NovelToon NovelToon
Love Me Back

Love Me Back

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:406
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.

"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.

"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.

"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.

Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lmb 2

Di salah satu unit apartemen mewah, Sian masih menikmati pemandangan matahari terbenam dibalik jendela kamarnya yang menjulang. Namun dering ponsel menghentikan lamunannya.

"Tuan, nanti malam jamuan di adakan di klub Paradise. Aku dan anak buah berada di jarak aman." Jelas asisten Jun memberi informasi, mereka harus berjaga dari segala kemungkinan terburuk.

"Aku tahu." Balas Sian singkat, padat dan dingin seperti biasa.

Ting, ponselnya kembali berbunyi sebuah tanda pesan masuk.

'Minggu depan pertemuan dengan keluarga Chen. Jangan permalukan aku!'

Begitu isi pesan dari sang ayah, membuat Sian berdecak kesal. Selalu saja melakukan perjodohan, dia sampai lupa sudah yang ke berapa kali ayahnya melakukan hal itu.

Mengendarai Bentley hitamnya Sian mulai membelah jalanan ibu kota. Dia keluar pada pukul setengah delapan malam setelah melakukan pengecekan pekerjaan di ruang baca.

Asisten Jun sengaja tidak mendampingi secara langsung mengingat acara di klub di luar pekerjaan. Namun tugas mengawasi merupakan bagian lembur untuk Jun.

"Hoho, akhirnya kau menerima undanganku, Sian Lee." Seorang teman lama menyambut hangat kedatangan Sian dan langsung menuntunnya ke lantai atas. Dimana ruang Eksklusif sudah di siapkan beserta kejutannya.

"Karena kau mantan mitra yang menguntungkan." Sian hanya menanggapi santai hubungan keduanya.

"Maka dari itu, aku sudah menyiapkan projek besar selanjutnya. Dan kesenanganmu tentunya." Pintu dibuka oleh salah satu staf, keduanyapun masuk.

Sudah ada seorang gadis mengenakan dress merah tanpa lengan menunggu di dalam. Beberapa botol minuman berjejer seolah berteriak ingin dinikmati.

"Nice." Teriak Vick antusias. Sementara Sian tertunduk menahan amarah di dadanya.

"Keluar! " Perintah Sian tiba-tiba.

"Tunggu, kau tidak menyukainya? Aku akan siapkan yang lebih bagus." Vick tetap berusaha menyenangkan hati Sian. Apapun ia lakukan demi sebuah kerjasama.

Keduanya tidak ada yang menurut semakin membuat Sian murka. Dia berjalan mendekati meja lalu mengambil botol anggur dan membantingnya ke lantai hingga pecah. Salah satu serpihan kaca tersebut terpental menggores kaki mulus gadis itu.

"Vick, pergilah." Akhirnya Sian kembali bersuara setelah diam beberapa saat.

"Ok. Kita bicara lagi nanti." Ucap Vick bingung tetapi patuh. Dia tidak mengerti siapa sebenarnya yang diminta Sian keluar.

"Apakah Sian sudah sangat tidak sabar?" Bisik Vick hati-hati takut kembali memancing singa lapar.

"Kau berharap bekerja di tempatku tapi masih sibuk menjual diri." Sian menghina Ryn tanpa rasa belas kasihan. Memandangnya begitu rendah.

"Aku, akan memberimu kepuasan." Kata Ryn berani, meski dalam hatinya mengutuk kalimat yang keluar dari mulut mungilnya. Ryn memiliki postur tubuh tidak tinggi namun pas. Wajah cantiknya terpahat sempurna meski tanpa riasan make-up sekalipun.

"Oh ya, lalu kau mau uangku? " Langkah kaki Sian berderap mulai mendekat.

'Kebebasanku.' Batin Ryn.

Sian masih menatapnya tajam menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Ryn. Terlintas dipikiran Sian bahwa semakin dilihat dari dekat dirinya mulai menyukai bibir itu, ingin mencicipi bagaimana rasanya.

"Aku tidak pernah memakai barang bekas." Tukas Sian menolak ajakan Ryn.

"Bantu aku, setidaknya kau jauh lebih baik dari pria bajingan lainnya." Kali ini Ryn memohon dengan sangat.

"Kau sangat mengejutkan." Sinis Sian tak percaya, dia sempat tertipu oleh wajah dan pembawaan Ryn yang lugu.

Ditengah suasana memanas tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan munculah asisten Jun. Dia ikut terkejut melihat Ryn seorang pelamar di perusahaan menjadi wanita penghibur. Namun memperhatikan raut wajah Sian bosnya malah lebih menegangkan. Entah apa yang membuatnya marah.

"Kita pergi." Putus Sian berlalu meninggalkan Ryn di ruangan VVIP.

Sementara Ryn memejamkan mata, dia gagal. Artinya tiket untuknya keluar dari tempat sial ini harus tertunda. Entah kapan waktunya Rynpun tak tahu.

Ryn ikut pergi, bukan menyusul Sian melainkan pulang ke mesnya. Seharusnya dia kembali melanjutkan pekerjaan sebagai pramusaji, tapi karena malam ini ia bertugas melayani tamu kehormatan tetapi malah di tolak.

"Anak sialan." Teriak Yuni datang dari arah belakang Ryn langsung mendorongnya kuat. Hampir saja Ryn mencium pintu kayu kamarnya.

"Dia tidak menyukai barang bekas bu. Lalu aku harus apa?" Desah Ryn frustasi membela diri.

"Selalu saja berakhir kerugian setiap menyuruhmu merayu." Maki Yuni tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Sudah aku bilang, pekerjaan itu tidak cocok untukku." Ryn berkilah kesekian kalinya.

"Kau masih muda sudah kehilangan mahkotamu, kau memang tak berguna. Cih... " Yuni bahkan sampai meludah kesamping saking kesal terhadap anaknya.

"Tolong jangan mengenai wajahku, cukup di punggung saja ok? " Pinta Ryn dengan wajah memelas.

Pada akhirnya Ryn kembali menerima hukuman cambuk. Padahal luka kemarin saja belum kering. Yuni marah besar karena di tegur pemilik klub akibat Ryn melukai pelanggan. Ryn beralasan hanya membela diri, merasa dilecehkan karena tugasnya sekedar mengantar minuman.

Di dalam sebuah mobil mewah yang terparkir tak jauh dari pintu masuk klub, Sian masih betah duduk dengan mata terpejam. Berharap bisa melihat seseorang dari kejauhan.

Tok tok...

"Tuan, apa perlu aku memanggilnya?" Tawar asisten Jun, dia mencoba memberi solusi dari pada Sian hanya berdiam diri.

Belum sempat Sian menanggapi tatapannya langsung teralih mendapati sosok itu. Ryn keluar dengan berjalan sempoyongan setelah menenggak beberapa gelas wine demi menghilangkan rasa sakitnya.

Asisten Jun baru pertama kali melihat Sian berinteraksi dengan seorang gadis. Selama sepuluh tahun bekerja di perusahaan Lee Group dan menjabat sebagai asisten lima tahun terakhir Jun tahu Sian selalu mengabaikan hubungan asmara atau sekedar sebuah perjodohan.

Ayahnya bahkan sangat frustasi sampai meragukan kemampuan seksual Sian, anak sulungnya. Tahu Sian selalu melampiaskan hasratnya tanpa penyatuan, membuat Jun cukup tenang. Setidaknya Sian tidak sembarangan menabur benih.

Sian keluar, perlahan berjalan mendekati Ryn yang sedang merasakan pusing hingga memegangi tiang listrik. Gadis itu tidak muntah hanya mencoba menormalkan pandangannya yang berputar.

Saat hampir menyapa Ryn Sian berubah pikiran lalu berbalik badan kembali ke mobil. Ada beberapa hal yang harus dikendalikan oleh Sian. Atau semuanya bisa berantakan.

"Haruskah aku mengawasinya?" Lagi, Jun berinisiatif menawarkan bantuan pada Sian mengenai Ryn.

"Tidak perlu." Jawab Sian dingin.

***

Ryn membuka matanya saat sinar matahari mengintip melalui celah-celah gorden. Berakhir terbangun di tempat baru yang ia sewa artinya Yuni membiarkan Ryn lolos kali ini. Biasanya penjaga klub akan menyeret Ryn pulang. Mungkinkah Yuni sudah lelah, menyerah menjadikan Ryn wanita penghibur.

"Akh... " Luka kaku di punggungnya membuat Ryn memekik ketika air shower membasahi.

Pagi ini Ryn tidak bisa absen, tiga hari kedepan dirinya wajib mengikuti masa percobaan atau Glenn yang akan lolos sebagai crew baru. Tubuhnya memang rentan terkena demam akibat infeksi luka cambukan dari Yuni sang ibu. Itulah alasan Ryn mendapat nilai buruk dalam tes fisik.

Usai mengenakan seragam rapi khas anak training Ryn bergegas pergi menuju halte terdekat. Tidak ada sarapan, uang tabungan Ryn mulai menipis setelah menyewa unit sederhana selama setahun penuh.

"Hey, kau terlihat buruk." Ucap Glenn memperhatikan wajah Ryn yang memang pucat. Mereka bertemu di depan restoran Lee dinning, selama tiga hari kedepan menjadi bagian dari restoran Tiongkok milik keluarga Lee.

"Aku hanya demam biasa." Jawab Ryn acuh, seakan enggan memperpanjang percakapan.

Glenn orang yang terlihat baik namun Ryn kurang menyukai cara pria itu mengakrabkan diri dengannya. Sejak remaja dan mulai mengerti batasan Ryn membentengi hatinya dari siapapun, termasuk Yuni ibu kandungnya. Jadi sejahat apapun Yuni Ryn menganggap itu hal biasa. Bukan sesuatu yang harus di tangisi atau meratap berlarut-larut. Namun ada kalanya Ryn merindukan kasih sayang seorang ibu, mungkin bahkan ayah. Ryn tidak tahu dimana ayahnya, Yuni sekalipun tidak pernah membahas.

"Aku harap kalian bekerja sungguh-sungguh." Kata kepala koki di restoran sebelum keduanya mulai bekerja.

"Kami siap." Jawab Glenn dan Ryn bersamaan.

"Kalau begitu lihatlah daftar menu hari ini, kalian bisa mulai menyiapkan bahan." Kemudian mereka mendekat ke arah papan menu, membaca apa saja yang harus di kerjakan.

Menjelang makan siang kepala koki memerintahkan Ryn memasak menu kotak makan hantaran. Isinya berupa chicken kungpao, beef Szechuan dan pakcoy garlic. Selain itu ada dessert es sarang burung walet.

"Kau bisa melakukannya? " Tanya kepala kembali memastikan, khawatir Ryn melakukan kesalahan.

"Ya chef, aku bisa." Balas Ryn yakin.

Berhubung bahan masakan sudah siap, Ryn hanya perlu waktu tiga puluh menit dalam mengeksekusinya.

"Sekalian kau antar ke kantor langsung. Nanti ada supir menjemput dan mengantar." Melihat Ryn berdiri menjaga kotak makan siang, kepala koki tanpa ragu memberi tugas tambahan.

"Baik." Meski dalam hati Ryn merasa sangsi ketika restoran mewah seperti Le Dinning kekurangan kurir pengantar makanan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!