"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 5 - Persiapan dan Pertemuan Kedua
Malam hari, Maura sedang asyik bersantai di apartemen kecilnya. Tiba-tiba, Email masuk yang ditandai dengan notifikasi berbunyi singkat, tapi cukup membuat alisnya berkerut.
From: Sekretariat Setya Pradana
Subject: Konfirmasi Pertemuan Kedua
Maura meletakkan cangkirnya perlahan, lalu membuka email itu dengan jantung yang entah kenapa berdetak lebih cepat.
“Selamat pagi, Ibu Maura.
Atas nama Bapak Setya Pradana, kami mengonfirmasi pertemuan lanjutan yang diminta beliau.
Waktu: Selasa, pukul 19.00
Tempat: *Le Ciel Restaurant*
Mohon kehadiran Ibu tepat waktu.
Hormat kami, Sekretaris Pribadi”
Maura membaca ulang isi email itu tiga kali.
“Restoran? Bukan kantor?” gumamnya pelan.
Maura menyandarkan punggung ke kursi, menatap layar laptop dengan tatapan kosong. Ada sensasi aneh menjalar di dadanya campuran panik, curiga, dan sesuatu yang tidak mau ia akui.
“Ini pertemuan apa sebenarnya?” bisiknya.
Ia mengambil ponsel, hampir saja menelepon pihak rektorat, lalu mengurungkan niatnya. Apa yang akan ia katakan? Bahwa seorang CEO meminta pertemuan lanjutan di restoran mewah? Itu terdengar sangat tidak profesional, tapi juga belum tentu salah.
“Tenang, Maura. Jangan langsung berasumsi,” tenangnya yang ditujukkan untuk dirinya sendiri.
Maura segera bergegas ke kamarnya untuk membuka lemari dan mencari baju yang tepat. Gaun digantung di lemari terbuka, blazer disampirkan di kursi, sepatu berjejer di lantai. Maura berdiri di tengah semuanya dengan wajah frustrasi.
“Ini terlalu formal,” ucapnya saat menatap setelan hitamnya di cermin.
“Ini terlalu santai.”
Ia mengganti dengan dress sederhana berwarna krem, lalu menghela napas panjang, dan berakhir duduk di tepi ranjang.
“Kenapa aku ribet begini sih,” gerutunya.
Biasanya ia tidak pernah peduli berlebihan soal penampilan. Di kampus, ia dikenal rapi, profesional, dan secukupnya. Tapi kali ini berbeda. Dunia Setya Pradana adalah dunia elite dengan berbagai bayangannya tentang restoran mahal, jas mahal, orang-orang yang terbiasa melihat kesempurnaan.
Maura menatap bayangannya sendiri di cermin. Wajahnya bersih, natural, rambutnya diikat sederhana.
“Apa aku terlihat bagus?” tanyanya pelan.
Pertanyaan itu membuatnya mendengus kesal. Maura berdiri, mendekat ke cermin, lalu mencoba bersikap seolah sedang berbicara dengan Setya.
“Selamat malam, Pak Setya. Terima kasih sudah meluangkan waktu.”
Nada suaranya terdengar kaku, lalu mencoba lagi.
“Saya harap Bapak sudah mempertimbangkan undangan universitas kami.”
Terlalu formal. Maura mengusap wajahnya, lalu tertawa kecil tanpa humor.
“Ya Tuhan, aku seperti mahasiswa mau sidang.”
Ia berjalan mondar-mandir, mengulang kemungkinan dialog di kepalanya. Bagaimana jika Setya kembali bersikap dingin? Bagaimana jika ia kembali menggunakan kata-kata ambigu yang membuat Maura merasa direndahkan?
Dan begitu saja, waktu berlalu begitu cepat dengan hari di mana pertemuan kedua itu datang. Maura belum memberitahu di mana dan kapan pertemuan terjadi kepada rektor dan seluruh dosen.
“Relax,” gumam Maura pada diri sendiri.
Maura memakai setelan rok panjang sebetis dengan blazer yang menunjukkan sisi formal sekaligus casualnya. Dan ia sedang berdiri di luar restoran, melihat bangunan itu yang sama sekali belum pernah didatanginya.
Dengan kepercayaan diri yang sudah sepatutnya dimilikinya, Maura berjalan masuk dan datang ke resepsionis.
“Sudah reservasi, Bu?” tanya si resepsionis.
“Saya datang kesini atas undangan seseorang,” jawab Maura.
“Kalau begitu atas nama siapa, Bu?”
“Setya Pradana.”
Setelahnya Maura diantarkan ke meja di mana ada seorang pria tengah duduk sambil memandang pemandangan malam kota lewat gedung kaca itu.
Langkah Maura melambat begitu ia mengenali siluet itu dari belakang. Punggung tegap, jas gelap dengan potongan rapi, satu tangan bertumpu santai di sandaran kursi. Pria itu tidak menoleh saat Maura mendekat, seolah sudah tahu siapa yang datang.
“Silakan, Bu,” ujar pelayan dengan suara rendah sebelum undur diri.
Maura berhenti tepat di hadapan meja itu. Pemandangan kota berkilau di balik dinding kaca menjadi latar yang nyaris terlalu sempurna untuk sebuah pertemuan yang katanya profesional.
“Selamat malam, Pak Setya,” sapa Maura akhirnya.
Setya menoleh perlahan. Tatapannya jatuh tepat ke wajah Maura. Ada jeda sepersekian detik sebelum ia berdiri.
“Selamat malam, Maura. Kamu datang tepat waktu,” katanya singkat.
“Terima kasih, Pak. Saya kira Bapak belum datang,” jawab Maura.
Setya menarik kursi di seberangnya. “Saya tidak suka menunggu.”
Maura mengangguk kecil, lalu duduk. Ia merapikan blazer-nya tanpa sadar, lalu menyadari bahwa Setya memperhatikannya. Pelayan datang membawa menu. Setya bahkan tidak membukanya.
“Saya pesan seperti biasa,” katanya, lalu matanya beralih ke Maura, “kamu?”
Maura menerima menu itu, membacanya cepat, lalu mengangkat wajahnya lagi. “Saya ikut rekomendasi restoran saja.”
Setya mengangguk pada pelayan. “Samakan dengan milik saya.”
Setelah pelayan pergi, keheningan jatuh di antara mereka.
“Kenapa ingin bertemu di restoran, Pak?” Maura akhirnya bertanya, suaranya tenang meski pikirannya tidak sepenuhnya demikian.
Setya menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tatapan yang masih fokus pada Maura. Sekuat tenaga perempuan itu menahan gejolak aneh saat mendapati ditatap dengan sebegitu tajamnya oleh Setya.
“Saya hanya ingin suasana baru. Kamu keberatan?”
Maura menggeleng pelan, “tidak, Pak. Saya hanya... terkejut.”
“Kenapa?” Setya bertanya singkat.
“Karena sejauh yang saya tahu, pertemuan untuk membahas undangan acara amal dan sejenisnya hanya dilakukan di tempat formal dan di jam kerja saja,” jawab Maura jujur.
Setya menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah menilai apakah kalimat itu keluhan atau observasi.
“Beberapa hari belakangan saya sibuk. Jam kerja saya sudah penuh dengan jadwal meeting, observasi hingga perjalanan ke luar negeri. Jadi, saya meminta pertemuan di sini, karena saya ingin menghirup udara segar di luar suasana formal,” katanya akhirnya.
Maura mengangguk pelan. Penjelasan itu terdengar masuk akal, meski tetap menyisakan rasa tidak nyaman di sudut dadanya.
“Saya mengerti, Pak,” jawabnya singkat.
Setya mengamati respons itu, seolah mencari tanda-tanda keberatan yang tidak diucapkan.
“Kamu terlihat tidak sepenuhnya menerima alasan saya,” katanya datar.
Maura menghela napas tipis. “Saya hanya memastikan posisi saya jelas. Saya datang sebagai perwakilan universitas, bukan... pada hal lain.”
“Hal lain seperti apa?” tanya Setya, alisnya terangkat samar.
Maura menatapnya lurus, tidak menghindar. “Seperti seseorang yang diundang untuk kepentingan pribadi Bapak.”
Keheningan menyelip di antara mereka. Lampu restoran memantul lembut di permukaan meja, membuat suasana terasa semakin intim, bahkan bisa dibilang terlalu intim untuk topik yang mereka bicarakan.
“Kamu terlalu cepat menarik garis,” Setya akhirnya bersuara.
“Karena saya harus, Pak. Saya tidak ingin salah memahami,” balas Maura.
“Untuk ukuran pertemuan yang baru sekali kita lakukan, sepertinya kamu tidak seperti yang saya bayangkan, Maura,” ucap Setya sambil menuang wine ke dalam gelasnya dan juga milik Maura.
“Memangnya apa yang Bapak bayangkan tentang saya?”
Pria itu meminum wine nya, gerakan yang membuat Maura terpana. Adam’s apple Setya bergerak pelan saat ia menelan wine, gerakan sederhana yang entah kenapa terasa begitu maskulin.
Maura buru-buru mengalihkan pandangan, menyadari bahwa ia terlalu lama menatap. Ia meraih gelasnya sendiri, pura-pura sibuk mencium aroma wine padahal si gadis tidak terlalu suka minuman itu.
“Yang saya bayangkan,” kata Setya melanjutkan, suaranya rendah dan tenang, “adalah seorang dosen muda yang antusias, meski sedikit gugup, tapi akan langsung membahas proposal universitasnya sejak menit pertama. Tapi kamu malah membuka pembicaraan dengan batasan-batasan yang saya sendiri tidak terpikirkan.”