Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Mula - Part 4
UTS akhirnya selesai dan wajah para mahasiswa terlihat seperti zombie yang kurang tidur. Tak terkecuali Gea dan ketiga sahabatnya.
“Ngantuk banget, asli,” keluh Karin sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. “Kalian langsung balik atau ke kosan gue dulu sekalian makan?” tanya Karin.
“Makan dulu, yuk, sekalian nyantai di kosan lo,” sahut Gea. Rasanya dia tidak sanggup jika harus
mengendarai motor pulang ke rumah sekarang. Pasalnya, semalem dia kurang tidur demi
menyiapkan ujian mata kuliah perencanaan dan perancangan.
“Gue ikut!” kata Risa dan Nindy hampir bersamaan.
Mereka berempat pun keluar dari kelas dan menulusuri jalan sampai parkiran. Nindy dan
Karin memutuskan naik mobil Nindy, sedangkan Risa menemani Gea yang bawa motor sembari
mampir beli es teh di dekat jalan masuk ke kosan Karin.
“Haaah…,” Gea menyesap dinginnya es teh dan merebahkan tubuhnya di atas karpet lantai
kosan Karin. “Gua udah masuk kuping kanan keluar kuping kiri banget dari tadi tuh. Udah abis
banget gua dicecer dua dosen,” katanya.
“Eh, gue udah pesen ya makannya. Entar dianter sama abangnya,” kata Karin meletakkan
ponselnya di atas kasur.
Mereka memesan makanan Chinese food dari rumah makan kecil yang lokasinya tak jauh
dari kosan Karin. Gea memesan kwetiau seafood goreng pedas, Karin dan Risa memesan nasi
goreng, dan Nindy memilih fuyunghai.
“*By the way*, si Jay udah nembak gue,” kata Gea sesantai mungkin, sambil menyesap es
tehnya.
Kalimat itu spontan menghadirkan seruan, “Hah?! Apa?!” dari ketiga sahabatnya secara
bersamaan.
“Kapan?” tanya mereka bertiga hampir bersamaan.
“Kok lo anteng-anteng aja sih dari tadi? Udah jadian, kan abis di tembak?” cecar Nindy heboh.
“Apa jangan-jangan lo tolak?” tebak Risa.
Gea hanya tertawa puas melihat reaksi antusias ketiga sahabatnya itu.
“Ih lo malah ketawa,” protes Karin gemas. “Diterima sih kata gue mah. Orang nih anak tiap hari juga cerita Jay begini, Jay begitu terus. Sampe bosen kuping gue dengernya.”
Mendengar itu, Gea menganggukkan kepalanya seraya tersenyum malu. Karin, Nindy, dan Risa
pun langsung bersorak senang dan memeluk Gea erat.
“Eh, gosipnya *pause* dulu, dong. Abang ojolnya udah dateng,” kata Karin saat membaca
pesan abang ojol di aplikasi kalau dia sudah di depan gerbang kosannya. Ia segera menyambar
uang yang tadi sudah mereka kumpulkan di atas meja belajar. Tak lama kemudian, Karin sudah
kembali dengan kantong plastik berisikan bungkusan makan siang mereka.
“Cerita ih,” tagih Karin yang sudah sangat antusias mendengar cerita romansa sahabatnya.
Gea mulai menceritakan kronologi kejadian yang baru terjadi dua hari lalu, tepat setelah
ujian teknik bangunan. Kebetulan di hari itu, Gea tidak membawa motor, dan Jay menawarkan diri
untuk mengantar Gea pulang. Namun, mereka menyempatkan diri mampir ke sebuah café terlebih dahulu.
“*Gimana ujian lo tadi?” tanya Jay saat mereka di café dua hari yang lalu*.
Gea menghembuskan nafasnya, menyesap es coklat, lalu berkata pasrah, “tau, ah. Udah pasrah aja tadi kertas gambar gue di corat-coret sama dosen,” katanya diikuti kekehan kecil. “Ngeri
banget asli Pak Adul nih, ngujinya langsung by one di mejanya. Persis yang diceritain kating-kating,” keluh Gea dengan bahunya yang menurun. Teknik bangunan bukanlah mata kuliah yang benar-benar dia kuasai. “Kalo lo gimana?”
“Alhamdulillah… sama,” canda Jay, membuat mereka berdua akhirnya tertawa bersama
*Setelah itu, Jay mengalihkan obrolan mereka ke hal-hal lain. Mulai dari membahas*
persiapan orientasi himpunan yang sudah di depan mata, rencana reuni teman-teman SMA-nya, hinggal hal santai lainnya.
Sampai akhirnya suasana agak mereda, Jay mendadak diam. Pria itu menatap lurus ke
dalam manik mata Gea dengan sorot yang begitu lembut.
“*Ge,” panggil Jay pelan, “mau gak jadi pacar aku*?”
Detik itu juga, pipi Gea langsung merona merah. Ia merapatkan bibir, sekuat tenaga menahan
senyuman malu sekaligus senang yang membuncah di saat yang bersamaan. Gea benar-benar tidak menyangka Jay akan menyatakan perasaan di hari itu.
Gea pun menganggukkan kepalanya, dengan pipinya yang bersemu merah.
“Lama banget sih bilangnya,” ucapnya dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya.
*Jay tertawa lega Ia mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Gea yang ada di atas meja*.
“Maafin aku, ya. Dari kemaren sebenernya pengen cari waktu yang enak. Tapi kayaknya bakal kelamaan kalo ditunda-tunda terus. Maaf ya, aku nembaknya gak romantis.”
“Apa sih, lebay ah,” sahut Gea terkekeh sambil pura-pura melemparkan selembar tisu ke arah
Jay untuk menutupi salah tingkahnya.
“Ya udah deh, gitu,” kata Gea menyudahi ceritanya.
“Anjaaaaaay! Si Jay akhirnya berani nyatain cintanya juga,” seru Karin heboh.
“Terus kok hari ini malah gak bareng?” tanya Risa heran.
“Dia mau nongkrong, biasa… sama gengnya.”
“Anyway, congrats yaa, Ge!” ucap Risa tulus. Karin yang duduk di sebelahnya langsung
merangkul pundak Gea gemas, diikuti oleh Nindy yang ikut memberikan selamat.
“Makasih yaa, ibu-ibu cantik,” balas Gea tertawa.
“Kapan-kapan ajaklah cowok lo nongkrong ama kita-kita. Biar dia gue tatar dulu,” kata Karin.
“Nah, betul itu!” Nindy menyetujui dengan semangat.
Gea tertawa dan berkata, “iya kapan-kapan lah, ya.”
“Weekend ini aja udah,” usul Karin.
“Gue gak bisa guys kalo minggu ini. Udah janji mau jalan sama ayang,” sahut Risa meminta maaf.
“Yaaah…,” sahut ketiganya hampir bersamaan.
“Nyusul aja deh gue nanti kalo emang jadi.”
“Oke.”
“Kalian udah oke-oke aja,” sela Gea, “gue bilang Jay dulu, ya. Mau apa enggak dianya.”
“Harus mau! Kalo gak mau, gua gak izinin pacaran sama lo,” kata Nindy asal, yang langsung memicu gelak tawa kembali di dalam kamar kos itu.
...****************...