Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.
Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.
Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.
Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5. Malam yang Pecah
Noa memutuskan untuk tidak pulang hari itu. Ia tidak siap menghadapi desakan kedua orang tuanya, tidak siap bertemu dengan seseorang yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya untuk rencana pernikahan. Ia hanya ingin menjauh beberapa saat dari semuanya.
Ia menaiki bus kecil menuju kota sebelah. Kota itu tidak besar, Namun jauh lebih ramai dan lebih hidup dibandingkan desanya. Di sana, bangunan modern berdiri berdampingan dengan taman-taman kecil yang ditata rapi. Sore itu, matahari terbenam perlahan di balik gedung tinggi, meninggalkan cahaya keemasan yang merayap di antara dedaunan.
Noa menemukan sebuah taman yang indah, modern dengan sentuhan arsitektur minimalis. Air mancur kecil di tengahnya memantulkan warna langit senja. Anak-anak berlarian, pasangan muda sampai tua duduk di bangku sambil tertawa kecil, dan angin membawa aroma bunga musim semi yang baru mekar.
Namun semuanya terasa jauh bagi Noa. Ia duduk di salah satu bangku taman, menautkan tangannya dipangkuannya, membiarkan kepalanya tertunduk. Mata hazelnya yang indah itu kini sembab dan merah. Orang-orang lewat menoleh sekilas, tapi tidak ada yang benar-benar berhenti.
Sampai seseorang duduk di sampingnya. Seorang wanita tua, rambut abu-abu kecoklatan disanggul sederhana, mengenakan mantel wol biru tua. Wajahnya lembut, keriputnya seperti terbentuk dari seringnya tersenyum, bukan dari kepahitan hidup.
Ia tidak bicara dulu. Hanya duduk, membiarkan Noa menarik napas yang gemetar. Beberapa menit kemudian, dengan suaranya yang hati-hati dan penuh empati, wanita itu bertanya,
“Matahari belum sepenuhnya tenggelam, nak. Tapi kenapa kau terlihat seperti kehilangan dunia?”
Noa menutup mata rapat-rapat. Tidak tahu harus menjawab atau tidak. Suaranya nyaris tidak keluar saat ia berkata “Aku hanya bingung.” Wanita itu mengangguk pelan, tidak menuntut penjelasan lebih. “Dunia ini memang suka membuat kita bingung. Tapi biasanya, jika kita mengikuti apa yang benar-benar kita inginkan, kebingungan itu berkurang sedikit demi sedikit.”
Noa menelan salivanya, melirik wanita itu samar-samar. “Tidak selalu mudah memilih apa yang kita inginkan.”
“Kau benar, nak” Wanita itu tersenyum kecil. “terkadang pilihan itu menyakitkan. terkadang dunia memaksa kita memilih jalan yang tidak kita inginkan.”
Wanita tua itu menepuk tangan Noa dengan lembut seperti sentuhan seorang ibu yang bijaksana. “Tapi, nak…” Ia berhenti sejenak, menatap langit senja yang mulai menggelap. “…semua manusia itu berhak bahagia dengan apa yang mereka pilih.” Kalimat itu menghantam hati Noa seperti ombak besar.
Wanita itu melanjutkan, kali ini lebih lembut. “Bukan bahagia karena dunia memaksanya, tapi bahagia karena pilihanmu sendiri.” Ia menoleh pada Noa. “Itu hakmu, nak. Bahkan jika dunia mengatakan sebaliknya.”
Noa akhirnya meneteskan air mata. Bukan air mata putus asa seperti sebelumnya… tapi campuran antara lega, takut, dan harapan yang masih sangat kecil. Wanita itu tidak memeluknya, tidak menanyakan rinciannya. Ia hanya membiarkan Noa menangis sepuasnya, memberinya ruang dan waktu.
Setelah beberapa menit, Noa mengusap air mata di pipinya. “Terima kasih.” bisiknya serak. Wanita itu tersenyum hangat, lalu berdiri perlahan sambil berkata “Suatu hari, kau akan mengerti, bahwa hidup yang kau pilih sendiri akan terasa jauh lebih ringan daripada hidup yang dipilihkan orang lain.”
Ia berjalan pergi, menyatu dengan keramaian taman, meninggalkan Noa yang masih duduk di bangku, namun kali ini dengan hati yang sedikit lebih kuat.
Noa menatap langit yang perlahan menjadi gelap. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia bisa menarik napas tanpa merasa sesak di dadanya.
Namun saat ia akan bangkit, ponselnya kembali bergetar. Dan di layar muncul sebuah pesan.
“Noa, ini Nolan. Aku… khawatir. Kau baik-baik saja?”
Noa mematung.
Ia menatap pesan itu lama. Ia tahu dunia menunggunya untuk memilih.
...♡...
Langit sudah gelap ketika Noa tiba kembali di desanya. Lampu jalan kuning temaram menyinari jalan berbatu, dan setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seakan seluruh tubuhnya dipenuhi rasa kelelahan emosional. Begitu membuka pintu rumah, ia langsung melihat kedua orang tuanya duduk di ruang tengah. Lampu terang menyala. Suasana tegang. Mereka jelas menunggunya.
“Noa! Kau ke mana saja seharian ini?!” suara ayahnya langsung tinggi. “Kau tahu kami sangat khawatir!”
“Kau sengaja menghindar, atau bagaimana. huh?” ibunya ikut bicara, nadanya tajam, hampir seperti tuduhan.
Noa menelan napas, tubuhnya gemetaran. “Aku hanya butuh waktu.”
“Apa yang kau pikirkan, Noa?!” Ayahnya berdiri, menatapnya penuh amarah. “Riana memberimu tawaran yang tak akan datang dua kali!”
“Iya!” sambung ibunya. “Apa kau tidak punya hati? Dia saki itu sedang sakit, dan dia ingin mempercayakan suaminya padamu, dia itu memilihmu karena dia mempercayaimu!”
“Noa,” ayahnya melangkah maju. “Jawab dengan jujur. Kau akan menerimanya, kan?” Noa menunduk, mencoba mengumpulkan keberanian yang ia simpan sepanjang hari. “Aku tidak bisa,” suaranya serak. “Aku tidak ingin menerima tawaran itu.”
“APA?!” ayahnya membentak, suaranya menggema di seluruh ruangan. Ibu Noa ternganga tidak percaya. “Noa kau jangan bercanda, ya. Jangan main-main soal ini!”
Noa menggeleng, meski lututnya hampir goyah. “Aku tidak bercanda. A-aku tidak bisa menikahi suami orang. Aku bahkan tidak mengenalnya. Dan…” ia menggigit bibir bawah, air mata menggenang. “Aku jatuh cinta pada seseorang.”
Seketika semuanya hening.
IBUNYA berdiri dengan cepat, wajahnya memerah, mata membelalak. “APA?! Kau jatuh cinta?! Dengan siapa, hah?! Dengan lelaki miskin? Lelaki biasa?!”
“Itu tidak ada hubungannya dengan—”
PLAKK!
Tamparan keras mendarat di pipi Noa. Kepalanya terhempas ke samping, rambutnya berantakan. Pipi putih susunya langsung memerah. Ayahnya membeku, tetapi tidak menghentikan istrinya.
Ibu Noa menatapnya dengan mata penuh kemarahan dan kekecewaan. “Noa!” suara ibunya bergetar, bukan sedih tapi penuh amarah. “Kau tahu hidup kita seperti apa! Kau tahu keluarga kita tidak punya apa-apa! Lalu kau menolak kesempatan ini? Kau menolak masa depanmu sendiri?!”
“Noa, ini bukan hanya tentangmu!” ayahnya ikut menekan. “Ini tentang keluarga kita! Jika kau menikah dengan suami Riana, semua hutang kita lunas. Hidup kita berubah!” Noa menggeleng cepat, ia menangis. “Aku bukan barang yang bisa dijual! Aku juga punya hak untuk memilih!”
Tapi kata-kata itu justru membuat ibunya semakin murka. Ibu Noa mendekatinya, memegang lengan Noa dengan kasar. “Kalau kau tidak menerima tawaran itu…” Ia berhenti sejenak, Matanya gelap, Napasnya memburu. “Noa,” suaranya merendah, bergetar. “Kalau kau tetap menolak…” Ia menatap Noa lurus-lurus. “Aku akan bunuh diri.”
Noa terdiam. Segalanya berhenti. Nafasnya tercekat.
“Apa…?” bisiknya lemah.
“Aku akan mengakhiri hidupku!” teriak ibunya. “Kau mau aku mati, Noa?! Kau mau melihat ibumu mati, huh?!”
“Tidak, bu! Jangan berkata begitu!” Noa hampir berteriak balik, tapi suaranya patah. Air matanya tumpah deras. “Aku mohon jangan berkata seperti it, Aku mohon—”
“Kalau begitu terima tawaran Riana itu!” ibu Noa menunjuk wajahnya. “Kalau kau menolak… kau akan melihat ibumu mati. INGAT ITU!”
Noa terdiam, tubuhnya gemetar hebat. Ayahnya tidak menghentikan. Malah menambahkan tekanan,“Noa, dengarkan ibumu. Apakah cinta yang baru kau rasakan beberapa hari itu,lebih penting dari hidup keluargamu?! Dari nyawa ibumu sendiri?!”
Noa jatuh berlutut, Kedua tangannya menutup wajah,Air matanya mengalir deras tanpa bisa ia tahan. Ia tidak pernah merasa sehancur ini sebelumnya, Tidak pernah merasa seputus asa ini. Tidak pernah merasa… tertekan seperti ini. Di titik itu, Noa tahu bahwa apa pun pilihan yang ia buat… hatinya akan tetal terluka.
Sangat terluka.
To Be Countinue...