Haruskah cinta dan pernikahan yang diberikan sahabatnya, ia kembalikan?
Ini gila!
cinta dan pernikahan yang Elea jaga untuk Radjendra dan demi amanah yang diberikan sahabatnya, Erika. justru malah dihancurkan oleh Erika sendiri.
Apa yang harus Elea lakukan?
Haruskah ia kembalikan cinta dan pernikahan itu?
Atau ia harus mempertahankannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rajendra itu ...
Pagi harinya ...
Elea mengerjapkan matanya, tangannya meraba-raba mencari sesuatu. Namun yang ia rasakan tangannya menyentuh benda yang menonjol seperti topeng.
Matanya masih mengantuk dan ia malas untuk bergerak, sehingga ia ingin memastikan waktu tidurnya masih panjang. Akan tetapi dimana benda pipih miliknya itu, semalam ia menaruhnya didekatnya karena menunggu balasan dari Marcel.
Jarinya terus meraba-raba, ada suara aneh mirip nafas manusia dan ia juga merasakan guling yang dipeluknya begitu hangat. Hal itu membuat Elea betah untuk melanjutkan tidur, tapi ini hari senin ia harus bekerja juga.
"Apa ini? kenapa bentuknya mirip hidung," ucap Elea dengan suara serak khas bangun tidur, ia membuka matanya perlahan.
"Aaaaaaa," teriak Elea.
Elea bangun dengan segera dan mendapati Rajendra ikut terbangun oleh suaranya, ia menggosok matanya untuk bisa melihat dengan jelas.
"Kenapa kamu tidur disini? Bukankah semalam sudah ku usir," tanya Elea bernada kesal.
"Mmm aku tak tak bisa tidur jadi aku kembali," jawab lelaki yang hampir berusia kepala tiga itu, ia tersenyum menggoda istrinya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Pergi sana! Berani kamu melakukan ini lagi, aku hajar kamu," usir Elea dengan nada geram sambil menggeser piama lengannya untuk memperlihatkan otot bahunya.
Namun bukannya pergi, Rajendra justru menarik tangan Elea dan membawanya kedalam dekapannya. Tentu saja wanita itu menolaknya, tapi semakin dia meronta semakin erat lelaki itu memeluknya.
"Sebentar saja Ele, aku menginginkannya," pinta Rajendra jujur, wajahnya menelusup kedalam tengkuk istrinya dan mendaratkan kecupan singkat disana.
Aroma wanita itu membuatnya mengingat bocah cilik itu, perasaannya mengatakan bahwa Elea anak perempuan itu bukan Erika. Ia harus menunggu informasi dari asisten Sen yang entah berapa lama, ia sudah tak sabar tentang menunggu hasilnya.
"Rendra," panggil Elea tanpa panggilan mas lagi, tangannya yang menggantung untuk meronta dan menolaknya justru berubah dengan balasan pelukan pagi.
"Ini aku, kakak. Aku terlalu bodoh sehingga mengira kau orang asing. Ternyata kau adalah ...." ucapan Rajendra menggantung, ia baru ingat bahwa ini masih perkiraan.
Bagaimana jika memang benar Erika lah bocah perempuan itu?
Hatinya lengah, ia tak bisa begitu saja tanpa melihat bukti terlebih dulu.
"Adalah apa?" tanya Elea, jantungnya berdebar tak karuan menunggu kalimat yang diucapkan oleh suaminya.
"Adalah ... Istriku yang galak," jawab Rajendra asal saja, ia tertawa melihat perubahan Elea yang drastis.
Kemana hilangnya istri yang pendiam itu? Melihatnya yang marah-marah malah membuat Rajendra gemas.
Tangan wanita itu yang tadinya membalas pelukan berubah menjadi kepalan, ia mencengkeram bahu suaminya lalu ia mendorong lelaki itu dengan kuat namun tetap saja tak bisa. Karena Rajendra kembali menariknya dan memeluknya makin erat.
"Rajendra!!! Dasar pengecut!" umpat Elea kian geram, padahal ia sempat berpikir lelaki itu akan mengucapkan kata cinta padanya. Ternyat oh ternyata, ia malah dipermainkan.
Bagaimana tak kesal coba.
Rajendra tersenyum, umpatan itu membuatnya mengingat kala nona E itu tengah marah karena ia lelaki yang tidak bisa melakukan apapun sendirian. Wajarkan ia anak orang kaya, apapun selalu dilayani apalagi ia terlahir menjadi pewaris.
Mulai tenang, Elea mulai merasakan ada yang aneh. Entah suara apa yang berdetak kuat itu, suara jantungnya kah atau bunyi jantung yang lain. Mana mungkin Rajendra menyukainya, ia ingat adegan panas yang ia lihat diruangan kerja suaminya.
Tak mungkin bisa ia lupakan semudah itu, ini hanya perlakuan Rajendra agar ia bisa mengijinkannya menikahi Erika. Itulah yang Elea pikirkan tentang sikap suaminya yang mendadak berubah hangat padanya.
Elea menjadi lemah, ia tak bisa menolaknya. Dekapan hangat ini membuatnya hilang kendali, tubuhnya lunglai menginginkan lebih dari sekedar pelukan. Ia sudah dibuai gila oleh Rajendra, walau hanya diperlakukan seperti ini.
Rajendra melepaskan pelukannya, ia merapikan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya. Ia tersenyum padanya dan menangkup kedua pipinya yang tirus.
"Sudah, aku mau pergi ke kantor," ujar Elea tak ingin Rajendra melihatnya terus dan membuatnya berdebar makin kencang, ia bisa lupa diri dan semakin lupa ia semakin serakah hingga terluka.
Sudah jelas Erika yang dicintai oleh Rajendra.
"Sebentar, lagi," pinta Rajendra kembali memeluknya.
"Kakak rindu kamu E, kakak harap kamu masih menunggu kakak," gumam Rajendra dalam hati, ia tak sabar menunggu kabar lagi dan akan menagih informasinya hari ini juga.
Elea tak bisa berkutik lagi, kini ia pasrah diperlakukan begitu. Kapan lagi bisa berpelukan seperti ini?
Mungkin ia wanita bodoh karena mudah luluh hanya diberikan pelukan saja, namun siapa lagi yang bisa memeluknya selain suaminya. Lelaki lain tak ia kenal lama termasuk Marcel, yang baru saja menyatakan perasaan padanya
^
Dikantor, Rajendra mendapatkan beberapa catatan bukan keinginannya tapi itu berkas perusahaan. Ia membolak balikan catatan itu, lalu mengambil catatan lain mencari sesuatu yang diinginkannya.
Sedangkan Sena yang melihatnya mulai kebingungan, mood bosnya kembali buruk itulah yang muncul dalam otaknya.
"Dimana info yang aku inginkan?" tanya Rajendra sembari menaruh berkas yang dibacanya tadi dengan kasar, tak peduli bahan perusahaan tersebut rusak atau sobek.
"Info yang mana?" tanya Sena alih-alih menjawab pertanyaan bosnya, ia malah menanyakan sesuatu dengan detailnya. Asisten itu mulai mengingat-ingat tentang tugasnya yang mana.
"Informasi tentang Elea, yang aku minta kemarin," jawab Rajendra menatapnya tanpa berkedip
"Itu," Sena menelan ludahnya, ia baru ingat soal tugas tersebut karena kemarin ia kelelahan jadi ia tidur lagi.
Melihat sikap Sena yang diam, Rajendra mulai memperkirakan sesuatu. Jangan-jangan lelaki ini belum mengerjakan tugasnya, itulah yang ada didalam pikiran Rajendra saat melihat wajah asistennya.
"Jangan bilang kau lupa?" tanya Rajendra, sialnya asistennya itu merespon dengan tersenyum yang penuh paksaan dan mengangguk ragu.
"Sena!!" geram Rajendra.
Sejak semalam ia uring-uringan sampai tak bisa tidur karena menunggu hasil, tapi asistennya malah lupa dengan tugasnya.
"Ma–maaf, pak. Aku kelelahan karena harus membantu mendekor rumah anda, jadi aku tidur lagi seharian kemarin dan akhirnya lupa," ungkap Sena mengutarakan alasannya.
"Bodo amat, mau cape atau gak itu urusan kamu. Yang penting tugas no satu, kalau gak buat apa aku gaji kamu tinggi-tinggi," makin naik beberapa oktaf nada bicara Rajendra, makin tinggi pula kekesalannya hari ini.
"Molor mulu!" umpat Rajendra lagi, ia berdiri dan melangkah menghadap jendela kaca dimana pemandangan kota terliha dari sana.
Rajendra memasukkan jemari kanannya kedalam saku celana, sedangkan otaknya mencari jalan lain agar asistennya tidak terlalu kelelahan.
"Haruskah aku cari asisten lain?" ujar Rajendra.
Mata Sena membelalak mendengarnya, entah apa yang ada didalam kepala bosnya itu yang jelas ia tak suka berbagi tempat apalagi berbagi gaji.
"Asisten baru," gumam Sena.
^
Ditempat lain tapi masih satu kota, ada Elea yang tengah berada didalam lift. Ia merogoh saku blazernya dan membuka aplikasi perpesanan yang baru saja membunyikan notifikasi pesan masuk.
Elea membaca pesan dari wali kelas dua putrinya, yang ternyata belum mengerjakan PR mereka. Ia lupa memantau perkembangan sekolah anaknya karena pekerjaannya, lagi pula biasanya mereka dibantu pengasuh tapi hari ini tumben sekali dua anaknya itu tidak mengerjakan PR mereka.
Bersamaan pesan itu, ia tak sengaja membaca pesan dari Marcel semalam. Sangat mengejutkan bahkan sudah kesekian kali ia membaca pesan tersebut, namun kali ini ia tak hanya terkejut tapi juga penasaran.
"Rajendra itu pembunuh."
Kalimat yang tertera didalam pesan tersebut, yang kini membuat Elea termenung. Antara percaya dan tidak, pesan dari Marcel itu penuh ketidak jelasan. Sebab tak ada lagi balasan dari lelaki itu.
"Pembunuh, apa maksudnya?" gumam Elea, kembali membaca pesan tersebut.