NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

18. TGD.18

Hubungan antara Shelly dan Arkan tidak meledak seperti kembang api yang cepat padam; ia tumbuh perlahan, setenang padi yang menunggu musim panen. Shelly adalah tipe wanita yang logis, sementara Arkan adalah pria yang penuh perhitungan matang. Keduanya sama-sama tahu bahwa menyatukan dua dunia—kota dan desa—butuh waktu lebih dari sekadar kata-kata manis.

---

Setelah kejadian "ujian mencangkul" itu, Arkan benar-benar menepati janjinya. Ia tidak lagi muncul dengan setelan kantor yang kaku setiap kali menemui Shelly. Ia mulai beradaptasi. Sore itu, Arkan duduk di bangku kayu di depan kantor koperasi, menunggu Shelly menyelesaikan laporan stok beras untuk pengiriman ke Jakarta.

"Masih lama, Shel?" tanya Arkan sambil memperhatikan jemari Shelly yang lincah menari di atas *keyboard* laptop.

"Sebentar lagi, Mas. Tanggung, tinggal sinkronisasi data dari sensor di blok utara. Kenapa? Mas Arkan sudah lapar?" Shelly menjawab tanpa menoleh.

"Enggak juga. Cuma lagi mikir, bagaimana bisa seorang sarjana pertanian sepertimu bisa lebih sibuk dari manajer konstruksi di Jakarta?" canda Arkan. Ia lalu meletakkan sebuah kantong kecil di atas meja. "Tadi aku mampir ke pasar kecamatan. Ada jeruk nipis segar, katanya bagus buat tenggorokanmu yang sering serak karena banyak bicara di depan petani."

Shelly menghentikan ketikannya. Ia menoleh ke arah Arkan, tersenyum tipis. Perhatian-perhatian kecil seperti inilah yang perlahan mulai meruntuhkan dinding pertahanan Shelly. "Terima kasih, Mas. Perhatianmu lama-lama bisa bikin aku manja."

"Memangnya nggak boleh?" Arkan menatap mata Shelly dengan dalam. "Semua orang di desa ini bergantung padamu, Shel. Kadang kamu juga butuh tempat buat bersandar, kan?"

Shelly terdiam sejenak. Kalimat itu tepat sasaran. Di balik ketangguhannya, ada saat-saat ia merasa sangat lelah. "Kita bicarakan itu sambil jalan pulang, yuk. Aku mau mampir ke sawah blok C dulu, mau cek saluran irigasi."

---

Mereka berjalan menyusuri pematang sawah saat matahari mulai melunak. Udara desa yang sejuk mulai berembus, membawa aroma padi yang sedang "hamil". Arkan berjalan di belakang Shelly, menjaga agar Shelly tidak terpeleset, meski sebenarnya Shelly jauh lebih ahli berjalan di sana daripada dirinya.

"Shel," Arkan membuka suara setelah lama terdiam. "Banyak teman-temanku di Jakarta bertanya, apa yang aku cari di sini. Mereka nggak percaya aku betah tinggal di mess proyek yang airnya sering mati."

"Lalu kamu jawab apa?"

"Aku bilang, aku sedang belajar tentang waktu. Di kota, semuanya serba cepat. Kita dikejar *deadline*, dikejar macet, dikejar target. Tapi di sini, aku lihat kamu menunggu padi tumbuh. Kamu sabar menghadapi Pak Kardi yang keras kepala. Kamu menikmati proses." Arkan berhenti melangkah, membuat Shelly ikut berhenti dan berbalik. "Kamu membuat aku ingin ikut berhenti mengejar hal-hal yang nggak perlu, dan mulai menanam sesuatu yang nyata."

Shelly menatap sepatu botnya yang terkena sedikit lumpur. "Tapi Mas, hidup di desa itu nggak selamanya indah seperti di foto. Ada musim kemarau yang bikin kita pusing, ada hama yang bisa bikin kita rugi dalam semalam. Apa kamu siap kalau suatu saat nanti hidup kita nggak seharum kopi kafe di Jakarta?"

Arkan mendekat satu langkah. "Shel, aku sudah lihat kamu saat kamu marah karena sensor air rusak, aku sudah lihat kamu menangis waktu panen pertama koperasi berhasil. Aku lebih suka realita itu daripada kepalsuan di kota. Aku nggak cari bidadari, Shel. Aku cari rekan untuk membangun sesuatu."

Shelly merasakan pipinya memanas. Ia segera memalingkan wajah, kembali berjalan. "Jangan terlalu banyak baca buku puitis, Mas. Nanti bicaramu makin nggak masuk akal buat aku yang hobi main lumpur ini."

Meskipun bicaranya dingin, Shelly tidak bisa menyembunyikan senyum yang tersungging di sudut bibirnya.

Suatu malam Minggu, Shelly memberanikan diri mengajak Arkan makan malam di rumah. Ini bukan makan malam biasa; ini adalah "sidang" tidak resmi dari Bapak dan Ibu.

Di meja makan, Ibu menyajikan ikan mujaer bakar hasil pancingan Abang Shelly sore tadi, lengkap dengan sambal terasi dan lalapan segar. Arkan duduk berhadapan dengan Bapak yang sejak tadi hanya diam, memperhatikan cara Arkan memegang sendok.

"Nak Arkan," suara Bapak memecah kesunyian. "Bapak dengar kamu mau menetap di sini untuk proyek gedung itu dua tahun ke depan?"

"Betul, Pak. Saya juga sedang mengusulkan pada kantor saya agar kami bisa membantu desain renovasi balai desa secara cuma-cuma sebagai bagian dari pengabdian perusahaan," jawab Arkan dengan sopan.

Bapak mengangguk-angguk pelan. "Bagus. Lelaki itu harus punya karya yang bisa dilihat orang banyak. Tapi, Bapak mau tanya satu hal. Shelly itu keras kepala. Dia lebih cinta sama sawahnya daripada sama perhiasan. Kalau nanti kalian... katakanlah, ada kecocokan lebih jauh, apa kamu sanggup melihat istrimu pulang maghrib dengan bau pupuk setiap hari?"

Shelly tersedak air minumnya. "Bapak! Apa sih bicaranya kok sampai ke sana!"

Ibu mencubit pelan lengan Bapak, tapi matanya juga menunggu jawaban Arkan.

Arkan meletakkan sendoknya, menatap Bapak dengan tenang. "Pak, justru bau pupuk itu yang membuat saya kagum sama Shelly. Di mata saya, bau itu adalah bau perjuangan. Saya tidak akan mengubah Shelly jadi orang lain. Tugas saya nanti, kalau Bapak mengizinkan, adalah menyediakan tempat pulang yang nyaman buat dia setelah dia lelah di sawah."

Bapak terdiam lama. Suasana menjadi sangat tegang. Abang Shelly hanya asyik mengunyah kerupuk, pura-pura tidak dengar. Tiba-tiba, Bapak tertawa kecil.

"Ternyata lidahmu lebih licin dari belut sawah ya, Nak Arkan," goda Bapak. "Tapi Bapak pegang kata-katamu. Shelly ini harta paling berharga di rumah ini. Kalau kamu bikin dia sedih sampai dia nggak mau ke sawah lagi, Bapak sendiri yang akan antar kamu ke terminal tanpa bus."

Semua orang tertawa, termasuk Shelly yang hatinya kini terasa sangat lega. Malam itu, Arkan bukan lagi orang asing; ia adalah tamu yang diterima dengan pintu terbuka.

---

Beberapa minggu setelah makan malam itu, desa dilanda hujan badai. Shelly sedang berada di balai desa, membantu beberapa petani mengamankan bibit padi unggul yang baru tiba. Arkan muncul dengan jas hujan kuningnya, membantu memindahkan karung-karung berat meskipun napasnya tersengal.

Setelah semua selesai, mereka berteduh di selasar balai desa. Suara hujan yang menghantam atap seng menciptakan kebisingan yang mengisolasi mereka dari dunia luar.

"Tanganmu merah-merah, Mas," ucap Shelly sambil menarik tangan Arkan. Ada lecet karena gesekan karung. "Sini, aku obati."

Shelly mengeluarkan kotak P3K kecil yang selalu ada di tasnya. Dengan telaten, ia membersihkan luka di tangan Arkan. Jarak mereka sangat dekat. Arkan bisa mencium aroma sabun melati dari kerudung Shelly, sementara Shelly bisa merasakan hembusan napas Arkan di ubun-ubunnya.

"Shel," bisik Arkan.

"Iya?"

"Aku sudah bicara sama orang tuaku di Jakarta. Minggu depan, mereka mau main ke sini. Mau lihat desa yang katanya bikin anak mereka 'lupa pulang' ini."

Shelly menghentikan kegiatannya mengoles salep. Ia menengadah, menatap Arkan dengan mata yang berkaca-kaca. "Mas... apa mereka nggak akan kecewa lihat calon... maksudku, lihat temanmu ini cuma seorang gadis desa yang kantornya di bawah pohon mangga?"

Arkan meraih kedua tangan Shelly, menggenggamnya dengan erat. "Ibuku pasti akan suka padamu. Dia selalu bilang, dia ingin punya menantu yang punya prinsip. Dan kamu, Shelly Anindya, adalah prinsip itu sendiri. Aku bangga padamu. Aku ingin mereka juga merasakan kebanggaan itu."

Shelly menunduk, menyembunyikan air matanya yang jatuh. "Aku nggak pernah menyangka, di antara semua tantangan membangun koperasi ini, tantangan terberatnya adalah menghadapi perasaan sendiri."

"Kamu nggak perlu menghadapi itu sendirian lagi, Shel. Aku di sini. Sebagai arsitek, aku tahu cara membangun pondasi. Dan aku ingin membangun pondasi masa depan kita di atas tanah ini."

Hujan mulai mereda, menyisakan bau tanah yang basah dan segar—aroma favorit Shelly. Di selasar balai desa itu, tanpa kata-kata puitis berlebihan, sebuah janji tak tertulis telah terukir.

---

Hubungan asmara shelly dan Arkan, tidak ada lamaran yang mewah di restoran berbintang. Semuanya mengalir melalui izin Bapak, lewat obrolan di sela-sela panen, dan lewat tatapan mata yang saling menguatkan saat salah satu dari mereka lelah.

Arkan mulai sering terlihat ikut kerja bakti bersama warga. Ia mulai bisa membedakan mana bibit padi yang bagus dan mana yang tidak. Sementara Shelly, ia mulai belajar untuk memberikan ruang bagi Arkan di dalam dunianya yang selama ini hanya berisi kerja keras.

Suatu hari, Shelly menemukan sebuah sketsa di meja kerja Arkan di kantor proyek. Bukan sketsa gedung atau jembatan, melainkan sketsa sebuah rumah kecil yang sangat cantik, terletak di pinggir sawah, dengan jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke arah matahari terbit. Di bawah sketsa itu tertulis: *"Rumah Untuk Sang Dewi Padi."*

Shelly tersenyum, hatinya membuncah. Ia tahu, perjuangannya selama ini bukan hanya berbuah beras yang bernas dan kesejahteraan desa, tapi juga berbuah kasih sayang yang tumbuh dari akar yang sama: rasa hormat pada tanah dan kehidupan.

Langkah Shelly kini lebih ringan. Ia tidak lagi hanya berjalan menuju masa depan desanya, tapi ia berjalan menuju masa depan yang ia bangun bersama seseorang yang mau berjalan di lumpur yang sama dengannya.

Like&komen yaa Manteman…

biar bisa bikin semangatttt

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!