NovelToon NovelToon
Romeo Love Story

Romeo Love Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta setelah menikah / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: ryuuka20

Romeo bukanlah tokoh dalam dongeng klasik yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, anak tunggal yang hidup tenang dalam rutinitasnya. Namun, hidupnya mendadak berubah ketika sang nenek—satu-satunya keluarga yang ia miliki—mengatur sebuah perjodohan untuknya. Romeo menolak secara halus, tetapi tak mampu membantah keinginan nenek yang sangat ia hormati.

Tanpa ia sadari, gadis yang dijodohkan dengannya ternyata bukan orang asing. Ia adalah Tina—sahabat masa SMP yang dulu selalu ada di sisinya, yang bahkan pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang sekolah. Namun waktu telah memisahkan mereka. Kini, keduanya telah tumbuh dewasa, dan pertemuan kembali ini bukan atas kehendak mereka, melainkan takdir yang disulam oleh tangan tua sang nenek.

Tapi, Romeo merasa ada yang berubah. Tina yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi sahabat kecilnya. Dan yang lebih membingungkan, perasaannya pun mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuka20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Ke Hotel

Romeo memutar kunci pintu kamar dengan hati-hati, lalu membukanya perlahan. Cahaya lembut dari lampu kamar menerangi ruangan yang luas—dan seperti yang dia katakan, dua tempat tidur terpisah rapi terletak di sisi kanan dan kiri, masing-masing dengan seprai putih bersih dan bantal yang empuk.

“Lo istirahat aja, gue mau cari makanan dulu ya…” ujarnya sambil melihat ke arah Tina yang sudah mulai melepaskan sepatunya.

Tina hanya mengangguk dengan senyum lembut, kemudian melompat ringan ke salah satu tempat tidur dan merebahkan tubuhnya dengan rileks. Romeo menutup pintu kamar dengan suara pelan sebelum berjalan menuju arah lift, menuju restoran hotel yang terletak di lantai dasar.

Restoran terlihat cukup ramai dengan tamu yang sedang menikmati makan malam. Romeo baru saja sampai di meja antrian ketika sebuah suara dari belakang menyapa dengan akrab.

“Hey Romeo?”

Romeo berbalik dengan cepat, matanya sedikit membesar ketika melihat seorang pria dengan rambut coklat kemerahan dan wajah yang masih akrab berdiri di depannya. Usianya kira-kira sama dengan Romeo, mungkin sudah memasuki dua puluhan tahun ke atas.

“Jo… Jovan?”

Jovan tertawa kecil, suara khasnya masih sama seperti dulu. Ia mengangkat bahu dengan santai sambil mendekati Romeo.

“Lo inget gue ya? Lo sama siapa disini?” tanyanya dengan mata yang penuh rasa ingin tahu, melihat sekeliling seolah mencari sosok lain yang mungkin menyertai Romeo.

“Sama… pacar. Iya, pacar gue lagi nunggu di kamar. Gue mau beliin dia makan.” jawab Romeo dengan cepat, kemudian menarik lengan Jovan untuk mengajaknya duduk di sebuah meja kosong yang terletak di sudut yang lebih tenang.

Mereka mulai berbincang tentang masa lalu, bagaimana terakhir mereka bertemu saat masih duduk di bangku SMP. Pembicaraan berjalan lancar sampai Jovan secara tidak sengaja menyebutkan nama yang membuat hati Romeo sedikit menyusut.

“Oh iya, masih inget kan Tina? Cewek yang dulu selalu ada deket kamu?”

Nama itu seperti membuat Romeo tiba-tiba tegang. Dia mengingat bahwa Jovan dulunya adalah sahabat sekaligus rivalnya dalam banyak hal, termasuk ketika mereka masih di SMP. Tanpa berpikir panjang, Romeo berdiri dengan cepat dari kursinya.

“Maaf ya Jov, gue harus pulang ke kamar aja. Pacarku pasti udah nungguin makanan.”

Ia tidak menjelaskan lebih jauh—tidak menyebut bahwa Tina adalah orang yang sedang bersamanya, ataupun bahwa mereka bahkan akan segera menikah. Romeo tahu betul bahwa jika memberitahukannya, Jovan pasti akan mengajukan banyak pertanyaan yang hanya akan membuatnya kesal dan khawatir akan sesuatu yang tidak diinginkan. Dengan cepat, ia membayar untuk pesanan yang belum sempat dipesan dan berjalan cepat meninggalkan restoran, menyusul Tina yang sedang menunggunya di kamar.

...****************...

Romeo berjalan cepat melewati lorong hotel, kedua tangannya penuh dengan kantong plastik berisi makanan—beberapa kemasan ciki rasa keju dan pedas yang Tina suka, makanan manis berupa kue cubit dan brownies, ditambah beberapa hidangan berat lainnya seperti nasi goreng dan ayam bakar.

Dia tiba di depan pintu kamar dan mengetuknya dengan cepat dan keras, suara ketukan membuat dinding sedikit bergetar. Dari dalam kamar terdengar suara sedikit kesal, kemudian pintu terbuka perlahan. Tina berdiri di sana dengan wajah sedikit mengerut, rambutnya sedikit berantakan karena baru saja terbangun dari tidur singkat.

“Lo kenapa sih?” tanyanya dengan nada kesal, tapi matanya langsung tertuju pada kantong plastik berisi makanan yang digenggam Romeo. Pria itu tampak terengah-engah, dahinya sedikit berkeringat.

Tanpa berniat memarahi Romeo, Tina langsung merebut kantong plastik dari tangannya dengan cepat, kemudian berjalan ke arah sofa dan duduk dengan rileks. Dia mulai membuka satu per satu kemasan makanan dengan senyum kecil yang muncul di wajahnya.

Romeo masuk ke kamar dan menutup pintunya, kemudian duduk di sofa sebelahnya. Tina berdiri sebentar untuk mengambil gelas dan mengisinya dengan air mineral dari dispenser di sudut kamar, kemudian memberikannya kepada Romeo.

Pria itu minum airnya hingga habis sebelum menoleh ke arah Tina dengan ekspresi serius.

“Tin, gue tadi ketemu sama Jovan.”

Tina langsung berhenti mengunyah ciki, matanya membesar dengan terkejut. Dia menoleh ke arah Romeo dengan tatapan yang tidak percaya.

“Jovan? yang suka ngejar gue dulu? Hah? Dia disini? Serius?”

Suaranya sedikit meningkat, tangan yang sedang memegang kemasan ciki juga mulai sedikit gemetar.

“Iya bener, tadi dia ngomongin Lo.” jawab Romeo sambil meraih kemasan ciki yang sudah dibuka dari tangan Tina, mengambil beberapa biji dan memasukkannya ke mulut.

Tina mengangkat alisnya dengan cemas, matanya tetap menatap Romeo.

“Dia ngapain disini? Trus Lo bilang gak kalau Lo sama gue?”

Romeo menggelengkan kepalanya dengan cepat, gerakannya menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak menyebutkan hubungan mereka. Mendengar itu, Tina menghela napas panjang yang terdengar lega, bahunya yang tadinya tegang mulai rileks kembali.

Romeo terdiam sejenak, matanya menatap lantai sebelum ia berbisik pelan.

“Gue juga gak suka kalau dia nyebut nama Lo...”

Tina hanya mengangguk, kemudian mengambil mangkuk berisi kentang goreng yang masih hangat dan mulai menikmatinya satu per satu. Ia mengangkat bahu dengan tidak peduli.

“Dia tukang paksa Romeo. Gue gak suka dari dulu sama dia.”

Suaranya penuh keyakinan, jelas menunjukkan bahwa perasaannya terhadap Jovan tidak pernah berubah sejak masa SMP dulu. Romeo melihatnya, merasa sedikit lega karena tahu bahwa Tina sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap mantan rivalnya itu.

“Kalau Lo gak suka sama dia berarti Lo suka sama gue?”

Romeo mengajukan pertanyaan itu dengan suara yang terdengar tenang tapi sebenarnya penuh dengan rasa ingin tahu. Matanya tetap menatap Tina yang sedang mengunyah kentang goreng, seolah tidak memperhatikan apa yang dia katakan.

Tina tiba-tiba terdiam, tangannya yang sedang mengambil kentang goreng terhenti di tengah jalan. Wajahnya sedikit memerah, namun dia segera mencoba menutupinya dengan wajah cuek. Dia menelan makanan yang ada di mulutnya dengan sedikit tergesa-gesa sebelum menoleh ke arah Romeo dengan tatapan yang seolah tidak peduli.

“Gue mana tahu. Suka atau enggak itu kan bukan masalah sekarang.” jawabnya dengan nada datar, kemudian kembali fokus pada mangkuk kentang goreng di depannya. Namun gerakannya yang sedikit kaku dan cara dia seringkali menoleh ke arah lain tanpa sengaja menunjukkan bahwa dia sedang gelagapan menghadapi pertanyaan itu.

Romeo hanya tersenyum kecil, melihat bagaimana Tina mencoba menyembunyikan perasaannya. Ia tidak menekan lebih jauh, hanya mengambil sepotong brownies dan mulai menikmatinya sambil menunggu tanggapan yang lebih jelas dari wanita itu.

“Siniin tangan kanan Lo... Lepas gelangnya...”

Romeo mengucapkannya dengan suara lembut namun tegas, kemudian meraih tangan kanan Tina dengan hati-hati. Jari-jarinya lembut menyentuh pergelangan wanita itu yang sedang mengenakan gelang manik berwarna-warni.

“Eh Lo ngapain lepas gelangnya?” Tina sedikit terkejut, mencoba menarik tangannya kembali dari genggaman Romeo. Matanya penuh dengan rasa ingin tahu dan sedikit khawatir.

Romeo tidak melepaskannya, malahan mengangkat tangan Tina untuk melihat gelang itu lebih jelas. Wajahnya tampak penuh kagum dan sedikit nostalgia.

“Gelang ini langka Tina, gue pikir kita gak akan ketemu....”

Dia menatap gelang itu dengan mata yang merenung—gelang manik yang dulu ia beli dengan menyisihkan uang saku selama bertahun-tahun, ingin menyatakan perasaannya pada Tina saat mereka masih remaja.

Namun sebelum sempat memberikannya, mereka sudah terpisah. Seolah takdir telah mengatur agar mereka bisa bertemu kembali dan gelang itu masih ada di tangan Tina.

“Gelangnya gak muat di pergelangan tangan Lo, sampai merah gini?” Romeo menunjuk pada bagian kulit yang sedikit kemerahan di bawah gelang, suara penuh dengan perhatian.

Tina mengangguk perlahan, matanya juga menatap gelang yang sudah dikenakannya selama beberapa Minggu setelah mereka makan malam itu.

“Ya kan sayang banget kalau dilepas.”

Romeo tersenyum lembut, kemudian merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah cincin kecil dengan model yang sederhana namun elegan.

“Yaudah Lo pakai ini dulu.”

Tanpa memberi kesempatan Tina untuk bertanya, ia perlahan memasangkan cincin itu ke jari manisnya. Logam yang dingin segera menjadi hangat menyentuh kulitnya. Cincin itu tampak sangat pas, seolah dibuat khusus untuknya—sederhana namun penuh makna bagi hubungan mereka yang kini semakin dalam.

Kedua mereka terdiam sejenak, menatap genggaman tangan mereka. Tanpa mereka sadari, ikatan antara mereka telah tumbuh kuat secara perlahan, seperti akar pohon yang merambat dalam tanah tanpa disadari.

1
Panda%Sya🐼
Bagi wanita yang tahu, apa itu arti cinta sebenar. Mereka pasti terima, asalkan enggak di duain
Suo
Manis bgt kata katanya, kapan yaa/Sob/
Suo
ekhem/CoolGuy/
pojok_kulon
Luar biasa bagus ceritanya suka dengan karakter Neneknya sudah tua tapi energik sekali
pojok_kulon
Neneknya gaul sekali
ininellya
aduh aduhh yang satu malu malu kucing😭
ininellya
HAHAHAA😭😭
Ria Irawati
macem-macem juga ngapapa kali🤭
💕кαѕу¢нαη❀ ⃟⃟ˢᵏ
ceritanya bagus, bikin baper
💕кαѕу¢нαη❀ ⃟⃟ˢᵏ
teh emang enak, apalagi sambil makan kue.. beih enak banget pasti nikmat
Ria Irawati
aaaa Zayanggg gk tuh
Panda%Sya🐼
Teh emang mantap di makan sama kue /Applaud/
Suo
Aku suka cerita Tina sama Romeo, jadi senyum senyum sendiri/Proud/
Suo
awww🥺🥺
Suo
Malam pertama kok mabok/Sob/
j_ryuka
santailah, 🤭
Kim Umai
jadi kamu mau istri kamu ngapain Romeo?
ininellya
AdUH Aku ga denger😭🙈
Hafidz Nellvers
Alurnya mengalir dengan rapi, nggak terasa dipaksakan. Transisi antar adegan juga halus. keren deh pokoknya
Hafidz Nellvers
masih muda udah oon🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!