Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.
Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.
Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.
Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu dengan mantan
Lea
Hanya satu orang yang memanggil Aza dengan sebutan Lea. Dia adalah mantan pacar yang dengan tega Aza tinggalkan demi bersama dengan Ramdan.
Aza menoleh ke samping, sorot matanya jatuh pada tubuh kokoh yang tegas dan kekar, berbalut jas abu metal yang sedikit menyilaukan matanya.
Pandangan Aza menyisir hingga ke atas, jatuh tepat di wajah yang sudah lama sekali tidak ia lihat. Bahkan tak pernah sedikitpun terlintas lagi di benaknya semenjak ia menikah dengan Ramdan.
"Dewa." balas Aza tanpa sadar, untuk sesaat terpaku akan pahatan wajah Dewa yang jauh lebih tegas dan kokoh dari 5 tahun lalu.
Dewa tersenyum tipis. Gurat bahagia tercetak jelas dari sorot binar mata setajam silet itu.
"Lama tidak bertemu, Lea." lirih Dewa lembut, tatapannya terpaku pada Azalea yang duduk di kursi semen depan pos satpam.
Azalea tertegun, "Iya, sekarang kamu berubah, Wa."
Dewa yang Aza kenal adalah mantan preman kampus yang hobby tawuran sana sini. Suka bolos matkul dan kegiatan diluar kampus. Masa itu Dewa adalah kakak tingkat Aza, bisa dibilang senior. Hanya saja senior satu ini tidak mencerminkan mahasiswa terdidik. Namun ia tak mengira, Dewa yang ia fikir akan memiliki masa depan suram itu, kini berdiri dengan setelan bak seorang bos muda kaya raya.
Tanpa aba-aba Dewa main duduk di samping Aza. Membuat wanita itu terkejut, segera memberi jarak. Yang entah mengapa langsung membuat dada Dewa sesak. Hanya saja ia tersenyum agar tidak terlihat kecewa di mata mantan pacarnya itu.
"Kamu gaada berubah dari 5 tahun lalu, Ya. Hanya saja—kamu lebih kurusan."
Dewa ingat betul bentuk tubuh Azalea jaman dulu. Azalea adalah gadis ceria yang gemar makan. Semuanya bisa ia makan jika dia sedang lapar. Membuat tubuhnya sedikit padat dan berisi, namun tidak menutupi lekuk tubuhnya yang begitu menawan.
Ia tak tau apa yang terjadi dengan Azalea selama mereka tidak bertemu. Apa dia bahagia, apa suami yang mati-matian dia pilih mencintainya dengan tulus, apa dia lagi-lagi memendam lukanya sendirian? Hal itu masih berputar liar di kepala Dewa. Hanya saja, bukan saatnya ia bertanya tentang hal privasi bukan?
"Masa sih, Wa. Aku pikir masih sama aja." kekeh Aza, tanpa sadar tertawa.
Namun wanita itu langsung tersadar saat tatapan Dewa masih seperti dulu, lekat, mengunci dan intens. Menyadari ada yang harus diluruskan, Aza spontan berdehem.
"Aku sudah menikah, Wa. Bagaimana denganmu?" lirih Azalea, gurat trenyuh tercetak di bibir pucatnya.
Dewa langsung tersadar, berhenti menatapi wajah Lea begitu lama. Lalu tertawa lirih.
"Ahhh....menikah yah? Dengan pria yang kamu pilih waktu itu?"
Azalea mengangguk kecil, "Aku nikah sama Mas Ramdan."
Dewa langsung bisu, hanya tawa kaku yang menjadi tameng menutupi rasa sesaknya.
Aku tau, Lea. Aku tau kamu menikah dengan cowo itu. Aku juga datang ke pernikahanmu memakai nama orang lain.
Saat itu, hatiku benar-benar sakit. Rasanya seperti—aku kehilangan berlian yang paling aku jaga dan aku cintai setengah mati.
Semenjak hari itu aku langsung memilih kabur ke luar negeri. Melanjutkan impian yang sempat tertunda, dan lebih fokus mengejar kesuksesan hingga aku sampai di posisi ini.
Aku berharap kamu bahagia, Lea. Tapi apa yang aku lihat saat ini. Sepertinya jauh dari harapanku. Kamu pasti memendam rasa sakit sendirian lagi kan. Seperti dulu. Sebelum bertemu denganku.
Azalea lirik jalanan ke kanan dan ke kiri. Memanyun kecil karena tak kunjung ada taksi yang datang. Menyadari hal itu, Dewa sedikit mencondongkan tubuhnya ke samping Azalea.
"Lea. Kamu lagi nunggu siapa?"
Azalea lantas menoleh, "Aku nunggu taksi, cuma belum dateng dari tadi."
Dewa mengangguk kecil, "Bagaimana jika aku antar? Kebetulan aku tidak terlalu sibuk."
Azalea jelas menolak, tidak mungkin ia menerima tumpangan dari mantan. Bagaimana jika nanti Ramdan melihatnya. Melihat dirinya berada di mobil pria lain? Azalea tak bisa membayangkan semurka apa Ramdan nantinya.
"Aku gapapa kok, Wa. Aku naik taksi aja."
"Beneran, Lea. Aku antar yah, kulihat wajahmu pucat. Kamu pasti lagi ga enak badan kan? Udah periksa? Kalo belum aku bisa antar kamu ke rumah sakit lain."
Azalea terdiam. Sudah berapa lama yah dia tidak diperhatikan sedetail ini? Jika diingat lagi, Ramdan belum pernah seperti Dewa memperlakukannya. Ia berharap di depannya adalah suaminya, bukan pria yang dulu ia tinggalkan.
"Aku gapapa kok, Wa."
Haa...
Yah, penolakan dari Lea sudah biasa Dewa terima. Dewa tau betul, Azalea masih membencinya karena dirinya yang dulu sangat nakal. Andai dulu dia tidak datang ke tempat balap liar yang menjadi awal putusnya hubungan mereka. Mungkin sekarang mereka sudah menikah.
Mungkin.
"Lea, apa kamu masih—"
"Dewa!"
Seruan seseorang dari belakang Dewa spontan mengejutkan keduanya. Dewa dan Aza langsung menoleh ke arah yang sama.
"Ahh...bentar yah, Lea."
Dewa langsung bangkit, berlari mendekat ke arah seorang wanita dengan stelan mewah dan rapih.
Aza tersenyum kecut.
"Itu pasti pacarnya Dewa. Cantik sekali. Berbeda denganku yang sekarang seperti mayat hidup." lirih Lea tersenyum getir, merunduk menatap tanah saat tiba-tiba rasa asing yang menyesakkan seperti meremat dadanya dari dalam.
"Sebaiknya aku segera pergi. Aku gamau pacar Dewa curiga padaku. Aku tidak ingin merusak hubungan orang seperti aku merusak kepercayaan Dewa dulu padaku."
Azalea lantas bangkit dari tempat itu, berbelok ke sisi kiri hingga tubuhnya tak lagi terlihat dibalik tembok pos satpam.
"Ada apa kak?" tanya Dewa saat sampai di depan kakaknya.
Seraphine tersenyum, "Aku ada urusan dengan suamiku di luar. Kamu bisa jagain Azka sebentar tidak?"
"Ahh...iya bisa. Serahin aja padaku."
Seraphine tersenyum tipis, menepuk bahu adiknya pelan sebelum akhirnya melangkah menuju tempat parkiran.
Dewa segera berbalik. Namun ternyata Azalea tak ada lagi di tempatnya. Membuat Dewa kelabakan, berlari menuju pinggir jalan, celingak-celinguk ke kiri dan kanan, namun ia tak lagi menemukan Lea disana.
Akhirnya hanya senyum getir yang terbit di bibirnya. Senyum kekalahan yang hanya bisa menikmati keindahan Azalea dari kejauhan.
"Pada akhirnya, kamu menghindar lagi."
***
Sesampainya di rumah, Aza dikejutkan dengan banyaknya sandal dan alas kaki di setiap sisi teras. Keningnya mengerut liar.
"Banyak sekali sandal, siapa yang datang ke rumah? Ibu kah?"
Entah mengapa, dadanya berdebar lebih kencang. Seolah ada bahaya mengintai di depannya. Seperti—sinyal yang memperingati bahwa ada hal besar yang terjadi dibalik dinding rumah tersebut.
Benar saja, saat Azalea melangkahkan kaki melewati pintu rumah. Di sofa ruang tamunya. Sudah duduk mertua, ipar, Ramdan, dan dua orang tua asing yang tidak ia kenali.
"Ibu...ini minumannya, aku letakin—"
Langkah Mia terhenti di depan pintu dapur. Dengan nampan berisi minuman yang sekiranya pas untuk jumlah tamu yang datang.
Tatapan Aza langsung terpaku pada Mia. Tatapan kosong yang menuntut jawaban itu. Kini jatuh ke wajah Ramdan yang menatapnya dengan sorot mata—bersalah.
"Akhirnya kamu pulang juga. Kami semua menunggumu."