NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]

Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."

Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Sang Singa Danendra

Matahari pagi menembus celah jendela penthouse keluarga Danendra, membasuh lantai marmer dengan sapuan cahaya keemasan. Di meja makan yang luas itu, Steve duduk dengan wibawa yang seolah menyatu dengan udara di sekitarnya. Kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku memperlihatkan urat-urat halus di lengannya, menambah kesan maskulin yang berbahaya.

​Steve, di usia 33 tahun, adalah perpaduan antara kematangan dan kekuasaan. Garis rahangnya tegas, dan tatapan matanya selalu tampak menghitung, seolah ia sedang membaca langkah lawan bahkan sebelum mereka melangkah.

Namun, saat tatapan itu beralih ke sosok mungil di sampingnya, semua kekakuan itu meluruh.

​“Dy, Cio mau sereal yang warna-warni,” pinta bocah laki-laki berumur lima tahun itu, memecah keheningan dengan suara cempreng yang ceria.

​Alzio Edwan Danendra, atau Cio, adalah dunianya. Mata Cio adalah fotokopi dari milik Steve, namun binar di dalamnya adalah milik mendiang sang ibu, Katrina. Cahaya yang kini hanya tersisa di diri putranya. Katrina pergi tepat saat Cio lahir, meninggalkan Steve dengan luka yang membeku di dalam hati.

Itulah sebabnya Steve menjadi sosok yang tertutup, ia membentengi diri dengan pekerjaan, seolah kesibukan bisa menutupi lubang besar di hatinya.

​“Makan omeletnya dulu, Cio. Setelah itu baru boleh sereal,” ucap Steve lembut, tangannya mengacak rambut putra tunggalnya penuh kasih.

​Satu jam kemudian, atmosfer di lobi kantor Steve berubah total. Kehadirannya seperti badai yang tenang, ia melangkah dengan ritme yang teratur namun sanggup membungkam percakapan siapa pun di sana.

Para staf wanita di lobi melirik dari balik layar komputer atau dokumen mereka, diam-diam mengagumi sosok hot daddy yang statusnya masih menduda itu.

​“Pak Steve bener-bener hot daddy,” bisik salah satu staf, suaranya hampir tak terdengar.

​“Sayang banget, ya,” sahut rekan di sampingnya, “bibit unggul, tapi cuma punya satu anak. Pasti dia masih susah buka hati sejak istrinya meninggal.”

​Steve masuk ke lift khusus diikuti oleh Theo Sayudha, asisten pribadinya. “Jadwal pagi ini?” tanya Steve tanpa menoleh, matanya terpaku pada angka lift yang terus merangkak naik.

​“Rapat koordinasi pengembangan pukul sepuluh, Pak. Siang nanti peninjauan proyek BSD,” jawab Theo cepat.

​Begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai 18, Steve langsung masuk ke ruang kerjanya yang luas. Ia melepas kancing jas, menyandarkan punggung ke kursi kulitnya, lalu melontarkan pertanyaan yang sudah ditunggu-tunggu asistennya. “Agenda setelah jam kantor?”

​Theo tersenyum tipis, sudah paham ke mana arah pembicaraan ini. “Makan malam formal, Pak. Pertemuan dengan keluarga Crassia di restoran privat pukul tujuh nanti.”

​Sorot mata Steve yang biasanya dingin mendadak berubah tajam, berkilat penuh antisipasi. “Keluarga Crassia. Berarti... dia akan ada di sana.”

​“Tentu saja, Pak. Sesuai instruksi anda, kehadiran Elleta Clarissa Crassia adalah syarat mutlak pertemuan ini.”

​Steve mengetukkan jemarinya di atas meja kayu ek. Iramanya lambat, namun penuh tekanan. “Bagus. Aku ingin semuanya sempurna. Aku sudah menunggu enam tahun untuk momen ini, Theo. Jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun.”

...***...

​Di sisi lain kota, suasana di kediaman keluarga Crassia justru terasa menyesakkan. Elleta duduk bersama kedua orang tuanya. Denting sendok yang beradu dengan piring terdengar begitu nyaring di tengah keheningan yang canggung.

​Tiba-tiba, sang Mama meletakkan sebuah totebag mewah di samping Elleta. “El, ini untukmu.”

​Elleta mengerutkan kening, menatap tas itu lalu beralih ke Papa-nya. “Ini apa, Pa?”

​“Gaun untuk nanti malam,” jawab sang Papa datar, nada otoriter yang tak memberi ruang untuk protes. “Ada tamu penting yang akan kita jamu demi bisnis keluarga. Papa ingin kamu tampil sempurna. Jangan sampai kamu permalukan keluarga.”

​Elleta menghela napas panjang, hanya mampu mengangguk pelan. “Iya, Pa.”

​Begitu sarapan usai, Elleta segera melarikan diri ke kamarnya. Ia mengunci pintu, merasa sesak oleh aturan yang kembali mengekangnya sejak kepulangannya ke Jakarta. Ponselnya bergetar di atas kasur.

​Daniel Calling...

​Hati Elleta mencelos. Ia segera mengangkat telepon itu, menempelkan ponselnya erat ke telinga. “Halo kak Daniel...” bisiknya parau.

​“El? Kamu baik-baik aja? Suaramu kenapa, Sayang?” suara Daniel di seberang sana terdengar sangat cemas.

​“Aku cuma... kangen banget sama kamu,” air mata Elleta mulai mengalir.

​“Aku juga, El. Aku terus mikirin kamu. Papamu marah lagi? Katakan, apa perlu aku bantu? Aku bisa segera terbang ke sana.”

​Elleta mencoba mengatur napas. “Jangan, Kak. Situasinya lagi kacau. Papa sedang merencanakan sesuatu yang besar. Aku hanya ingin kamu tahu, apa pun yang terjadi, aku tetap mencintaimu.”

​“Apa pun itu, El, telepon aku. Aku percaya sama kamu.”

​Percakapan itu penuh dengan kerinduan yang menyakitkan. Elleta tidak tahu bahwa di balik pintu kamarnya, ada diskusi yang jauh lebih kelam.

​Di ruang kerja, Mama Elleta menatap suaminya dengan ragu. “Pa, apa keputusan ini benar? Ini terlalu berisiko buat Elleta.”

​“Risiko apa?” jawab Yuda Crassia dingin.

​“Keluarga Danendra... Steve Athariz Danendra itu bukan tandingan kita, Pa. Mereka lebih kuat dan lebih kejam. Kalau perjodohan ini gagal karena Elleta menolak, perusahaan kita bisa hancur.”

​“Justru karena mereka kuat, kita harus terikat. Steve menginginkan sesuatu, dan dia adalah tipe pria yang akan mendapatkan apa pun yang ia mau. Jika Elleta adalah kunci bagi bisnis kita, maka Elleta-lah yang harus berkorban.”

​“Tapi Elleta punya pilihannya sendiri! Bagaimana kalau dia tahu tentang Steve sebenarnya? Bagaimana kalau dia tahu pria itu punya anak? Dia masih muda!”

​“Dia akan belajar jadi dewasa malam ini,” potong Papanya mutlak.

“Persiapkan dirimu, Rena. Jangan tunjukkan kecemasan di depan keluarga Danendra nanti.”

​Mama Elleta hanya bisa terdiam, menatap pintu kamar putrinya dengan rasa bersalah. Ia tahu, malam ini bukan makan malam biasa. Ini adalah penyerahan domba ke hadapan sang singa.

...***...

​Sementara itu, di lantai 18 kantornya, Steve berdiri menghadap cakrawala Jakarta. Di tangannya, ia memutar pulpen dengan inisial namanya.

​“Malam ini, Elleta,” bisiknya dengan senyum tipis yang penuh misteri.

“Kamu akan mengerti kenapa aku membiarkanmu pergi ke California enam tahun lalu... hanya supaya aku bisa menjemputmu kembali dan memilikimu untuk selamanya.”

Steve seperti sudah tahu apa yang akan terjadi pada Elleta. Hari itu tiba, Steve tidak akan melepasnya. Ia sudah menunggu bertahun-tahun untuk menunggu Elleta selesai dengan pendidikannya. Malam nanti Steve harus memastikan semua sesuai rencananya.

"Elleta Clarissa Crassia," bisik Steve, menatap pemandangan di kaca kantornya yang menghadap ke gedung-gedung di sebelahnya.

1
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!