Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Betapa Mudahnya
Pagi itu gue mutusin buat mulai mendekati Rinda secara serius. Tawaran rumah di Bekasi dari Pak Krismono bukan main-main, dan cewek itu emang keliatan beda. Gue berangkat lebih pagi dari biasanya pake motor, langsung ke alamat yang gue dapet dari HR kemarin. Rumahnya di gang kecil di daerah Tebet, nggak terlalu mewah tapi rapi.
Gue parkir di ujung gang, pura-pura nunggu ojol sambil ngobrol sama ibu-ibu tetangga yang lagi nyapu depan rumah. “Bu, yang rumah nomor 12 itu punya siapa ya? Gue temen kantornya, mau jemput.”
Ibu-ibu itu langsung cerewet. “Oh Rinda ya? Dia tinggal sama orang tuanya. Baik banget anaknya, sopan. Dulu sempet nikah tapi cerai. Nggak punya anak. Udah lama sendiri, kasian.”
Gue ngangguk, nyatet dalam hati. Jadi Rinda pernah menikah tapi gagal. Itu jelasin kenapa dia keliatan agak tertutup.
Belum sempet gue mikir lebih jauh, mobil Fortuner hitam mewah masuk ke gang. Rinda keluar dari rumah pake kemeja putih rapi dan rok pensil hitam yang nempel di pinggulnya. Rambut pendeknya yang hitam lurus sebahu bergoyang pelan pas dia jalan. Wajahnya imut, mata sipit yang selalu keliatan manis meski lagi serius, kulit putih bersih tanpa cacat, bibir tipis yang sering tersenyum sopan. Tubuhnya proporsional banget dada cukup berisi dan kencang, pinggang ramping, bokong bulat yang pas, kaki jenjang mulus. Dia emang tipe yang elegan tapi seksi tanpa usaha.
Rinda masuk ke mobil itu. Gue langsung nyalain motor dan buntutin dari jauh. Mobilnya langsung nuju ke daerah elite di sekitar Pondok Indah. Berhenti di depan rumah besar banget, pagar tinggi, keamanan ketat. Gue tanya satpam di depan dengan alasan nyari alamat.
“Ini rumah siapa, Pak?”
“Rumah Pak Krismono, Mas.”
Gue kaget. Nggak lama kemudian Rinda keluar lagi, gandeng tangan anak kecil cowok umur sekitar 8 tahun pasti anak Pak Krismono. Mereka naik mobil yang sama. Dari jarak gue liat ada wanita lain di kursi depan, rambut panjang, pakai kacamata. Mungkin istri Pak Krismono.
Mobil berangkat ke sekolah internasional deket situ. Gue tetap buntutin. Di sekolah, Rinda turun antar anaknya masuk gerbang. Wanita yang tadi di mobil ikut turun sebentar. Dua wanita sekaligus. Setelah itu mobil balik ke rumah besar tadi. Rinda keluar lagi, kali ini naik mobil kecil Avanza putih sendirian, langsung ke kantor.
Gue nyusul ke kantor sambil nyusun puzzle di kepala. Rinda pasti punya hubungan spesial sama keluarga Pak Krismono. Bukan sekretaris biasa.
Sepanjang pagi di kantor gue sibuk mikirin itu. Nada, yang sekarang udah dipindah jadi junior sekretaris di Jakarta, nyamperin meja gue dengan senyum manis. “Mas, ada dokumen dari Yogya. Rinda minta dicek bareng.”
Nada tinggi, kulit putih, rambut panjang. Tapi hari ini perhatian gue lebih ke Rinda yang duduk di ruangan depan Pak Krismono. Dia keliatan profesional banget, gerakannya efisien, suaranya lembut tapi tegas pas ngomong di telepon.
Siangnya gue nekat ketok ruangan Bu Sita. Dia lagi sibuk ngetik, tapi pas liat gue langsung angkat alis. “Ada apa?”
Gue tutup pintu, duduk di depan meja. “Bu, gue mau nanya soal Rinda. Hubungan dia sama Pak Krismono apa sih?”
Bu Sita langsung tegang. “Itu bukan urusan lu. Kerjain aja tugas lu.”
Gue ambil HP, buka rekaman video yang gue simpen diam-diam waktu di rumah dia kemarin adegan dia naik turun di atas gue, desahannya yang ganas, mukanya yang penuh kenikmatan. Gue puter sebentar di volume rendah.
Bu Sita langsung pucat. “Lu… berani juga!”
“Gue cuma butuh kejelasan, Bu. Pak Krismono nyuruh gue dekatin Rinda, kasih iming-iming rumah. Gue nggak mau masuk jebakan.”
Bu Sita menghela napas panjang, matanya nyalang. Akhirnya dia ngomong pelan. “Rinda itu adik Bu Krismono. Adik ipar Pak Krismono. Rumah yang dia tinggalin itu rumah mertua Pak Krismono, orang tua Bu Krismono. Keluarga besar mereka deket banget.”
Gue manggut-manggut. “Terus kenapa Pak Krismono mau jodohin gue sama dia?”
“Rinda tak pernah menikah beneran. Dulu ada pacar yang dia bilang ‘suami’ ke tetangga, tapi nggak resmi. Pacarnya meninggal mendadak. Sejak itu Rinda trauma berat. Nggak mau deket-deket sama laki-laki. Makanya Pak Krismono sama Bu Krismono nyari orang yang bisa ‘mengobati’ dia. Lu dipilih karena dianggap tegas, punya masa depan di kantor, dan… sesuai selera Rinda.”
Bu Sita natap gue tajam. “Hadiah rumah itu beneran. Kalau lu berhasil, lu dapat. Tapi hati-hati, Rinda bukan cewek sembarangan.”
Gue keluar ruangan dengan kepala penuh. Karakter Rinda makin jelas, imut, sopan di luar, tapi pasti ada sisi rapuh dan panas di dalam. Rambut pendeknya yang selalu rapi, mata sipit yang bisa manis atau nakal, senyum tipis yang bikin orang betah, tubuh yang proporsional dengan dada yang selalu keliatan kencang di balik kemeja, pinggang ramping yang pengen dipeluk, kaki jenjang yang bikin rok pensilnya makin seksi.
Sore harinya gue mulai action. Gue chat Rinda pake nomor yang dikasih Pak Krismono.
Gue: Hai Rin, ini gue yang kemarin di ruangan Pak Krismono. Mau ngajak ngopi sore ini? Ada yang mau dibahas soal proyek Yogya.
Rinda bales lumayan cepet.
Rinda: Boleh. Jam 5 di kafe depan kantor ya.
Gue jemput dia pas pulang kantor. Rinda naik motor gue dengan hati-hati, tangannya pegang pinggang gue pelan. Bau parfumnya lembut, campur shampoo rambut pendeknya. Di kafe kami ngobrol panjang. Dia cerita soal kerjaan, suka baca buku, dan kadang main yoga di akhir pekan. Matanya sering nunduk malu pas gue puji penampilannya.
“Lu cantik banget hari ini, Rin,” gue bilang sambil senyum.
Dia merah tipis. “Biasa aja. Masnya yang suka gombal.”
Malamnya gue anter dia pulang. Di depan rumahnya gue berani peluk dia sebentar. Rinda kaku dulu, tapi nggak nolak. “Pelan-pelan ya, Mas,” bisiknya.
Besok paginya Nada lagi nyapa gue di meja. “Mas, Rinda minta lu ke ruangannya bentar. Ada dokumen.”
Nada sekarang deket banget sama Rinda, sering bareng ngurus administrasi. Dia nyengir pas liat gue. “Hati-hati ya Mas, Rinda orangnya baik tapi pemilih.”
Gue masuk ruangan Rinda. Dia lagi berdiri di depan jendela, rok pensilnya ngepas banget di bokongnya yang bulat. Gue dekatin dari belakang, tangan gue sentuh pinggangnya pelan.
“Mas… di kantor,” protesnya pelan, tapi badannya nggak mundur.
Gue cium lehernya dari belakang. “Cuma sebentar.”
Rinda mendesah kecil. Tangan gue naik ke dada kencangnya, remas pelan dari luar kemeja. Dia balik badan, mata sipitnya setengah merem. Kami ciuman dalam, lidahnya manis dan malu-malu. Gue angkat roknya sedikit, tangan gue masuk ke paha dalamnya yang mulus.
“Mas… nanti ketahuan,” desahnya, tapi pinggulnya maju sedikit.
Kami berhenti pas ada ketukan pintu dari Nada. Rinda buru-buru rapiin baju, mukanya merah. “Nanti malam aja ya,” bisiknya sebelum gue keluar.
Sepanjang hari gue mikirin Rinda. Dia tipe yang keliatan dingin dan profesional, tapi sekali disentuh langsung meleleh. Trauma masa lalunya bikin dia hati-hati, tapi ada gairah yang lama tertahan di dalam.
Malam harinya gue ajak dia makan malam. Setelah itu kami ke apartemen gue. Marita lagi nggak ada, jadi aman. Rinda keliatan nervous pas masuk, tapi pas gue cium lagi, dia balas dengan lebih berani.
Gue buka kemejanya satu-satu, bra putihnya keliatan, dadanya naik turun cepet. Gue cium dan hisap putingnya pelan, Rinda mendesah manja, tangannya pegang kepala gue. “Lama banget nggak ada yang begini…”
Gue turun ke bawah, buka roknya, celana dalamnya udah basah. Gue jilat lama di situ, lidah gue mainin setiap bagian. Rinda klimaks pertama dengan badan kejang, tangannya jambak rambut gue.
Kami lanjut ke kasur. Rinda naik ke atas pelan-pelan, gerakannya hati-hati tapi dalam. Payudaranya bergoyang indah pas dia naik turun. Gue pegang pinggul rampingnya, bantu ritme. Dia klimaks lagi, desahannya lembut tapi penuh kenikmatan.
Gue balik posisi, masuk dari belakang sambil remas dadanya. Rinda semakin liar, minta lebih keras. Akhirnya kami nyampe bareng, gue keluar di dalamnya yang panas.
Kami berpelukan setelahnya. Rinda elus dada gue. “Mas beneran serius nggak sama gue?”
Gue cium keningnya. “Serius, Rin. Gue suka lu.”
Dalam hati gue tahu ini juga soal karir dan hadiah rumah, tapi Rinda emang bikin gue tertarik beneran. Karakternya campur aduk: imut, sopan, trauma tapi lapar sentuhan, tubuhnya sempurna dengan rambut pendek yang selalu rapi, mata sipit manis, dan senyum yang bikin meleleh.
Besoknya di kantor, Nada lagi-lagi jadi penghubung. “Rinda senyum-senyum sendiri tadi, Mas. Pasti ada apa-apa nih.”
Gue cuma nyengir. Puzzle keluarga Krismono udah nyambung, dan gue lagi di jalur yang tepat. Tapi dengan Sinta yang hamil , Poppy di Yogya, Marita di apartemen, sama Bu Sita yang ganas, semuanya makin rumit.
Tapi gue nikmatin setiap bagiannya. Rinda adalah tantangan baru yang enak banget buat ditaklukin.
btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍