NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Salju Pertama

Pagi pertama mereka di Swiss dimulai dengan sesuatu yang tidak pernah Luna bayangkan sebelumnya.

Salju.

Saat membuka tirai kamar hotel, matanya langsung membulat.

Di luar sana, butiran-butiran salju turun perlahan dari langit.

Atap-atap bangunan berwarna putih.

Pepohonan tampak seperti tertutup gula halus.

Dan pegunungan Alpen di kejauhan terlihat semakin indah.

"Alex!"

teriak Luna sambil berlari ke arah balkon.

Alex yang baru keluar dari kamar mandi langsung mengernyit.

"Ada apa?"

"Salju!"

Alex melirik ke luar jendela.

"Oh."

Luna langsung menoleh.

"Oh?"

"Itu salju."

Luna memegang pinggangnya.

"Kamu nggak excited sama sekali?"

Alex mengangkat bahu.

"Aku udah sering lihat."

Luna langsung cemberut.

Membuat Alex hampir tertawa.

Belakangan ini ekspresi Luna memang semakin beragam di depannya.

Dan anehnya, Alex mulai terbiasa melihat semua itu.

---

Setelah sarapan, mereka memutuskan berjalan-jalan di sekitar kota.

Luna memakai mantel tebal, syal, sarung tangan, bahkan topi rajut.

Tetap saja ia masih menggigil.

"Dingin banget."

Alex yang berjalan di sampingnya melirik sekilas.

"Kamu baik-baik aja?"

"Iya."

Lima detik kemudian.

"Tidak."

Alex menghela napas pelan.

Lalu membuka syal yang melingkar di lehernya.

"Hah?"

"Pakai."

Luna langsung menggeleng.

"Nanti kamu kedinginan."

"Aku nggak gampang kedinginan."

Tanpa menunggu persetujuan, Alex langsung melilitkan syalnya ke leher Luna.

Jarak mereka menjadi sangat dekat.

Sangat dekat.

Luna bahkan bisa mencium aroma parfum pria itu.

Jantungnya langsung berdebar.

Sedangkan Alex terlihat biasa saja.

Seolah apa yang baru dilakukannya adalah hal normal.

"Udah."

Alex melangkah lebih dulu.

Meninggalkan Luna yang masih berdiri mematung.

"Kenapa diem?"

Luna buru-buru menyusul.

"Nggak kenapa-kenapa."

Padahal pipinya sudah memerah.

Entah karena dingin.

Atau karena hal lain.

---

Mereka menghabiskan waktu mengunjungi beberapa tempat wisata.

Mencoba cokelat khas Swiss.

Melihat danau yang membeku sebagian.

Dan berjalan di jalanan kota yang dipenuhi dekorasi musim dingin.

Luna tidak berhenti mengambil foto.

Sementara Alex hanya mengikuti dari belakang.

"Kita foto berdua."

Alex langsung berhenti.

"Tidak."

"Kenapa?"

"Aku nggak suka foto."

Luna langsung melotot.

"Aku juga nggak suka bangun pagi tapi tetap kulakuin."

"Itu beda."

"Nggak beda."

Alex tahu dirinya tidak akan menang.

Dan benar saja.

Lima menit kemudian.

Mereka berdiri di depan danau dengan pemandangan pegunungan di belakang.

Luna tersenyum cerah ke arah kamera.

Sedangkan Alex terlihat seperti sedang menghadiri rapat penting.

"Alex."

"Apa?"

"Senyum."

"Tidak."

"Sedikit aja."

"Tidak."

Luna akhirnya menyerah.

Namun saat foto diambil, tanpa sadar Alex melirik ke arah Luna yang sedang tertawa.

Dan hasilnya...

Ryan pasti akan pingsan kalau melihat foto itu.

Karena untuk pertama kalinya ada senyum tipis di wajah Alex.

---

Siang hari mereka berhenti di sebuah kafe kecil.

Suasananya hangat dan nyaman.

Luna memegang secangkir cokelat panas sambil melihat pemandangan salju di luar jendela.

"Alex."

"Hm."

"Kamu pernah ke sini sama Michelle?"

Begitu pertanyaan itu keluar, Luna langsung ingin menepuk mulutnya sendiri.

Kenapa dia menanyakan itu?

Alex terdiam beberapa saat.

"Tidak."

Luna menghela napas lega.

Namun beberapa detik kemudian ia menyadari sesuatu.

Kenapa dia lega?

---

"Kenapa tanya begitu?"

Luna pura-pura sibuk minum.

"Nggak tahu."

"Kamu penasaran?"

"Mungkin."

Alex memperhatikannya.

Lama.

Sampai Luna mulai salah tingkah.

"Kamu cemburu?"

Luna hampir tersedak.

"Apa?"

Alex terlihat santai.

Padahal dalam hati ia sedang menikmati reaksi Luna.

"Aku nggak cemburu."

"Kalau gitu bagus."

Luna langsung mendengus.

Membuat Alex tersenyum kecil.

---

Menjelang sore.

Mereka naik kereta menuju kawasan pegunungan.

Pemandangan yang terlihat dari jendela membuat Luna terpana.

Hamparan salju putih membentang sejauh mata memandang.

Rumah-rumah kayu kecil berdiri di antara pepohonan.

Dan langit biru cerah melengkapi semuanya.

"Indah banget."

gumam Luna.

Alex tidak menjawab.

Karena saat itu ia justru sedang memperhatikan Luna.

Bukan pemandangannya.

Bukan saljunya.

Melainkan wanita yang duduk di sebelahnya.

Wanita yang awalnya hanya pengganti.

Wanita yang tidak pernah ia inginkan dalam pernikahan ini.

Namun sekarang...

Entah kenapa kehadirannya terasa penting.

Sangat penting.

---

Malam hari mereka kembali ke hotel.

Tubuh Luna terasa lelah setelah berjalan hampir seharian.

Namun ia merasa bahagia.

Sangat bahagia.

Saat sedang membereskan hasil belanjaannya, tiba-tiba lampu kamar mati.

"Eh?"

Luna membeku.

Ruangan langsung gelap.

Beberapa detik kemudian terdengar suara Alex.

"Tenang."

"Ada apa?"

"Kayaknya listrik sementara."

Luna mengangguk.

Padahal Alex tidak bisa melihatnya dalam gelap.

Tak lama kemudian suara petir terdengar dari luar.

BRAK!

Luna refleks terkejut.

Sejak kecil ia memang tidak terlalu suka suara petir.

Dan sebelum ia sadar apa yang terjadi...

Tangannya sudah menggenggam lengan Alex.

Keduanya langsung terdiam.

Sangat diam.

Karena posisi mereka sekarang begitu dekat.

Alex bisa merasakan jemari Luna yang masih menggenggam lengannya.

Sedangkan Luna bisa merasakan jantungnya sendiri yang berdebar sangat cepat.

"Aku..."

Luna buru-buru melepaskan tangannya.

"Maaf."

Alex menatapnya dalam gelap.

"Nggak apa-apa."

Suara pria itu terdengar jauh lebih lembut dari biasanya.

Membuat Luna semakin gugup.

Untungnya beberapa saat kemudian lampu kembali menyala.

Namun entah kenapa.

Tidak ada satu pun dari mereka yang langsung bergerak.

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk beberapa detik.

Dunia terasa berhenti.

Sampai akhirnya suara ponsel Alex berbunyi.

Membuyarkan semuanya.

Luna langsung memalingkan wajah.

Sedangkan Alex diam-diam menghela napas.

Karena untuk pertama kalinya...

Ia menyadari satu hal yang selama ini berusaha diabaikannya.

Perasaannya terhadap Luna mulai berubah.

Dan perubahan itu membuatnya takut sekaligus bahagia dalam waktu yang bersamaan.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!