NovelToon NovelToon
TINI SUKETI

TINI SUKETI

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:13.8M
Nilai: 5
Nama Author: juskelapa

Tidak cantik, tidak menarik, tidak berdandan apik, tidak dalam keadaan ekonomi yang cukup baik. Namun, hidupnya penuh polemik. Lantas, apa yang membuat kisah hidupnya cukup menarik untuk diulik?

Tini Suketi, seorang wanita yang dijuluki sebagai legenda Desa Cokro yang melarikan diri. Kabur setelah mengacaukan pesta pernikahan kekasih dan sahabatnya.

Didorong oleh rasa sakit hati, Tini berjanji tak akan menginjak kampungnya lagi sampai ia dipersunting oleh pria yang bisa memberinya sebuah bukit. Nyaris mirip legenda, tapi sayangnya bukan.

Bisakah Tini memenuhi janjinya setelah terlena dengan ritme kehidupan kota dan menemukan keluarga barunya?

Ikuti perjalanan Tini Suketi meraih mimpi.

***

Sebuah spin off dari Novel PENGAKUAN DIJAH. Yang kembali mengangkat tentang perjuangan seorang perempuan dalam menjalani hidup dengan cara pandang dan tingkah yang tidak biasa.

***

Originally Story by juskelapa
Instagram : @juskelapa_
Facebook : Anda Juskelapa
Contact : uwicuwi@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Pak Paijo

“Pssst! Pssst! Pak!” Tini berjingkat dari balik pohon memanggil Pak Paijo yang sedang merokok dan mengobrol santai dengan dua pengemudi ojek lain.

“Padahal sudah ditelfon. Dipanggil tetep aja nggak mudeng,” gerutu Tini. Semesta ternyata mendengarkan keluhan Tini. Tak sampai lima menit kemudian, dua pengemudi ojek teman Pak Paijo mendapatkan penumpang yang datang dari ponsel mereka. Sepertinya dari langganan.

Tini meletakkan tas bawaannya dan keluar dari balik pohon. “Pak!” Seru Tini beberapa langkah dari Pak Paijo.

“Mana tasnya?” tanya Pak Paijo. Tini memang sudah memberitahu bahwa akan menitipkan tas besar padanya. “Memang besok perginya? Di hari pesta pernikahan Coki?” tanya Pak Paijo lagi.

“Kakiku pegel. Cari tempat buat duduk, Pak.” Tini berkeliling mencari tempat untuk mengobrol bersama Pak Paijo, tanpa menarik perhatian orang lain.

“Di sana, Tin. Ayo, tasmu mana?” tanya Pak Paijo lagi. Tini menunjuk sebuah tas besar di balik pohon. “Oh, ya, udah. Taruh situ aja nggak apa-apa. Nanti aku bawa,” kata Pak Paijo. Ia lalu berjalan menuju ke bangku kayu yang dibuat dengan model sembarangan di bawah pepohonan. Biasanya bangku itu menjadi tempat para pemuda bermain gitar, merokok, atau kadang, seorang dua orang melinting ganja di kegelapan.

“Besok, kan? Jam berapa?” tanya Pak Paijo, duduk di bangku mengeluarkan rokok dari kantongnya.

Tini melihat Pak Paijo menyulut sebatang rokok dan mengepulkan asapnya ke atas. “Kok kayaknya enak,” gumam Tini, menatap kotak rokok Pak Paijo.

“Sebenarnya ini rokok murah. Enggak enak. Tapi ketimbang nggak merokok, kepalaku kadang pusing. Kalau lagi emosi atau kalut, kadang habis merokok sebatang, setan di kepalaku ikut keluar bersama asap. Pikiran jadi lebih tenang,” kata Pak Paijo.

“Aku boleh nyoba?” Tini memandang rokok Pak Paijo dengan tatapan penuh hasrat.

“Wanita merokok itu nggak baik. Bahaya,” kata Pak Paijo, tangannya membuka kotak rokok dan menyodorkannya pada Tini. Tini mengernyit. “Bahaya karena merokoknya di pinggir rel kereta. Kuatir kesamber,” sambung Pak Paijo, terkekeh-kekeh.

“Asem! Aku kira karena perempuan aja yang punya paru-paru. Laki-laki bernapas pake insang makanya boleh merokok. Aku coba, ya ....” Tini menyalakan sebatang rokok yang diberikan Pak Paijo padanya. Rokok murah yang diproduksi dari tembakau kelas rendah. Tini ingin mencoba sugesti tentang meringankan beban pikirannya dengan kepulan asap.

Beberapa lama menyesap rokoknya dalam diam, Tini dikejutkan dengan ucapan Pak Paijo. “Gimana? Sensasinya?”

“Setanku kayaknya malah semakin kuat. Aku jadi dapet ide baru buat mengukuhkan namaku di desa ini,” tukas Tini.

“Apa—apa?” tanya Pak Paijo, lalu pria tua itu terdiam. Ia merasa bersalah karena terlihat mendukung hal yang akan dilakukan Tini.

“Pokoknya besok jam 12 siang. Aku nggak mau lama-lama. Yang punya kos-kosan itu dipanggil Nyai. Aku sudah nelfon. Nyai itu bilang, aku ke rumahnya dulu buat bayar dan ambil kunci. Aturan kos-kosannya, lakukan apa maumu, tapi jangan nunggak barang sehari pun. Kok aku serem,” kata Tini.

“Hati-hati selama di kota, Tin. Jangan boros, kalau belum dapet kerja. Di kota rencana mau kerja apa?” tanya Pak Paijo. Ia yakin Tini bisa bertahan di kota. Wanita muda itu sudah kuat sejak dulu. Ditinggal mati ibunya di usia remaja, membuat Tini cekatan dan keras mendidik adik-adiknya. Hatinya saja yang sering kalah dengan bualan laki-laki. Tini terkesan haus kasih sayang dan perhatian.

“Kerja apa saja, Pak. Yang penting nggak ngemis,” sahut Tini kembali menyesap rokoknya.

Malam itu, pertama kali Tini belajar merokok. Bukan dari gemerlap dunia malam yang akan disongsongnya. Tapi, dari seorang pria tua yang mencoba menghiburnya soal asam garam kehidupan.

Sabtu pagi, Tini sudah berpakaian rapi. Ia hanya mempersiapkan sebuah tas tangan yang biasa dipakainya bepergian. Barang-barangnya yang lain, sudah ia titipkan kemarin malam pada Pak Paijo. Hal itu ia lakukan untuk memudahkan kepergiaannya dan menghindari rentetan pertanyaan para wartawan desa.

Dayat sudah merengek sejak kemarin karena mengetahui rencana kakaknya. Adik bungsu Tini yang berusia 15 tahun itu, terus menunggui kakaknya selama di kamar. Sedangkan Evi, terlihat lebih pasrah. Ia paham betul kalau tekad kakaknya tak akan berubah. Kebenciannya pada Coki pun semakin bertambah. Karena pria itu, mereka harus kehilangan Tini yang meninggalkan desa.

Perang dingin Tini dan bapaknya berakhir pagi itu. Tini mendatangi Pak Joko yang ternyata sudah membeli seekor ayam jantan baru. Keberanian pria itu membeli ayam ternyata karena mengetahui bahwa Tini tak akan tinggal di rumah itu lagi. Miris memang.

Alih-alih ikut sedih, mempertanyakan atau malah mencegah anak perempuannya, Pak Joko terlihat santai saja.

“Pak!” seru Tini dari bawah gawang pintu belakang.

Pak Joko menoleh pada anaknya, kemudian kembali menyodorkan pecahan jagung di telapak tangannya untuk dipatuki ayam jantan barunya.

“Jadi berangkat?” tanya Pak Joko.

“Jadi. Sebentar lagi aku pergi. Liat-liatin Dayat. Jangan kasi pulang terlalu malam. Dicari, Pak. Jangan biarkan dia gabung-gabung dengan temannya terlalu lama. Sebentar lagi Dayat ujian kelulusan. Dayat pinter. Sayang kalau nggak dapet negeri.” Tini masih berdiri di ambang pintu.

“Hati-hati, jaga diri. Jangan mau dibawa ke mana-mana sama orang nggak kenal. Jangan mudah percaya orang asing, Tin.” Pak Joko tak mau memandang anaknya. Ia berat membiarkan Tini pergi. Tapi untuk melarangnya pun pasti sulit.

“Mmm,” sahut Tini. “Itu yang baru, siapa namanya?” Tini penasaran dengan nama ayam jago baru bapaknya.

“Puput II,” jawab Pak Joko santai. Ia langsung mengelus kepala Puput II dengan sayangnya.

“Puput II?” tanya Tini setengah tak percaya.

“Iya. Kayak ada Ratu Elizabeth I dan Elizabeth II. Semacam itu,” jawab Pak Joko.

“Oh,” sahut Tini. Entah siapa yang paling stres di rumah itu, Tini tak mengerti. Tinggal di rumah itu juga pasti berat karena harus bersaing dengan ayam jantan bangsawan.

Tini pamit pada keluarganya pukul 10 lewat. Sebelum pergi ia memutari halaman samping untuk mengambil sebuah triplek yang kemarin malam sudah ia tulisi. Inspirasi tambahan yang ia dapatkan dari menyulut sebatang rokok bersama Pak Paijo.

Dengan sebuah triplek berukuran hampir satu meter dan sebuah parang besar, Tini meninggalkan rumahnya menuju jalan besar. Lutut kakinya semakin lemas saat sayup-sayup suara hiburan organ tunggal terdengar di kejauhan. Pesta pernikahan Coki sudah dilangsungkan. Hari sudah menjelang siang, dan pria yang seminggu lalu masih pacarnya, kini telah menjadi suami wanita lain.

Tini berjalan melewati gang di mana rumah Siti Kusmini berada. Saat melintas, sudah pasti Tini menoleh. Dari kejauhan, tamu terlihat masih sepi. Pelataran kosong di dalam gang yang biasa digunakan sebagai tempat parkir jika ada acara di gang itu, terlihat masih lengang.

Setelah berjalan 100 meter dari gang rumah Siti Kusmini, Tini melihat Pak Paijo melambai-lambai dari kejauhan. Tini berhenti celingukan ke arah pepohonan dengan parang dan triplek besar di tangannya.

Melihat gelagat Tini yang aneh, Pak Paijo mematikan motornya dan berlari menghampiri Tini.

“Ini untuk apa? Kamu jangan macem-macem. Sayang hidupmu kalau harus dihabiskan di penjara demi laki-laki itu. Bawa ke sini parangnya!” pinta Pak Paijo. Ia khawatir Tini akan menjadi tajuk utama berita karena membantai mantan pacarnya.

“Ha? Ngapain aku menghabiskan hidup di penjara? Masih banyak tempat lain yang lebih enak. Ketimbang nggak ada kerjaan, mending bantu aku.” Tini mengalungkan tasnya dan mencampakkan triplek ke tepi jalan. Ia bergegas memilih pohon pisang dari pepohonan di sisi kanan-kiri mereka, dan mulai menebasnya. Dalam beberapa kali tebasan, pohon pisang itu tumbang.

“Ngapain berdiri aja? Ayo, bantuin aku.” Tini menyeret batang pohon pisang besar yang baru ditebangnya keluar dari pepohonan.

To Be Continued

1
Myue89
Ngakak ambyar baca bab ini. Emang kalo lagi penat ama kehidupan, obatnya baca Tini Suketi!
Myue89
Kangen sama Tini Suketi. Lagi ngikutin ceritanya SatShe di GN. Baru nyadar kalo setelah Istri Nakal Mas Petani novelnya kak Njus serius banget kayaknya. Perlu tokoh2 absurd yg bikin ketawa macam Tini Suketi kak wkwkwk
Jang_Uk
padahal ngulang baca ini,tapi kog y tetep nangis kalau ingat perjuangan Dijah
Rpkh Future
tin selama perjalanan kamu berdiri trus hadap depan🤣
Rpkh Future
udah baca berkali2 v tetep ngakak🤣
Assiva Lestari
Biar pun udah baca ber kali kali tetep ajh ngakak klu tini dah bertindak mau begal hajatan sitikus ama coki
DIAMku
wkwkwkwwkwk baca lagi,lagi dan lagi,,,masih lucu aja Kl baca ini
Sri Haryati
untuk kesekian kalinya aku baca tini suketi si legenda dr desa cokro
ynt_
keren
stephani
aku kalau mau jujur lebih suka liat nicholas saputra alias bara daripada song jung ki. ya selera org beda2 kan
juskelapa: Iya, betul banget Mba. Selera orang beda-beda. Tapi di sini nggak ada yang nyeritain soal Nicholas Saputra atau Song Joong Ki tapi Bara dan Dean. Saya juga heran kok pembaca NovelToon bisa terpengaruh banget sama visual. Novel itu kan aslinya nggak ada gambar 😄 Mana pembaca sering banget mencampurkan kehidupan pribadi visual artisnya dengan cerita di novel. Saya juga bingung.
total 1 replies
stephani
🤣🤣🤣🤣
Ardiansyah Gg
Tini udah jinak🤣🤣🤣
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya.🙏

Hai Kak, Baca juga di novel ku yang berjudul "TABIR SEORANG ISTRI"_on going, atau "PARTING SMILE"_The End, atau klik profil ku ya, Terimakasih 🙏
total 1 replies
Ardiansyah Gg
gini nihh perempuan🤣
Ardiansyah Gg
assseermmm🤣🤣🤣
stephani
Alhamdulillah
Ardiansyah Gg
Laki-laki ganteng pakai motor merah🥰
stephani
aku ikut bahagia buat tini. tini yang kuat dan selalu memandang kedepan dengan candaan yg membuat langkahnya semakin optimis.
stephani
waduh 🤣🤣🤣🤣
Ardiansyah Gg
ini kelemahan kamu Tin... lemah sama senyum laki"🤣
stephani
😄😄🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!