NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Mas Razka

Pengantin Pengganti Mas Razka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Dwi Febriana

Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.

"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."

Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Cukup Ditemani

...by Pinterest...

Tok... Tok... Tok...

Suara ketukan pelan memecah keheningan kamar kos yang sejak pagi dipenuhi kesunyian.

Jelita yang sedang memeluk kedua lututnya di atas ranjang langsung mengangkat kepala. Napasnya tercekat. Pandangannya tertuju pada pintu kamar dengan wajah yang seketika memucat.

"Siapa?" bisiknya lirih.

Jantungnya berdebar semakin cepat. Sejak memutuskan meninggalkan rumah semalam, ia selalu dihantui rasa takut. Ia khawatir Danendra Atmojo berhasil menemukan tempat persembunyiannya dan mengirim seseorang untuk membawanya pulang secara paksa.

Tanpa sadar, Jelita turun dari ranjang dengan langkah hati-hati. Ia mendekati pintu, tetapi tidak langsung membukanya. Sebaliknya, ia mengintip melalui lubang kecil di daun pintu.

Yang terlihat hanya sosok seorang pria berdiri sambil membawa dua kantong belanja.

Jelita masih belum berani memastikan.

"Jangan-jangan orang suruhan Ayah," gumamnya pelan.

Pikirannya kembali dipenuhi kecemasan. Ia tahu pernikahan yang seharusnya berlangsung pagi tadi pasti telah menggemparkan kedua keluarga. Sangat mungkin ayahnya mengerahkan banyak orang untuk mencarinya.

Namun beberapa detik kemudian ia menggeleng perlahan.

"Tidak... hari ini mereka pasti sedang sibuk mengurus acara pernikahan Amora dan Razka."

Ucapan itu justru membuat dadanya kembali terasa sesak.

Dani Ardianto sempat mengirim pesan beberapa jam lalu. Dari sanalah Jelita mengetahui bahwa akad nikah tetap dilaksanakan. Bukan dirinya yang duduk di hadapan penghulu, melainkan Amora Dania Respati.

Air matanya kembali menggenang. Adik yang selama ini selalu ia lindungi kini harus memikul tanggung jawab akibat keputusannya sendiri. Bayangan Amora mengenakan gaun pengantin di samping Atharazka Bagaskara terus menghantui pikirannya.

"Ra... Kakak benar-benar minta maaf."

Suara itu nyaris tak terdengar. Baginya, Amora bukan sekadar adik angkat. Sejak kecil mereka tumbuh bersama, berbagi kamar saat takut petir, saling menguatkan ketika salah satu sedang sedih. Hubungan mereka jauh melampaui ikatan darah.

Karena itulah rasa bersalah ini terasa semakin menyiksa.

Tok... tok...

Ketukan kedua kembali terdengar. Jelita refleks mengusap pipinya yang basah. Ia masih berdiri membisu tanpa keberanian membuka pintu.

Hingga akhirnya sebuah suara laki-laki terdengar dari luar.

"Jel... aku, Dani."

Mendengar nama itu, seluruh tubuh Jelita seolah kehilangan ketegangannya. Ia buru-buru memutar gagang pintu.

Ceklek.

Daun pintu terbuka perlahan. Di hadapannya berdiri Dani dengan wajah penuh kekhawatiran. Di tangan kanan pria itu terdapat kantong makanan, sementara tangan kirinya membawa minuman favorit Jelita, segelas matcha latte yang masih dingin.

"Aku pikir kamu belum makan dari pagi," ucap Dani sambil mengangkat kantong belanja itu sedikit. "Jadi aku mampir beli makanan dulu sebelum ke sini."

Melihat perhatian kecil itu, pertahanan Jelita runtuh seketika. Tanpa berkata apa pun, ia melangkah maju lalu memeluk tubuh Dani erat-erat.

Tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah.

"Dani..." isaknya lirih. "Aku enggak tahu harus gimana lagi."

Dani membalas pelukan itu dengan lembut. Salah satu tangannya mengusap perlahan rambut Jelita, membiarkan gadis itu meluapkan seluruh kegelisahan yang sejak semalam dipendam sendirian.

"Gak apa-apa," ucapnya pelan. "Sekarang aku di sini."

"Tapi semuanya jadi berantakan..." suara Jelita bergetar. "Amora... dia yang akhirnya menikah sama Razka gara-gara aku."

Dani mengembuskan napas panjang. Ia sudah menduga pembicaraan itu akan muncul.

"Aku tahu."

"Aku jahat ya?"

Dani menggeleng pelan.

"Kamu cuma orang yang sedang terdesak dan memilih jalan yang menurutmu paling bisa menyelamatkan diri. Memang keputusanmu menimbulkan banyak masalah, tapi sekarang bukan saatnya untuk kamu terus menyalahkan diri sendiri."

Jelita kembali menangis.

"Aku merasa bersalah banget sama Amora.. Tapi aku juga enggak sanggup pulang."

Dani mengusap air mata yang membasahi pipi kekasihnya.

"Tenang dulu. Kita pikirkan semuanya pelan-pelan. Apa pun yang terjadi nanti, kamu enggak akan menghadapi ini sendirian."

Ucapan itu membuat hati Jelita sedikit lebih tenang. Setidaknya, di tengah kekacauan yang ia ciptakan sendiri, masih ada satu orang yang memilih tetap berada di sisinya tanpa menghakimi ataupun memaksanya mengambil keputusan saat itu juga.

.

.

.

Ruangan kos itu kembali dipenuhi keheningan setelah Dani Ardianto datang. Kamar berukuran sederhana itu memang tidak luas, tetapi cukup nyaman untuk ditempati sementara. Sebuah ranjang single menempel di dinding, lemari pakaian berdiri di sudut ruangan, sementara meja kecil di dekat jendela dipenuhi beberapa barang pribadi yang baru sempat ditata Jelita.

Dani mengeluarkan satu per satu isi kantong belanja yang dibawanya, lalu menatanya di atas meja lipat.

"Aku sempat bingung mau beliin apa," katanya sambil tersenyum tipis. "Akhirnya aku ambil ayam panggang sama nasi, terus buah potong. Ini juga ada biskuit sama cokelat buat nemenin kamu kalau nanti malam belum bisa tidur."

Ia kemudian mengangkat satu gelas minuman dingin.

"Dan tentu saja... matcha latte. Aku tahu kamu suka banget minuman ini."

Melihat perhatian kecil itu, senyum tipis akhirnya muncul di wajah Jelita.

Mereka kemudian memilih duduk berhadapan di atas lantai yang sudah dialasi karpet tipis. Dani membuka kotak makanan, lalu mendorongnya ke arah Jelita.

"Makan dulu."

"Aku belum lapar."

"Bukan belum lapar, tapi lagi banyak pikiran."

Jelita mengembuskan napas pelan. Ucapan Dani memang tidak salah.

Melihat kekasihnya hanya memandangi makanan tanpa berniat menyentuhnya, Dani kembali berbicara.

"Kamu harus tetap makan. Kalau badanmu sampai sakit, nanti malah tambah susah kamunya."

Setelah beberapa saat terdiam, Jelita akhirnya mengambil sendok. Ia mulai menyuap makanan sedikit demi sedikit, meski nyaris tidak bisa menikmati rasanya.

Dani ikut makan agar Jelita tidak merasa dipaksa.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan dentingan pelan sendok yang sesekali mengenai wadah makanan.

Setelah suasana sedikit mencair, Dani menatap Jelita dengan ragu.

"Jel..."

"Iya?"

"Aku sebenarnya masih kepikiran satu hal."

Jelita menghentikan gerakan tangannya.

"Apa?"

"Kamu yakin mau tetap tinggal di kos ini?"

Jelita mengangguk pelan.

"Kenapa memangnya?"

"Aku punya beberapa unit apartemen yang masih kosong. Tempatnya lebih nyaman, keamanan juga lebih bagus. Kalau kamu pindah ke sana, aku bisa lebih gampang memastikan keadaanmu."

Jelita tersenyum kecil sambil menggeleng.

"Aku tahu maksud kamu baik."

"Tapi?"

Jelita menghela nafas pelan.

"Tapi aku enggak bisa."

Dani mengernyitkan dahi.

"Kalau aku tinggal di apartemen milik kamu, kemungkinan ditemukan Papi bakal lebih besar. Orang pertama yang mereka datangi kan kamu. Mereka juga tahu kamu punya beberapa unit apartemen."

Ia memandang sekeliling kamar kos itu.

"Kalau di sini berbeda. Tempat ini biasa saja. Enggak ada yang mengenalku, jadi kemungkinan dicurigai juga kecil."

Dani memahami alasan itu, meski dalam hati ia tetap khawatir.

"Baiklah. Aku enggak akan maksa."

Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah amplop kecil.

"Ini."

Jelita menerimanya dengan bingung.

"Apa ini?"

"Kartu SIM baru."

Mata Jelita langsung membesar.

"Kamu sudah beliin?"

"Iya. Bukankah kemarin kamu bilang mau ganti nomor supaya enggak dilacak?"

Senyum tulus akhirnya menghiasi wajah Jelita.

"Makasih, Dani."

"Sama-sama."

Percakapan kembali berhenti.

Jelita memasang kartu SIM baru itu ke ponselnya, sementara Dani hanya memperhatikannya dalam diam.

Meski berusaha terlihat tenang, Dani dapat melihat jelas perubahan pada wanita yang dicintainya. Wajah Jelita tampak jauh lebih pucat dibanding beberapa hari lalu. Lingkar hitam mulai menghiasi bawah matanya akibat kurang tidur, sementara tatapannya kehilangan keceriaan yang selama ini selalu ia kenal.

Dani tahu, beban terbesar bukanlah karena Jelita melarikan diri dari rumah. Yang paling menyiksanya adalah kenyataan bahwa Amora kini harus menikah dengan Atharazka menggantikan dirinya.

Perasaan bersalah itu terus menggerogoti hati Jelita hingga membuatnya kehilangan selera makan, sulit beristirahat, bahkan beberapa kali tanpa sadar menitikkan air mata.

Melihat kondisi itu, Dani tidak lagi mencoba memberi nasihat panjang. Ia sadar, terkadang seseorang tidak membutuhkan banyak kata-kata.

Cukup ditemani. Cukup diyakinkan bahwa ia tidak sedang menghadapi semua kekacauan itu seorang diri.

Karena itulah, Dani memilih tetap duduk di samping Jelita, menemani wanita itu menikmati makan siang dalam keheningan yang justru terasa jauh lebih menenangkan daripada seribu kalimat penghiburan.

1
Ariany Sudjana
semangat yah Amora, jangan takut dan ragu, sepertinya kedua mertua kamu juga baik orangnya. semoga hubungan kamu dengan razka dan juga mertua semakin membaik
Lusi Hariyani
amora ank yg baik pasti mau diundang mkn mlm
Lusi Hariyani
semangat amora km bisa💪
Valen Angelina
kulkas masih mode dingin...
Ariany Sudjana
puji Tuhan, semoga hubungan Amora dan razka semakin membaik
Lusi Hariyani
awal jd teman lm2 persaan saling suka muncul😄
Yuyun Irmawati
ka semngat nukis nya ya,cerita kaka bagus🥰
Lusi Hariyani
santai amora manjakan lidah suami mu lambat laun hati y akn meleleh sendiri ke kamu
Opi Sofiyanti
sprt pepatah mengatakan "manjakan lah suami mu dgn perut nya"... dr perut naik k hati y Ka... 🤭🤭🤭
Ariany Sudjana
awalnya makanan dulu, lama-lama kamu jatuh cinta sama Amora 😄
Lusi Hariyani
razka gengsi...
Lusi Hariyani
smg sblm 6 bln razka dh mlai tertatik sm amora
Valen Angelina
bucin pasti nnti
Opi Sofiyanti
Ampir smua para lelaki nya kak anggi tuh emng pd spek kulkas 10 pintu smua y.... 🤭🤭🤭
partini
plus tebal perasaan jangan gampang mewek atau myek"
Eva Karmita
❤️❤️❤️❤️❤️
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
bimawati
semoga berlanjut ya kk ak selalu nunggu karya mu
Opi Sofiyanti
kaakkk jgn di gantung lg ya???????
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰
Fitri Dheanova Al-Ghauzan
semangat thor,sukses selalu buat karya karya nya ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!