NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:829
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan tinggalkan aku

"Shiro...!!!!"

Suara Keiko nyaris tak terdengar. Tangannya mulai gemetar saat menatap wajah kucing yang terbaring lemas di pelukannya, seakan ia tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.

"Keiko-san..." Renji ikut berjongkok di sampingnya. "Kau yakin?"

Keiko mengangguk pelan. Air hujan terus membasahi rambut dan wajahnya. "Iya..." suaranya mulai bergetar. "...Seribu persen."

Renji menatap wajah kucing itu bergantian dengan wajah Keiko. Keiko menelan ludah, memeluk tubuh kecil itu semakin erat.

"Aku tidak mungkin salah. Ini Shiro." Napas Keiko mulai tidak beraturan. Ia menatap tubuh kucing itu dari dekat.

"Shiro... bangun..."

Tak ada jawaban. Tubuh itu tetap terkulai lemas. Keiko menoleh panik kepada Renji. "Renji-san... apa... apa dia mati?"

Renji segera mendekat. Ia meletakkan dua jarinya perlahan di dada Shiro, lalu mendekatkan telinganya ke hidung kecil kucing itu. Beberapa detik berlalu dalam kesunyian, hanya suara hujan yang terus mengguyur malam.

Renji akhirnya mengangkat wajah. "Napasnya masih ada."

Keiko langsung mengembuskan napas lega, namun Renji melanjutkan dengan wajah serius, "Tapi... sangat lemah."

Jantung Keiko kembali berdegup kencang. "Kita harus membawanya ke dokter."

Renji langsung berdiri. "Ada klinik hewan dua puluh empat jam. Tidak jauh dari apartemenmu, hanya dua blok dari sini."

Keiko mengangguk cepat. Tanpa berpikir panjang, ia membuka kancing blazer yang dikenakannya. Dengan kedua tangan yang masih gemetar, ia menyelipkan tubuh Shiro ke balik blazer, memeluknya erat agar tetap menempel pada tubuhnya.

"Semoga tubuhku masih cukup hangat..." gumamnya lirih.

Ia mengancingkan kembali blazer itu sebisanya, hanya menyisakan kepala kecil Shiro yang terkulai lemas di dekat lengannya. "Shiro..." Keiko menundukkan wajahnya.

"SedIkit lagi..."

Renji segera membuka payung. "Ayo! Kliniknya tidak jauh."

Namun, Keiko sudah lebih dulu berlari menerobos hujan.

"Keiko-san!" Renji spontan mengejarnya. "Payungnya!"

"Tidak usah!" sahut Keiko tanpa menoleh.

Langkahnya kian cepat membelah derasnya hujan malam. Air menggenang hingga mata kaki, tetapi Keiko seolah tak lagi merasakannya. Satu-satunya yang ada di pikirannya hanyalah tubuh kecil yang ia peluk.

"Shiro... bertahanlah..." napasnya mulai memburu.

Ia menunduk sekilas. Tubuh Shiro masih tak bergerak, kepalanya tetap terkulai lemah. Keiko menggigit bibirnya kuat-kuat. "Bagaimana... bagaimana kamu bisa sampai di sini?" air mata yang bercampur hujan mulai mengalir di pipinya. "Apa kamu mencariku?"

Tak ada jawaban. Tubuh kecil itu tetap diam. Keiko memeluknya sedikit lebih erat. "Jangan tinggalkan aku... Shiro... tolong..."

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan desa, Keiko menutup kedua matanya sesaat sambil terus berlari.

"Dewa Kucing..."bisiknya nyaris tenggelam oleh suara hujan. "Kalau... kalau kau benar-benar ada... tolong... tolong selamatkan Shiro... aku mohon..."

Renji yang berlari beberapa langkah di belakang hanya bisa terdiam, mendengar dengan jelas doa yang keluar dari bibir Keiko. Tak lama kemudian, Renji menunjuk ke seberang jalan.

"Keiko-san! Di sana!"

Papan bertuliskan Klinik Hewan Aoyama 24 Jam tampak menyala terang di balik guyuran hujan.

Keiko mengangguk. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia mempercepat langkah menuju pintu kaca klinik tersebut.

Ting!

Pintu kaca klinik terbuka keras. "Tolong...!" suara Keiko menggema di ruang penerimaan. "Tolong! Kucing saya terluka parah!"

Seorang dokter hewan yang sedang mencatat langsung menoleh, diikuti perawat perempuan di sampingnya yang ikut berdiri. "Ada apa?"

"Dia diserang anjing!" jawab Keiko dengan napas tersengal. "Tolong selamatkan dia!"

Dokter itu segera menghampiri. "Letakkan di meja pemeriksaan." Perawat buru-buru membuka pintu menuju ruang tindakan. "Silakan masuk."

Keiko bergegas mengikuti. Dengan hati-hati ia membuka blazer yang sejak tadi membungkus tubuh Shiro. Begitu tubuh kecil itu dipindahkan ke atas meja pemeriksaan berbahan stainless, dokter segera mengenakan sarung tangan.

"Yumi-san, infus dan alat pemeriksaan."

"Baik, Dok."

Perawat segera bergerak sigap. Dokter mulai memeriksa Shiro dari kepala hingga ekor. Ia membuka perlahan kelopak mata kucing itu, lalu memeriksa bagian mulutnya.

"Hmm..."

Stetoskop ditempelkan ke dada kecil itu. Ruangan mendadak sunyi. Keiko berdiri di sisi meja, tangannya masih dipenuhi darah yang mulai mengering; ia menggenggam jemarinya erat agar tidak terus gemetar. Dokter kemudian meraba kaki depan Shiro satu per satu, ekspresinya perlahan berubah serius.

"Dokter..." suara Keiko terdengar pelan. "Bagaimana keadaannya?"

Dokter tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu memeriksa luka gigitan di bahu dan punggung Shiro, menyibakkan bulu-bulu yang bercampur lumpur dan darah. "Yumi-san, tolong bersihkan dulu luka-lukanya."

"Baik."

Perawat mulai menyiramkan cairan antiseptik hangat ke bagian tubuh Shiro. Tubuh kecil itu tidak memberi reaksi sedikit pun. Keiko tanpa sadar menutup mulut, air matanya mulai jatuh satu per satu.

Dokter kembali mendekat, kali ini memeriksa telapak kaki Shiro. Ada beberapa bagian yang robek, bahkan sebagian bantalan kakinya tampak mengelupas. Dokter mengembuskan napas pelan.

"Keadaan kucing ini cukup serius."

Jantung Keiko seakan berhenti berdetak.

"Ia mengalami dehidrasi berat, dan berat badannya jauh di bawah normal," dokter menunjuk beberapa luka. "Selain luka gigitan, ada banyak lecet lama di telapak kakinya."

Ia terdiam sesaat, seolah sedang menyusun kesimpulan. "Lecet seperti ini... biasanya bukan terjadi karena satu atau dua hari."

Keiko menatap dokter tanpa berkedip. "Maksud Dokter...?"

Dokter mengangkat wajahnya. "Kucing ini... sudah berjalan sangat jauh."

Ucapan dokter itu membuat ruangan mendadak terasa sunyi.

"...sudah berjalan sangat jauh."

Keiko menatap telapak kaki Shiro yang penuh luka. Bekas lecet itu memenuhi hampir seluruh bantalan kakinya, beberapa di antaranya bahkan masih mengeluarkan darah segar. Tangan Keiko perlahan terkulai di sisi tubuh.

"Lecet sebanyak ini..." gumam dokter pelan, "...tidak mungkin terjadi hanya dalam satu malam."

Keiko merasa kedua lututnya mendadak lemas. Bruk. Ia terduduk di lantai samping meja pemeriksaan.

"Keiko-san..." Renji spontan berjongkok di sampingnya, namun Keiko seolah tidak mendengar. Tatapannya tidak pernah lepas dari tubuh kecil yang terbaring lemah di atas meja. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

Pelan, ia membuka telapak tangannya. Masih ada bercak darah Shiro yang menempel di sana. Jemarinya gemetar hebat.

"Shiro..." bisiknya lirih

"Kenapa kamu ada di sini? Kenapa harus datang sejauh ini?" Suaranya pecah.

"Kamu nekat sekali... Kalau saja kamu tetap tinggal di sana... kamu tidak akan terluka seperti ini."

Keiko menundukkan kepala. Tangisnya kini tak lagi bisa dibendung. Renji hanya terdiam, terpaku melihat pemandangan itu. Ia belum pernah melihat Keiko menangis seperti ini; perempuan yang selalu terdengar ceria di balik mikrofon radio itu kini duduk tak berdaya untuk seekor kucing

Perlahan, Renji meletakkan tangannya di bahu Keiko.

"Keiko-san..." ucapnya pelan. "Shiro masih hidup. Dokter pasti akan berusaha menyelamatkannya."

Keiko mengangguk kecil, meski air matanya terus mengalir. Dokter yang sejak tadi memeriksa kondisi Shiro akhirnya melepas sarung tangannya.

"Saya harus segera melakukan tindakan," ujar dokter itu dengan tenang. "Luka-lukanya harus segera dibersihkan agar tidak terjadi infeksi. Selain itu, kami akan memasang infus untuk mengatasi dehidrasinya. Beberapa luka gigitan juga perlu dijahit."

Keiko buru-buru mengusap air matanya. "...Dokter."

"Iya?"

"Tolong... tolong selamatkan Shiro."

Dokter mengangguk mantap. "Kami akan melakukan yang terbaik."

Ia menoleh ke arah perawat. "Yumi-san, mulai bersihkan semua lukanya. Siapkan infus dan alat jahit."

"Baik, Dok."

Perawat segera bekerja. Bulu di sekitar luka gigitan dicukur perlahan agar bagian yang robek terlihat lebih jelas, lalu cairan antiseptik hangat disiramkan sedikit demi sedikit untuk membersihkan darah dan lumpur. Keiko memalingkan wajah beberapa kali; meski tahu itu demi kebaikan Shiro, melihat setiap luka dibersihkan membuat dadanya sesak. Tak lama kemudian, infus kecil dipasang di kaki belakang Shiro, dan dokter mulai menjahit luka gigitan yang dalam di bagian bahu.

Setiap tusukan jarum membuat Keiko menggenggam ujung meja pemeriksaan semakin erat. "Dokter..." suaranya lirih. "Dia tidak kesakitan, kan?"

Dokter tersenyum tipis tanpa menghentikan pekerjaannya. "Tenang, saat ini dia masih tidak sadarkan diri. Obat bius ringan juga sudah kami berikan."

Keiko mengangguk pelan, meski air matanya tetap menetes. Beberapa menit kemudian, dokter selesai memasang perban pada kaki depan Shiro lalu mengusap tangannya dengan handuk kecil. "Untuk sementara, tindakan daruratnya sudah selesai."

Keiko langsung berdiri. "Dokter, bagaimana keadaannya?"

Dokter melepas maskernya. "Untuk malam ini, kondisinya sudah lebih stabil."

Keiko mengembuskan napas lega, namun dokter kembali melanjutkan dengan nada serius. "Tetapi, tubuhnya masih sangat lemah. Ia mengalami dehidrasi dan kekurangan nutrisi yang cukup berat. Karena itu, malam ini dia harus dirawat di sini."

Keiko terdiam. Tatapannya tertuju pada Shiro yang terbaring di dalam kandang perawatan dengan infus yang masih terpasang. "...Jadi, aku tidak bisa membawanya pulang?"

Dokter menggeleng perlahan. "Belum. Kalau malam ini dipaksakan pulang, kami khawatir kondisinya justru memburuk."

Keiko menundukkan kepala. "Begitu ya..."

Dokter melihat raut wajah Keiko yang dipenuhi kekhawatiran. "Kalau kau mau, kau boleh menemaninya sebentar. Asalkan jangan terlalu lama."

"Iya. Terima kasih, Dokter."

Dokter dan perawat kemudian keluar dari ruang perawatan, meninggalkan Keiko dan Renji di dalam ruangan yang sunyi. Keiko melangkah mendekati kandang, menyelipkan jemarinya perlahan di sela-sela jeruji, lalu mengusap lembut kepala Shiro.

Tak ada reaksi. Shiro masih tertidur. Namun tiba-tiba... ujung ekornya bergerak pelan. Hanya sekali, sangat pelan. Keiko membeku.

"Dokter..." bisiknya hampir tak terdengar. "Dia..."

Renji yang berdiri di sampingnya ikut melihat, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat. "Aku rasa... dia tahu kalau kau ada di sini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!