"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Teguran Dingin di Koridor
BAB 10: Teguran Dingin di Koridor
Punggung tegap Profesor Adrian baru saja menghilang di balik sekat koridor lantai dua, namun rasa takut yang ditinggalkannya masih tertinggal pekat di dalam dada Kiara. Seluruh persendian kaki gadis itu mendadak lemas. Ia tahu betul, tatapan elang Adrian tadi bukan sekadar gertakan sambal. Pria itu benar-benar marah.
"Oh ya, Kiara," suara Rangga kembali memecah lamunan Kiara. Pria tampan itu merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar berspesifikasi tinggi, lalu menyodorkannya ke hadapan Kiara dengan senyuman yang sangat ramah. "Kebetulan banget kita ketemu di sini. Boleh aku minta nomor WhatsApp kamu? Soalnya dari pihak BEM lagi mendata ulang mahasiswa penerima beasiswa untuk koordinasi program pengabdian masyarakat bulan depan. Biar gampang hubungin kamunya."
Kiara menelan ludah dengan susah payah. Di satu sisi, akal sehatnya berteriak untuk menolak karena bayangan kemarahan Adrian semalam masih menari-nari di pelupuk matanya. Namun di sisi lain, ini adalah urusan resmi kampus dan organisasi, dan Rangga adalah senior sekaligus ketua BEM yang memegang kendali atas data tersebut. Menolaknya tanpa alasan yang jelas akan terlihat sangat tidak sopan dan mencurigakan.
"Ah... i-iya, Kak. Boleh," jawab Kiara ragu-ragu. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena sisa rasa takutnya, Kiara menerima ponsel Rangga dan mengetikkan nomor ponselnya di sana.
"Oke, sudah masuk. Makasih banyak ya, Kiara. Nanti sore aku chat kamu buat detailnya," ucap Rangga dengan binar mata puas. Pria itu menepuk pundak Kiara sekali lagi dengan gerakan bersahabat sebelum akhirnya berbalik, "Aku duluan ya, rapat BEM sudah mau mulai."
"Iya, Kak. Terima kasih kembali," lirih Kiara, menatap punggung Rangga yang mulai menjauh menyusuri koridor.
Begitu Rangga benar-benar menghilang di ujung selasar, Kiara mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan di dada. Ia memeluk kembali tumpukan buku tebalnya dengan erat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk melanjutkan langkah menuju ruang diskusi.
Namun, baru saja Kiara memutar tubuhnya untuk berbalik arah, langkahnya langsung terhenti seketika. Jantungnya seolah berhenti berdetak, dan pasokan oksigen di sekitarnya mendadak menguap tanpa sisa.
Profesor Adrian sudah berdiri tepat di belakangnya.
Entah sejak kapan pria itu turun dari lantai dua, namun kini ia sudah berada di sana, menghadang jalan keluar Kiara dengan jarak yang teramat dekat—hanya tersisa satu jengkal sebelum dada bidangnya menabrak tumpukan buku di pelukan Kiara.
Aura dingin yang mencekam dan mengintimidasi menguar nyata dari tubuh tegap sang profesor, membuat beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat di koridor itu langsung menunduk takut dan mempercepat langkah mereka, tidak berani mendekati area kekuasaan sang dosen killer.
Adrian tidak mengenakan kacamata bacanya. Mata elangnya yang tajam menghunus langsung ke dalam manik mata Kiara yang bergerak gelisah ketakutan. Tatapan Adrian turun sekilas, menatap bibir Kiara yang terkatup rapat, lalu naik lagi mengunci wajah pucat mahasiswanya itu. Tidak ada lagi sisa-sisa kehangatan atau kelonggaran yang ia berikan jam dua pagi tadi di apartemen. Di sini, di area kampus, Adrian menjelma menjadi sosok monster posesif yang siap memangsa buruannya.
Kiara meremas pinggiran buku tebalnya hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba menyembunyikan getaran hebat di tangannya. "P-Pak Adrian... selamat siang," cicit Kiara dengan suara yang hampir habis, mencoba bersikap seformal mungkin di depan umum.
Adrian sama sekali tidak membalas sapaan formal itu. Wajah tampannya datar tanpa ekspresi, namun rahang tegasnya yang mengeras menunjukkan betapa besarnya amarah yang sedang ia kekang di dalam dada.
Secara perlahan, Adrian melangkah maju satu kali lagi, memaksa Kiara mundur selangkah hingga punggung gadis itu membentur dinding mading yang dingin. Adrian memiringkan tubuhnya sedikit, berpura-pura sedang membaca kertas pengumuman di mading tepat di samping kepala Kiara, sehingga posisinya dari kejauhan terlihat seperti seorang dosen yang sedang memeriksa mading kampus.
Namun, di bawah jarak yang teramat intim dan tersembunyi dari pandangan mahasiswa lain itu, Adrian menundukkan kepalanya. Bibir seksinya bergerak mendekati daun telinga Kiara, mengembuskan napas hangat beraroma mint yang seketika membuat seluruh tubuh Kiara meremang hebat.
"Memberikan nomor ponselmu pada pria lain, tersenyum begitu manis padanya, bahkan membiarkan tangan kotornya menyentuh pinggangmu..." bisik Adrian dengan suara bariton yang teramat rendah, berat, dan sarat akan ancaman yang mematikan. "Kamu benar-benar menguji batas kesabaranku, Kiara."
"Pak... itu... Kak Rangga cuma minta nomor untuk urusan beasiswa BEM, saya tidak bermaksud—" Kiara mencoba membela diri dengan suara berbisik yang panik, takut ada orang lain yang mendengar pembicaraan terlarang mereka.
Adrian terkekeh sangat tipis—sebuah kekehan dingin nan tengil yang membuat jantung Kiara berdentum dua kali lebih cepat. Adrian menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Kiara dengan binar mata yang berkilat dipenuhi kabut cemburu gila dan obsesi kepemilikan yang gelap.
"Aku tidak peduli apa alasannya, Mahasiswaku," potong Adrian dengan nada memerintah yang mutlak dan tidak boleh dibantah. Pria itu menegakkan kembali tubuhnya, merapikan letak kemeja abu-abunya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa, lalu berjalan melewati Kiara begitu saja.
Namun, tepat saat bahu tegapnya bergesekan dengan bahu Kiara, Adrian kembali membisikkan satu kalimat perintah yang membuat seluruh dunia Kiara serasa runtuh seketika.
"Ruang kerjaku, sekarang juga, Kiara. Kutunggu dalam waktu tiga menit. Jika kamu terlambat satu detik saja... kupastikan kuhancurkan seluruh karier organisasi seniormu itu dalam waktu satu jam, dan kamu tidak akan pernah melihat lembar kelulusanmu di kampus ini."
Setelah mengucapkan kalimat ancaman yang mengerikan itu, Adrian melangkah pergi dengan santai dan tegap menuju ruang dosen, meninggalkan Kiara yang berdiri mematung di dinding mading dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya karena rasa takut sekaligus kesal yang luar biasa pada sifat posesif gila sang profesor.