Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azalea Mendaftar
"Suci, yang itu siapa?" Azalea menunjuk dengan dagunya.
Suci menoleh, lalu seketika menghela napas panjang. Ia merasa heran, bingung kenapa sendal Hagia bisa dipakai Azalea, sementara Azalea nanya itu siapa.
"Itu Mas Hagia, Lea. Dia ketua pemuda-pemudi di sini, semacam Karang Taruna, tapi lebih ke arah penggerak seni. Dia mentor kami yang memastikan anak-anak muda di Watuasih tetap punya wadah buat berkarya di usia produktif begini. Dia jago seni rupa, tapi paham musik juga. Kadang dia bawa mentor-mentor senior dari kota lainnya buat ngajar di sini."
Suci terdiam sejenak, lalu memberanikan diri bertanya, "Tapi tunggu... kok bisa sandal Mas Hagia ada di kamu? Kamu betulan nggak kenal dia?"
Azalea kaget kenapa Suci bisa tahu sendal yang ia pakai punya Hagia.
"Kenal muka, nggak kenal nama, Ci. Kita pernah ketemu sekali, tapi nggak sempat tukar biodata. Waktu itu sandalku putus di tengah jalan, eh pucuk dicinta ulam pun tiba, dia lewat dan langsung nawarin bantuan. Karena darurat, ya aku pinjam dulu. Makanya mumpung ketemu sekarang, mau aku balikin."
Azalea kemudian melepas sandal milik Hagia, menggantinya dengan sandal jepit baru yang tadi ia beli. Sandal milik Hagia kini ia tenteng di tangan kanan, siap dikembalikan kepada pemilik aslinya.
Suci hanya menggeleng-geleng. Ia tahu betul watak Hagia. Laki-laki itu memang tidak pernah berubah, ringan tangan kepada siapa pun yang terlihat kesulitan. Masalahnya, bagi sebagian besar perempuan di desa ini, bantuan kecil dari Hagia sering kali dianggap sebagai sinyal khusus yang berakhir dengan perasaan baper.
Mendengar penuturan Azalea, Suci jadi tahu jawaban mengapa sendal hadiah darinya untuk Hagia bisa dipakai Azalea. Hagia tak pernah berubah, ia selalu membantu orang lain yang sedang kesusahan. Yang terkadang hal itu justru bisa membuat baper bagi sebagian orang.
Azalea pamit ke Suci mau menghampiri Hagia yang sedang berdiri mengatur orang-orang, dengan tangannya terdapat gulungan kertas di tangan. Laki-laki itu pakai kaus putih polos dilapisi kemeja flanel biru laut yang kancingnya dibiarkan terbuka.
"Aku samperin dulu ya, Ci," pamit Azalea.
"Iya."
...****...
"Kakak." Azalea memanggil.
Ia penasaran, apakah panggilan itu masih membekas di ingatan Hagia.
Namun suasana sanggar sedang bising. Suara kendang yang sedang disetem dan teriakan instruktur tari menenggelamkan suaranya. Hagia sama sekali tidak menoleh.
"Kakak!" panggilnya sekali lagi, lebih lantang.
Beberapa pemuda yang sedang beristirahat di pinggir pendopo menyadari kehadiran Azalea. Mereka saling sikut, lalu salah satunya menepuk bahu Hagia. "Lur, ada yang manggil tuh. Cantik lagi."
Hagia memutar tubuhnya. Pandangannya langsung bersitatap dengan Azalea. Untuk sesaat, ia tampak mengerutkan kening. Sampai akhirnya Azalea langsung to the point.
"Ini aku balikin sendal kakak. Terima kasih banyak banyak ya." Azalea menyerahkan sandal itu. "Kenalin, aku Azalea."
Hagia menyambut jabatan tangan Azalea.
"Hagia. Salam kenal, Mbak." Jawab Hagia sembari menundukkan kepala seraya tersenyum.
"Kalau bisa jangan panggil Mbak. Panggil nama saja ya, kak."
"Ah ya, Azalea."
Mereka kemudian berdiri di pinggir area latihan. Di depan mereka sekelompok remaja sedang berlatih sebuah fragmen drama musikal yang menggabungkan cerita tradisional dengan narasi modern. Hagia kembali memperhatikan penampilan mereka, tampak sedikit tidak puas dengan transisi gerak di depannya.
Azalea memperhatikan dengan saksama. Matanya mengikuti setiap perpindahan penari.
"Kak, kalau boleh kasih masukan, ada yang kurang pas di transisi adegan tadi," celetuk Azalea tiba-tiba.
Hagia menoleh, alisnya terangkat sebelah. "Oh ya? Bagian mananya?"
Azalea menunjuk ke arah pusat panggung. "Tadi penari latar masuk dari sisi kiri saat narator masih menyelesaikan dialog tentang masa depan. Secara visual, itu menciptakan penumpukan informasi. Penonton akan terdistraksi antara mendengarkan narasi atau melihat gerakan baru. Harusnya ada jeda sekitar tiga detik setelah dialog terakhir, atau biarkan pencahayaan dim out sedikit, baru kemudian penari masuk."
Hagia terdiam. Ia melihat kembali kertas di tangannya, lalu melihat ke arah panggung.
"Betul juga, terimakasih atas masukan dari Mbak-- eh maksudnya dari Azalea."
"Sama-sama, Kak."
Hagia menurunkan kertasnya. Ia menatap Azalea dengan tatapan yang berbeda. Masukan Azalea benar-benar menyedot atensinya.
"Kamu punya latar belakang seni pertunjukan?" tanya Hagia akhirnya.
"Cuma hobi memperhatikan detail saja kok kak."
"Daripada cuma jadi pengamat di pinggir panggung, kenapa tidak sekalian masuk kelas sanggar kami? Kebetulan kita lagi butuh orang yang punya perspektif segar buat proyek drama musikal bulan depan."
Azalea pura-pura terdiam. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu, memasang wajah seolah sedang menimbang-nimbang tawaran yang sangat berat. Padahal dalam hati ia sudah bersorak. Bergabung dengan sanggar ini adalah cara terbaik untuk mengisi waktu selama di Watuasih, apalagi ketuanya punya karisma yang sulit diabaikan.
"Hmm... gimana ya? Jadwal aku di sini cukup padat buat eksplorasi desa," Azalea berakting sebentar. "Tapi karena Kakak yang minta dan kelihatannya tim ini butuh sedikit sentuhan ekstra, oke deh, aku mau coba."
Hagia tersenyum lebar karena pancingannya bersambut. Ia lalu memberi kode kepada bagian admin di pojok pendopo. "Siska, tolong ambilkan satu formulir pendaftaran anggota baru."
Formulir itu pun berpindah tangan. Azalea mengisinya dengan cepat, dan dikumpulkan detik itu juga tanpa drama dibawa pulang dulu terus minta tanda tangan orang tua macam rapot. Ia menuliskan nama lengkapnya, alamat sementara di desa ini, dan nomor teleponnya dengan tulisan tangan yang rapi. Setelah selesai, ia menyerahkannya kembali kepada Siska, staf admin sanggar.
"Sudah beres. Besok aku mulai datang latihan jam berapa, Kak?" tanya Azalea.
"Jam empat sore kita mulai pemanasan."
"Oke. Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya kak. Udah malem."
"Sendirian? Mau saya antar?"
Para pemuda yang sedari tadi menguping langsung berdehem kencang. "Ehem! Ketua mulai bergerak!" goda salah satu dari mereka.
"Makasih tawarannya, Kak. Tapi aku tadi ke sini bareng teman. Jadi aku pulang bareng dia aja. Sampai ketemu besok ya, Pak Ketua."
Hagia mengangguk sopan. Lalu Azalea pun pergi dari sana.
"Cieee... ditolak ya, Lur?" ledek teman-temannya sambil tertawa. Biasanya gadis-gadis di desa itu akan berebut jika Hagia menawarkan bantuan. Tapi Azalea memberikan kesan bahwa dia bukan orang yang mudah didapatkan hanya dengan sekali tumpangan.
Hagia hanya tersenyum tipis, tidak menanggapi ledekan itu. Ia berjalan menuju meja admin, tempat Siska sedang memasukkan data formulir ke dalam laptop.
Tanpa bersuara, Hagia berdiri di belakang Siska. Matanya dengan jeli melihat formulir milik Azalea. Ia melihat deretan angka di kolom nomor telepon. Dengan gerak cepat, Hagia merogoh ponsel di saku celananya, lalu mengetikkan nomor tersebut dalam diam.
Ia tidak mengirim pesan, tidak juga menelepon. Ia hanya menyimpan nomor itu dengan nama Azalea. Ia kantongi lagi ponselnya, lalu berlalu sambil tersenyum.
.
.
Bersambung.
karena Hagia salah ngomong
🤣🤣🤣🤣🤣🤣