NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni yang Canggung

Tatapan itu terputus saat Eleanor menurunkan sapu tangannya. Mata birunya yang jernih menyipit, fokus menembus debu dan silau matahari, mencari sesuatu di antara kami.

Dan kemudian, dia menemukannya.

"Lily?" suaranya bergetar pelan, sarat dengan emosi yang terdengar tulus, atau setidaknya, sangat terlatih untuk terdengar tulus. "Elara?"

Lily di sampingku tersentak. Bibirnya bergetar membentuk senyuman gugup. "Bibi Eleanor?"

Wanita itu melangkah maju. Sepatu hak tingginya menancap ke tanah lunak, tapi dia tidak peduli. Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, seolah ingin merengkuh kami berdua sekaligus. Aroma parfum mahal, wangi bunga lili dan cashmere menguar dari tubuhnya, menabrak bau keringat dan debu yang menyelimuti kami.

"Oh, Tuhan... lihat kalian," Eleanor terisak kecil. "Kalian sudah besar sekali."

Dia memeluk Lily. Adikku yang naif itu langsung luluh, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan wanita asing yang wangi itu. Lily memejamkan mata, mungkin membayangkan dia sedang dipeluk oleh ibu yang tidak pernah dia kenal.

Lalu, Eleanor melepaskan Lily dan beralih padaku.

Dia tersenyum hangat, matanya berkaca-kaca. "Elara, sayang..."

Dia mengulurkan tangannya, hendak menyentuh pipiku.

Aku mundur selangkah.

Gerakanku tajam, kasar, dan defensif. Tumitku menghantam ubin pecah di belakangku dengan suara krek yang jelas.

Tangan Eleanor berhenti di udara. Senyumnya membeku, lalu perlahan memudar, digantikan oleh kebingungan yang canggung.

"Jangan," kataku datar. Suaraku parau, tapi tegas.

"Elara..." bisik Eleanor, tangannya masih menggantung konyol di udara. "Aku bibimu. Aku hanya ingin..."

"Anda bukan bibi saya," potongku dingin. "Bibi saya tidak akan membiarkan kami membusuk di sini selama dua belas tahun."

Eleanor tersentak mundur seolah aku baru saja menamparnya. Dia menarik tangannya kembali ke dada, wajahnya memucat di balik riasan sempurnanya.

Di belakangnya, bayangan gelap bergerak.

Ciarán melangkah maju, berdiri tepat di belakang bahu kiri ibunya. Dia tidak terlihat marah karena aku menolak ibunya. Dia bahkan tidak terlihat terkejut.

Dia hanya... melihat.

Mata gelapnya bergerak turun, menyapu tubuhku dari ujung rambut yang kusut, melewati wajahku yang kusam, turun ke kaos kedodoran yang berlubang, celana jeans lusuh, hingga ke kaki telanjangku yang kotor.

Itu bukan tatapan seorang pria yang melihat wanita. Itu bukan tatapan kerabat yang melihat keluarga yang hilang.

Itu adalah tatapan seorang investor yang sedang berdiri di depan sebuah bangunan tua yang hampir roboh. Dia sedang menghitung retakan di fondasi. Dia sedang menilai apakah rayap sudah memakan habis struktur utamanya. Dia sedang mengkalkulasi biaya renovasi versus potensi keuntungan.

Matanya menelanjangiku lebih parah daripada jika dia melucuti pakaianku. Dia menelanjangi kemiskinanku, menilainya, dan memberinya label harga yang sangat murah.

"Kasar," ucap Ciarán akhirnya. Satu kata itu keluar dari mulutnya dengan nada datar, tanpa emosi, tapi memiliki bobot vonis hakim.

"Ciarán, jangan..." Eleanor mencoba menengahi, kembali memasang wajah ramah yang dipaksakan.

Ciarán mengabaikan ibunya. Dia menatap lurus ke mataku, dan untuk sedetik, aku melihat kilatan sesuatu yang berbahaya di sana.

"Dia punya nyali yang besar untuk seseorang yang berdiri di atas tanah yang bukan miliknya," lanjut Ciarán tenang.

Aku menegakkan punggungku, mengangkat daguku tinggi-tinggi meski lututku gemetar. Aku tidak akan membiarkan dia melihatku takut. Tidak lagi.

"Tanah ini mungkin bukan milikku," balasku, menatapnya tajam. "Tapi tubuh ini milikku. Dan aku tidak butuh orang asing menyentuhnya."

Sudut bibir Ciarán terangkat sedikit—sangat tipis, nyaris tak terlihat. Itu bukan senyuman. Itu adalah tanda bahwa dia baru saja menemukan sesuatu yang menarik di tumpukan sampah.

Ruang tamu Panti Asuhan St. Jude sebenarnya hanyalah sebuah sudut di aula utama yang disekat oleh lemari buku kosong. Di sana, terdapat satu set sofa beledu merah tua, satu-satunya perabot yang masih layak duduk karena jarang dipakai. Sofa itu adalah peninggalan donatur sepuluh tahun lalu, warnanya sudah memudar menjadi merah bata yang kusam, dan baunya seperti debu tua yang terperangkap dalam kain tebal.

Kami duduk berhadapan.

Di satu sisi, ada Eleanor Vane. Dia duduk di tepi sofa dengan punggung tegak sempurna, seolah-olah dia sedang minum teh di istana Ratu Inggris dan bukan di gedung bobrok yang atapnya bisa runtuh kapan saja. Tangannya yang terawat bertumpu di pangkuan, menggenggam tas kulit Hermès seharga ginjal manusia dengan erat.

Di sampingnya, Ciarán Vane duduk dengan kaki disilangkan.

Pria itu tampak sangat tidak pada tempatnya. Setelan jas mahalnya yang berwarna arang terlihat menggelikan di atas kain sofa yang berdebu. Dia tidak bersandar. Dia tidak melihat ke arah kami. Sebaliknya, dia mengeluarkan ponsel tipis dari saku jasnya, jari jempolnya menggulir layar dengan gerakan cepat dan bosan. Cahaya layar ponsel itu memantul di wajahnya yang datar, satu-satunya sumber cahaya modern di ruangan suram ini.

Di sisi lain, ada aku dan Lily.

Kami duduk merapat, bahu kami bersentuhan. Lily masih memegang tanganku, telapaknya berkeringat dingin. Dia menatap Eleanor dengan mata berbinar-binar, seperti anak kucing yang baru saja diberi susu. Sementara aku duduk kaku, otot-otot rahangku mengeras sampai rasanya sakit.

Keheningan di antara kami begitu tebal hingga rasanya bisa diiris dengan pisau.

"Jadi..." Eleanor memulai, suaranya sedikit bergetar, mencoba memecahkan es yang sudah membeku selama satu dekade. "Bagaimana kabar kalian selama ini? Ayah kalian... Edward...?"

"Mati," jawabku singkat.

Eleanor tersentak pelan, tangan lentiknya menutup mulut. "Oh, Tuhan. Kapan?"

"Tiga bulan setelah kami ditolak di depan gerbang Anda," kataku, menatap lurus ke mata birunya. Aku ingin dia mendengarnya. Aku ingin dia merasakannya. "Dia mati kedinginan di kolong jembatan karena pneumonia. Tidak ada obat. Tidak ada selimut. Hanya koran bekas."

Wajah Eleanor memucat. Dia menunduk, menghindari tatapanku. "Elara, aku... kami tidak tahu. Julian bilang Edward sudah pergi ke luar kota. Kami pikir dia membawa kalian ke tempat yang lebih baik."

"Anda pikir?" Aku tertawa kecil, tawa kering yang tidak menyentuh mata. "Atau Anda memilih untuk tidak peduli karena itu lebih mudah?"

"Cukup," suara bariton yang rendah memotong pembicaraan kami.

Ciarán tidak mendongak dari ponselnya, tapi suaranya mengisi ruangan dengan otoritas yang menekan. "Ibu tidak datang ke sini untuk mendengarkan drama sejarah. Sampaikan intinya, lalu kita pergi. Aku punya rapat jam dua."

Eleanor menarik napas panjang, mengumpulkan ketenangannya kembali. Dia menatap kami lagi, kali ini dengan ekspresi yang dia anggap sebagai belas kasih, tapi bagiku terlihat seperti rasa bersalah yang sedang mencari penebusan murah.

"Ciarán benar," kata Eleanor lembut. "Masa lalu tidak bisa diubah, Elara. Tapi masa depan bisa."

Dia condong ke depan, matanya basah. "Aku dihantui rasa bersalah setiap malam sejak kalian pergi. Aku tahu aku tidak bisa mengembalikan Edward, tapi aku bisa menebusnya dengan merawat kalian. Aku ingin kalian ikut kami. Pulang ke Vane Manor."

Lily memekik kecil, tangannya meremas lenganku. "Kak! Kau dengar itu? Kita akan punya rumah!"

Aku tidak menanggapi Lily. Mataku beralih pada Ciarán.

Pria itu masih menatap ponselnya, tapi aku melihat sudut bibirnya sedikit turun—tanda ketidaksukaan yang samar. Dia tidak menginginkan kami di sana. Itu jelas. Kami hanyalah proyek amal ibunya, cara untuk membersihkan hati nurani keluarga Vane supaya mereka bisa tidur nyenyak di kasur sutra mereka.

"Merawat kami?" ulangku skeptis. "Sebagai apa? Pelayan? Tukang kebun?"

"Sebagai keluarga," tegas Eleanor cepat. "Kalian adalah keponakanku. Darah daging Vane. Kalian akan mendapatkan kamar yang layak, pendidikan, makanan... kehidupan yang seharusnya kalian miliki."

Tawaran itu terdengar seperti mimpi. Bagi Lily, itu adalah surga. Tapi bagiku, itu terdengar seperti jebakan.

"Dan apa yang Anda inginkan sebagai gantinya?" tanyaku curiga. "Orang kaya tidak pernah memberi sesuatu secara gratis."

Eleanor tampak terluka. "Aku tidak meminta apa pun, Elara. Hanya kesempatan untuk menjadi bibi yang baik."

"Jangan naif, Ibu," Ciarán akhirnya mematikan layar ponselnya. Dia memasukkannya kembali ke saku, lalu mengangkat wajahnya menatapku. Tatapan itu dingin, kalkulatif, dan brutal.

"Dia benar," kata Ciarán pada ibunya, tapi matanya mengunci mataku. "Tidak ada yang gratis di dunia ini. Kalian akan mendapatkan atap, makanan, dan uang saku. Sebagai gantinya, kalian harus berhenti menjadi aib."

"Ciarán!" tegur Eleanor.

"Apa?" Ciarán mengangkat bahu tak acuh. "Itu kebenarannya. Ayah tidak akan suka ada dua gelandangan berkeliaran di rumahnya. Jika mereka mau ikut, mereka harus dibersihkan, dididik, dan diajari cara bersikap seperti manusia beradab. Itu harganya. Harga diri kalian yang menyedihkan itu ditukar dengan kenyamanan hidup."

Kata-katanya menampar lebih keras daripada tangan siapa pun. Dia menyebut kami gelandangan. Dia menyebut harga diriku menyedihkan.

Dan yang paling menyakitkan adalah... dia benar.

Aku melihat sekeliling ruangan panti yang suram ini. Bau apek, debu, kelaparan. Lalu aku melihat setelan jas Ciarán yang licin, kulit Eleanor yang wangi.

Perutku berbunyi pelan, mengingatkanku pada roti basi yang kumakan tadi pagi.

Harga diri tidak bisa dimakan, Elara. Harga diri tidak melindungimu dari hujan.

Tapi menyerahkan hidupku pada pria yang menatapku seperti sampah? Itu rasanya seperti menelan paku.

1
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!