NovelToon NovelToon
Aku Tidak Mandul, Mas!

Aku Tidak Mandul, Mas!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:554.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.

Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.

Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Tak lama setelah percakapan mereka selesai, Satrio keluar untuk memanggil Haikal ke ruang CEO. Sementara, itu di lantai bawah, Haikal yang mendapat panggilan mendadak dari lantai atas langsung merasa senang bukan main.

Sepanjang perjalanan menuju ruang kerja Darto, pria itu bahkan tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Di dalam pikirannya hanya ada satu kemungkinan, dirinya akan kembali mendapat kenaikan jabatan.

Apalagi tadi pagi ia melihat sendiri bagaimana Emran Richard datang ke perusahaan dan menatapnya cukup lama. Mungkin pria besar itu mulai memperhatikannya. Semakin dipikirkan, Haikal semakin percaya diri.

Begitu pintu ruang CEO terbuka, senyum di wajahnya langsung sedikit membeku. Karena yang pertama kali ia lihat bukan wajah ramah atau sambutan hangat. Melainkan, tatapan tajam dan dingin dari Emran Richard yang duduk tenang di sofa ruang kerja tersebut.

Entah kenapa tatapan itu membuat dada Haikal terasa tidak nyaman. Pria itu buru-buru menenangkan dirinya dan masuk sambil tersenyum hormat.

“Tuan Darto,”

Darto Erlangga mengangguk santai lalu berkata,

“Duduklah,”

Haikal duduk dengan sopan meski diam-diam masih merasa gugup karena tatapan Emran belum lepas darinya sedetik pun.

Darto lalu membuka suara memperkenalkan,

“Ini Emran Richard.”

Haikal langsung menoleh hormat.

“Anak angkat saya,” lanjut Darto tenang, “dan pemilik saham nomor dua terbesar di perusahaan ini.”

Mata Haikal langsung sedikit membesar. Ia memang tahu Emran orang besar. Namun, tidak menyangka posisinya sebesar itu di Erlangga Group.

Sementara itu, Darto kembali melanjutkan,

“Dan ini Haikal. Manajer baru perusahaan.”

Darto sengaja hanya memperkenalkan Haikal sebagai karyawan. Tidak sedikit pun menyinggung Annisa di depan pria itu. Haikal yang tidak menyadari apa pun langsung tersenyum lebar lalu berdiri sedikit hendak menjabat tangan Emran.

“Senang bertemu dengan Anda, Tuan Emran.”

Namun, Emran bahkan tidak bergerak sedikit pun. Tatapannya tetap dingin menatap Haikal seolah pria itu tidak pantas disentuh. Tangan Haikal menggantung canggung di udara. Suasana ruangan langsung berubah hening dan menekan. Han sampai menundukkan kepala untuk menyembunyikan ekspresinya.

Sementara, Darto sedikit mengernyit melihat sikap Emran yang sangat tidak biasa hari ini. Beberapa detik kemudian, Emran akhirnya bersandar santai sambil berkata dingin,

“Tidak perlu terlalu akrab.”

Senyum Haikal langsung membeku. Suasana ruang kerja mendadak terasa canggung setelah Emran Richard menolak jabatan tangan Haikal begitu saja.

Bahkan, Darto Erlangga ikut sedikit mengernyit melihat sikap dingin Emran yang tidak biasanya setajam itu pada seseorang. Namun, beberapa detik kemudian, Darto mulai memahami sesuatu. Pria tua itu diam-diam menghela napas kecil dalam hati.

Mungkin Emran masih menyimpan rasa tidak suka karena dulu Annisa memilih Haikal. Memikirkan itu, Darto segera berusaha mencairkan suasana.

“Haha, sudahlah.” Darto tersenyum kecil sambil melirik Haikal. “Kamu kembali bekerja saja.”

Haikal yang sejak tadi duduk tegang langsung mengangguk cepat.

“Baik, Tuan.”

Pria itu baru saja hendak berdiri ketika suara dingin Emran kembali terdengar.

“Tunggu!"

Langkah Haikal langsung terhenti. Emran menyandarkan tubuh santai di sofa sambil menatap Haikal datar.

“Buatkan saya kopi,”

Haikal sedikit terkejut.

“Sekarang?”

Tatapan Emran langsung menusuk dingin.

“Ada masalah?”

“N-nggak, Tuan.” Haikal buru-buru tersenyum canggung.

Alih-alih menolak, pria itu malah berpikir mungkin Emran sedang mengujinya. Apalagi pria seperti Emran dikenal sangat sulit menyukai orang lain. Kalau dirinya berhasil mengambil hati pria itu, kariernya mungkin akan semakin bagus.

“Baik, Tuan. Saya buatkan sekarang.”

Haikal langsung keluar ruangan dengan cepat. Darto yang melihat itu hanya tertawa kecil sambil menggeleng pelan.

“Kamu ini...” gumamnya pada Emran.

Emran sama sekali tidak terlihat bercanda. Tatapannya justru semakin dingin. Beberapa menit kemudian, Haikal kembali membawa secangkir kopi hangat dengan hati-hati.

“Silakan, Tuan.”

Emran menerima kopi itu tanpa mengucapkan terima kasih sedikit pun. Pria itu hanya menyeruput sedikit lalu berkata santai,

“Oh ya.”

Haikal langsung menatap penuh harap.

“Tolong cek kamar mandi ruang CEO.”

“Hah?”

“Sepertinya kotor.” Tatapan Emran menajam tipis. “Bersihkan!"

Wajah Haikal langsung berubah. Bahkan, Darto ikut mengernyit.

“Itu pekerjaan OB,” ujar Darto cepat. “Nanti saya suruh orang membersihkannya.”

Emran tetap tenang.

“Itu hanya pekerjaan ringan.” Sorot matanya perlahan beralih pada Haikal.

“Pak Haikal tidak keberatan, bukan?”

Suasana ruangan langsung terasa menekan. Haikal menelan ludah pelan. Ada rasa malu dan tidak nyaman yang mulai muncul dalam dirinya. Namun, melihat status Emran yang jauh di atasnya, dia tidak berani menolak.

Pria itu akhirnya tersenyum kaku sambil mengangguk ragu.

“Ti-tidak keberatan, Tuan.”

Dengan senyum kaku yang masih dipaksakan, Haikal akhirnya keluar dari ruang CEO sambil menahan rasa kesal yang mulai memenuhi dadanya. Begitu pintu tertutup di belakangnya, wajah pria itu langsung berubah masam.

Tangannya mengepal pelan saat berjalan menuju kamar mandi khusus ruang CEO.

“Dasar cari gara-gara...” gumamnya pelan penuh emosi.

Suasana koridor lantai atas cukup sepi siang itu, membuat Haikal berani terus mengomel sendiri. Sesampainya di depan kamar mandi mewah tersebut, pria itu membuka pintu dengan kesal.

Matanya langsung menyapu ruangan luas dan bersih itu. Sama sekali tidak terlihat kotor. Tetapi drinya tetap mengambil sarung tangan dan alat kebersihan yang disediakan petugas kebersihan di dekat sana. Dengan wajah tidak rela, Haikal mulai membersihkan wastafel sambil terus menggerutu.

“Mentang-mentang pemilik saham besar...” desisnya pelan. Lap di tangannya bergerak kasar di atas meja marmer.

“Berani-beraninya nyuruh aku bersihin toilet.”

Rahangnya mengeras semakin kesal mengingat tatapan dingin Emran tadi.

“Cuma anak angkat aja belagu...” lanjutnya sinis. “Kalau bukan karena Tuan Darto mana mungkin dia sehebat sekarang.”

Haikal mendecih kesal sambil membuang kain lap ke wastafel.

“Songong banget.”

Sementara itu di dalam ruang CEO, Darto Erlangga menatap Emran Richard cukup lama setelah Haikal keluar dari ruangan. Pria tua itu akhirnya menghela napas kecil sambil tersenyum canggung.

“Kamu masih kesal padanya karena dulu merebut Annisa?”

Emran yang sejak tadi duduk santai sambil menyeruput kopi langsung mengangkat pandangannya perlahan.

Darto kembali berkata hati-hati,

“Bukannya tadi kamu bilang itu masa lalu?”

Emran meletakkan cangkir kopinya pelan di atas meja.

“Itu awalnya.” Nada suaranya terdengar tenang. Namun, justru ketenangan itu membuat Darto perlahan mengernyit.

Emran lalu bersandar santai sambil menatap lurus ke depan.

“Tapi sekarang...” sorot matanya perlahan menggelap, “itu menjadi urusan saya di masa sekarang kalau dia bekerja di sini.”

Senyum canggung di wajah Darto langsung sedikit memudar. Pria tua itu kini benar-benar menyadari, Emran bukan sekadar tidak suka pada Haikal. Pria itu seperti menyimpan sesuatu.

Darto akhirnya tertawa kecil mencoba menenangkan suasana.

“Kamu ini...” gumamnya sambil menggeleng pelan.

Dlam hati, pria tua itu mulai bingung sendiri.

'Sebenarnya, seberapa besar Haikal sudah menyinggung Emran sampai pria sedingin itu memperlakukannya secara terang-terangan seperti tadi?'

1
Anonim
Agak rancu ini thour, penurunan jabatan pemindahan tugas harus ada aturannya aps kesalahannya, di oanggil dulu dong biar lebih beretiga gk sok kuasa gk baik juga
Sri Widjiastuti
ayah emeli ganti nama?? Rendra jd louis kah?? 🤭
Aisyah Alfatih: perasaan ku Louis lah ayah Emeli, karena ini cuma muncul tiga kali ampai lupa 🤣
total 2 replies
Putri Handayani
bagus
Nani Te'ne
suka
ken darsihk
Horang kaya mah bebasss 😍😍
ken darsihk
Ulat keket minta di garuk 😂😂😂
ken darsihk
Bahagia untuk kalean Anissa Emran 😍😍
Enny Suhartini
sudah hadir kak 👍
Enny Suhartini
Alhamdulillah terima kasih cerita nya 👍
Isabela Devi
emang semua manusia boleh kaya dan tidur di atas uang tetapi doa tidak bisa di beli oleh siapapun 🙏
Isabela Devi
kadang memang aneh
Isabela Devi
semoga ga terjadi keributan antara Anisa dan emran
Atmita Gajiwi
/Rose//Rose//Kiss/
Fia Ayu
Ok, ok, ok, yg 2 dah happy ending
Nie bakalan crazy up, aku akan baca, sepertinya ngeri2 sedap nie alurnya😁
Yunita Sophi
terima kasih thor... suka cerita bagus
Yunita Sophi
happy ending tp sayang aja blm di lahirkan... makin seru kali yah
Yunita Sophi
Nisa coba bisikan aq... jgn pelit deh 😅
Yunita Sophi
itu ibu knp belum berubah jg bu... kasian anak nya klo ibu begitu terus
Yunita Sophi
hanya doa tulus yg tdk dapat di beli itu betul Emran... sekaya apa pun qta tdk akan bisa membeli doa...
Raden
sadar anisa, kdrt sudah itu, ditampol loh, sadar heh istri hadeeeh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!