Mengandung kata kata kasar.
Salah paham yang berujung di cap sebagai pelakor. Davina Brigita gadis yang menyukai tantangan itu memilih bermain main dan mengikutinya dibanding dengan menyangkal semuanya.
Siapa sangka semuanya menjadi kenyataan ketika satu minggu menjelang pernikahan, tiba tiba sang tunangan yang begitu ia cintai lebih memilih menikahi sahabatnya.
Davin memilih pergi menjauh, rasa sakit yang ia terima membuatnya benar benar menjadikan dirinya pelakor hanya karena sebuah dendam.
Empat tahun kemudian dia datang membawa kejutan untuk membalas dendam. Bagaimana cinta Davina akan berakhir? akankah dia bahagia setelah menghancurkan pernikahan mantan tunangannya?
Ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AfkaRista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senang Bertemu Denganmu
"maafkan kami karena terjadi kesalahan teknis, kami akan mengulang dan membacakan nama pemenang yang sesungguhnya, selamat kepada nona Davina Brigita" MC memanggil nama Davin membuat semua undangan terkejut, para pemburu berita langsung meliput wajah Syeila yang menahan malu juga kehadiran Davin yang begitu mempesona.
Davin berjalan menuju panggung dari arah belakang, dia memakai gaun warna hitam bertabur berlian yang berkilau, berbelahan dada rendah dengan tali tipis yang melingkar dileher serta punggung yang terekspos hingga ke pinggang. Semua mata tertuju padanya, tak terkecuali Marchel, Mega dan Al. Davin terlihat sangat cantik. Dengan angkuh dia berjalan ke arah panggung dimana Syeila masih berdiri dengan piala yang dia pegang.
"maafkan saya nyonya Marchel, itu piala saya dan senang bisa bertemu denganmu" Davin tersenyum menyeringai, Syeila segera tersadar dari lamunannya, dia memberikan piala itu pada Davin lalu berjalan turun dari panggung dengan menahan rasa malu.
"bagaimana bisa hal seperti ini terjadi?" tanya Mega
"entahlah, hahaha pelakormu kembali" ucap Al, Mega langsung melirik tajam suaminya
Dia kembali setelah menghilang secara misterius, benar benar wanita yang tak terduga, aku harus berhati hati, sepertinya tidak bisa dianggap remeh ucap Mega dalam hati
Syeila menutup setengah wajahnya dengan tangan saat lampu kamera berusaha mengambil fotonya, dengan tergesa dia berjalan ke arah suaminya.
"Chel, ayo kita pulang"
Marchel masih memandang Davin tanpa peduli ajakan Syeila. Dengan perasaan kesal Syeila keluar dari ruangan tersebut, ia sudah tidak peduli dengan semau mata yang seakan mencemoohnya. Dia menyetop taksi untuk pulang.
"wah ternyata pemenangnya adalah desainer kesayangan kita yang dulu menghilang begitu saja, nona Davin silahkan memberikan sambutan" ucap MC
"terima kasih, saya ucapkan kepada semuanya khususnya kepada orang tua dan sahabat yang menyayangi saya dengan tulus tanpa kepura puraan" Davin melirik Marchel yang segera menunduk, "terima kasih pula kepada pria yang selalu menemani saya selama 4 tahun ini, pria yang membuat saya bahagia, dialah alasan saya bisa berdiri disini, semangat dan dukungan dari dialah yang membuat saya terus maju, terima kasih honey, i love you so much, Mar......" semua mata kembali tertuju pada Davin, sebagaimana mereka tahu jika dulu Davin dan Marchel adalah pasangan paling serasi yang gagal menuju pelaminan. Marchel yang tadinya menundukpun mengangkat kepala memandang Davin, tidak mungkin dirinya yang akan Davin sebut karena dia tidak menemani Davin selama ini.
"Mar...vin..." Davin tersenyum sinis ke arah Marchel,
Rupanya kau sudah menemukan pria yang menyayangimu dengan tulus Vin, aku bahagia untukmu, ucap Marchel, dia menatap Davin sendu.
"rupanya dia sudah menemukan pengganti Marchel, tapi aneh kenapa namanya hampir sama dengan Marchel" guman Mega
"bukan urusan kita" jawab Al
"haha, kau marah karena pelakormu sudah memiliki pria lain? tentu saja dia tak akan berdiam diri tanpa seorang pria, kau akan tercampakkan" ejek Mega
"jangan lupakan jika aku memang tak memiliki hubungan dengannya, itu hanya karanganmu saja"
"ah benar juga, sudahlah sebaiknya kita pulang, drama ini sudah selesai" Mega dan Al memutuskan pulang.
Sementara Davin yang sudah turun dari panggung langsung dikelilingi awak media yang membanjirinya dengan banyak pertanyaan.
"nona Davin, bisakah wawancara sebentar?" tanya salah seorang wartawan
"tentu saja" Davin tersenyum, dia memang tipe wanita yang ramah
"kami sudah meminta pihak penyelenggara untuk menyiapkan tempat untuk anda"
"wah, kalian begitu penasaran dengan kedatanganku rupanya, baiklah mari kita wawancara" Davin dan para wartawan segera memasuki ruang telah disiapkan