Jhon, bertarung demi kehormatan di medan perang. mengalami penyergapan yang terpaksa membuatnya harus meledakkan kekuatan terakhirnya. Dia kehilangan ingatan, kehilangan kekuatan, kehilangan identitas, bahkan nyaris kehilangan segalanya. Dari Jenderal bintang lima, Dari seorang pewaris keluarga William, seketika berubah menjadi bukan siapa-siapa dan bahkan dianggap lebih buruk dari sampah.
Mampukah Jhon menemukan kembali kekuatan yang pernah dia miliki, mampukah Jhon kembali menemukan jati dirinya? Ikuti kisahnya dalam karya saya yang berjudul 'PEWARIS YANG HILANG 2'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edane Sintink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan yang tak di sambut
...Bab 05...
Melihat istrinya merajuk seperti itu, Bellamy menatap ke arah Jhon dengan perasaan bersalah. Kemudian dia dan putrinya segera menaiki tangga menuju kamar untuk membujuk wanita yang tampak sudah sangat marah tersebut.
"Sayang. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud memarahi mu. Bukakan pintunya sayang!" Bujuk Bellamy ketika menemukan bahwa pintu kamar itu tertutup rapat dan dikunci dari dalam.
"Untuk apa kau kemari. Pergi saja urusi keponakan mu itu!"
"Buka lah dulu pintu ini. Kita bisa bicarakan baik-baik!"
Setelah membujuk agak lama, akhirnya pintu kamar itupun dibuka juga. Kini terlihat lah wajah yang muram dari Nyonya Bellamy.
"Ada apa lagi. Bukankah kau lebih membela anak liar itu? Pergi saja kepadanya dan jangan pedulikan aku!" Sentaknya dengan penuh rasa jengkel. Sudah dua puluh tahun lebih mereka bersama, ini lah pertama kali dirinya dibentak oleh suaminya. Dan yang membuatnya begitu marah adalah dirinya dibentak hanya karena tidak menyukai keberadaan Jhon di rumah mereka. Dia merasa rumah ini adalah milik mereka bersama. Dan dia berhak untuk menolak atau menerima siapapun yang ingin tinggal di rumah tersebut.
"Bukan begitu sayang. Berilah aku sedikit wajah. Kakak sepupu ku meminta agar aku menjaga Jhon selama berada di Canyon City ini. Dan aku sudah menyanggupi. Jika dia mengetahui bahwa kita tidak mengizinkan Jhon tinggal di rumah kita, kata apa yang akan aku pakai untuk menjelaskan kepada kakak sepupu ku itu?" Ada nada tak berdaya dan permohonan dari paman Bellamy kepada istrinya.
"Katakan saja bahwa aku tidak menginginkan agar anak angkatnya tinggal di rumah kita. Toh juga selama ini Matt tidak pernah mengunjungi kita. Giliran ada perlu, barulah dia menghubungi mu. Saudara apa itu," dia berhenti sejenak. Kemudian setelah memperhatikan bahwa Bellamy masih belum mengalah, dia langsung mengancam. "Baiklah. Sekarang kau pilih. Jika Jhon tinggal di rumah ini, maka aku dan Tiffany akan keluar dari rumah ini. Kau adalah kepala keluarga. Pilih saja!"
"Kalian berdua benar-benar membuatku tidak punya wajah. Ingatkan kau dulu ketika kita susah, Matt lah yang memberikan kita seratus ribu Dollar untuk modal membuka usaha. Walaupun dia tidak pernah mengunjungi kita, itu semua karena tugasnya sebagai tentara. Dia punya alasan yang tidak kita ketahui. Ingatlah, jika tanpa seratus ribu Dollar itu, kemungkinan kita saat ini tidak akan tinggal di rumah sebagus ini dan memiliki perusahaan. Mungkin kita menjadi pekerja migran atau mengemis di jalanan. Jangan jadi kacang yang lupa pada kulitnya!"
Perkataan ini membuat nyonya Bellamy terdiam. Mana mungkin dia dapat membantah. Mereka dulu sama-sama datang dari desa. Merangkak dari nol untuk berada pada posisi mereka sekarang. Ada kontribusi Matt dalam mengangkat derajat keluarga mereka. Dia tidak bisa menafikan bahwa dulu kehidupan mereka sungguh sangat melarat. Tapi ketika derajat mereka terangkat, perangai Audy pun mulai berubah. Mungkin pengaruh lingkungan atau karena ingin membuang memori buruk dari dalam ingatannya membuatnya berubah menjadi sombong dan jauh dari kata kesederhanaan.
"Huh... Tetap saja aku tidak ingin anak liar itu tinggal di rumah kita. Bagaimanapun dia hanyalah anak angkat. Sama sekali tidak memiliki garis darah yang sama. Kau bayangkan saja, orang asing seperti itu berada di rumah ini yang mana keluarga kita memiliki anak gadis. Siapa yang bisa menjamin bahwa kita tidak membiarkan seekor serigala memasuki rumah? Sebelum terjadi maka harus di jaga. Karena kalau sudah terjadi, menyesal pun sudah tidak berguna,"
Paman Bellamy hanya bisa menggaru kepalanya yang tidak gatal. Perkataan istri nya ada benarnya. Namun, dia menilai bahwa Jhon tidaklah seperti itu. Apa lagi argumen seperti itu dilandasi atas rasa tidak suka dari istrinya. Benar-benar membuatnya sangat frustasi.
"Begini saja. Aku juga tidak mungkin tidak memberimu wajah. Anak liar itu hanya bisa datang ke rumah kita sekali dalam satu bulan. Dan harus hari libur. Jadi, aku memberimu wajah dan itu adalah sesuatu yang tidak boleh untuk kau tawar-menawar lagi!"
"Sayang. Tapi ini sudah hampir malam. Dimana dia bisa menginap? Ini adalah hari pertamanya menginjakkan kaki di Canyon City. Apa kau sampai hati membiarkannya kelayapan di jalanan?"
"Mengapa tidak tega? Dia anak laki-laki. Apa yang salah dengan itu? Sebagai seorang lelaki, dia harus bisa beradaptasi dan melindungi dirinya sendiri. Ingat ya! Jika dia tidak pergi, aku yang pergi!"
Dengan wajah murung, Paman Bellamy hanya bisa pasrah lalu meninggalkan kamar itu menuju ke lantai bawah. Kemudian dia menemukan Jhon masih berdiri di sana sambil terus memeluk tas ransel miliknya. Sedih betul hatinya melihat keadaan Jhon seperti itu. Dia ingat seperti apa dirinya dulu ketika masih bujangan. Tidak beda jauh dengan Jhon yang saat ini.
Sambil menghela nafas, dia perlahan menghampiri pemuda itu. Sebaik saja dia ingin bicara, Jhon telah mendahuluinya. "Paman tidak perlu berkata apa-apa. Saya mengerti kesulitan paman. Tenang saja, saya tidak akan mengatakan apapun kepada ayah angkat,"
"Maafkan ketidakmampuan paman. Di rumah ini, singa betina itulah penguasanya!" Ujar paman Bellamy. Dia terduduk lemas di atas sofa seolah-olah sedang memikirkan ketidakberdayaan nya menghadapi istrinya padahal dia lah kepala keluarga.
"Jhon ijin pamit, Paman!" Kata Jhon. Dia membungkuk sebelum berbalik badan lalu melangkah meninggalkan rumah paman Bellamy.
"Kau akan kemana Jhon?" Tanya paman Bellamy segera berlari menghampiri.
Jhon berbalik lalu menggeleng samar.
"Di kartu ini ada lima ribu Dollar. Kau bisa menggunakannya untuk kebutuhan," katanya sembari menyerahkan kartu bank kepada Jhon. Namun baru saja kartu itu dia ulurkan, tiba-tiba sebuah tangan halus langsung menyambar kertu tersebut. Hal ini membuat Paman Bellamy terkejut lalu menatap si pemilik tangan. "Sayang, apa yang kamu lakukan. Kembalikan!"
"Huh. Benar kata ku kan. Anak liar ini hanya ingin memanfaatkan keluarga kita. Tidak ada sepeserpun uang yang kita miliki tanpa usaha. Enak saja memberikannya kepada orang liar. Memberi makan kepada anjing peliharaan jauh lebih baik. Setidaknya anjing masih dapat menjaga rumah. Kau memberikan uang secara cuma-cuma, apa yang bisa kau dapatkan? Belum tentu kebaikan mu akan dibalas dengan kebaikan pula!"
"Kau sungguh keterlaluan!" Bellamy ingin marah. Tapi Nyonya Bellamy tidak menggubris, sebaliknya dia dengan lenggak-lenggok meninggalkan kedua orang itu lalu kembali ke kamarnya.
"Ini..?!"
"Tidak apa-apa paman. Saya punya bekal dari ayah angkat. Paman tidak perlu khawatir,"
"Huh.., sekali lagi aku tidak berdaya. Simpan nomor paman. Jika ada sesuatu, kau bisa menghubungi paman dan paman akan membantu mu. Apakah kau memiliki handphone?" Tanya Paman Bellamy. Hanya ini yang bisa dia lakukan. Dia berjanji dalam hati bahwa ketika Jhon membutuhkan bantuannya, dia akan membantu secara sembunyi-sembunyi dari istrinya.
"Ada," jawab Jhon sebelum mengeluarkan handphone yang sudah sangat ketinggalan jaman dari sakunya.
Setelah saling bertukar nomor telepon, Jhon pun segera meminta diri lalu meninggalkan Central Canyon Community dengan iringan tatapan paman Bellamy yang tidak berdaya.
semangat author untuk terus berkarya..../Good/💪
itu adalah angka keramat 18+++