NovelToon NovelToon
Olimpiaders & Lover

Olimpiaders & Lover

Status: tamat
Genre:Tamat / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zuy Shimizu

sinopsis:
Nama Kania Abygail tiba tiba saja terdaftar sebagai peserta Olimpiade Sains Nasional.

Awalnya Kania mensyukuri itu karna Liam Sangkara, mentari paginya itu juga tergabung dalam Olimpiade itu. Setidaknya, kini Kania bisa menikmati senyuman Liam dari dekat.

Namun saat setiap kejanggalan Olimpiade ini mulai terkuak, Kania sadar, fisika bukan satu - satunya pelajaran yang ia dapatkan di ruang belajarnya. Akan kah Kania mampu melewati masa karantina pra - OSN fisikanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zuy Shimizu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Chapter 5: Tentang Lembaran Lain

"Perasaan ini sudah terlalu dalam, jadi kuputuskan untuk cukup memendam."

\#\#\#

"Maverick,"

Seorang pemuda dengan surai biru gelap itu menoleh sejenak ke arah suara sebelum akhirnya kembali menatap buku bacaannya sembari menghela nafas.

Baiklah, jadi begini.

Seorang Sabiru Adhiyaksa tidak akan memanggil Harka Maverick dengan benar bila sedang tidak ada butuhnya. Seksi olahraga kelas XII IPA-8 itu akan memanggilnya 'culun', 'Haris', atau olokan lain bila saja keperluannya tidak terlalu penting.

Padahal Harka sedang tidak ingin di ganggu. Bagi pemuda itu, ruang baca perpustakaan tidak dimasuki oleh gadis hama semacam Sabiru.

"Apa?" ucap Harka berat hati usai membalik satu halaman.

"Kita harus ngomong."

Harka menatap Sabiru sejenak dengan menaikkan satu alisnya. "Oh, gitu? Silahkan aja. Tinggal ngomong."

Sabiru berdecak pelan. Yang benar saja. Gadis itu ogah banget harus duduk bersila dihadapan Harka seperti apa yang pemuda itu lakukan kini. Harka memang punya kebiasaan untuk duduk lesehan ketimbang membaca di atas meja, berbeda dari siswa lain memang.

Karena itu lah, Sabiru menarik tangan Harka begitu kuat sehingga membuat pemuda itu berdiri dengan buku di pahanya yang terjatuh begitu saja. Sabiru pun menempelkan kedua tangannya di rak dan mengunci pergerakan Harka.

"Olimpiade Siswa Nasional." Sabiru menekankan setiap kalimatnya sembari menatap Harka begitu tajam. "Gue tau itu jatah lo. Jatah lo setiap tahunnya. Bukan punya adek gue."

Harka yang sempat terkejut hanya menatap Sabiru begitu datar. Pemuda itu memang kurang ekspresif. Pemuda itu justru sedang menahan diri untuk tidak terfokus pada bibir kecil Sabiru yang terlihat menggemaskan itu.

"Kenapa?" tanya Sabiru membuyarkan lamunan Harka.

"Kenapa? Lo tanya, kenapa?"

Harka melepaskan tangan Sabiru lalu berdiri tegak di hadapan gadis itu sehingga membuat ia kian menunduk. "Gue cuma ngasih dia kesempatan karena gue tau dia pekerja keras, dan dia pantas dapetin posisi gue."

"Racun juga ya mulut lo. Lo pasti cari muka biar keliatan jadi senior yang baik di depan gur-"

"Nggak usah ngarang. Gini-gini gue juga mikirin ujian gue kedepannya, kita ini udah kelas 3. Lagian gue juga yakin Kania cukup genius untuk ada disana."

Tatapan tajam Sabiru belum juga melunak, bahkan usai ia mendapat kejujuran dalam tatapan Harka. Gadis itu yakin, masih ada sesuatu yang disembunyikan oleh Harka. Dan Sabiru menunggu pengakuan itu.

"Kenapa? Ada masalah?" tanya Harka.

"Nggak usah pura-pura. Gue tau lo masih nyembunyiin sesuatu. Sengaja kan, mau jauhin adek gue dari gue?"

"Hah?" Harka mengerutkan dahinya. "Gila aja kali. Bukan urusan gue juga."

"Terus kenapa? Kenapa bisa sampe 30 hari? Normalnya kan karantina cuma 2 minggu!"

Harka tersentak kecil, dahinya pun kian mengeras. "Serius lo?"

Kini giliran Sabiru yang tersentak kini. Usai menuduh Harka, kini Sabiru mendapati fakta bahwa Harka sendiri yang ayahnya dosen dan kebetulan menjadi pengajar salah satu tim untuk OSN kini justru tidak tahu soal masa karantina yang berlebih ini.

"Salah denger kali ah, tanya lagi sama adek lo sono." Harka membalikkan tubuhnya dan kembali mengambil buku bacaannya. Pemuda itu pun melangkah meninggalkan perpustakaan dengan buku yang akhirnya terpinjam.

Selama perjalanan menuju kelas, Harka menggigit bibirnya. Sulit untuk tidak terlalu memikirkan soal masa karantina yang berlebih ini. Bukan hanya karena ayahnya, tapi juga karena Kania Abygail yang tergabung didalamnya.

Dibalik sifat dinginnya, Harka khawatir.

Harka khawatir, diam-diam. Dan Sabiru tidak tahu itu.

Sebab segala yang ingin dijaga Sabiru, ingin dijaga Harka juga. Apa yang dikhawatirkan Sabiru, Harka juga khawatir. Dan Sabiru tidak pernah tahu soal itu.

--- Olimpiaders ---

"Hai, Kania! Mau ke resto bareng?"

Kania tersentak kecil. Tepat baru saja saat ia hendak menutup pintu hotelnya dan segera bergegas ke resto untuk sarapan pagi, ia sudah disapa oleh seorang pemuda yang berkamar di koridor lain.

"Iya, kalo Evan nggak keberatan." ujar Kania sembari tersenyum tipis.

Ya, hanya senyuman tipis. Tapi Kania tidak tahu bahwa senyuman itu adalah senyuman termanis yang pernah Evan saksikan setelah sekian lamanya. Ah, gemas.

"Yuk," ujar Evan sebelum keduanya memulai langkah menyusuri koridor menuju ke lift.

Sulit bagi Evan untuk tidak melirik Kania diam-diam. Gadis itu tenang, tidak pernah berlebihan, dan... manis. Ah, diam-diam ia iri pada Liam yang satu sekolah dan satu jurusan dengan Kania. Pasti kelas mereka masih satu koridor, bisa bertemu setiap kali mau.

"Kamu... udah punya pacar?" tanya Evan.

"Eung?" Kania menatap Evan. "Belum. Kenapa emang?"

"O-oh, kenapa?"

Kania tak langsung menjawab. Gadis itu hanya tersenyum tipis sebelum kembali meluruskan pandangannya. Tidak mungkin ia dengan jujurnya menjawab, 'menunggu seseorang yang belum menyadari kehadirannya' karena tentu akan jadi rumit.

"Belum minat aja," jawab Kania.

"Kalo sama aku, minat nggak?"

"Ha?" Kania kembali menoleh.

Sial, keceplosan! Evan segera mengalihkan pandangannya. Pemuda itu kini tak cukup berani untuk menatap kedua iris Kania. "B-bercanda, hehe. Yuk, buruan ke lift. Jangan sampe telat."

"Iya deh,"

1
Metana
Leona /Cleaver//Cleaver//Cleaver/ isikan gk nih gue
Metana
Freak, kamu normal? kamu gila ya
Metana
Bang udah saling suka kok, cuman nanti pasti bilangnya " ayo pacaran pura-pura "
Metana
Duh keluarganya banyak jabatannya, nepo gak nih
Metana
duh berhenti ngelawak lah bang
Metana
naik permadani kan Liam
Metana
jablay gk tuh
Metana
wkwkwk
Metana
Tampar balik dooong
Metana
Oghey/Drool/
Metana
kocak lu
Metana
Baguus
Metana
meluk Liam nih pasti
Metana
kamu klu lebih baik dari Liam, akan aku usahakan untuk mengejarmu. Ganteng udah, kaya juga udah, tipe aku banget. Jadi harus baca dulu ni/Joyful/
Metana
Ekh malah nambah nambahin /Curse//Curse/
tapi lucu jga nih Liam, gas terus jhilinnya
Metana
Tuh kan
Metana
eh jangan to the point, nanti Liam salting lagi
Metana
Aku suka kata-katanya, semangat/Determined//Determined//Determined/

btw mampir juga di karyaku ayo saling suport
Metana
abang bisa aja
Metana
koruptor gk nin, becanda yah/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!