Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Suasana kelas XII-IPA 1 terasa cukup gaduh karena guru mata pelajaran pertama belum juga memasuki ruangan. Sheila sedang menopang dagunya dengan tangan, menatap kosong ke arah jendela sambil membayangkan wajah Devano. Senyum kecil terukir di bibirnya, menunjukkan betapa ia sedang berada di awan kedelapan karena perasaan cintanya.
Risma, yang duduk di sebelahnya, merasa gemas sekaligus khawatir melihat sahabatnya yang seolah kehilangan akal sehat. Ia menutup buku catatannya dan menoleh sepenuhnya pada Sheila.
" Sebenarnya apa sih yang buat kamu cinta sama Devano, selain dia most wanted yang populer di sekolah kita? "tanya Risma dengan nada heran. Ia ingin mengerti mengapa Sheila bisa bertahan dengan laki-laki sedingin Devano selama dua tahun.
Sheila menoleh perlahan, matanya berbinar penuh keyakinan. " Nanti juga kamu ngerasain, Ris. Cinta gak mesti mandang dia sempurna atau tidak. Tapi dia datang tiba-tiba tanpa bisa kita cegah, "jawab Sheila dengan suara lembut yang jarang ia tunjukkan selain saat membicarakan Devano.
Risma menghela napas panjang, mencoba mencerna jawaban filosofis sahabatnya yang biasanya bar-bar itu. " Tapi Sheil, bukannya kamu sering tersisih? Kamu sering menangis sendiri karena sikap datar dia. Apa itu yang namanya cinta? "
Sheila terkekeh kecil, seolah menertawakan kekhawatiran Risma. " Mungkin itu ujian, Ris. Devano emang dingin, tapi di mataku, dia adalah dunia. Aku merasa punya tujuan hidup karena dia. Lagipula, semalam dia sudah mulai ngomongin soal masa depan setelah lulus. Dia serius sama aku, "lanjut Sheila sambil membayangkan janji palsu Devano tentang jenjang serius.
Sheila tidak sadar bahwa apa yang ia anggap sebagai tujuan hidup hanyalah sebuah jeratan yang dibuat sangat rapi oleh Devano. Baginya, Devano adalah oksigen, tanpa mengetahui bahwa udara yang ia hirup itu kini sudah mulai terkontaminasi oleh rencana busuk taruhan motor sport.
Tiba-tiba, ponsel Sheila di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari kontak bernama "My King Vano".
" Nanti jam istirahat, datang ke gudang alat musik belakang. Ada yang mau aku tunjukkin. Jangan ajak siapa-siapa, "
Wajah Sheila seketika merona merah. Ia memeluk ponselnya dengan gembira. " Lihat kan Ris? Baru aja diomongin, dia udah ngajak ketemu spesial di jam istirahat. Dia pasti mau kasih surprise! "seru Sheila dengan semangat bar-bar-nya yang kembali muncul.
Risma menatap kepergian Sheila yang kembali melamun dengan perasaan tidak enak. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada Sheila bahwa malaikat yang ia puja sebenarnya adalah iblis berwajah tampan.
Sheila membalas pesan tersebut dengan senyum terbaiknya.
"Ok, sayang aku akan ke sana,"
Bel istirahat berbunyi dengan nyaring, memecah konsentrasi siswa SMA International Bima Karya. Tanpa menunggu detik kedua, Sheila langsung merapikan bukunya dan berlari kecil meninggalkan Risma yang masih menatapnya dengan khawatir. Langkah kakinya membawa Sheila menuju area belakang sekolah yang sepi, tempat di mana gudang alat musik tua berada.
Pintu kayu itu sedikit terbuka. Sheila masuk dengan jantung yang berdegup kencang. Di dalam ruangan yang minim cahaya dan berdebu itu, ia melihat siluet Devano sedang duduk di atas meja kayu sambil memainkan sebuah gitar tua. Cahaya matahari yang masuk dari celah jendela mengenai wajah tampannya, membuatnya terlihat seperti pangeran kegelapan.
" Vano..." panggil Sheila dengan suara lembut. Ia mendekat, wajahnya bersemi penuh hasrat dan kebahagiaan.
Devano menghentikan petikan gitarnya. Ia menoleh dan menatap Sheila dengan tatapan misterius yang menghujam. Tanpa berkata-kata, ia menarik pinggul Sheila agar berdiri di antara kedua kakinya, menciptakan jarak yang sangat intim.
" Kamu datang, sayang, "bisik Devano dengan suara rendah yang sangat seksi. Ia menyelipkan helai rambut Sheila ke belakang telinga, sebuah sentuhan yang membuat tubuh Sheila terasa lemas.
" Iyah, tadi pesan kamu bilang ada yang mau ditunjukin. Apa itu Vano? "tanya Sheila dengan mata berbinar, benar-benar menunggu surprise yang ia bayangkan.
Devano menatap Sheila dalam-dalam, mencari celah untuk memasukkan rencana busuknya
" Aku ingin menunjukkan seberapa besar komitmenku, Sheila. Aku sedang memikirkan masa depan kita. Tapi, aku butuh keyakinan lebih darimu. Aku butuh bukti bahwa kamu tidak akan pernah pergi dari sisi aku apa pun yang terjadi,"
Sheila mengernyitkan dahi, sedikit bingung namun tetap terbuai. " Bukti apa lagi Vano? Aku milik kamu, kamu tau itu,"
Devano tersenyum tipis, senyum yang sangat dominan. Ia mengusap pipi Sheila dengan jemarinya yang dingin. " Banyak pria di luar sana yang mengejarmu, Sheila. Aku ingin kamu menyerahkan segalanya hanya untukku. Sesuatu yang tidak bisa lagi diambil oleh siapa pun. Dengan begitu, aku bisa yakin untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang sangat serius setelah lulus nanti, "
Jantung Sheila serasa berhenti berdetak sejenak. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Ini bukan surprise berupa hadiah, melainkan sebuah permintaan besar yang selama ini ia jaga mati-matian. Namun, melihat wajah Devano yang tampan dan kata-kata "masa depan", pertahanan Sheila mulai goyah.
" Maksud kamu... apa Vano? "tanya Sheila dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Suasana di dalam gudang alat musik tua itu terasa semakin menyesakkan. Suara derit kayu dan debu yang menari di bawah sinar matahari seolah menjadi saksi bisu betapa Sheila sedang berada di ambang kehancuran. Pertanyaan Sheila yang bergetar hanya dibalas oleh tatapan intens dari Devano yang seolah menguliti pertahannya.
Devano menarik tubuh Sheila semakin rapat, hingga Sheila bisa merasakan detak jantung laki-laki itu—detak jantung yang terasa begitu tenang di balik rencana yang kejam. Jemari Devano kini berpindah menangkup dagu Sheila, memaksa gadis itu untuk menatap langit malam di matanya yang dingin.
" Kamu tahu apa yang aku maksud, Sheila, "bisik Devano dengan suara yang sangat berat dan penuh tekanan. " Aku ingin malam ini kita menjadi satu. Aku ingin kamu memberikan bukti bahwa kehormatanmu hanya untukku, bukan untuk pria lain yang nanti mungkin akan mendekatimu saat kita kuliah, "
Sheila merasakan seluruh tubuhnya menegang. Lidahnya terasa kelu. " Tapi Vano... kita masih sekolah. Aku takut. Apa tidak bisa kita tunggu sampai kita benar-benar menikah nanti? "
Wajah Devano seketika berubah menjadi kecewa yang dibuat-buat. Ia melepaskan pegangannya dan berbalik memunggungi Sheila, memberikan kesan bahwa ia sangat terluka oleh penolakan tersebut. Ini adalah teknik manipulasi terhebatnya.
" Oh, jadi kamu masih ragu sama aku? Kamu pikir aku laki-laki yang akan meninggalkanmu setelah kamu memberikan semuanya? "tanya Devano dengan nada dingin yang menyayat hati Sheila.
" Padahal aku sudah menyiapkan segalanya untuk masa depan kita. Tapi baiklah, jika kamu lebih menghargai 'gengsi' itu daripada komitmen kita, mungkin hubungan ini tidak perlu dilanjutkan ke jenjang yang lebih jauh, "
Mendengar kata putus secara tersirat, mental Sheila seketika tumbang. Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa most wanted Bima Karya ini. Sifat bar-bar-nya hilang, tergantikan oleh keputusasaan seorang gadis yang terbutakan cinta.
" Vano! Bukan begitu maksudku! "seru Sheila sambil memeluk punggung Devano dari belakang. Ia menenggelamkan wajahnya di seragam Devano yang harum. " Aku sayang kamu. Aku benar-benar mencintaimu jauh lebih dari apa pun, "
Devano menyeringai tipis di balik tubuhnya yang memunggungi Sheila. Kemenangan sudah di depan mata. Motor sport itu sudah terbayang di benaknya. Ia berbalik dan kembali memeluk Sheila, kali ini dengan dekapan yang sangat erat namun penuh dengan muslihat.
" Kalau begitu, buktikan malam ini di apartemenku, Sheila. Tunjukkan bahwa dunia kamu memang hanya aku, Cup! "bisik Devano sambil mengecup pucuk kepala Sheila.
Sheila akhirnya mengangguk lemah di dalam pelukan itu. " Iyah Vano... aku akan melakukannya. Demi kita, "