Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut."Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis."Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas."Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Kini Jelita dan kedua sahabatnya melangkah menuju tempat parkiran karena hari ini mereka hanya mengikuti satu mata kuliah.
"Ya udah, aku pulang duluan ya," pamit Jelita pada Ira dan Dinda.
Ia melangkah menuju kendaraannya, meninggalkan Ira dan Dinda yang masih berdiri di sana. Begitu sosok Jelita mulai menjauh, Dinda segera menyenggol lengan Ira.
"Ayok cepat, Ira! Jangan sampai Jelita tahu kalau kita mengikutinya," desak Dinda dengan nada tidak sabar.
"Kamu nyuruh cepat-cepat, jauhkan dulu ponselmu itu. Mengganggu saja!" gerutu Ira sambil bersiap menghidupkan mesin motornya.
Kini mereka berada dalam perjalanan. Dinda terus memperhatikan punggung Jelita yang berada beberapa meter di depan mereka, sementara Ira fokus mengendalikan kemudi.
"Pelan-pelan, Co! Kita bisa ketahuan," ucap Dinda setengah berbisik, seolah-olah Jelita bisa mendengar suaranya di tengah bising jalanan.
"Kamu nyuruh pelan-pelan, tapi jauhkan dulu ponselmu! Kamu sedang membuat video apa sebenarnya? Hanya tukang cilok, memangnya kamu mau bikin dia viral?" gerutu Ira kesal melihat tingkah Dinda yang masih saja sibuk dengan ponselnya di tengah aksi pengintaian mereka.
Sementara itu, Jelita kini telah sampai di halaman rumahnya. Tanpa membuang waktu, ia langsung melangkah tergesa-gesa menuju kamarnya.
Ceklek. Bunyi pintu kamar terbuka dan tertutup rapat. Jelita dengan gelisah melangkah ke sana kemari di dalam kamar, jemarinya terus meremas ujung bajunya.
"Apakah aku harus ke sana? Aku masih belum percaya, tapi... gelang ini nyata," bisik Jelita pada dirinya sendiri sambil menatap nanar perhiasan hitam kuno yang melingkar di tangannya.
Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Oke, mari kita putuskan! Malam ini aku akan menemuinya."
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, sementara Ira dan Dinda masih bersembunyi di bawah pohon rindang di dekat rumah Jelita.
Plak! Suara tangan Dinda memukul sebelah tangannya sendiri.
"Aduh, Jelita kok lama sekali! Darahku bisa habis digigit nyamuk. Masih mending dihisap cowok ganteng," gerutu Dinda kesal.
"Kenapa selalu berisik, Dinda? Tunggu sebentar lagi, pasti Jelita akan keluar rumah," geram Ira yang mulai kehilangan kesabaran.
Tidak lama setelah Ira mengatakan itu, ternyata Jelita benar-benar keluar dari dalam rumahnya. Ia tampak mengenakan jaket gelap dan celana jins, langkahnya terlihat waspada seolah tidak ingin ada yang melihat kepergiannya.
"Nah, itu dia! Ayo cepat kita ikuti, jangan sampai kita kehilangan jejaknya!" seru Dinda dengan suara tertahan.
"Benar! Kali ini kita akan tahu ada apa sebenarnya dengan Jelita," bisik Ira mantap.
Setelah itu, mereka bergegas menaiki kendaraan dan mulai mengikuti ke mana pun Jelita pergi. Selama perjalanan, Dinda tidak hentinya membuat Ira geram. Lagi-lagi ia membuka ponselnya, berusaha merekam punggung Jelita dari belakang sambil sesekali membenarkan posisi duduknya di boncengan.
"Dinda! Bisa fokus tidak? Kalau kita kecelakaan gara-gara kamu sibuk bikin konten, kita tidak akan pernah tahu rahasia Jelita!" omel Ira sambil menyalip sebuah truk dengan hati-hati.
"Ih, Ira! Ini kan bisa jadi bukti kalau ternyata Jelita punya pacar rahasia atau ikut sekte aneh. Bayangkan berapa banyak viewers yang bakal nonton!" sahut Dinda tak mau kalah.
Perjalanan mereka semakin jauh meninggalkan keramaian kota. Jalanan yang tadinya terang oleh lampu jalan kini mulai berganti dengan deretan pepohonan tua yang rimbun dan gelap. Suhu udara terasa merosot tajam, membuat Ira bergidik meskipun ia sudah memakai jaket tebal.
Lampu belakang motor Jelita tiba-tiba berbelok ke arah sebuah jalan setapak yang ditumbuhi semak belukar. Ira memperlambat laju motornya dan mematikan lampu utama agar tidak mencolok.
"Gedung tua?" gumam Ira saat melihat bangunan besar yang merangas di depan mereka.
Jelita menghentikan motornya tepat di depan gerbang berkarat. Ia tampak menarik napas panjang sebelum melangkah masuk ke dalam kegelapan gedung yang hanya diterangi cahaya bulan pucat.
"Dia benar-benar kembali ke sana malam-malam begini sendirian?" Dinda menelan ludah, tangannya yang memegang ponsel kini sedikit gemetar. Rasa penasaran yang tadinya meluap, kini perlahan berganti dengan rasa takut yang mulai merayap.
Jelita melangkah perlahan melintasi gerbang yang berderit nyaring. Hawa dingin yang tidak wajar mulai menyergap, membuat napasnya beruap. Di balik semak-semak, Dinda dan Ira merangkak pelan, berusaha menjaga jarak agar tidak tertangkap basah.
Gedung tua itu tampak seperti raksasa hitam yang diam. Cahaya bulan biru pucat menerangi bayangan pohon-pohon besar yang meliuk seperti jemari raksasa. Kabut tipis mulai muncul di permukaan tanah, menelan langkah kaki Jelita.
Dinda, meski tangannya gemetar, tetap mengarahkan kamera ponselnya ke arah Jelita. Ira di sampingnya mematung, merasakan tekanan udara yang semakin berat.
"Kenapa dia masuk ke sana lagi, Ira? Tempat itu seperti mulut neraka," bisik Dinda dengan suara yang nyaris hilang.
Begitu Jelita sampai di ruang dekan, lampu-lampu gantung tua yang berdebu tiba-tiba menyala redup secara bergantian. Di ujung ruangan, sosok Arjuna berdiri tegak dengan pakaian kebesarannya. Mata biru pucatnya berkilat saat melihat kehadiran Jelita.
Arjuna tampil sangat maskulin dengan kemeja putih yang terbuka memamerkan bagian dada dan perut berototnya, dengan garis rahang yang keras namun indah. Di sekelilingnya, asap biru gelap berputar-putar seperti jubah hidup.
Arjuna melangkah tanpa suara, seolah-olah ia melayang di atas lantai. Ia berhenti tepat di depan Jelita, lalu mengulurkan tangan pucatnya untuk membelai pipi Jelita yang dingin. Jelita mematung, matanya bertemu dengan tatapan Arjuna yang haus akan kehadirannya.
"Kau tepat waktu, Ratu Kecilku," bisik Arjuna. Suara baritonnya bergema, memenuhi setiap sudut ruangan. "Aku hampir saja menjemputmu dengan cara yang tidak sopan jika kau terlambat satu menit saja."
" tidak perlu basa-basi," tegas jelita dengan tatapan yang tidak bisa berpaling dari tubuh gagah arjuna " dan kenapa kamu tidak mengancing baju-bajumu itu, dasar hantu mesum." Cibir jelita mencoba memberanikan diri