Apa jadinya jika seorang gadis remaja berusia 16 tahun, dikenal sebagai anak yang bar-bar dan pemberontak terpaksa di kirim ke pesantren oleh orang tuanya?
Perjalanan gadis itu bukanlah proses yang mudah, tapi apakah pesantren akan mengubahnya selamanya?
Atau, akankah ada banyak hal lain yang ikut mengubahnya? Atau ia tetap memilih kembali ke kehidupan lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5 - Kafilah Cinta
~💠💠💠~
Mobil masih terparkir di depan gerbang besar pondok pesantren An-Nur. Matahari mulai meninggi, sehingga sinarnya menerpa kaca depan mobil, tapi di dalam kendaraan itu suasananya terasa dingin dan menyesakkan.
Miska duduk dengan tangan mengepal di pangkuannya, napasnya tersengal karena sangat terkejut.
Ia tidak menyangka ayahnya akan sekejam ini dengan tidak memberinya kesempatan sedikit pun untuk bernapas sebelum menyeretnya ke tempat yang paling tidak ingin ia datangi.
"Abi, tolong jangan sekarang," ujar Miska seraya menahan air matanya agar tidak keluar.
Namun, Abi Rasyid tetap diam, tangannya masih di atas kemudi dengan mata yang menatap lurus ke depan.
Ia seperti sedang menimbang sesuatu, tapi tidak menunjukkan sedikit pun keraguan.
GLEK!
Miska menelan ludah dan mencoba meredam ketakutannya. "Aku janji, Bi… Aku nggak akan keluyuran lagi. Aku bakal pulang tepat waktu, nggak bakal buat masalah. Tapi tolong… jangan sekarang," pohon Miska.
Tapi, suasana masih hening dan Abi Rasyid tetap tidak bereaksi.
Melihat Abi nya tidak merespon apapun, Miska pun mulai panik. Ia menggigit bibirnya dan mengatur napas sebelum berbicara lagi. "Kasih aku waktu, Bi. Sampai semester depan, aku janji nggak akan bikin Umi dan Abi khawatir lagi. Aku bakal berubah," uajr Miska, berjanji.
Suasana dalam mobil pun semakin menegang. Abi Rasyid mengalihkan pandangannya ke Miska lalu bertanya, "Kamu benar-benar janji?."
"Iya, Bi. Sumpah," jawab Miska seraya mengangguk cepat.
Mata Abi Rasyid tetap tajam, seolah menembus kebohongan sekecil apa pun. "Dan kalau kamu melanggar janji ini, apa yang akan kamu lakukan?," tanyanya untuk menguji.
Miska menggigit bibirnya dan berpikir cepat. "Aku nggak akan melawan lagi kalau Abi langsung bawa aku ke sini tanpa negosiasi," jawabnya.
Abi Rasyid memperhatikan ekspresi putrinya dengan seksama. Ia melihat ketakutan di sana, tapi juga melihat sedikit perlawanan.
Beberapa detik berlalu, akhirnya, dengan suara berat, Abi Rasyid berkata, "Baik. Abi kasih kamu kesempatan ini. Tapi ingat, sekali saja kamu melanggar, kamu masuk pesantren tanpa ada pembicaraan lagi."
"Iya, Bi. Aku ngerti."
Kemudian, Abi Rasyid mengembalikan fokusnya ke jalan, lalu menyalakan mesin mobil.
Tanpa berkata-kata lagi, ia memutar balik kendaraan dan meninggalkan gerbang pesantren yang nyaris menjadi tempat tinggal baru bagi Miska hari itu.
Di kursi penumpang, Miska bersandar sambil menatap ke luar jendela. Ia merasa selamat, untuk sementara waktu.
Tapi satu hal yang pasti, janji yang baru saja ia ucapkan bukan janji kosong.
Atau setidaknya, itulah yang ia yakini… untuk saat ini.
**
Sudah dua minggu berlalu sejak hari di depan gerbang pesantren itu. Sejak saat itu, Miska tidak pernah lagi keluyuran sepulang sekolah. Ia langsung pulang, masuk rumah, dan mengunci diri di kamarnya sampai waktu makan malam tiba.
Hari ini pun sama. Begitu bel pulang berbunyi, Miska langsung keluar gerbang sekolah tanpa singgah ke mana pun.
Di dalam mobil jemputan yang dikendarai sopir keluarganya, yang bernama Pak Rahmat, Miska menyandarkan kepala ke jendela sambil melihat jalanan yang biasanya menjadi tempatnya nongkrong kini hanya dilewati begitu saja.
Pak Rahmat melirik dari kaca spion dan merasa heran. "Tumben nggak minta mampir ke tempat Rina dulu, Non?," tanyanya ringan.
"Hah..." Miska mendesah. "Lagi males aja, Pak."
Pak Rahmat pun hanya mengangguk, dan tidak bertanya lebih jauh.
Sesampainya di rumah, Miska langsung masuk tanpa banyak bicara. Umi Farida yang sedang duduk di ruang tamu pun melirik sekilas. "Dari sekolah langsung pulang?," tanyanya.
Miska mengangguk, lalu melepas sepatu dan berjalan ke kamarnya. "Iya, Umi," jawabnya singkat.
Umi Farida pun tersenyum karena hatinya merasa lega. Setidaknya, janji Miska tidak hanya sekadar omongan.
Namun, perubahan ini bukan berarti semuanya membaik, karena Miska masih menjadi Miska.
Saat makan malam, seperti biasa, mereka duduk di meja makan tanpa banyak bicara. Namun, begitu selesai, Abi Rasyid meletakkan sendoknya dan menatap Miska.
"Alhamdulillah, kamu menepati janji, Miska," katanya tenang.
Miska masih mengunyah suapan terakhirnya dan hanya mengangguk pelan.
"Tapi ada hal lain yang harus kita bicarakan," lanjut Abi Rasyid seraya menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Apa lagi, Bi?," tanya Miska mengernyit.
"Salat lima waktumu masih bolong-bolong. Dan sikapmu ke Umi masih kurang sopan."
Miska mendesah pelan, lalu meletakkan sendok di piringnya. "Aku udah berusaha, Bi."
"Berusaha atau hanya sekadar menggugurkan janji supaya tidak dimasukkan ke pesantren?," balas Abi Rasyid.
Miska pun terdiam.
Lalu, Umi Farida ikut bicara, "Kami tidak meminta kamu berubah seketika, Miska. Tapi setidaknya, ada usaha nyata," ucapnya.
Miska hanya memainkan jari-jarinya di bawah meja lalu berkata, "Aku kan udah nggak keluyuran lagi. Itu udah lebih baik daripada dulu, kan?."
"Iya, tapi kamu tetap harus meningkatkan yang lain. Ingat, kamu sendiri yang meminta waktu sebelum masuk pesantren. Gunakan waktu ini untuk membuktikan kalau kamu bisa berubah tanpa harus dipaksa," jelas Abi Rasyid.
Miska pun menggigit bibirnya. Ia tahu perkataan ayahnya itu benar.
Tapi mengubah kebiasaan yang sudah bertahun-tahun melekat di dirinya tidak semudah membalik telapak tangan.
Setelah beberapa saat diam, akhirnya Miska berkata pelan, "Aku bakal coba."
Abi Rasyid menatap Miska dengan tajam, untuk memastikan jika kata-kata itu benar-benar dari hatinya, bukan sekadar omongan kosong.
"Bagus. Kami akan melihat apakah kamu benar-benar berusaha," ucap Abi Rasyid dan Miska pun mengangguk kecil.
BERSAMBUNG...