Di dunia kultivasi yang mengandalkan kekuatan jiwa bawaan sebagai penguat teknik beladiri, Vincent sering diremehkan karena hanya memiliki soul tumbuhan, hal itu membuatnya dipandang sebelah mata dan sering dianiaya oleh sesama murid sekte tempatnya tinggal.
Dan potensi kekuatannya mulai terlihat setelah dilatih oleh ratu Lily, seorang ras elf yang tidak sengaja ia temui ketika dalam keadaan terluka parah. Beliau adalah seorang kultivator domain celestial yang terlempar ke domain fana setelah dikeroyok oleh empat kaisar penguasa dunia tersebut.
Ratu Lily yang nota benenya memiliki soul yang sama dengan Vincent dan sudah ahli dalam penguasaannya, tertarik untuk mengajari Vincent mengembangkan potensi soul tumbuhan tipe langka yaitu soul pohon adam yang merupakan rajanya tumbuhan.
Akankah dengan kekuatan Jiwa kayu yang dilatih dibawah bimbingan ratu Lily ia dapat berdiri di puncak dunia kultivasi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vheindie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba Di Kampung Halaman
Setelah membereskan kelompok bandit dan pergi tanpa diketahui, saat ini Vincent tengah bersemedi di sebuah batu besar dan fokus mentransfer aura ke sebuah boneka kayu.
"Meski aura yang mereka miliki tidak terlalu banyak, namun untuk saat ini aku cukup puas karena berhasil membuat prajurit kayu tanpa susah payah menggunakan aura milik sendiri," ucapnya dengan senyum puas.
Memang salah satu teknik spesial yang ia pelajari dibawah arahan ratu Lily adalah teknik pengekstrak aura milik lawan, dimana ia bisa memanfaatkannya menjadi milik sendiri. Dan salah satunya mampu meningkatkan tingkat kultivasi dalam sekejap meski sementara, tapi ratu Lily menyarankan padanya supaya tidak melakukan hal tersebut kecuali dalam keadaan terdesak.
Teknik pengekstrak aura sangat berbahaya dan beresiko tinggi pada diri sendiri dan salah satunya merusak pondasi kultivasi. Jadi ratu Lily lebih menyarankan menyimpannya kedalam teknik root dan digunakan sebagai bahan pembuatan klon ataupun prajurit kayu untuk membantunya bertarung melawan musuh dengan jumlah besar atau ketika berusaha kabur dari lawan yang merepotkan.
Vincent turun dari batu besar sambil menatap ke arah jalan yang bercabang. "Jadi ini adalah Wilayah kota Lin Fei ya? Hmm... Kalau tidak salah, aku harus ke arah tenggara untuk ke kota Jinsi dan perlu waktu satu minggu menuju kampung halamanku, jika menggunakan teknik peringan tubuh mungkin akan sampai dalam waktu tiga hari dan cukup satu hari kalau menggunakan teknik teleportasi. Tetapi aku tidak mau membuang energi dengan percuma, lebih baik berjalan kaki saja meski membutuhkan seminggu lebih, lagipula waktuku sangat luang untuk menikmati perjalanan ini."
Selama perjalanan pulang ketika menemukan tempat dengan energi yang cukup melimpah Vincent memanfaatkan waktu untuk berkultivasi, hal itu membuatnya baru sampai ke kampung halaman dalam dua minggu.
"Akhirnya setelah sekian lama!" ucap Vincent menatap kampung halamannya yang tinggal seratus meter dari tempatnya berdiri saat ini.
"Hmm... Tampaknya sudah banyak perubahan ya? Dan tampak ramai sekali," gumam Vincent menatap gerbang kayu dengan ukiran disetiap tiang dan papan kota penanda masuk ke distrik tempat masa kecilnya. Ia pun merasa ada perbedaan dari sepuluh tahun yang lalu di tempat kelahirannya ini.
"Hai bung... Kau juga harus mengantri!" seru salah seorang yang berada dibarisan belakang antrian dengan menarik lengannya.
"Ah... Maaf. Saya tidak tau saat ini, kukira sedang ada antrian sembako. Makanya aku menghindar dan mengalah untuk tidak mengambilnya," kelakar Vincent. Memang saat ini ada cukup orang yang mengantri di depan gerbang.
"Sembarang saja kau bicara. Kami juga pendatang yang hendak masuk ke distrik Durma," ucap pria yang usianya sedikit lebih tua darinya.
"Kau juga seorang kultivator ya?" tanya nya setelah mengamati Vincent cukup lama.
"Ah... Saya hanya seorang pemula," jawab Vincent merendah.
"Jangan merendah, sebab untuk ukuran orang seperti kita yang tidak mendapatkan sumber daya dari siapapun. Sudah mencapai tahap body strength ditingkat tiga atau lima saja sudah cukup dianggap hebat," timpalnya.
"Ngomong-ngomong siapa namamu?"
Vincent menatap sedikit abai.
"Ah maaf, tidak sopan bertanya nama orang lain dengan tidak menyebutkan nama sendiri."
"Perkenalkan namaku Adrian dari distrik sebelah," ucap Adrian menjulurkan tangan.
"Namaku Vincent," jawabnya singkat.
"Apa kau juga berniat mengikuti seleksi yang akan dilaksanakan di distrik Durma ini?"
"Seleksi? Seleksi apa? Seleksi masuk ke sebuah sekte?"
"Huh?? Bukan... Bukan sekte, meski aku pun berharap akan ada seleksi masuk sekte, tapi kau tau sendiri hal itu jarang sekali terjadi. Seleksi yang tengah diadakan kali ini adalah menjadi seorang tentara bayaran untuk menjelajahi sebuah gua yang baru ditemukan di salah satu desa tenggara distrik Durma dan jika misi ini sukses kita akan diangkat menjadi prajurit tetap dengan gaji yang cukup besar dan sumber daya yang akan menunjang kultivasi kita di masa depan."
Vincent terus mendengarkan alasan Adrian datang ke kampung halamannya untuk menjadi prajurit bayaran dan ia pun penasaran dengan gua yang disebutkan olehnya.
'Goa? Aku baru mendengar ada goa di distrik ini, apa mungkin bukit yang ada di belakang rumah kami dulu? Tapi perasaan bukit tersebut tidak ada goa nya sama sekali? Apa jangan-jangan...' ucapnya dalam hati menebak sebuah kemungkinan. Lalu diam-diam ia hendak menggunakan teknik mata ilahi untuk memeriksa ke dalam desa, namun ia mengurungkan niatnya karena suara penjaga gerbang mengejutkannya.
"Biaya masuk lima koin perak kecil," ucap tegas penjaga.
'Aduh sial sekali aku tak punya uang sama sekali.'
"Oy... Kenapa malah melamun?! Punya uang tidak? Kalau tidak punya uang lebih baik kau kembali saja ke kampung halamanmu," bentak si penjaga. Ia tidak tau bahwa desa yang dijaganya lah kampung halaman Vincent.
"Tunggu sebentar Hans!" seru penjaga satunya lagi.
Kemudian ia memperhatikan dengan seksama pemuda yang ada dihadapannya dan baru menyadari siapa dirinya. "Oy... Bukankah kau Vincent? Astaga... Hampir saja aku tidak mengenalimu."
"Rudy?" timpal Vincent yang balik mengamati teman lamanya yang terlihat sangat berbeda jauh.
"Kau mengenalnya?" tanya Hans yang sebelumnya berkata kasar.
"Yup... Dia adalah teman bermain masa kecilku, namun ia terpaksa pergi dari desa setelah kejadian yang menimpa keluarganya," jelas Rudy.
"Vincent. Bukankah setelah kejadian hari itu kau pergi ke sekte kabut? Kenapa kau kembali? Atau kau perwakilan dari sekte kabut untuk misi penjelajahan gua kelelawar?"
"Eh. Apa dia murid dari sekte kabut?" ujar Hans yang kaget mendengar ucapan teman jaganya hari ini.
Setelah mendengar nama sekte kabut, semua mata langsung tertuju ke arah Vincent dengan tatapan penasaran, Adrian yang sempat berbicara dengannya pun begitu terkejut dan tidak menyangka orang yang diajak bicara dengannya adalah seorang murid sekte besar. Karena semua orang tau bahwa sekte kabut adalah salah satu sekte besar yang menjadi penjaga kerajaan Serena selama beberapa abad terakhir.
Orang-orang yang tadi ikut antri untuk memasuki distrik Durma mulai saling berbisik."Apakah dia benar dari sekte kabut yang terkenal itu?"
"Mana kutau?"
"Tapi kenapa kultivasinya tidak tinggi? Bahkan masih lebih tinggi kultivasi orang yang kemarin berangkat bersama kita."
"Haha... Dulu aku dibawa oleh ketua sekte kabut bukan untuk diangkat jadi murid, tapi dia mempekerjakan ku sebagai tukang bersih-bersih. Jadi mana mungkin seorang pelayan sepertiku diutus untuk menjadi perwakilan sekte. Ada-ada aja kau ini," ujar Vincent secara gamblang tanpa beban sama sekali.
"Lagipula diriku sudah berhenti jadi pelayan di sana. Jadi aku memutuskan pulang sebentar kemari sebelum mencari pekerjaan lain di ibukota," lanjutnya.
"Oh... Begitu ya. Kukira kau diangkat murid, kalau begitu silahkan masuk. Kau tak perlu bayar, biar aku yang tangguhkan." ucap Rudy yang iba dengan nasib Vincent yang sempat disangka akan menjadi murid sekte kabut.
Semua orang kembali berbisik dengan nada sedikit mencibir. "Oh... Hanya seorang pelayan yang sudah berhenti, pantas saja pakaiannya terlihat lusuh."
"Memangnya kau berharap dia murid sekte kabut yang terkenal itu? Haha... Mana mungkin orang macam dia murid sekte terkenal."
"Sial... Hampir saja dia membuatku takut."
Setelah mengetahui kebenaran siapa Vincent. Semua orang tampak tidak peduli lagi dan lebih memilih segera masuk ke kota untuk mencari penginapan sebelum ikut seleksi menjadi prajurit bayaran yang akan diadakan besok.
"Terimakasih kawan... Kau sangat cocok dengan baju prajurit itu," timpal Vincent yang teringat kembali cita-cita waktu kecil Rudy adalah ingin menjadi seorang komandan sebuah pasukan kerajaan dan sepertinya saat ini ia tengah merintis melakukannya.
"Semoga kau cepat naik jabatan dan menjadi seorang komandan," bisik Vincent menepuk bahu teman lamanya itu. Kemudian melangkah melewati gerbang.
"Ah... Aku hampir lupa memberitahumu satu hal!" terika Rudy yang membuat Vincent kembali membalikkan badan.
"Area tempat dulu kita tinggali untuk sekarang ditutup sementara dan semua warga yang ada disana mulai dievakusi ke area timur. Jadi, jika kau ingin mengunjungi rumah dan makam kedua orang tuamu, kau harus mendapatkan ijin dari kantor distrik."
"Baiklah... Terimakasih untuk informasinya," Vincent pun kembali melangkah pergi. Ia tidak bertanya tentang kenapa area tempat tinggalnya diisolasi, tapi memang ia sudah tau setelah menggunakan teknik mata ilahi.
#Sekilas Info
(Tingkatan Kultivasi di Novel Soul Power Manifestasi)
0.Supreme God tahap 1 -> 3
1.emperor God : tahap 1 -> 5
2.Emperor : tahap 1 -> 7
3.Saint : tahap 1 -> 9
4.Spirit : tahap 1 -> 9
5.Body strength : tahap 1 -> 9