NovelToon NovelToon
Istri Bayangan Tuan Adhitama

Istri Bayangan Tuan Adhitama

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.

Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.

Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.

Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.

"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Wajah Ammar langsung berubah.

"Pa! Jangan bicara tentang Salsa seperti itu!"

Pak Wira tidak bergeming.

"Papa hanya mengatakan kenyataan. Kenyataan yang sampai kapan pun tidak akan berubah."

Ammar mengepalkan tangannya semakin kuat.

"Kalau begitu, aku yang akan berubah." Sahut Ammar yang membuat pak Wira mengernyit.

"Apa maksudmu?"

"Ammar tidak membutuhkan semua harta ini kalau harus mengorbankan Salsa."

Kalimat itu membuat Ratih langsung membelalak.

"Ammar!" Namun pak Wira justru tertawa kecil. "Kamu masih terlalu muda. Kamu pikir hidup bisa dijalani hanya dengan cinta?"

Ammar tidak menjawab. Tatapannya tetap lurus, sementara pak Wira kembali melanjutkan ucapannya,

"Papa akan bicara sekali lagi. Kalau kamu benar-benar mencintai Salsa, maka menikahlah lagi."

Kalimat itu membuat Ammar langsung menatap ayahnya tak percaya.

"Apa?" Menikah lagi?"

Pak Wira mengulanginya tanpa sedikit pun keraguan.

"Daripada terus mempertahankan pernikahan yang tidak bisa memberimu keturunan. Apa salahnya memiliki istri kedua? Toh dalam agama diperbolehkan."

"Tidak!" Suara Ammar menggema begitu keras hingga membuat semua orang yang berada di rumah itu terkejut. "Aku tidak akan pernah melakukan itu. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyakiti Salsa."

Pak Wira menatap putranya dengan tajam.

"Kalau begitu, papa yang akan mengambil keputusan."

Ammar mengernyit.

"Maksud Papa?"

Pak Wira menarik napas panjang. Sorot matanya berubah semakin serius.

"Kalau kamu tetap bersikeras mempertahankan Salsa sebagai satu-satunya istri dan tetap menolak menikah lagi," Pria itu berhenti sejenak sebelum mengucapkan kalimat yang membuat suasana berubah semakin mencekam. "Maka Papa sendiri yang akan memastikan rumah tangga kalian tidak akan bertahan lebih lama."

Kalimat itu menggantung di udara dan membuat rahang Ammar mengeras. Tatapannya membeku sementara di balik pintu ruang tamu, Salsa yang sedari tadi tiba, seketika mematung dengan tubuh gemetar. Tangannya mengepal kuat, air matanya kembali mengalir tanpa mampu ia bendung.

Ia tidak pernah menyangka bahwa pertengkaran terbesar dalam rumah tangganya baru saja benar-benar dimulai.

Perkataan yang barusan dikatakan oleh Pak Wira masih menggantung di udara.

"Kalau kamu tetap bersikeras mempertahankan Salsa sebagai satu-satunya istri, maka Papa sendiri yang akan memastikan rumah tangga kalian tidak akan bertahan lebih lama."

Tak ada satu pun yang berani membuka suara. Ruang tamu itu mendadak terasa begitu sempit. Tatapan Ammar tak lepas dari wajah ayahnya. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya tampak jelas.

"Apa Papa sedang mengancam ku?"

Suara Ammar terdengar rendah, namun justru nada rendah itulah yang membuat suasana semakin mencekam. Pak Wira tidak menjawab, Ia hanya menatap putranya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan. Diamnya seolah menjadi jawaban paling jelas dan membuat Ammar mengembuskan napas dengan kasar. Dadanya naik turun menahan amarah yang sejak tadi terus ia tekan.

"Ammar benar-benar tidak menyangka," ucapnya lirih. "Kalau papa bisa berniat sejauh ini."

Ratih yang sejak tadi hanya menjadi pendengar akhirnya bangkit dari duduknya.

"Ammar," Wanita paruh baya itu mencoba mendekati putranya. "Mama sama Papa hanya ingin yang terbaik untuk kamu."

Ammar tertawa pelan. Tawa yang terdengar begitu pahit.

"Yang terbaik?" Tatapannya beralih kepada sang ibu. "Kalau memang itu yang Mama sebut terbaik, kenapa setiap hari yang menangis justru Salsa?"

Ratih terdiam dan tak mampu menjawab karena ia sendiri tahu, sudah berkali-kali menantunya masuk ke kamar dengan mata sembab setelah percakapan mengenai keturunan. Belum sempat suasana kembali tenang, terdengar suara langkah kaki dari arah pintu utama.

Tok...

Tok...

Sepatu hak rendah itu menggema pelan di lantai marmer dan membuat semua orang spontan menoleh. Di ambang pintu, Salsa berdiri. Wajahnya masih pucat, matanya sembab. Namun kali ini, tatapannya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Melihat istrinya datang, seluruh kemarahan Ammar seolah menguap begitu saja.

"Salsa." lirihnya. Tanpa berpikir panjang, Ammar langsung melangkah cepat menghampiri istrinya. Begitu sampai di hadapan Salsa, kedua tangannya spontan memegang bahu perempuan itu, sementara sorot matanya dipenuhi kecemasan. "Kamu ke mana saja? Mas cari kamu sejak tadi." Tatapan Ammar menyapu wajah Salsa dari atas hingga bawah, mencari kemungkinan ada sesuatu yang terjadi. "Apa kamu baik-baik saja? Apa mereka mengatakan sesuatu lagi kepadamu? Mereka tidak membuatmu menangis, kan?"

Pertanyaan demi pertanyaan keluar hampir tanpa jeda. Salsa hanya menatap suaminya.

Untuk sesaat, hatinya kembali runtuh karena di hadapannya berdiri laki-laki yang begitu mencintainya. Laki-laki yang bahkan rela menentang kedua orang tuanya demi mempertahankan dirinya. Semakin melihat wajah Ammar, semakin terasa berat keputusan yang baru saja ia ambil. Namun, Ia sudah tidak memiliki jalan untuk mundur. Perlahan Salsa mengangkat tangannya dan menggenggam tangan Ammar yang masih berada di bahunya.

"Aku baik-baik saja, mas." Jawab Salsa dengan suaranya yang pelan meski sedikit bergetar dan membuat Ammar menggeleng.

"Tidak. Kamu bohong. Mad kenal kamu, Salsa. Kalau kamu bilang baik-baik saja sambil menangis seperti ini, Itu artinya kamu sedang menyimpan sesuatu."

Air mata Salsa kembali menggenang. Namun ia buru-buru mengedipkan matanya, berusaha menahannya agar tidak jatuh.

"Aku benar-benar tidak apa-apa, mas."

Ammar menatapnya dalam dalam.

"Kalau begitu, jawab aku. Kamu pergi ke mana?"

Salsa menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak, namun cepat atau lambat, Ammar tetap harus mengetahui semuanya. Ia menggenggam tangan suaminya sedikit lebih erat.

"Aku... Baru pulang dari rumah Ayah."

Ammar mengernyit.

"Rumah Ayah?"

"Iya."

"Ada apa?"

"Apa Pak Umar sakit?"

Salsa menggeleng pelan.

"Tidak."

"Lalu kenapa kamu ke sana?"

Beberapa detik Salsa hanya diam. Ia menundukkan wajah sementara jemarinya mulai gemetar. Melihat itu, Ammar semakin khawatir.

"Salsa... Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu membuatku takut seperti ini?" Suara Ammar berubah semakin lembut. Ia mengusap pelan punggung tangan istrinya. "Apa pun masalahnya, kita hadapi sama-sama. Kamu tidak sendirian."

Kalimat itu membuat mata Salsa kembali memanas. Ia nyaris mengurungkan niatnya namun bayangan ancaman Pak Wira beberapa menit yang lalu kembali terlintas di kepalanya. Tidak, ia tidak boleh mundur lagi.

Dengan susah payah, Salsa mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan mata Ammar lalu, dengan suara yang nyaris seperti bisikan, ia berkata,

"Aku sudah menemukan perempuan yang akan menjadi istri keduamu."

Kalimat itu seolah menghentikan waktu. Raut wajah Ammar berubah dalam sekejap. Kedua alisnya berkerut tajam. Tatapannya dipenuhi keterkejutan. Bukan hanya Ammar, Ratih pun membelalakkan matanya sementara Pak Wira perlahan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Sorot matanya berubah jauh lebih tenang seolah inilah jawaban yang sejak tadi ia tunggu. Ammar masih menatap Salsa dengan tak percaya.

1
Marini Suhendar
Melihat Aisyah bikin nangis😭😭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: sama kak/Sob/
total 1 replies
Marini Suhendar
Itu konsekwensinya..coba bukan adik kmu yg jd madunya .sakitnya g terlalu kan
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: padahal Ammar udah terima salsa apa adanya, tapi salsanya yang repot sendiri /Slight/
total 1 replies
Lembang Azam
klw kamu takut Aisyah mencuri perhatian mertua dan suamimu, harusnya dr awal kamu tuh sadar salsa jgn memaksa suamimu untk menikah lagi, disini kamu yg egois, menyakiti hati suami dan adikmu sndiri,, amar ja GPP kamu enggak punya anak, knpa kamu justru yg repot sih,,sebellll tau enggak sih thor😭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: sabar kak sabar, jangan emosi 🙏🤭
total 1 replies
Nda
novelmu luar biasa thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih bintang limanya kak🙏😍
total 1 replies
Marini Suhendar
d mata amar & salsa pasti salah. d kira cari perhatian
Ical Habib
boleh ta dlm hukum Islam 2 saudara sekaligus...yg boleh t KL DA meninggal satu trs pindah k adiknya.othor in ad2 aj
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
hmmmm 🙄, sudahlah yah jejak di sini.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Pret ah
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ngaran Weh Wira tapi kalakuan TeusaWira 😤
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
hemmm iya gitulah ya 🤷
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
udh tua juga kelakuan kayak gitu bukannya nikmati masa tua aja Ama bini malah ngurusin rumah tangga anak Lo 🙄🫤
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
nggak tahu ah
Lembang Azam
ini neh yg plg bikin sebelll dan bingung,,,klw smw pemeran utamanya baik😭 knpa enggak pak wira ja sih yg punya anak thor🤣🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: udah tua kak pak Wira nya🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Marini Suhendar
kamu dengar kan amar doa yg d panjatkan Aisyah...Sabar aisyah 🥰
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
dasar kampret semua 😩 sudahlah pusing, jejak aja dulu yeh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Lo memang bodoh, kelak kmu salsa dgn suamimu akan lebih parah menyakiti Aisyah. kalian pasti jadi villain berakhlak binatang berbentuk manusia.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
udh gw pusing.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ya Aisyah tidak akan menyakitimu sal, tapi kamu sendiri yg akan menyakitinya kelak bahkan setelah mendapatkan anak kau akan merebutnya. bahkan bisa saja amar pun akan sama sepertimu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ya siapa lagi si mar, kok di tanya 🙄
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ini bininya sumpah demi apa oon nggak tahu di untung suaminya di pihak Lo.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!