Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.
Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.
Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.
Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Arjuna menggeleng tegas. "Aku bukan anak kecil!"
Mendengar itu, Aurora terkekeh lalu mengangguk. "Baiklah, sini pindah. Kalian harus segera tidur, karena besok kita harus pulang."
Arjuna beranjak dari ranjang kecil menuju ranjang besar, dia menarik selimut lalu membungkus dirinya bersama sang adik lalu memejamkan mata.
Aurora mengamati kedua anak kecil itu, hatinya merasa aneh karena sebelumnya dia sama sekali tidak pernah bersinggungan dengan anak kecil.
Dia yang hidup sebatang kara setelah ibunya meninggal sudah lama membuang rasa empatinya, bagi Clara perasaan seperti itu sangat mengganggu untuk misi yang dia jalani.
Tapi sekarang, dia tak bisa membiarkan anak-anak itu sendirian. Terlebih dia belum tahu latar belakang Aurora dan alasan dia memperlakukan anaknya dengan kejam.
"Sepertinya aku harus mencari tahu detailnya lebih dulu sebelum bertindak," gumam Aurora.
Dia melangkah menuju nakas di samping ranjang besar, kemudian mengambil ponselnya dan membuka chat di ponsel itu.
Detik berikutnya, kening Aurora mengernyit halus begitu melihat deretan pesan centang satu yang di tunjukan pada nomor yang di beri nama 'Suamiku'.
"Astaga, wanita ini benar-benar gila."
Aurora memblokir nomor itu, dan menghapusnya dari kontak. Setelahnya, dia mencari kontak anggota keluarga tubuh barunya, namun tidak ada satupun nama ayah atau ibu dalam kontak itu.
"Apa tubuh ini yatim pia–"
Perkataan Aurora terhenti saat ponselnya bergetar halus dan nomor tak di kenal masuk, Aurora menggeser icon berwarna hijau lalu menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Halo," sapa Aurora.
"Ah, syukurlah Anda mengangkat telepon saya Nona."
"Kau siapa?"
Terdengar suara deheman dari seberang sambungan telepon, sebelum suaranya kembali terdengar.
"Saya notaris keluarga Anda, bisakah kita bertemu besok pagi?"
"Baiklah, kirim alamatnya aku akan ke sana."
Setelah mendapat jawaban, Aurora mematikan sambungan teleponnya. Dia merasa ada yang aneh karena notaris meneleponnya, bukan keluarganya.
Jemari lentik Aurora bergerak membuka internet dan mengetik nama keluarganya, Alverez Group. Layar ponsel memantulkan cahaya pucat ke wajah Aurora.
Jemarinya berhenti sejenak sebelum akhirnya menekan tombol pencarian. Alverez Group.
Hanya butuh beberapa detik sebelum deretan berita memenuhi layar. Aurora membacanya satu per satu. Judul-judul itu membuat napasnya tertahan.
"TRAGEDI UDARA: PESAWAT PRIBADI MILIK ALVEREZ GROUP MELEDAK DI UDARA DALAM PENERBANGAN KE MILAN."
"PRESIDEN ALVEREZ GROUP DAN ISTRI DINYATAKAN TEWAS, TAK ADA KORBAN SELAMAT."
"INSIDEN TERJADI SATU BULAN LALU, PENYEBAB MASIH DALAM PENYELIDIKAN."
Aurora menatap layar tanpa berkedip. Satu bulan yang lalu. Jantungnya berdegup pelan, berat. Jadi bukan sekadar yatim piatu. Tubuh ini kehilangan kedua orang tuanya… dalam satu peristiwa brutal.
Aurora menggulir layar, membaca detailnya. Pesawat meledak di ketinggian. Tidak sempat mengirim sinyal darurat. Tidak ada jenazah yang utuh. Semua dinyatakan meninggal di tempat.
"Mirip sabotase," gumam Aurora.
Dia kembali mencari informasi tentang keluarganya, dan sebuah fakta baru mengejutkannya.
"Wah, jadi ada yang memanfaatkan kosongnya posisi CEO Alverez rupanya."
Dalam berita yang beredar di internet, perusahaan Alverez Group di ambil alih oleh pama Aurora yakni Jeremi Vander.
Aurora menyipitkan mata. Nama itu terasa asing di lidahnya, namun entah kenapa dadanya menegang saat membacanya.
Jeremi Vander. Paman Aurora. Adik dari ayah Aurora.
Berita demi berita menampilkan wajah pria paruh baya dengan senyum percaya diri di depan gedung Alverez Group, dikelilingi wartawan dan jajaran direksi. Pria itu melambaikan tangan seolah sedang menunjukan pada dunia bahwa dia berhasil duduk di puncak kejayaan Alverez Group.
Itulah yang Aurora rasakan, dia tidak bodoh dalam membaca situasi pelik seperti saat ini. Kekuasaan sering kali menjadi bumerang dan dalang utama bagi seseorang untuk saling membunuh, demi memuaskan hasrat dalam dirinya.
"Selalu seperti ini," ujarnya malas.
"JEREMI VANDER DITUNJUK SEBAGAI CEO SEMENTARA ALVEREZ GROUP."
"DEWAN DIREKSI MENYETUJUI KEPEMIMPINAN BARU DEMI STABILITAS PERUSAHAAN."
Aurora mengembuskan napas pelan. Sementara. Kata itu terlalu nyaman dipakai oleh orang-orang yang berniat tinggal selamanya, dengan kedok sebagai wali sah dari sang pewaris mereka mulai menggerogoti dan menghasut orang-orang untuk berpihak penuh padanya dan membuang pewaris aslinya.
Dia membaca lebih dalam. Artikel demi artikel menyebutkan bahwa Aurora Alverez, sebagai ahli waris yang sah mengalami gangguan mental berat pascakecelakaan udara yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.
"PUTRI TUNGGAL KELUARGA ALVEREZ DIKABARKAN TIDAK STABIL SECARA PSIKOLOGIS."
"DILAPORKAN BEBERAPA KALI MELAKUKAN TINDAKAN BERBAHAYA BERSAMA ANAK-ANAKNYA."
Aurora mengepalkan tangannya. Jadi begini caranya dia bermain.
Menghancurkan reputasi pewarisnya.
Menyematkan label jika dia tidak waras.
Lalu mengambil alih segalanya dengan dalih penyelamatan dan menstabilkan perusahaan.
"Licik," gumam Aurora lirih. "Dan rapi."
Matanya beralih ke ranjang besar. Arjuna dan Riven tertidur berpelukan, wajah mereka tenang untuk pertama kalinya malam itu. Dua anak kecil yang dijadikan bukti hidup bahwa Aurora yang dulu memang runtuh, dan itu dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitarnya bahkan mereka sama sekali tidak merasa kasihan pada Aurora.
Aurora menunduk, menatap pantulan wajahnya di layar ponsel yang gelap. Jadi bukan hanya kesedihan yang menghancurkan Aurora Alverez.
Dia ditinggalkan oleh suaminya. Dipojokkan. Lalu dijadikan alasan untuk merampas segalanya.
Tak heran jika Aurora yang lama berubah menjadi sosok penuh amarah dan putus asa. Tak heran jika dia mulai menyakiti orang-orang yang paling lemah, karena dia kehilangan arah dan kendali hidupnya.
Aurora kehilangan tumpuan hidupnya, dia terombang-ambing dalam keputusasaan yang berujung menyalahkan anak-anaknya atas semua musibah yang dia alami.
"Semua itu jelas bukan pembenaran," bisik Aurora pada dirinya sendiri. "Tapi itu menjelaskan segalanya, dan alasan mengapa tubuh ini memiliki sikap kasar."
Aurora kembali membuka berita lain, kali ini tentang warisan.
"SELURUH ASET KELUARGA ALVEREZ DIBEKUKAN SEMENTARA MENUNGGU KONDISI PEWARIS UTAMA MEMBAIK."
Dibekukan. Aurora tersenyum tipis, setidaknya masih ada harapan untuknya merebut kembali semua hak-hak miliknya.
"Dan notaris itu…" gumamnya. "Akhirnya bergerak sekarang."
Dia meletakkan ponsel perlahan di atas nakas, lalu duduk di kursi dekat ranjang. Tangannya terkatup, sikapnya tenang, jauh berbeda dari kekacauan di kepalanya.
Sebagai Clara, dia tahu satu hal dengan sangat baik. Kematian jarang terjadi karena kecelakaan atau kebetulan. Kekuasaan tidak pernah berpindah tangan tanpa darah dan pengorbanan.
Dan orang yang paling diuntungkan… hampir selalu orang yang paling dekat dengan korban. Karena dia sendiri mengalaminya, dan dirinya yang sudah berkorban banyak justru di singkirkan oleh orang yang paling dia percayai.
Aurora menatap dua anak itu sekali lagi.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok," bisiknya pelan. "Tapi satu hal pasti."
Dia mengepalkan kedua tangannya. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun memanfaatkan nama Alverez lagi. Termasuk pria tua bangka itu!"