Mami...mami..."
Kedua bocah-bocah itu kembali mendekati nya, perlahan Mutiara mencoba mundur, namun terlambat.
"Ya Tuhan, apakah mereka Anak-anakku. lalu siapa ayahnya. kenapa semua ini membuat ku semakin bingung dan frustasi. tidak.... tidak...aku bukan mami kalian." teriak Mutiara syok. namun terlalu kedua bocah-bocah mengemaskan tersebut berhasil bergelayut manja di sebelah kanan dan kiri kakinya. dan tidak mau dilepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ritasilvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak mempunyai pilihan
"Papa, apa tidak ada pilihan lain?"
Seketika Mutiara memegangi perutnya yang masih terlihat datar, meskipun dia bukanlah wanita baik-baik karena sudah kehilangan kehormatan, namun dia sadar jika keputusan untuk membunuh bayi yang tidak berdosa ini bukanlah pilihan yang tepat.
"Ini adalah keputusan terakhir papa, nama baik keluarga kita akan tetap terjaga, dan kamu masih bisa melanjutkan pendidikan mu kejenjang yang lebih tinggi, tanpa seorangpun tahu permasalahan ini." ucap Hendrawan serius dengan ucapannya, sedangkan Dian hanya bisa diam seribu bahasa, karena jika dia terlalu ikut campur Hendrawan akan curiga padanya dan Angela.
"Mutiara, meskipun terdengar kejam dan tidak manusiawi, namun inilah yang terbaik untuk menyelamatkan keluarga kita." ucap papa kembali.
"Baiklah pa, aku bersedia untuk menyingkirkan bayi ini." ucap Mutiara, meskipun dalam hatinya bertolak belakang, namun dia sadar jika dirinya memang ikut bersalah dalam hal ini karena terlalu mudah percaya pada kata-kata dan bujuk rayunya Angela.
"Jangan takut, setelah ini kamu bisa menjadi Mutiara kami seperti yang dulu lagi, kuliah dan meraih masa depan yang cerah." bujuk papa sedikit lega setelah Mutiara menyetujui keputusannya.
Malamnya, Mutiara tidak mampu memejamkan matanya barang sepicingpun. hatinya dilanda gundah gulana.
"Aku merasa benar-benar sendirian, tidak ada tempat ku untuk berkeluh kesah. apalagi seseorang yang bisa menyelamatkan aku dan keluar dari masalah rumit, tanpa harus membunuh bayi yang tidak berdosa ini."
****
Paginya Mutiara melangkah lesu menuju meja makan, dimana papanya nya sudah terlihat rapi, sambil menunggu dirinya untuk sarapan bersama.
Meja makan yang biasa nya hangat, sekarang hanya keheningan dan dentingan sendok. semua larut dalam pikiran masing-masing.
Tiba-tiba papa mulai bersuara, memecah keheningan.
"Mutiara, apa kamu sungguh-sungguh tidak mengetahui dan mengenal sama sekali laki-laki yang sudah menodai mu?"
"Benar pa, aku berkata jujur." ucap Mutiara berusaha untuk menahan cairan bening dikedua pelupuk matanya.
"Untuk beberapa hari ini, tetap lah dirumah. jangan pergi kemana-mana. sampai papa menemukan obat atau cara terbaik untuk menggugurkan janin itu tanpa menyakiti mu." ucap papa seraya beranjak dari duduknya.
"Iya, pa."
Selesai sarapan Mutiara kembali kedalam kamarnya, mengurung diri. penyesalan tidak berarti lagi, semua sudah terlanjur. mungkin dengan menyetujui keputusan papa nya, semua masalah akan segera berakhir, dia jadi ga berjanji tidak akan pernah percaya pada Angela dan mama tirinya lagi.
"Maafkan aku karena tidak menginginkan kehadiran mu, tapi aku tidak mempunyai pilihan lain lagi, cukup sudah aku mengecewakan dan menghancurkan harapan Papa meskipun terkadang dia tidak pernah memperdulikan aku." mengelus perutnya dengan perasaan yang sulit Mutiara mengerti.
Tidak lama pintu kamar diketuk dari luar, Mutiara yakin jika papanya sudah kembali dari mencari obat untuk mengugurkan janin yang belum berkembang sempurna dalam rahimnya.
Ceklek, pintu terbuka lebar. papa menghampiri nya yang masih menagis menyesali keadaan.
"Mutiara, kamu sudah membawa obat terbaik untuk kamu minum."
"Tapi aku takut pa."
"Jangan takut nak, obat ini bekerja dengan baik. dia hanya berfungsi untuk menggugurkan janin dalam perut mu saja tanpa menyakiti." ucap papa seraya mengambil segelas air putih.
Dengan tangan bergetar Mutiara mengambil obat dan air putih tersebut, dia benar-benar takut dan dilemama.
"Minumlah, percayalah pada papa. papa ingin yang terbaik untukmu, nak " bujuk papa. meskipun sebenarnya dia tidak tega membunuh calon bayi yang tidak berdosa, tapi masa depan anak semata wayangnya jauh lebih penting dari segala-galanya. dia tidak ingin Mutiara melahirkan tanpa suami yang tentunya akan menjadi bahan gunjingan orang-orang nantinya, sehingga dia antisipasi sebelum terjadi yang lebih buruk lagi.
emang bos go da akhlak
rem dadakan aja jims
biar bos mu kepentok🤣🤣🤣🤣