Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: MEET UNFILTERED
Content Warning: Bab ini mengandung deskripsi tentang pertemuan offline yang canggung, perbedaan tajam antara persona online dan realita, serta satu kontrak bisnis yang ditulis di atas kertas bekas print tugas.
---
Hari H. Jam 3.55 sore.
Ardi berdiri di depan gedung fakultas, berkeringat meski langit mendung. Dia sudah mengecek penampilannya di kaca jendela motor sebanyak tujuh kali. Kaus polos (yang ini bersih), celana jeans (tidak ada sobekan yang disengaja), sepatu sneakers (agak kusam). Dia terlihat seperti... dirinya sendiri. Dan itu yang membuatnya gugup.
Kinan akan melihatnya tanpa filter. Tanpa screen yang bisa dia sembunyikan. Dia akan melihat Ardi dalam resolusi penuh, lengkap dengan jerawat kecil di dagu dan tatapan mata yang selalu sedikit cemas.
Dia mungkin akan langsung kabur, pikir Ardi pesimis.
Tapi tidak ada waktu untuk panik lebih lanjut. Dari kejauhan, dia melihat sosok yang tidak mungkin salah dikenali.
Kinan.
Dia tidak persis seperti di feed nya. Tidak ada softbox lighting, tidak ada filter golden hour. Tapi tetap saja, dia terlihat... teratur. Rambut diikat rapi ke belakang, kaus oversized warna sage, celana wide leg, tas kanvas sederhana. Tanpa makeup berat, hanya alis yang rapi dan lipbalm. Dia terlihat lebih muda, lebih manusiawi, tapi dengan aura "aku tahu apa yang aku lakukan" yang membuat Ardi merasa seperti anak kucing yang tersesat.
Kinan berjalan mendekat, matanya memindai area. Ketika matanya bertemu dengan Ardi, ada sedikit kejutan, lalu pengakuan. Dia mengangguk kecil.
"Ardi?" suaranya lebih lembut dari yang dibayangkan, tidak seperti narasi di story nya.
"Iya. Hi, Ka... Kinan." Ardi hampir menyebut 'Kak', tapi berhenti. Ini bukan DM.
"Mereka sudah di dalam?" tanya Kinan, langsung ke pokok permasalahan.
"Kayaknya iya. Pak Suryo bilang jam 4 tepat."
Kinan menghela napas kecil. "Ayo selesaikan ini cepat."
Mereka berjalan berdampingan dalam keheningan yang canggung. Bunyi langkah mereka berdua terdengar keras di koridor kosong. Ardi ingin mengatakan sesuatu memuji tasnya, bertanya tentang perjalanan, apa pun tapi lidahnya terasa seperti spons kering.
Untungnya, Kinan yang memecah kebekuan. "Lo lebih tinggi dari yang gue bayangkan."
"Ah. Iya. Mungkin di foto profil gue... burung hantu gak ada skala," jawab Ardi, dan langsung menyesali lelucon konyolnya.
Tapi Kinan tersenyum. Senyum kecil yang tulus, bukan senyum foto. "Iya. Burung hantunya memang misleading."
Mereka sampai di depan ruang dosen. Dari dalam, terdengar suara diskusi antusias. Ardi mengetuk.
"MASUK DAN BERSIAP UNTUK REVOLUSI DIGITAL!" sahut suara Pak Suryo dari dalam.
Ardi dan Kinan bertukar pandang. Kinan mengangkat alisnya, seperti berkata, "Kita masuk ke sarang orang gila."
Mereka masuk.
Pemandangan di dalam ruangan membuat mereka berdua terpana.
Ruang dosen yang biasanya serius dan berantakan dengan kertas, kini telah berubah. Papan tulis penuh dengan coretan brainstorming: "DADU CHAMP GOES VIRAL", "CONTENT PIPELINE", "TARGET GEN Z". Di meja, bukan tumpukan jurnal, tapi koper dadu terbuka, lampu ring untuk video, dan sebuah tripod.
Pak Suryo berdiri di tengah, mengenakan kaus hitam dengan tulisan "ROLL THE DICE" yang dibuat sendiri dengan spidol permanen. Di sampingnya, Rendra, Bima, dan Farel sudah duduk dengan ekspresi campur aduk antara bingung dan tertarik.
"Ah, akhirnya datang! Sang ahli strategi digital!" sambut Pak Suryo, menyambut Kinan dengan jabat tangan yang energik. "Saya sudah lihat kerjaan Excel mu. Sangat struktural. Persis seperti yang kita butuhkan."
Kinan terlihat sedikit kewalahan, tapi dengan sopan menjabat tangan. "Terima kasih, Pak. Tapi saya hanya membantu teman."
"Tidak! Jangan kecil hati! Di sini, kita semua adalah... pionir!" teriak Pak Suryo, mengacungkan sebuah dadu merah. "Sekarang, duduk. Kita mulai rapat."
Mereka duduk. Kinan sengaja memilih kursi paling jauh dari lampu ring, mungkin secara naluriah menghindari cahaya yang bagus untuk konten.
Pak Suryo mulai presentasi, menggunakan papan tulis. "Dari video joget yang tidak disengaja kemarin, engagement kita melonjak 500%. Ini adalah momentum. Misi kita: menjadikan Dadu Champ bukan hanya merek dadu, tapi lifestyle brand untuk pengambilan keputusan."
Rendra mengangguk-angguk antusias, seolah sedang mendengarkan CEO unicorn startup. Bima dan Farel terlihat masih mencerna.
"Kita butuh tim inti," lanjut Pak Suryo. "Rendra, kamu sebagai Head of Marketing and Big Talk."
Rendra mengangkat jempol, senang dapat jabatan.
"Bima dan Farel, kalian sebagai... Tim Produksi dan Logistics. Kalian yang atur pengiriman dadu nanti."
Mereka mengangguk, sedikit bingung tapi tidak menolak.
"Ardi," tatapan Pak Suryo beralih. "Kamu sebagai... Talent dan Community Manager. Kamu yang paling relatable, wajah fresh, dan sudah punya koneksi dengan target market kita." Dia menunjuk Kinan. "Dan Kinan. Kamu sebagai Content Strategist and Aesthetic Curator. Kamu yang bikin semua ini terlihat... tidak murahan."
Kinan membeku. "Pak, dengan hormat, saya punya brand saya sendiri. Saya tidak bisa terlibat secara resmi dengan... usaha dadu."
"Tidak perlu resmi!" bantah Pak Suryo. "Ini kolaborasi. Kamu bantu kami naikkan brand awareness, kami beri kamu... exposure ke pasar baru." Dia mendekat, dengan nada bisnis. "Kamu jual aesthetic lifestyle, kan? Apa yang lebih lifestyle daripada memutuskan hidupmu dengan sebuah dadu?"
Ardi melihat Kinan berpikir. Argumen itu, meski aneh, masuk akal.
"Selain itu," lanjut Pak Suryo, mengeluarkan senjata terakhirnya, "kalian berdua sudah punya chemistry yang bagus. Lihat analisis data kalian! Komunikasi digital yang efektif! Bayangkan jika itu kita alihkan untuk konten."
Ardi dan Kinan saling memandang. Chemistry? Mereka? Sebelumnya, Kinan mengira Ardi stalker.
"Bagaimana dengan... kompensasi?" tanya Kinan, suaranya profesional. Ardi terkesan. Kinan langsung membawa ke ranah bisnis.
Pak Suryo tersenyum lebar. Dia mengambil selembar kertas bekas print tugas (yang masih ada tanda komentar di pinggirnya) dan sebuah pulpen.
"Kontrak," ujarnya. "Kalian dapat 20% dari profit penjualan yang berasal dari konten kalian. Plus, free dadu seumur hidup."
Dia mulai menulis di kertas itu, dengan tulisan tangan yang sulit dibaca:
PERJANJIAN KOLABORASI DADU CHAMP
Tim (Ardi+Kinan) bikin konten kreatif.
Pak Suryo sediakan produk & jadi bintang tamu.
Profit sharing 20% untuk tim per konten viral.
Tidak ada yang bocorin rahasia joget dosen ke kampus.
Dia menandatanganinya dengan flourish, lalu menyodorkan pulpen ke Ardi dan Kinan.
"Ini sangat tidak profesional," gumam Kinan, melihat kertas bekas itu.
"Tapi ini authentic," balas Pak Suryo. "Gen Z suka yang authentic, kan?"
Kinan memandang Ardi. Matanya bertanya, "Apa yang harus kita lakukan?"
Ardi, yang merasa ini semua adalah mimpinya yang paling aneh, hanya bisa mengangkat bahu. "Kita udah sampai sini, Ka. Dan... mungkin bisa jadi lucu."
Kinan melihat sekeliling ruangan: ke papan tulis penuh ide gila, ke koper dadu berwarna-warni, ke wajah antusias Pak Suryo, lalu ke Ardi yang culun dengan harapan di matanya.
Dia mengambil pulpen.
"Untuk exposure dan dadu gratis," katanya, setengah pada dirinya sendiri, lalu menandatangani.
Ardi mengikutinya. Tangannya sedikit gemetar saat menuliskan namanya di samping tanda tangan Kinan.
"SEMPURNA!" seru Pak Suryo, mengangkat kertas itu seperti piala. "Sekarang, untuk konten pertama. Ide?"
Rendra langsung angkat tangan. "Kita bikin challenge! #DaduChallenge! Lempar dadu untuk putusin sesuatu, terus upload!"
"Biasa," bantah Bima. "Harus yang lebih edgy. Misalnya... dadu buat putusin mantan atau enggak."
"Konten hubungan itu riskan," sahut Kinan tiba-tiba. Semua mata tertuju padanya. "Tapi... kita bisa lakukan sesuatu yang lebih ringan, relatable. Misalnya: 'Hal-hal yang Harus Kamu Putusin dengan Dadu Sebelum Umur 25'. Atau: 'Aku Serahkan Hidupku ke Dadu Selama 24 Jam'."
Suasana hening. Lalu, Pak Suryo mengangkat kedua tangannya. "YES! Itu dia! Otak strategi konten bekerja!"
Ardi melihat Kinan. Ada cahaya berbeda di matanya. Bukan cahaya kurasi untuk feed, tapi cahaya ide kreatif yang spontan. Dia seperti... menikmati ini.
"Konten pertama," rencana Kinan makin lancar. "Kita buat video pendek. Ardi yang jadi subjeknya. Dia dapat dadu 'special edition' dari Pak Suryo, dan harus mengikuti semua keputusan dadu selama sehari. Dari bangun tidur sampai tidur lagi."
"Dan di akhir video," sambung Pak Suryo dengan semangat, " aku muncul dengan joget dan menawarkan dadu ke penonton!"
"Mungkin tanpa joget dulu, Pak," selip Kinan halus. "Kita bangun karakter dulu."
Pak Suryo terlihat sedikit kecewa, tapi mengangguk. "Baik. Tapi nanti di konten ketiga, aku harus joget."
Rapat berlanjut dengan diskusi teknis. Kinan bicara tentang frame rate, optimal durasi TikTok, hashtag strategy. Ardi hanya bisa mengamati, kagum melihat sisi Kinan yang dia tidak pernah lihat di Instagram.
Ketika rapat hampir usai, dan mereka bersiap pulang, Pak Suryo menarik Ardi dan Kinan ke samping.
"Kalian berdua," bisiknya, dengan mata berbinar. "Jaga chemistry itu. Itu yang akan menjual."
Mereka keluar ruangan bersama. Senja sudah mulai turun. Udara terasa lebih sejuk.
"Jadi," kata Ardi, mencoba memecah keheningan. "Kita sekarang... rekan kolaborasi."
"Sepertinya iya," jawab Kinan, memainkan tali tasnya. "Ini gila."
"Tapi ka... Kinan. Lo serius nggak punya masalah gabung sama... ini?" tanya Ardi, ragu.
Kinan berhenti berjalan. Dia menatap langit jingga. "Awalnya iya. Tapi... tau nggak? Selama rapat tadi, gue nggak sekali pun mikirin engagement rate atau apakah wajah gue keliatan sempurna. Gue cuma mikirin ide. Itu... refreshing."
Ardi tersenyum. "Gue seneng lo ikut."
Kinan menoleh padanya. "Gue juga. Dan lo, tolong jangan panggil gue 'ka' lagi. Kinan aja."
"Oke. Kinan."
Mereka berjalan keluar gerbang kampus. Saat akan berpisah, Kinan tiba-tiba berkata, "Besok kita shooting konten pertama. Jam 8 pagi. Lo siap?"
"Harus siap apa?"
"Bawa baju ganti. Dan... keberanian." Kinan tersenyum, kali ini lebih lebar. "Karena dadu bisa menyuruhmu melakukan apa saja."
Ardi mengangguk, jantungnya berdetak kencang—tidak karena takut, tapi karena sesuatu yang lain. Antisipasi. "Gue siap."
Kinan mengangkat tangan, tanda pamit, lalu berbalik pergi. Ardi melihatnya menghilang di sudut jalan, sambil memegang dadu emas di sakunya.
Dia melemparkan dadu itu di telapak tangan.
1: Everything will go well.
2: You will embarrass yourself.
3: You will become TikTok famous.
4: You and Kinan will become a good team.
5: Pak Suryo will force you to joget.
6: Roll again.
Dia menggenggam dadu itu, tidak mau tahu hasilnya. Biarlah besok yang menjawab.
Di bus yang ditumpangi Kinan, dia membuka Notes di HP-nya. Biasanya, berisi jadwal konten dan quotes. Sekarang, halaman baru bertuliskan: "Ide Konten Dadu Champ", dan di bawahnya, dengan huruf kecil: "Ardi's not a creep. He's just... awkwardly genuine."
Dia menghapus kalimat terakhir itu dengan cepat, pipinya memerah. Tapi senyumnya tidak hilang.
---
Malam itu, di akun @suryo_daduchamp, muncul teaser. Sebuah video 7 detik: tangan Pak Suryo (dikenali dari jam tangannya yang khas) melemparkan dadu emas ke atas meja. Caption: "Besok, kehidupan seseorang akan berubah. Siapa yang siap ikut #DaduChallenge? 🎲"
Dengan cepat, video itu mendapat komentar dari akun-akun mahasiswa yang mengenali latar belakang ruang dosen. Tapi ada juga komentar dari akun @kinanstudies, yang biasanya tidak pernah keluar dari bubble konten edukasinya:
"Ready for this roll. 👀"
Itu seperti tanda pengakuan. Sebuah persetujuan diam-diam.
Dan Ardi, yang sedang makan indomie sendirian di kos, melihat komentar itu. Dia screenshoot, menyimpannya di folder khusus di HP-nya, folder yang diberi nama "Keluarga Dadu" (dia akan malu besar jika ada yang tahu).
Besok, hidupnya akan diserahkan pada dadu. Tapi anehnya, dia tidak takut. Malah, untuk pertama kalinya dalam lama, dia menantikan hari esok.
#ToBeContinued
(Besok: 24 Jam Hidup yang Ditentukan Dadu, Bloopers, dan Sebuah Keputusan yang Mengubah Segalanya.)