Siapa sangka Sania yang datang dari kampung untuk mencari kerja, tiba-tiba ditawari seseorang untuk menjadi seorang pengasuh seorang bayi yang menjadi korban keegoisan orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon slwarulla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Selamat membaca ~~
Kedatangan Seno disambut dengan tangisan Sean yang sangat memekakkan telinga. Seno yang sedang menahan amarah semakin kalut saat tangisan anaknya tak kunjung berhenti.
"Sannnn, Kenapa kamu biarkan Sean menangis?" teriak nya, seketika ingat ia langsung menutup mulut. Ia tidak ingin membangunkan orang rumah melihat saat ini masih pukul tiga dini hari
Lantai bawah rumah tampak lowong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Laki-laki itu jadi bertanya-tanya, kemana kedua mertua nya saat kejadian tadi? Bukankah kejadian tadi cukup dapat membangunkan orang yang tertidur? Tapi kemana mereka?
Untuk Sania, Seno sedikit paham. Mungkin saja saat ini perempuan itu masih berada dikamar. Mengingat Sania, tiba-tiba Seno merengut kesal. Mengingat kejadian beberapa waktu lalu membuatnya sedikit tersentak diam.
Ah, kenapa aku bisa kalah dari seorang perempuan kali ini.
Seno memasuki kamar anaknya, Sean. "Sean udah bangun ya?" ucapnya dengan lembut seakan melunturkan semua kekesalan-nya pada Sumi dan Andi
Seno akan mengurus kedua orang itu nanti pagi saja. Anak nya lebih penting dari semua itu.
"hmmm, gak ada mamii. Eyan takut" cicitnya dipelukan Seno
Seno mengusap punggung anak laki-laki itu lalu memboyongnya memasuki kamar. Tampak Sania sedang tertidur meringkuk diatas kasurnya.
Sania bisa dikatakan baik-baik saja, sebelum Seno memergoki perempuan itu meringis dalam tidurnya.
Sepertinya sangat sakit.
Seno jadi tega. Ia kembali menarik Sean yang ingin membangunkan sang mami. Lebih baik Seno pamit undur diri, dan lebih memilih mengistirahatkan diri dengan Sean. Berdua dikamar anaknya itu.
Ia hanya tidak ingin mengganggu perempuan yang beberapa hari belakangan selalu simpang siur dihatinya. Ah, mengingat nya saja hati laki-laki itu langsung berdetak pelan.
...~§~...
Sinar matahari sudah merembet diseluruh penjuru dunia. Seno terbangun dengan Sean yang sudah tidak ada disisi-nya. Selimut sudah terbentang menyelami dirinya.
Seketika Seno tersenyum malu-malu. Siapa lagi kalau bukan Sania yang menyelimuti dirinya. Geez, perasaan laki-laki itu jadi sedikit tenang.
Dengan masih menahan kantuk, ia keluar dari kamar Sean dan masuk kekamar mandi untuk sekedar mencuci muka. Hari ini, ia memutuskan untuk kembali tidak bekerja. Ada urusan yang masih harus ia urus.
Keluar kamar mandi, Seno melihat dari jauh Sania sedang menyapu seraya jalan tertatih-tatih. Laki-laki itu kembali berdecih saat mendapati Sumi dan Andi yang sedang santai tanpa menghiraukan Sania.
Sepertinya, secepatnya ia akan meminta John untuk mencari security dan pelayan dirumah nya. Agar tidak terulang lagi kejadian seperti tadi.
"eh menantu kesayangan ibu sudah datang" Sania sedikit menoleh lalu kembali menyapu dengan tenangnya
"Sean kemana yang?" Ucap Seno menghiraukan perkataan Sumi
Sania terperanjat, ia hampir saja jatuh jika salah satu lengannya tidak berpijak pada meja.
Aku gak salah denger kan? Yang? Berarti sayang kan? Mas Seno habis terbentur dimana?
Seno terkekeh melihat reaksi Sania yang tidak biasa. Sifat usilnya kembali keluar. Ia mendekati Sania lalu menoel dagu perempuan itu, "yang? Ko diem aja"
"apaan sih mas!" elaknya lalu menghindari Seno. Bukan karena kesal, tapi perihal jantung nya yang berdetak kencang. Ia hanya tidak mau Seno sampai mendengarnya.
"dih malu" ejek Seno, "Sean mana?"
"lagi main diruang main" jawab Sania,
Seno mengangguk lalu mengambil cangkir kopi yang masih mengepul diatas meja. Dihampirinya kedua paruh baya yang masih asyik bercengkerama. Ada yang harus laki-laki itu bicarakan.
"pagi bu, pak. Bagaimana tidurnya?"
"sangat nyenyak" jawab Sumi dengan sangat semangat, "kasur dikota memang sangat beda dengan kasur kami dikampung. Sepertinya kamu harus membelikan kasur seperti itu untuk dirumah kami. Agar tidur kami sangat nyenyak"
"benar nak, maklum saja kasur kami dikampung sudah sangat tipis. Itupun sudah banyak tambahan dari beberapa kain bekas. Jadi lebih baik diganti" sahut Andi
"bener banget tuh pak! Apalagi rumah kamu benar-benar membuat kami sangat nyaman. Kami jadi betah tinggal disini, bolehkan kami menginap satu minggu disini?" tanya Sumi
Seno menggeleng, "baru satu hari saja, sudah banyak kejadian dirumah ini. Bahkan sampai mengancam keselamatan anak kalian. Apalagi kalau ibu dan bapak tinggal selama satu minggu disini"
"mas! Ko kamu gitu sih sama orang tuaku" sahut Sania yang tiba-tiba datang seraya membawa kue bolu tape, salah satu kue kesukaan Seno
"tahu kamu! Mentang-mentang orang kaya jadi semena-mena sama mertua"
Seno tersenyum. Lalu ia menunjuk luka-luka dikening Sania dan lengan Sania, "ibu sama bapak bisa lihat luka ini?"
"luka apa sih? Apa hubungannya kami tinggal disini dengan luka-luka itu. Lagi pula Sania sudah kebal mendapat luka kecil seperti itu"
"apa ibu sama bapak juga tahu, semalam Sania hampir kehilangan nyawa-nya?" tanya Seno dengan sungguh-sungguh
"apasih maksudmu! Kami tidak mengerti. Hampir kehilangan nyawa seperti apa" sahut Andi tidak sabar
"apa ibu sama bapak tahu, semalam rumah ini kedatangan pencuri? Dan pencuri itu hampir saja melukai Sania" Ucap Seno, "oh iya, bagaimana bisa tahu. Kalau ibu sama bapak pulas tidurnya" sarkas Seno
"mas, sudahlah. Aku juga tidak apa-apa. Tidak ada yang sakit"
"tidak ada yang sakit bagaimana! Aku perhatiin sejak tadi, diam-diam kamu meringis sambil menyentuh luka. Dan apa kamu tahu, kedua pencuri itu datang kerumah ini gara-gara orang tua kamu. Tidak secara langsung, orang tua kamu lah yang membuat kamu terluka seperti itu" Ucap Seno dengan nada sangat dingin, membuat semuanya terpaku
"maksud kamu?" tanya Sania
"tanpa izin dari mas, orang tua kamu foto-foto semua perabotan dirumah ini. Kamu tahu sendiri kan semua perabotan disini, memiliki nilai sejarahnya. Dengan kata lain sangat mahal. Bukan mas sombong, tapi orang tua kamu dengan santainya memfoto semua dan mempostingnya di facebook"
"memangnya ada yang salah? Ibu hanya mempostingnya agar tetangga dikampung tahu seperti apa menantu ibu dikota" jawab Sumi dengan santainya
"dan ibu tahu, karena dengan kepameran ibu membuat orang-orang berfikiran nakal dan berakhir mencuri dirumah ini" Sania sampai tutup mulut mendengar kebenaran dari Seno
Ia tidak habis fikir. Entah kelakuan Santy, bahkan kelakuan kedua orang tuanya membuat Sania merasa malu bukan main. Dan dua-duanya juga menyebabkan kerugian bagi Seno.
"sefatal itu?" tanya Andi, "kamu saja yang berlebihan, mana mungkin mereka tahu alamat rumah ini hanya dari foto saja"
"Walaupun saya tidak memakai sosial media, saya sedikit paham tentang hal itu. Bukankah di ponsel sekarang ada fitur GPS, karena itulah semua hal yang dilakukan ibu dan bapak dapat terekam dan membuat orang tahu keberadaan ibu saat ini" geram Seno
"sudahlah jangan terlalu repot seperti itu. Semuanya sudah selesai. Pencuri-nya juga sudah tertangkap kan? Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi"
"terserah kata ibu dan bapak. Tapi saya tidak bisa lagi menampung ibu dan bapak selama seminggu disini. Saya sudah siapin mobil untuk mengantarkan ibu kembali kekampung, saat ini juga"
"Sania juga setuju kali ini" Sania tiba-tiba datang dengan tas milik Sumi dan Andi dikedua lengannya. Perempuan itu sempat mengundurkan diri untuk merapihkan barang milik kedua orang tuanya.
"sekarang kalian sudah seperti anak durhaka! Secara tidak langsung kalian sudah mengusir ibu dan bapak!" pekik Sumi
Mereka dipaksa masuk kedalam mobil oleh orang suruhan Seno. Teriakan masih terdengar bahkan saat mobil itu sudah sampai diujung gang.
"jangan sombong kalian! Hanya karena banyak harta, kalian tega sampai usir ibu"
"bapak tidak akan memaafkan kalian berdua, sampai kapanpun!!!!"