Memiliki anak terlahir tidak sempurna membuat rumah tangga dalam tokoh utama tergunjang, hanya ada satu pilihan yang harus ditentukan. penyakit apakah yang diderita bayi malang hingga menjadi alasan sang suami menerima jodoh yang diajukan ibunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisfi_triplets, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
...Tinggalkan jejak...
...💕 Like dan komentar 💕...
...Happy reading...
Setelah pembicaraan dengan Ibu selesai, Atma meminta ijin padaku untuk tidur dengan Ibu. Semenjak menikah Atma, Ibu, dan Rama sangat dekat, kasih sayang Ibu dan Rama sangat tulus sehingga membuat Atma merasakan kenyamanan dan kebahagiaan saat bersama mereka. Aku melangkahkan kaki menuju kamar, kulihat Rama sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Mas, apa kamu sudah tidur?" tanyaku ragu karena matanya terpejam namun posisi tubuh setengah tegak bersandar pada bantal.
"Belum," jawabnya singkat.
"Pesawatku akan berangkat pukul delapan pagi, besok Dina akan kerumah untuk menjemputku," ucapku sembari mengemas pakaian yang akan Aku bawa selama berada di Semarang.
Setelah selesai mengemas pakaian, Aku membaringkan tubuh disamping Rama yang terlihat sudah tertidur dengan posisi miring, Aku tidur memunggunginya dan mulai memejamkan mata. Belum sempat mata ini terpejam, kurasakan tangan kekar melingkar diperut hingga aku terperanjat kaget. Ia menepikan rambutku yang terurai, sehingga leher jenjangku terlihat, ia menempelkan wajahnya diatas leherku hingga deru nafasnya terasa.
"Tidurlah, jangan merubah posisi, biarlah tetap seperti ini, Aku mencintaimu istriku, sangat mencintaimu." Aku memejamkan mata, menikmati kehangatan dan kenyamanan yang diberikan dalam sentuhannya. Hal yang selalu kurindukan saat bersamanya.
Terdengar suara kran air yang mengalir, membuka mata perlahan dan melihat jam, waktu menunjukkan pukul dua dini hari, refleks tanganku meraba tempat tidur, Rama tidak ada disampingku.
Hoekkk ... Hoekkk
Terdengar suara Rama sedang muntah dari dalam kamar mandi, aku langsung menghampirinya, memijat dan menepuk lehernya, tapi tidak sedikitpun yang keluar dari mulutnya.
"Mas, asam lambungmu naik deh sepertinya. Kamu tidak makan kemarin." Ia membasuh wajahnya dengan air setelah itu menegakkan tubuhnya dan berlalu begitu saja dariku tanpa mengucapkan apapun. "Mas, aku siapkan makanan, ya?"
"Makanan tidak akan tertelan ketika istri meminta sang suami menjauhinya, biarlah sakit seperti ini."
"Mas, jangan seperti itu. jangan menyakiti dirimu dengan cara seperti ini. Aku kan sudah bilang hanya membutuhkan waktu untuk menerima semuanya bukan benar-benar ingin jauh darimu, jangan bersikap kekanakan." Ia hanya diam mendengar ucapanku. "Aku hanya seorang wanita yang pernah gagal dalam berumah tangga, dan ketika baru merasakan bahagia bersamamu, foto itu mengguncang kepercayaanku padamu, tidak bolehkah aku kecewa? Tidak bolehkah aku merasa sedih? Aku membutuhkan waktu untuk bisa menerima keadaan ini, apa kamu tahu betapa hancurnya perasaanku saat melihat foto-foto itu? Melihat suamiku sedang tidur dengan banyak wanita rasanya hancur, Mas ..."
"Dan apakah kamu tahu bagaimana rasanya tidak di percayai oleh istri? Apa aku tidak merasakan kesedihan yang kamu rasakan? Apa aku acuh terhadapmu? Ketika jauh darimu apakah aku tidak merasakan kehilangan? Kita sama-sama hancur Amanda, apa kamu akan membiarkan kita sama-sama hancur dan terpuruk seperti ini?" Air mata ini lagi-lagi menerobos keluar dan membasahi pipiku. "Kita hadapi bersama Amanda, ketika kita jauh hanya akan menyakiti diri kita sendiri. Aku memahami perasaanmu, aku sudah berusaha maksimal untuk membuktikan semuanya, tapi usahaku sia-sia, om Herman sedang bermain peran denganmu, tolong buka dirimu, percaya pada suamimu ini, jangan terkurung oleh ketakutan dan trauma kegagalan pernikahanmu sebelumnya, aku tidak akan mengkhianatimu hanya demi wanita bayaran yang bergonta ganti pasangan setiap harinya," ucapan Rama sedikit membuka pikiranku, bahwa masalah ini berat juga untuknya, bukan hanya diriku.
"Maafkan aku, Mas ..." Aku menubruk tubuh Rama menangis di dada bidangnya, menyalurkan segala kesedihanku agar merasa tenang, Rama memelukku erat, ia menciumi seluruh sisi wajahku dengan lembut, tapi tetap tidak membuatku menghentikan tangisan ini.
Krekkkk ....
Pintu terbuka terlihat sosok Ibu dan Atma diambang pintu.
"Mama ...." Atma langsung memelukku. "Mama kenapa menangis? Tangisan mama sampai terdengar di kamar Omma."
"Sayang, biarkan Mama sendiri dulu ya, ayo tidur lagi biar Papa temani."
"Memangnya mama kenapa? Papa marahin mama ya?" tanya Atma pada Rama
"Mana mungkin papa memarahi Mama."
"Lalu kenapa menangis?"
"Atma sudah yuk, kembali ke kamar Omma kita istirahat lagi," ucap Ibu.
"Atma mau tidur bareng Mama dan Papa."
"Ya sudah Omma balik ke kamar ya, Omma masih ngantuk." Ibu meninggalkan kami bertiga. Aku merebahkan tubuh terlebih dahulu di atas kasur, diikuti oleh Atma dan juga Rama. Atma berada diposisi tengah antara Aku dan Rama. Atma memeluk tubuhku, mengusap air mata yang masih membekas.
"Jangan nangis Mama, Atma sayang Mama."
"Mama nggak apa-apa sayang, hanya kelelahan jadi merasakan sedikit sakit, makanya menangis."
"Oh, Atma kira Papa memukul Mama hingga menangis."
"Hei, kamu kira Papa jahat, hmm?" Rama mencubit pipi Atma.
"Lihat tuh ma' aku dicubit Papa."
"Baiklah, Papa tahu cara menghukummu." Sejurus kemudian Rama menggelitik tubuh Atma dan mereka tertawa bersama hingga Atma meminta ampun pada Rama. Tingkah mereka membuat aku melupakan kesedihan, dan setelahnya kami kembali tidur hingga mentari menyapa.
"Aku dan Atma akan mengantarmu ke bandara," ucap Rama saat kami sedang sarapan, perasaan aku lebih baik pagi ini, tapi aku masih enggan untuk berbicara dengan Rama.
"Mama lama tidak disana?"
"Delapan hari sayang, kamu sama Omma dan Papa ya."
"Jangan khawatirkan Atma, biar jadi urusan Ibu dan Rama," sahut ibu.
"Terimakasih ya, Bu ...."
"Nanti biar aku yang mengantar."
"Jangan, Mas, sebentar lagi Dina akan menjemputku." Aku menatap ke arahnya, Rama terlihat tidak suka dengan jawabanku yang menolak diantar olehnya, "kamu meridhoi kepergianku kali ini 'kan, Mas?" Ia menghentikan suapan makanan ke mulutnya dengan tersenyum yang terlihat memaksakan senyuman itu.
"Jangan khawatirkan itu, aku mengerti dengan tugasmu, anggap saja ini sebagai cara Allah agar kita saling instrospeksi diri, kamu bisa menenangkan pikiran sambil melakukan tugas yang dipercayakan padamu. Aku dan Atma menunggu di sini, aku tidak akan menggangumu selama kamu berada di sana, jaga diri baik-baik. Semoga waktu bisa mengembalikan kepercayaanmu padaku." Ia berdiri dan menghampiri Atma. "Yuk, kita berkeliling dengan sepeda, anak tampan. Pamit pada Mama, biarkan Mama pergi bertugas, Papa nggak mau anak Papa menangis saat ditinggal Mama nanti."
"Asik, aku nggak akan nangis pa' tidak seperti mama tadi malam yang menangis, sangat cengeng padahal sudah besar." Rama dan Ibu tertawa mendengar ucapan Atma, sedangkan aku menghampirinya dan mencubit pipinya gemas, ia membentuk V pada jarinya dan berlari mengikuti langkah Rama.
Beberapa saat kemudian, Dina datang menjemputku,
"Siap Bu Dokter?" tanya Dina, sebelum menyuruh supir untuk melajukan mobil.
"Tentu saja."
"Pasti kamu akan merindukan suami tercinta dan anak tersayang selama berada di sana." Ucapan Dina menyadarkan aku, pasti akan sangat merindukan mereka.
"Pasti, makanya kamu cepat menikah."
"Ehh kamu memang belum tahu? setelah pulang bertugas aku akan melaksanakan pernikahan."
"Benarkah?"
"Ckkk ...Aku tidak bercanda Amanda, bahkan calon suamiku nanti akan menyusul ke Semarang dan kami akan kembali ke Jakarta bersama."
"Wah jika itu memang benar, aku akan jadi obat nyamuk untuk kalian, ishh pasti membosankan."
"Bilang saja kamu iri, gampang kok suruh suamimu menyusulnya kesana."
'bagaimana mungkin aku menyuruh Rama menyusul ke Semarang, sedangkan aku sedang membutuhkan waktu menenangkan diri.' bisikku dalam hati, dan tidak menjawab ucapan Dina.
💖💖💖💖
Sudah tiga hari aku berada di Semarang, Rama benar-benar tidak mengirimkan aku pesan sama sekali, ia membuktikan ucapannya untuk tidak mengganguku. Namun, hal yang dilakukan Rama justru membuatku tidak tenang, dan merasakan kehilangan.
Setiap hari Atma dan Ibu yang menelepon Aku melalui panggilan video maupun panggilan suara, tapi tidak aku temukan Rama di samping Atma, ingin menanyakan keberadaan Rama pada Ibu, rasanya aku malu, khawatir Ibu mengetahui bahwa selama bertugas di Semarang tidak melakukan komunikasi dengan Rama. Untuk memulai komunikasi rasanya berat, tapi aku selalu memikirkannya, sepertinya ego sedang menguasai diriku saat ini. Hanya bisa menarik nafas dalam ketika bayangan sosok Rama melintas di pikiranku dan memanjatkan doa agar kami semua dalam lindungan Nya.
"Amanda ...." Dina membuyarkan lamunanku, kami sudah di hotel setelah melakukan aktivitas di rumah sakit seharian.
"Iya, ada apa?"
"Ckkk ... Ketus sekali jawabnya."
"Ada apa temanku yang cantik?" Dina mengembangkan senyuman ketika mendengar ucapanku.
"Nah gitu dong, antar Aku yuk!"
"Kemana?"
"Menemui calon suamiku, dia baru saja tiba dan ingin bertemu denganku, dia rindu sepertinya padaku."
"Duh duh ... virus merah muda sepertinya sedang melanda kalian." Aku terkekeh geli melihat ekspresi Dina yang tengah berbunga-bunga dan senyum tidak lepas dari wajahnya.
Aku pun ikut menemani Dina untuk menemui calon suaminya di sebuah kafe dekat hotel, aku disibukkan dengan ponsel yang berada digenggamanku, tanpa kusadari calon suami Dina sudah berada di meja kami, saat mengangkat wajahku dan melihat calon suami Dina, mataku melebar melihat siapa yang menjadi calon suami Dina, dia ....
"Bu bos?" Ia juga melebarkan mata memastikan apa yang dilihat adalah benar istri dari bosnya sekaligus teman masa kuliahnya yaitu Rama.
"Rio?" Ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lega karena penglihatannya tidak salah.
🌹🌹🌹🌹🌹
Rama
vote Thor ✌️