NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Pagi hari di lingkungan pondok pesantren itu terasa begitu meneduhkan.

Sisa-sisa embun masih setia bergelayut di ujung daun pisang, membiaskan cahaya matahari yang mulai merayap naik.

Suara burung-burung berkicau riuh, berpadu dengan deru sapu lidi para santri yang tengah membersihkan halaman dan aroma masakan dari dapur umum.

Di beranda belakang rumah utama, Kyai Abdullah duduk dengan tenang di kursi rotan kesayangannya.

Beliau menyesap kopi hitam tanpa gula, menikmati kedamaian pagi.

Di hadapannya, Nyai Salamah baru saja meletakkan sepiring pisang goreng yang masih mengepulkan uap hangat.

Namun, air muka Nyai Salamah tak sehangat suguhannya pagi itu. Ia duduk dengan tangan terlipat di dada, menatap suaminya dengan sorot mata yang sarat akan kegelisahan.

“Abi ini benar-benar ya, selalu saja membela Rani,” cetus Nyai Salamah tiba-tiba, suaranya pelan namun penuh penekanan.

Kyai Abdullah hanya terkekeh pelan dan Beliau meletakkan cangkirnya dengan sangat hati-hati, lalu mengusap janggut putihnya dengan gestur yang menenangkan.

“Memangnya kenapa, Umi? Apa salah jika kita harus bersikap sabar?”

Nyai Salamah menghela napas panjang, tatapannya menerawang.

“Bukan masalah sabarnya, Bi. Tapi anak itu, apa pantas menantu seorang Kyai datang ke rumah mengenakan celana robek-robek dan naik motor trail? Sekarang malah minta izin pulang dengan alasan Umi Siti rindu, padahal kita tahu sendiri dia pasti lari ke sirkuit lagi.”

Kyai Abdullah menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

Wajahnya tetap teduh, tak terusik oleh keluhan istrinya.

“Salmah, istriku. Apa kamu lupa? Dulu waktu kita masih muda, kamu pun punya sisi pemberontak. Kamu suka berkeliling kampung dengan sepeda motor untuk berjualan jamu. Saat itu, banyak orang mencibirmu, bilang kalau kamu ‘tidak seperti calon nyai pada umumnya’. Tapi aku percaya padamu, dan lihatlah, kamu menjadi sosok Nyai yang luar biasa sekarang.”

Nyai Salamah mendengus, meski semburat senyum tipis tak mampu ia sembunyikan dari wajahnya yang mulai termakan usia.

“Itu beda, Bi. Aku tidak pernah kabur untuk balapan.”

“Rani itu jiwanya masih meluap-luap, Egonya besar karena ia merasa dunianya sedang dirampas. Tapi hatinya bening, Mah. Kamu lihat sendiri, kan? Meski berat, dia tetap bangun untuk tahajud. Saat pengajian, dia diam-diam menyimak dari barisan belakang. Anak itu tidak butuh dihakimi, dia hanya butuh waktu untuk menemukan 'rem' dalam hidupnya.”

“Aku hanya khawatir Abi terlalu lunak padanya. Aku takut dia malah jadi semena-mena nanti,” keluh Nyai Salamah lagi, meski nada bicaranya mulai melunak.

“Tidak, Umi. Kita mendidik dengan kasih sayang yang merangkul, bukan dengan telunjuk yang menghujat,” jawab Kyai Abdullah dengan penuh wibawa.

“Mari kita doakan saja bersama-sama agar hati Rani dilembutkan oleh Allah. Bukankah doa seorang ibu lebih tajam daripada omelan?”

Nyai Salamah akhirnya mengangguk pelan. Kekakuan di wajahnya mencair, digantikan oleh senyum tulus.

“Baiklah, Bi. Tapi kalau besok dia nekat memanjat pohon jambu lagi, Abi yang harus menyuruhnya turun, ya?”

Kyai Abdullah tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang.

“Insya Allah. Tapi kalau ternyata aku malah ikut memanjat bersamanya, Umi jangan marah juga, ya?”

Tawa hangat sang Kyai memecah kesunyian pagi, meninggalkan Nyai Salamah yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang terkadang sama "ajaibnya" dengan menantu mereka.

Sementara itu di tempat lain dimana Rani menghela napas panjang melihat pintu kamar Yudiz yang masih tertutup rapat.

Sepertinya "Ustadz CEO" itu benar-benar sedang dalam mode merajuk tingkat tinggi.

Padahal, Rani sudah berusaha mati-mati menata dapur, mencuci piring-piring kotor, bahkan menyusun kembali sayur-mayur yang tadi dibeli ke dalam kulkas agar terlihat rapi.

Rani memberanikan diri mengetuk pintu kamar pelan.

"A-abi mau sarapan apa? Aku bisa coba masakin sesuatu. Mungkin telor ceplok atau apa gitu?"

"Terserah," jawab suara dari dalam, pendek dan datar tanpa nada sama sekali.

Rani menggigit bibir bawahnya. Kata "terserah" dari seorang pria ternyata jauh lebih horor daripada bendera start di sirkuit.

Ia pun berbalik menuju dapur dengan langkah gontai.

Rani berdiri di depan kompor gas yang terlihat begitu asing baginya.

Ia memegang pemantik api dengan tangan gemetar.

"Oke, Rani. Tenang. Ini cuma kompor, bukan mesin motor 250cc. Kamu pasti bisa," gumamnya menyemangati diri sendiri.

Ia memutar knop kompor. Terdengar suara desis yang cukup kental, diikuti aroma tajam yang menusuk hidung. Namun, karena tidak mengerti, Rani menganggap itu hal biasa. Saat ia menekan pemantik...

Blar!

Api menyambar udara yang sudah jenuh dengan gas.

Rupanya, selang gas di bawah kompor bocor cukup parah.

Semburan api kecil langsung menjilat area sekitar kompor, termasuk kain lap yang tergantung di dekatnya.

"Aaaaa! Api! Kebakaran!" teriak Rani panik.

Ia mencoba mematikan api dengan tangannya secara refleks, namun malang, punggung tangan kanannya justru tersambar lidah api yang panas.

"Aduh! Panas!"

Rani terhuyung mundur, memegangi tangannya yang mulai memerah dan melepuh.

Asap hitam mulai membumbung di dapur yang mewah itu.

Di dalam kamar, Yudiz yang tadinya sedang mencoba menenangkan hati di atas sajadah, langsung tersentak.

Pendengarannya yang tajam menangkap suara ledakan kecil dan teriakan histeris istrinya. Tanpa pikir panjang, ia berlari keluar.

"Rani!"

Yudiz terbelalak melihat api yang mulai merambat ke kabinet kayu.

Dengan gerakan kilat yang sangat tenang namun bertenaga, ia menyambar kain pel basah yang ada di dekat wastafel.

Ia menutup sumber api di kompor dengan kain itu, lalu dengan sigap memutar katup regulator gas di bawah bak cuci piring hingga aliran gas terhenti.

Hanya dalam hitungan detik, api padam. Suasana dapur mendadak sunyi, menyisakan bau hangus dan kepulan asap tipis.

Yudiz mengatur napasnya yang memburu. Wajahnya yang tadi dingin kini berubah menjadi sangat cemas.

Ia segera menghampiri Rani yang terduduk di lantai sambil menangis sesenggukan, memegangi tangannya.

"Mana yang sakit? Biar aku lihat," suara Yudiz kembali lembut, namun penuh nada khawatir yang mendalam.

"Sakit, Abi. Perih banget," isak Rani.

Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang terkena jelaga hitam. Ia merasa sangat bodoh dan tak berguna.

Yudiz berlutut di depan Rani. Ia mengambil tangan Rani dengan sangat hati-hat

Ia melihat luka bakar yang cukup lebar di punggung tangan istrinya.

Tanpa berkata-kata, Yudiz membimbing Rani ke wastafel dan mengalirkan air dingin ke luka tersebut untuk meredam panasnya.

"Maafin aku, Abi. Aku cuma mau masakin kamu. Aku nggak tahu kalau gasnya bocor. Aku memang nggak bisa jadi istri yang bener," ucap Rani di sela tangisnya.

Yudiz terdiam. Rasa kesalnya soal "sepupu" di supermarket tadi menguap seketika, digantikan oleh rasa bersalah karena telah mengabaikan istrinya hingga terjadi kecelakaan ini.

Ia membawa Rani ke meja makan, lalu mengambil kotak P3K.

"Diamlah, jangan bicara dulu," bisik Yudiz sambil mulai mengoleskan salep luka bakar dengan sangat telaten.

Matanya menatap Rani dengan tatapan yang sangat dalam.

"Kamu tidak perlu jadi ahli masak untuk menyenangkan hatiku, Rani. Cukup jangan buat dirimu terluka seperti ini. Itu jauh lebih menyakitkan bagiku daripada disebut 'sepupu'."

Rani mendongak, menatap mata Yudiz yang kini berkaca-kaca.

Untuk pertama kalinya, Rani merasakan debaran yang jauh lebih kencang daripada saat ia berada di garis start.

1
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!