Kebiasaan buruknya dalam berjudi, membuat dirinya terpuruk dalam kesulitan.
Di kejar kejar Dep colector kelas mafia, membuat hidupnya, mati segan hidupu pun tak mau.
Hingga di penghujung kebuntuanya, Dylan harus bertarung melawan para Dep Colector hingga membuat nyawanya melayang.
Ikuti terus kisahnya Cuy .... Ok.
Klik favorite dan kasih like and ratenya juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTARA ERICK DAN DIANA
Lama dengan penantianya, akhirnya Erick telah di perbolehkan Dokter untuk menemui korban, yang tak sengaja tertabrak oleh supirnya.
Di dalam ruangan inap, Erick benar benar mengkhawatirkan Diana, yang seyogyanya adalah ibu kandungnya.
"Ibu, bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya Erick mengawali percakapan sambil duduk di depan Diana yang sedang berbaring.
Mendengar Erick memanggilnya Ibu, air mata Diana jatuh tanpa sengaja karena rasa harunya.
"Bu, kenapa anda menangis?" tanya lagi Erick.
Diana menggelengkan kepala dan segera mengusap air mata dengan tanganya.
"Aku tidak apa apa, nak." jawab Diana.
"Lantas, apa yang membuatmu tiba tiba menangis?" Erick bertanya lagi karena penasaran.
Tatapan sendu di layangkan Diana pada Erick yang menatapnya penuh harap.
"Aku ... aku, akuh hanya merasa linu saja di bagian kaki." Diana mencoba menutupi dengan mengalihkan jawabanya.
"Maafkan saya Bu, Saya benar benar tidak sengaja. Kejadianya begitu cepat." ucap Erick dengan tangan memijat mijat betis Diana.
Diana kini tersenyum memandang ke arah Erick yang dengan serius memijat mijat kakinya. terkadang rasa takut datang menghampirinya seandainya dia berkata jujur siapa dia sebenarnya.
"Nak," panggil Diana dan Erick langsung memandang ke arah pada wajah Diana.
"Ada apa, Bu?" tanya Erick dengan tangan berhenti sesaat dan kini kembali melanjutkan pijatanya.
Diana sesaat berpikir kata apa untuk berucap di depan Erick.
"Berapa usiamu, nak?" tanya Diana.
Erick menghentikan pijatanya dan kini terlihat sedang menghitung dengan tanganya.
"27, aku baru ingat Bu, usiaku kini sudah 27." jawab Erick yang membuat Diana tertawa renyah.
Erick pun kini ikut tertawa karena merasakan kekonyolan dirinya dalam menghitung usianya sendiri.
"Kenapa Ibu menanyakan tentang usiaku?" tanya Erick yang baru berhenti dari tertawanya.
Pandangan Erick kini terlihat serius ketika raut wajah Diana terlihat sedih sambil menunduk.
"Kalau dia masih ada, mungkin dia sama dengan usiamu saat ini." jawab Diana yang menusuk hati Erick hingga membuatnya meneteskan air mata.
"Jangan bersedih, Bu. Kau bisa anggap aku sebagai anakmu kalau Ibu mau." ucap Erick seraya memeluk Diana sambil mengusap punggungnya dengan tulus.
Diana pun membalas pelukan Erick sambil menangis di bahunya.
"Aku sangat sangat merindukan dia." ucap Diana yang kini terus menangis di dalam pelukan Erick.
"Menangislah Bu, menangislah jika itu membuat Ibu bisa meringankan kerinduanmu." jawab Erick yang benar benar membuat Diana makin mengencangkan tangisan dan pelukanya.
Momen haru antara Ibu dan anaknya, secara tidak langsung di perhatikan Alexa dan supirnya yang sedari tadi memperhatikan dari luar jendela kamar inapnya.
"Jadi apakah benar feelingku selama ini?" tanya Alexa pada supir yang berada di sebelahnya.
Supir itu mengangguk dan mengiyakan feeling yang di rasakan Alexa selama ini.
"Anda ternyata lebih jeli dari dugaanku." puji supir pada Diana.
"Aku juga seorang ibu, jadi setidaknya aku juga bisa merasakan hal tersebut." jawab Diana.
"Nona, bisakah anda ikut dengan saya sebentar." ajak Supir yang di balas anggukan oleh Alexa.
Alexa kini melangkah bersama si supir menuju sebuah taman yang letaknya tidak berjauhan dari tempat Diana di rawat.
Di taman, Diana mendengar seluruh cerita tentang masa lalu Erick yang di ketahui supirnya. Dan diana pun kini menangis mendengar kisah Diana yang sempat mengalami depresi hingga stres dan menjadi gila karena kehilangan Darwin dulu.
LIKE LIKE LIKE JANGAN LUPA YA
semoga kalian selalu bahagia.. 🥰🥰😍
lanjut baca👍👍
ngangkang tuh jalan
ko tamat