari yang pernah dibayangkan.

Di malam hari, Murni meletakkan patung burung besi di atas meja kecilnya, di samping foto teman-teman kuliahnya dan surat yang pernah dia kirim ke Joko. Patung itu bersinar di bawah cahaya lampu seperti bintang kecil yang ada di dalam kamar, mengingatkannya bahwa dalam hidup, kita bisa menjadi seperti besi – dipanaskan, dibentuk, dan akhirnya menjadi sesuatu yang lebih kuat dan indah dari sebelumnya.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Kemarin itu, Khem datang dengan tangan yang tersembunyi di belakang punggungnya, wajahnya seperti matahari pagi yang menyembunyikan diri di balik awan putih. "Ada sesuatu yang ingin kubagikan," katanya dengan suara yang lebih lembut dari biasanya, seperti getaran mesin yang sudah disetel dengan sempurna agar tidak terlalu keras. Murni duduk di tepi kasurnya, tangan menyentuh patung burung besi yang masih hangat seperti kenangan tentang hari itu.

Ketika Khem mengeluarkan tangannya, di dalamnya ada sebuah kalung kecil yang rantainya dibuat dari serpihan baja yang dibentuk melengkung seperti gelombang kecil yang mengalir di permukaan air. Pada ujung rantai itu tergantung sebuah liontin berbentuk hati yang dibuat dari besi yang dipoles hingga mengkilap seperti mata yang bersinar di malam hari. "Aku membuatnya sendiri," katanya dengan sedikit merah di pipinya seperti matahari yang baru mulai menyinari langit. "Besi itu bisa jadi keras, tapi aku ingin membuktikan bahwa dia juga bisa jadi halus dan indah – seperti kamu yang kuat tapi memiliki hati yang lembut."

Murni menerima kalung itu dengan tangan yang gemetar seperti daun yang terkena hembusan angin lembut, rasa haru yang muncul seperti air mata yang menyiram tanah setelah musim kemarau panjang. Khem membantu dia memasangkannya di leher – sentuhan tangannya yang kasar tapi hati-hati seperti tukang yang sedang menyelesaikan karya terbaiknya. Ketika liontin itu menyentuh kulitnya, rasanya seperti kehangatan yang meresap ke dalam setiap bagian tubuhnya, mengingatkannya bahwa dia tidak sendirian lagi.

Sejak itu, kebersamaan mereka semakin erat seperti besi yang sudah dilebur dan menyatu menjadi satu. Khem adalah orang yang romantis dengan cara yang sederhana seperti matahari yang menghangatkan tanpa perlu berkata-kata. Setiap pagi, dia selalu meninggalkan catatan kecil yang ditulis di atas potongan besi yang sudah dipoles halus seperti kertas emas – "Hari ini akan lebih baik dari kemarin, seperti besi yang semakin kuat setelah dipanaskan", atau "Kamu adalah energi yang membuat mesin hidupku tetap berjalan".

Suatu akhir pekan, Khem mengajak Murni pergi ke tempat yang dia sebut sebagai "tempat ajaib di tengah kota". Mereka naik ojek yang melaju seperti kuda yang berlari melewati hamparan padang, hingga tiba di sebuah lahan kosong yang dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi seperti oasis di tengah gurun beton. Di sana, Khem telah menyiapkan hamparan kain putih di atas rumput yang tumbuh liar seperti kasur alami yang disiapkan untuk mereka berdua.

Di tengah hamparan kain itu ada keranjang makanan yang diisi dengan makanan kesukaan Murni – nasi bakar yang dibungkus daun pisang seperti hadiah yang disembunyikan dengan cinta, tahu isi yang lembut seperti hati Khem, dan buah-buahan segar yang warna-warni seperti pelangi yang turun ke bumi. Di sebelahnya ada sebuah lilin kecil yang bentuknya seperti bunga yang sedang mekar, dan di sekitarnya Khem telah menaruh beberapa lilin kecil lainnya yang seperti bintang-bintang yang jatuh ke tanah.

"Kota itu seringkali seperti tempat yang tidak punya waktu untuk keindahan," ucap Khem sambil menyalakan lilin-lilin itu saat matahari mulai terbenam seperti bola api yang perlahan tenggelam ke bawah cakrawala. "Tapi aku ingin menunjukkan bahwa keindahan bisa ada di mana saja – bahkan di lahan kosong di tengah kota, bahkan dari besi yang dianggap kasar, bahkan dalam hidup yang penuh dengan kerja keras dan kesulitan." Cahaya lilin itu menerangi wajah mereka seperti cahaya yang menerangi jalan di tengah kegelapan.

Mereka makan sambil melihat langit yang mulai berubah warna seperti kain yang dicelup ke dalam berbagai warna pewarna. Khem menceritakan tentang impiannya – ingin membuka bengkel kecil yang membuat karya seni dari besi dan baja seperti menjadikan barang bekas menjadi permata yang berharga. "Setiap potongan besi memiliki cerita sendiri," katanya dengan mata yang bersinar seperti bintang yang sedang bersinar terang. "Aku hanya membantu mereka menunjukkan cerita itu dalam bentuk yang indah."

Murni bercerita tentang impiannya yang masih menyala seperti api yang tidak pernah padam – ingin melanjutkan kuliah dan akhirnya membangun sekolah di kampungnya seperti menanam pohon besar yang akan memberikan naungan bagi banyak anak-anak. Khem mendengarkan dengan penuh perhatian seperti mesin yang siap menangkap setiap detail penting, kemudian berkata, "Kita bisa mewujudkannya bersama. Aku akan bekerja keras untuk menyimpan uang, kamu bisa mencari kesempatan untuk melanjutkan kuliah di malam hari atau hari libur. Kita seperti dua bagian dari satu mesin – saling mendukung agar bisa berjalan dengan baik."

Saat malam semakin larut dan udara menjadi dingin seperti kain tipis yang menutupi tubuh, Khem memberikan jaketnya yang berbau seperti minyak mesin dan kayu bakar – sebuah bau yang dulu Murni anggap asing, tapi kini terasa seperti bau rumah yang nyaman. Mereka duduk berpelukan seperti dua pohon yang tumbuh berdampingan, saling memberikan kekuatan seperti besi yang diberi dukungan agar tidak roboh.

Kemudian Khem mengambil gitar kuno yang dia bawa seperti teman lama yang selalu ada di sisi nya, memetik nada-nada yang lembut seperti gemericik air sungai yang mengalir tenang. Dia menyanyikan lagu yang dia ciptakan sendiri – lagu tentang cinta yang tumbuh di tengah dunia industri seperti bunga yang tumbuh di celah antara batu-batu besar. Liriknya seperti pesan yang disampaikan langsung ke hati Murni, menceritakan tentang seorang gadis yang kuat seperti tanah yang menopang semua tanaman, dan seorang pria yang mencintainya seperti api yang menghangatkan tanpa pernah membakar.

Murni menyanyi bersama dengan suaranya yang lembut seperti angin yang menyanyi bersama dedaunan, dan suara mereka bersatu seperti air dan api yang menemukan cara untuk hidup berdampingan. Di saat itu, Murni merasa bahwa dirinya telah menemukan sesuatu yang sesungguhnya berharga – cinta yang tidak hanya indah seperti bunga yang mekar di musim semi, tapi juga kuat seperti besi yang telah melalui proses peleburan dan pembentukan.

Ketika mereka pulang dengan tangan saling memegang seperti dua benang yang terjalin menjadi satu, Murni melihat kalung besi di lehernya yang bersinar di bawah cahaya lampu jalan seperti bintang kecil yang selalu mengikutinya. Dia merasakan bahwa dirinya seperti besi yang sedang dalam proses pembentukan – dipanaskan oleh cinta dan perhatian Khem, dibentuk oleh pengalaman hidup yang penuh tantangan, dan akan segera menjadi sesuatu yang lebih kuat dan indah dari sebelumnya.

"Besok kita akan pergi ke perpustakaan kota," ucap Khem sambil mencium dahi Murni seperti pemberkatan yang diberikan sebelum hari baru dimulai. "Aku akan membantu kamu mencari informasi tentang kuliah secara daring atau kelas malam. Kita tidak akan pernah berhenti berusaha – karena besi yang baik tidak pernah menyerah hanya karena proses pembentukannya sulit." Murni tersenyum, rasa harapan yang muncul di hatinya seperti matahari yang muncul setelah malam yang panjang dan dingin.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Kemudian hari, kabar tentang mereka berdua seperti angin yang menyebar ke seluruh hamparan sawah – menyentuh setiap sudut dua pabrik yang berdampingan. Pak Slamet melihat mereka berjalan bersama di antara dua pabrik saat jam istirahat, dan tersenyum seperti ayah yang melihat anaknya menemukan kebahagiaan. "Kalian seperti pasangan roda yang pas satu sama lain," katanya sambil menepuk bahu Khem. "Jaga dia baik-baik ya, anak muda – dia seperti beras terbaik yang butuh tangan yang hati-hati untuk dirawat."

Ibu Yanti bahkan menyediakan makanan khusus untuk mereka berdua – nasi gudeg yang rasa nya kaya seperti hidup yang penuh dengan makna, dengan telur balado yang pedas seperti semangat cinta yang membara. "Pasangan yang baik itu seperti bumbu dan makanan," ucapnya dengan senyum hangat seperti matahari sore. "Saling melengkapi rasa, membuat hidup jadi lebih nikmat." Bahkan rekan kerja Khem di pabrik besi dan baja mulai menyebut mereka sebagai "pasangan idaman pabrik" – dua orang yang datang dari dunia yang berbeda tapi menyatu dengan cara yang indah seperti besi yang dilebur dengan logam lain untuk membuat baja yang lebih kuat.

Khem dan Murni memang menjadi pasangan yang dicintai semua orang. Di pagi hari, mereka selalu bertemu di bawah pohon beringin yang sudah seperti tempat pertemuan resmi mereka, berbagi makanan pagi yang Murni siapkan dengan cinta seperti persediaan energi untuk menghadapi hari. Khem selalu membawa termos kopi hangat yang dia panaskan menggunakan mesin kecil di bengkelnya – rasanya pahit tapi hangat seperti hidup yang penuh dengan tantangan tapi tetap menyenangkan.

Suatu hari, kepala pabrik makanan ringan memanggil Murni ke kantornya. Ruangan kantor yang dingin seperti wadah es kini terasa hangat karena senyum kepala pabrik yang seperti matahari yang menyinari ruangan. "Kamu adalah pekerja yang sangat baik," katanya sambil memberikan amplop berisi bonus. "Kita melihat bagaimana kamu bekerja keras dan selalu membantu rekan kerja. Dan kami juga melihat bagaimana kamu dan teknisi dari pabrik tetangga saling mendukung satu sama lain – itu seperti energi positif yang menyebar ke seluruh pabrik."

Dengan bonus itu, mereka memutuskan untuk membeli sepeda motor bekas yang masih baik seperti kuda yang bisa membawa mereka menjelajahi dunia. Malam itu, mereka mengendarainya keliling kota yang mulai terang benderang seperti kota yang sedang berpesta. Mereka berhenti di atas jembatan yang melintasi sungai besar yang mengalir seperti nadi kehidupan kota, melihat lampu-lampu kota yang memantul di permukaan air seperti bintang-bintang yang jatuh ke dalam sungai.

"Kita seperti dua kapal yang akhirnya menemukan arah yang sama," ucap Khem sambil memeluk pinggang Murni dari belakang. "Aku pernah merasa seperti besi yang hanya berguna untuk dibentuk jadi sesuatu yang keras dan kasar. Tapi kamu membuat aku menyadari bahwa besi juga bisa jadi halus, bisa jadi sesuatu yang indah – bahkan bisa jadi kalung yang kamu kenakan di lehermu." Murni membalik badan dan memeluknya erat seperti tanah yang memeluk akar pohon, "Dan kamu membuat aku menyadari bahwa aku bukan hanya daun yang jatuh – aku bisa jadi bagian dari pohon yang kuat, dengan akar yang kokoh karena ada kamu yang menopangnya."

Mereka berjanji satu sama lain di atas jembatan itu – bukan dengan kata-kata yang megah seperti pujian yang terlalu berlebihan, tapi dengan janji sederhana seperti janji yang dibuat oleh orang-orang yang benar-benar mencintai satu sama lain. "Kita akan selalu bersama, lewat suka maupun duka," ucap Khem sambil mengangkat tangan Murni yang mengenakan cincin kecil dari baja yang dia buat sendiri. "Seperti besi yang tidak akan pernah patah meskipun terkena tekanan besar." Murni mengangguk, matanya penuh dengan air mata bahagia seperti hujan yang menyirami bunga yang sedang mekar.

Keesokan harinya, mereka mulai merencanakan masa depan dengan serius seperti tukang yang merencanakan pembangunan rumah. Khem akan memperluas bengkelnya dengan menambahkan alat-alat baru seperti tentara yang menambah pasukan untuk perang yang akan datang, sementara Murni akan mendaftar ke kelas kuliah malam di universitas dekat kota – kuliah ekonomi pembangunan yang sesuai dengan impiannya untuk membangun sekolah di kampung. Mereka menyimpan uang bersama di sebuah tabungan yang mereka sebut sebagai "tabungan impian" – setiap uang yang masuk seperti batu bata yang digunakan untuk membangun rumah masa depan.

Di antara pekerjaan dan persiapan kuliah, mereka tetap menemukan waktu untuk kebersamaan yang penuh cinta. Khem sering membuat karya kecil dari besi dan baja untuk Murni – sebuah tempat pensil yang bentuknya seperti bunga yang selalu berdiri tegak, sebuah tempat telepon yang seperti tugu yang menjaga komunikasi, bahkan sebuah rak buku yang seperti jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan. Murni pun membuat makanan khusus untuk Khem – kue bolu yang lembut seperti hati nya, keripik singkong yang renyah seperti kenangan masa kecil Khem yang dia ceritakan.

Mereka menjadi contoh bagi banyak orang di sekitarnya – bahwa cinta bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tengah kebisingan dan panas pabrik, bahkan antara dua orang yang datang dari dunia yang berbeda. Rekan kerja mereka mulai melihat bahwa kerja keras dan cinta bisa berjalan berdampingan seperti matahari dan bulan yang bergantian menerangi dunia. Bahkan pemilik kedua pabrik mulai berbicara tentang kerja sama antara pabrik makanan ringan dan pabrik besi & baja – sebuah ide yang muncul seperti bunga yang tumbuh dari benih cinta yang ditanamkan Khem dan Murni.

Saat malam tiba dan mereka berbaring bersandar di bahu masing-masing seperti dua benda yang pas satu sama lain, Murni melihat patung burung besi di atas meja dan kalung di lehernya yang bersinar seperti bintang-bintang yang selalu mengikutinya. Dia merasakan bahwa dirinya telah menemukan apa yang dicarinya – bukan hanya cinta, tapi juga seseorang yang mengerti impiannya, seseorang yang mau tumbuh bersama seperti besi yang dipanaskan dan dibentuk menjadi sesuatu yang lebih baik.

"Besok kita akan pergi ke perpustakaan untuk mencari buku tentang pendidikan di daerah pedesaan," bisik Khem dengan suara yang lembut seperti nyanyian anak-anak yang sedang tidur. "Kita akan merencanakan langkah demi langkah untuk mewujudkan impianmu. Karena impianmu juga menjadi impian ku sekarang." Murni tersenyum, merasakan rasa damai yang seperti laut yang tenang setelah badai berlalu. Pasangan kekasih idaman dari dua pabrik itu tertidur dengan senyum di wajah mereka – yakin bahwa masa depan mereka akan seperti besi yang telah melalui proses pembentukan – kuat, indah, dan siap menghadapi segala hal yang akan datang.

 

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!