Siapa bilang niat balas dendam akan berakhir sesuai rencana?
Buktinya nih si Nisa!
Hatinya udah di buat jungkir balik sama Aziz. Tetap aja hatinya gak bisa berpaling dari pria galak yang acap kali berkata nyelekit di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
...🥀🥀🥀...
"Apa iya? Pasti gadis yang nak Aziz kenal itu begitu payah, ceroboh dan sulit di atur. Tapi kalo di banding kan dengan Nisa, putri tante jauh lebih baik dari gadis yang nak Aziz kenal itu kan?” cecar Naraya, dengan ke dua tangan di atas meja, menanti jawaban dari Aziz.
Nisa menatap Aziz penuh selidik, “Kenalan kamu bilang? Seingat dan setahu ku, selama bekerja di kediaman utama Sadiki. Gak sekali pun aku melihat mu dekat dengan wanita.
Melihat mu meninggal kan kediaman utama Sadiki pun aku gak pernah! Sembilan puluh lima persen waktu mu, bah kan di habiskan bersama koki Agus!”
“Apa maksud mu sembilan puluh lima persen?” timpal Aziz dengan gak senang.
Nisa tertunduk dalam, dengan wajah bersemu malu, “I- iya itu, emmm kecuali tidur dan ke kamar mandi kan! Selebih nya kan kalian selalu bersama! Jadi a- aku pasti tau kegiatan mu lah!”
“Hebat kamu, Nis! Belum apa apa sudah hafal betul dengan tingkah laku pria mu!” puji Sabah.
‘Lah, kenapa begini jadi nya?’ jerit batin Aziz.
Nisa mengangkat kepala nya dengan bangga, “Siapa dulu dong, yah! Nisa gitu! Gak salah pilih calon teman hidup kan?”
“Gak salah kepala mu! Kamu itu belum terlalu jauh mengenal ku, Nis! Baru seujung kuku yang kamu tau tentang ku! Be- beda hal nya de- dengan wanita itu!” dusta Aziz dengan gugup.
“Benar kah? Ko aku ragu ya?” tanya Nisa, menyangga dagu nya, dengan kepalan tangannya yang ada di atas meja, sambil terus mengunyah makanan dalam mulut nya.
Aziz menegak kan punggung nya, gak bisa lagi bersikap tenang di hadapan orang tua Nisa.
‘Aduh, aku harus bisa meyakin kan, Nisa! Aku punya wanita lain, wanita yang lebih jauh mengenal ku di banding kan dia, gadis ceroboh!’ jerit batin Aziz.
“Ka- kamu harus yakin dengan ku! A- aku punya beberapa teman wanita! Dari yang kelakuan nya baik sa- sampai buruk sekali pun. A- aku mengenal nya! I- ini cuma aku saja yang gak mau ikut campur dengan urusan mereka!” cerocos Aziz, panjang kali lebar.
Sabah berdehem, “Ehem, sudah lah nak Aziz! Jangan kamu lanjutin lagi dusta mu itu! Tanpa kamu jelas kan pun, ayah ini sudah bisa menebak. Kamu sedang melakukan tipu muslihat, salah satu upaya mu untuk menolak Nisa! Benar kan!”
Aziz terperangah, “Apa?”
Sabah terkekeh, pria paruh baya itu bah kan dengan santai. Mengisi kembali piring nya dengan nasi dan ayam goreng, “Apa ya apa!”
Aziz menatap gak percaya piring yang ada di hadapan Sabah, ‘Apa seenak itu masakan ku? Gak kenyang apa om Sabah sampai nambah nasi dan ayam goreng lagi?’
“Enak yah?” tanya Naraya, seakan mewakili isi pikiran Aziz.
“Enak bangat, bu! Seumur umur ayah gak pernah makan seenak ini!” beo Sabah, jujur dari hati nya yang terdalam.
Aziz tersenyum canggung, “Nanti saya bisa masakan ayah lagi kalo ayah suka!”
“Jadi kamu sudah mengaku! Ingin menikahi Nisa dalam waktu dekat ini? Dan gak ada wanita lain di hidup mu?” celetuk Sabah.
“Waduh, makin rumit! Kenapa om … i- iya maksud ku ayah! Kenapa bisa berpikir seperti itu?” Aziz langsung meralat panggilan nya untuk Sabah, lantaran pria paruh baya itu melototi nya dengan galak.
“Cukup simpel sih! Kamu hanya ingin membuat Nisa sakit hati, karena kamu membahas wanita lain saat kita sedang bersama! Bukan begitu bocah!” ujar Sabah, tanpa saringan bahkan masih bisa bersikap biasa aja.
Naraya menelan saliva nya sulit, netra nya menatap dalam Aziz.
‘Apa iya nak Aziz sedang menolak Nisa? Apa seburuk itu putri ku untuk seorang asisten koki yang gak banyak kemampuan?’ pikir Naraya.
Sementara Aziz menggenggam semakin erat alat makan yang ada di tangan nya.
‘Ah sialan! Kenapa mudah sekali untuk om Sabah menebak ku! Kalo begini, aku harus cari cara lain. Biar mereka gak lagi berharap dengan hubungan ku dan Nisa yang cuma sandiwara ini!’ pikir Aziz dengan wajah kelewat tegang.
“Om emhhh maksud saya, ayah salah!” sangkal Aziz dengan tegas, lidah nya masih asing untuk memanggil Sabah dengan sebutan ayah.
Sabah mengerdik kan dagu nya, “Salah di mana nya perkataan ayah?”
“I- iya itu! Si- siapa bilang aku gak punya kenalan? Aku jelas punya kenalan kok, yah, Nis! Wanita itu jelas nyata ada nya.” dusta Aziz, meyakinkan Sabah dan Nisa.
“Dan ka- kalo pun aku menikah, emm mungkin wanita itu bukan kamu, Nis!” imbuh Aziz.
Nisa tampak biasa aja saat mendengar nya, ‘Aku gak yakin, wanita yang Aziz nikahi bukan aku? Eh ngapa aku jadi sepercaya diri ini ya? Wah jangan bilang aku beneran ngarep sama Aziz!’
“Siapa wanita itu, nak? Apa Nisa mengenal nya?” timpal Naraya yang sejak tadi diam.
“Bisa kamu bawa wanita itu ke hadapan kami, nak?” desak Sabah dengan tatapan mengintimidasi.
Aziz menelan saliva nya dengan sulit, dengan kerutan yang terbit di kening nya, “Celaka dua belas!”
“Apa nya yang celaka dua belas? Wanita itu beneran gak ada kan? Wanita yang kamu sebut payah, ceroboh dan sulit di atur itu cuma karangan mu aja kan?” desak Nisa dengan mata mengerjap, seakan tengah menarik perhatian Aziz.
Aziz bergidik geli, “Gila!”
Aziz kembali fokus pada santap siang nya, meski rasa makanan nya itu sudah gak seenak dengan perasaan nya kini.
‘Wanita itu nyata, dan jelas itu kamu, Nis! Kamu gak lagi amnesia atau pura pura bodoh di depan orang tua mu sih? Mana mungkin aku kata kan langsung di hadapan orang tua mu, wanita itu putri nya!’ gerutu Aziz, melirik ekor mata nya pada Nisa dalam diam.
Nisa bersiul, membuat Aziz kembali menegak kan kepala nya. Dan tepat saat pria itu menatapnya penuh tanya.
Nisa terkekeh, “Apa nya yang gila? Aku apa pikiran kamu?”
Tanpa diduga Aziz, Nisa mengerlingkan mata pada nya di saksi kan Naraya dan Sabah.
“Nisa!” seru Naraya penuh penekanan.
‘Bocil ku satu ini beneran udah di mabok cinta sama asisten koki!’ batin Naraya dengan hati senang.
Pletak.
Kepalan tangan Sabah, melayang di puncak kepala Nisa.
“Awwhhh sakit, yah!” ringis Nisa dengan bibir mengerucut.
“Jangan genit napa, Nis! Harusnya itu nak Aziz yang kelepek kelepek sama kamu! Bukan kamu yang seperti cacing kepanasan! Payah kamu! Gak bisa jaga sikap!” ketus Sabah.
“Aku ini apa adanya, yah!” Nisa ngeyel.
“Yaaaah! Seperti nya kita harus buru buru nikahin putri kita sama nak Aziz deh!” celetuk Naraya.
“What?”
Bersambung …
lain kamar aja lah nis bukan muhrim loh ,tadi kata mu ini itu macam tau itu salah kalau masih satu kamar ya pada Bae itu mah 🤣🤣🤣