"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Malam yang panjang itu akhirnya mulai bergeser, namun kegelapan di dalam dada dua anak manusia yang patah itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan memudar.
Udara fajar di Los Angeles berembus dingin, membawa kabut tipis yang menyelimuti kaca-kaca jendela mansion megah di Bel-Air.
Di dalam kamarnya yang masih gulita, Vexana tidak sedetik pun memejamkan mata. Ia menghabiskan sisa malam dengan posisi yang sama: memeluk lutut di atas karpet, sementara bingkai foto Amara kini tergeletak bisu di sampingnya.
Air matanya sudah mengering, menyisakan jalur samar yang terasa perih di pipinya yang pucat. Rasa kebas menjalar dari ujung jari kaki hingga ke ulu hatinya. Menyakitkan bagaimana waktu terus berjalan maju tanpa memedulikan jiwanya yang telah hancur berkeping-keping di lantai kamar ini.
"Kenapa mencintai harus sesakit ini, Amara?" bisik Vexana lagi, suaranya kini hampir habis, menyisakan serak yang menyedihkan.
Ia menatap langit-langit kamar yang perlahan mulai diterangi oleh semburat cahaya pagi yang abu-abu.
Pagi ini terasa abu-abu, seolah matahari pun enggan bersinar untuk menyaksikan kelanjutan hidupnya yang malang.
Vexana menegakkan tubuhnya dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Seluruh persendiannya terasa kaku dan linu. Ia melangkah terseok-seok menuju kamar mandi, menatap pantulan dirinya di cermin besar di atas wastafel.
Sosok di dalam cermin itu tampak asing. Sepasang mata bulat yang dulu selalu berbinar penuh keangkuhan dan gairah muda kini tampak redup, kosong, dan dikelilingi lingkaran hitam yang dalam.
Kau harus kuat, Vexa. Demi AJ, batinnya mencoba menyuntikkan kekuatan palsu ke dalam silsilah darahnya yang terasa dingin.
Ia membasuh wajahnya dengan air sedingin es, mencoba membunuh rasa sakit yang terus berdenyut di pelipisnya.
Namun, setiap kali air itu menyentuh kulitnya, ingatan akan sentuhan tangan Landon di bahunya kemarin siang kembali berkelebat.
Sentuhan yang begitu kasar namun sarat akan keputusasaan, cengkeraman yang seolah berteriak meminta pertanggungjawaban atas takdir yang telah mereka rusak bersama.
"Aku membencimu, Landon... aku membencimu karena kau masih bisa membuatku menangis sejauh ini," rintih Vexana, mencengkeram pinggiran wastafel marmer hingga jemarinya memutih.
...****************...
Sementara itu, di apartemen penthousenya yang mewah namun terasa sepi laksana kuburan, Landon Desmon sedang duduk di tepi ranjangnya dengan kepala tertunduk.
Kemeja hitam yang ia kenakan kemarin ke laboratorium masih melekat di tubuhnya, kini tampak kusut dan berantakan—sebuah pemandangan yang sangat tidak biasa bagi seorang dosen muda yang selalu menjaga kesempurnaan penampilannya.
Di atas meja nakas di samping ranjang, sebotol wiski yang sudah kosong tergeletak miring.
Landon mencoba menenggelamkan rasa sesaknya ke dalam alkohol semalam, namun cairan pekat itu ternyata gagal mematikan fungsi otaknya yang genius. Otaknya justru semakin tajam memutar ulang setiap detail pertengkaran mereka.
Setiap kata-kata vulgar yang mereka lontarkan, setiap tuduhan tentang pengaman yang robek, tentang kehamilan yang disembunyikan, hingga tangisan hancur Vexana... semuanya menjadi duri yang terus menusuk jantungnya tanpa henti.
Landon mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota yang perlahan mulai terbangun.
"Kau bilang aku yang menghancurkanmu, Vexa," ucap Landon pada kesunyian ruangan, suaranya terdengar sangat parau, kering oleh efek alkohol dan air mata.
"Tapi lihat diriku sekarang... apa aku terlihat seperti seorang pemenang yang hidup bahagia di atas penderitaanmu?"
Pria itu meraba dadanya, merasakan detak jantungnya yang terasa lambat dan berat.
Rasa sakit ini terlalu nyata.
Yang paling mengerikan dari perpisahan bukanlah saat mereka berhenti saling menyapa, melainkan saat ingatan tentang betapa indahnya masa lalu terus datang menagih di saat mereka sudah tidak lagi memiliki hak untuk mengulanginya.
"Kita sama-sama hancur, Bee... Kita sama-sama menjadi monster yang saling melukai karena cinta kita yang terlalu besar dan ego kita yang terlalu tinggi," bisik Landon, setitik air mata kembali meluncur dari sudut mata legamnya yang lelah.
Pukul 07.30 pagi.
Suasana di ruang makan mansion Valerio terasa sangat hening dan mencekam, mengubur sisa-sisa kehangatan keluarga yang biasanya ada.
Maximilian duduk di kepala meja dengan setelan jas kerjanya yang rapi, membaca koran bisnis dengan raut wajah yang masih mengeras. Di sampingnya, Amieyara duduk dengan pandangan mata yang terus tertuju ke arah undakan tangga, menunggu putrinya turun.
Tak lama kemudian, langkah kaki yang lambat terdengar. Vexana muncul dengan pakaian kasual yang tertutup—sebuah sweater rajut longgar berwarna hitam dan celana kain panjang. Ia sengaja memakai riasan wajah yang sedikit tebal untuk menyembunyikan wajah sembapnya, namun matanya yang meredup tidak bisa membohongi kedua orang tuanya.
"Pagi, Daddy, Mommy," ucap Vexana dengan suara yang diusahakan terdengar normal saat ia menarik kursi di seberang ibunya.
Maximilian tidak menyahut, ia hanya menurunkan korannya sedikit, menatap Vexana dengan pandangan menilai yang dingin sebelum kembali membaca.
Ketegangan itu begitu pekat hingga membuat pelayan yang mengantarkan piring sarapan memilih untuk segera mundur ke dapur secepat mungkin.
Tepat pada saat itu, AJ berlari masuk ke ruang makan dengan tas sekolah kecil bermotif dinosaurus yang sudah terpasang di punggungnya.
Bocah laki-laki itu tampak begitu kontras dengan atmosfer ruangan; ia adalah satu-satunya sumber cahaya di dalam rumah yang sedang dirundung mendung ini.
"Kak Vexa! Lihat, AJ sudah siap sekolah!" seru AJ riang, langsung menghambur ke samping kursi Vexana.
Melihat wajah polos putranya, pertahanan Vexana yang ia bangun sejak di kamar mandi tadi seketika retak kembali. Rongga dadanya bergemuruh hebat oleh rasa ngilu yang luar biasa. Ia menunduk, mengusap rambut hitam ikal AJ yang sangat mirip dengan rambut pria yang semalam ia tangisi habis-habisan.
"AJ hebat... anak pintar," ucap Vexana, suaranya sedikit bergetar. Ia memaksakan sebuah senyuman di bibirnya, meskipun hatinya sedang menjerit histeris.
Maafkan mommy, Nak... Maaf karena harus menyembunyikan ayahmu darimu. Maaf karena dunia kita harus sehancur ini.
"Vexana," suara berat Maximilian memecah momen itu. Pria paruh baya itu melipat korannya dengan rapi, lalu menatap putrinya dengan tatapan final.
"Pagi ini, Daddy sudah menghubungi Rektor. Mulai jam ini, kau resmi dibebaskan dari proyek penelitian dengan Fakultas Teknik. Seluruh nilaimu untuk mata kuliah Manajemen Strategis akan dialihkan ke proyek mandiri di bawah pengawasan langsung dari Dekan Fakultas Bisnis."
Vexana memejamkan matanya perlahan. "Baik, Daddy. Terima kasih."
"Dan satu hal lagi," lanjut Maximilian, melirik ke arah AJ yang sedang asyik memakan roti bakarnya tanpa memedulikan obrolan orang dewasa.
"Jangan pernah mencoba mencari tahu atau mendatangi Gedung Teknik lagi untuk alasan apa pun. Jika Daddy mendengar kau melanggar perintah ini, Daddy tidak akan segan-seman memindahkanmu kuliah ke London minggu depan."
Mendengar kata 'London', Amieyara tersentak. "Maximilian, jangan terlalu keras pada Vexa—"
"Aku harus keras, Yara!" potong Maximilian, suaranya merendah namun penuh penekanan yang mutlak. "Ini demi keselamatan cucu kita. Demi ketenangan rumah ini. Hubungan masa lalu yang beracun itu harus dipotong sampai ke akarnya."
Vexana hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya kembali menetes pelan, jatuh di atas permukaan meja makan yang bersih. Ia tahu, keputusan ayahnya adalah hal yang benar untuk melindungi AJ.
Namun bagi hatinya yang malang, keputusan ini adalah segel final yang mengunci dirinya di dalam ruang isolasi kedukaan seumur hidup, memaksanya hidup sebagai orang asing bagi pria yang jiwanya telah menyatu dengan miliknya sejak usia tujuh belas tahun.
Di tempat lain, Landon Desmon melangkah memasuki koridor Gedung Rektorat dengan langkah yang tegap, meskipun di dalam dirinya ia merasa laksana raga kosong yang berjalan.
Pagi ini, ia harus menghadapi sidang kecil yang diajukan oleh Dekan Fakultas Seni akibat aduan Kimberly.
Sepanjang jalan melewati lorong-lorong kampus, kata-kata pahit yang ia ucapkan pada angin malam semalam kembali bergema di kepalanya.
Tidak ada yang lebih sakit daripada hati yang penuh cinta namun tidak ditakdirkan untuk bersama.
Landon mencengkeram gagang pintu ruang rapat Rektorat dengan erat. Ia tahu, reputasinya mungkin akan sedikit tergores hari ini, atau mungkin ia harus melepaskan beberapa proyek besarnya sebagai kompensasi atas keributan kemarin.
Namun bagi Landon, kehilangan seluruh karier akademisnya pun tidak akan pernah bisa menandingi rasa kehilangan yang ia rasakan saat menyadari bahwa Vexana Valerio—wanita yang menjadi poros dunianya—telah benar-benar memilih untuk melangkah mundur dan membiarkan mereka berdua mati di dalam pusaran duka yang tak berujung.
Pagi itu, di bawah langit Los Angeles yang enggan bersinar terang, kisah cinta mereka yang penuh gairah resmi bertransaksi dengan kehancuran yang paling sunyi.