seorang wanita dari Negara Asia, memutuskan untuk berlibur ke Negara terpencil di bagian timur tengah, hanya untuk bisa melupakan Mantan pacarnya yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Yang dia pikir hanya akan mendapatkan pengalaman baru, tapi ternyata malah menemukan pasangan hidupnya, seorang pria pemilik kafe.
Walau begitu, wanita dari Asia itu tidak mengetahui bahwa pria tersebut, merupakan seorang penerus atau Pangeran mahkota di negara itu.
bisa dikatakan, di buang batu jalanan, malah dapat pengganti batu zamrud di negara asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
"nona? Nona?"panggil Ashan berulang-ulang, kepada Tiffany, yang masih menatap kosong wajah Ashan.
Sampai Ashan sendiri mengetuk meja tiga kali, baru membuat Tiffany tersadar. "ah maaf Ashan, aku Tiffany, senang berkenalan denganmu"seru Tiffany, sambil mengulurkan tanganya untuk berjabat tangan, tapi Ashan hanya meyatukan telapak kedua tanganya, seperti memberi salam kenal tapi tidak ingin bersentuhan dengan wanita, *ah gila! pria kulit coklat ini, ternyata sopan juga!, malu banget! Aaaaa!*batin Tiffany menjerit malu, dan dengan cepat ia juga menyatukan telapak tangannya seperti yang di lakukan oleh Ashan.
"silahkan nikmatin hidanganya nona Tiffany, saya akan selalu berada disini, jika nona Tiffany, setuju dengan saran saya, temui saja saya di kafe ini"ucapnya langsung pergi dari sana.
"baik..."jawab Tiffany, merasa sedikit tidak senang jika Ashan pergi dari pandangannya.
...----------------...
"Pangeran?"suara dari seseorang yang memanggil Ashan, membuat Ashan kaget.
"astaga Yamin! Kamu mengagetkanku"lirih Ashan yang sedari tadi bengong karena memperhatikan Tiffany makan.
"ehm... padahal saya memanggilmu pelan, apa yang sedang pangeran pikirkan?"tanya Yamin menggoda Ashan, karena ia sepertinya mengerti dengan pandangan Ashan kepada wanita yang sedang makan, itu bukan lain adalah Tiffany.
"jangan panggil saya pangeran disini Yamin! Nama sana Ashan! Ingat itu, atau kamu akan merasa kan hukuman saya"ancam Ashan menatap sinis ke arah Yamin.
"wohohooo.. Baiklah Ashan, maafkan saya, jadi biar saya tebak, apa kamu menyukai wanita berkulit halus dan putih itu?"tanya Yamin sambil tidak sopan memukul lengan Ashan yang kekar itu.
"Bagaimana menurutmu jika wanita itu menjadi pasanganku?"tanya Ashan tanpa malu kepada temannya Yamin.
"Pangeran ah maksudmu Ashan, apa kamu yakin? wanita itu asalnya sangat berbeda dengan negara kita, apa yang membuatmu sampai tertarik dengan wanita itu? Di istana banyak wanita yang juga memiliki kulit putih, kenapa bisa tertarik denganya?"tanya Yamin merasa keheranan.
"hm?"dehem Ashan melirik ke arah Yamin dengan wajah betanya-tanya "benar juga, saya juga tidak tau, akan saya buktikan ada apa dengan saya jika dia mau menerima tawaran saya nanti"lirihnya kembali menatap Tiffany dari tempat barista.
*oh astaga, sungguh malang sekali nasibmu nona*batin Yamin juga melihat Tiffany dengan wajah mengasihani.
Tiffany yang merasa ada yang memperhatikannya langsung membuang pandanganya melihat sekitar. Tepat ia melirik ke tempat barista, ia juga tidak menemukan siapapun yang melihatnya. Karena Ashan dan Yamin sudah dari awal bersembunyi.
"kenapa? Apa kamu takut ketahuan?"tanya Yamin yang juga ikut bersembunyi.
"heh! Ashan tidak pernah takut dengan apapun, cuman saya tidak ingin ia merasa saya memperhatikannya dan memiliki niat jahat kepadanya. Kenapa kamu ke tempat kerja saya, kembalilah ke istana! Kakak perempuan saya yang gila kekuasaan itu pasti membutuhkanmu"ketus Ashan melanjutkan pekerjaannya yang lain.
"aaaaaaahh.... Ashaan.... Bagaimana bisa aku pergi tanpamu! Ibumu memintaku menjemputmu kembali! kau seorang Pangeran mahkota, kamu tidak bisa lari dari tugasmu Ashan. Kembalilah bersamaku"rengek Yamin di dalam dapur.
Saat Yamin sedang merengek, tanpa aba-aba, Ashan melemparkan sebelah pisau hampir mengenapi kepalanya Yamin. Membuat Yamin langsung terdiam membatu.
"baik pangeran, saya akan kembali, salam!"ucap Yamin dengan kaki gemetaran, langsung berlari keluar dapur.
*waaah ini tidak bisa lagi, Ratu sendiri yang harus menjemput putranya yang tiran ini! bisa-bisanya ia melempariku dengan pisau... waaaaaahh....*batin Yamin keluar dari sana dengan perasaan takut bercampur kesal.
...----------------...
Sementara Tiffany yang perutnya sudah terisi penuh, mengakhiri aktifitas makananya dengan mengucapkan terima kasih. Dan pada saat itu, hpnya berdering, ada panggilan masuk dari Zahra, sang ibu.
"ah hallo ibu..."sapa Tiffany lewat video call.
"hay putri ibu, bagaimana liburannya? Apa kamu sudah sarapan? Ayahmu sangat mengkhawatirkan kamu jika kamu belum makan, ia sedih seharusnya ia bisa membuatmu sarapan pagi"lapor Zahra.
"sudah ibu, liburannya sangat menyenangkan, Banyak orang baik disini yang mau menolongku, dimana ibu sekarang"tanya Tiffany, karena begiti asing dengan latar belakang tempat Zahra berada.
"hmmmm.. Ibu di rumah sakit sayang"
"APA!? SIAPA YANG SAKIT? APA ITU AYAH? IBU?"teriak Tiffany seketika merasa cemas
"selamat sayang, kamu akan menjadi seorang kakak"seru Damon sang ayah yang entah dari mana, tiba-tiba muncul di layar hp Tiffany, sambil tersenyum lebar.
"what!? Aku kakak? Ibu? Kamu hamil?"lirih Tiffany benar-benar kaget akan ucapan Damon itu.
"hahaha benar sayang, kenapa kamu tidak percaya ucapan ayah"
"tidak, bukan! Bagaimana bisa ibu hamil lagi_"
"_apa maksudmu bagaimana bisa, tentu saja bisa"potong sang ayah merasa kesal, akan ketidakpercayaan Putrinya itu.
"sudaaah! Akan ibu hubungi lagi jika kita sudah sampai di rumah yang sayang, ayahmu tidak tahu malu berisik di rumah sakit, ibu sayang kamu daah..."pungkas Zahra, langsung mematikan vidio call tersebut.
Dengan wajah tidak bersalah sang ayah menatap ibu dengan wajah kebingungan dan mengatakan"loh...?"
Sementara Tiffany masih diam membeku dengan posisi yang sama. Ia tidak percaya, gelarnya menjadi satu-satunya anak kesayangan akan di rebut oleh anak kedua ibunya, ia juga tidak menyangka, di umurnya yang sudah menginjak 27 tahun, ibunya malah memberikannya adik. Sungguh itu sangat menganggu pikiran Tiffany saat itu.
*apa-apaan ini*batin Tiffany dengan wajah syoknya.
...********BERSAMBUNG********...
kan memank begitu status kalian Fany...
Ashan sudah memintamu pada keluarga mu di telpon tempo hari...
jangan kasi peluang untuk mereka mengganggu Tiffany...
apalagi Cindy untuk mendekati mu...
jadi ingat pelakor aku kk 😆😆😆🙏🙏🙏
lanjut up lagi thor
Tiffany aja manggil Ashan tanpa embel2 pangeran,masa kamu masih panggil Nona...panggil nama aja lebih akrab nya
udah pangeran,brondong pula 😍😍😍