Cerita ini menceritakan tentang. Seorang lelaki yang selalu disuruh agar cepat mencari pendamping di umurnya yang hampir mengajak ke 29tahun.
Bagaimana kah kisah selanjutnya!
apakah dia bisa mencari seorang wanita idaman keluarganya?
Atau justru dia harus menerima perjodohan dari keluarganya?
Semakin aku sering bersamanya.
Maka semakin besar rasa cinta yang ku berikan kepadanya.
Semakin besar cintaku padanya.Maka akan semakin besar pula rasa sakit yang akan kurasakan nantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja.21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tutup matanya ya tutup mata!.
Pagi telah tiba saatnya semua orang terbangun dari tidurnya. Sama halnya dengan Xiodi yang terbangun ia mulai membuka matanya. Dan melihat sosok pria yang sudah satu bulan menjadi suaminya. Xiodi mencari bocah kecil yang tadi malam tidur di sampingnya. Namun ia tak menemukan bocah kecil yang membuat harinya penuh warna. Tangan Xiodi mengguncangkan tubuh suaminya itu. Adit yang merasa ada yang membangunkan perlahan matanya terbuka.
"Ada apa?" tanya Adit.
"Aldi kemana Pak?" tanya Xiodi balik kepada suaminya.
"Hah!" Adit bangun dari tidurnya menjadi duduk.
"Dimana Aldi, Pak?" tanya Xiodi lagi.
"Coba kita cari ke seluruh kamar ini dulu..." ucap Adit sambil jalan ke kamar mandi. Mungkin saja Aldi ada di sana. Di sisi lain Xiodi mencari ke ruang ganti namun dia tak menemukan bocah kecil itu. Xiodi kembali dan disana sudah ada suaminya.
"Gimana Pak?"
"Enggak ada"
"Coba kita ke kamar sebelah, mungkin saja ada di kamar Zila! Seperti waktu di rumah Ayah minggu lalu," ucap Xiodi, yang ingat waktu dia menginap di rumah Ayahnya.
Mereka pun keluar kamar dan berjalan ke kamar Zila.
Setelah sampai dengan cepat Xiodi mengetuk pintu itu.
Tok.... Tok... Namun pintu tak kunjung terbuka.
Tok... Tok...Setelah cukup lama mengetuk pintu akhirnya terbuka.
"Iya, Kak" Ucap Zila sambil menguap.
"Mana Aldi? Sama kamu kan?." tuduh Xiodi tanpa basa-basi.
"Iya."jawab Zila, sambil membuka pintu agar Kakak dan Kakak iparnya bisa masuk. Xiodi langsung jalan kearah Aldi yang masih bobok.
" Kamu ya Zil, ini itu rumah orang bukan rumah sendiri jangan seenaknya saja. Kamu kan yang nyuruh Al tidur di sini," tuduhan Xiodi kepada adiknya.
"Enak saja! Enggak gitu ya Kak! Aldi nya yang kesini pagi-pagi, meneror Zila kayak hantu saja," jawab Zila yang enggak terima dituduh Kakaknya.
"Harusnya Kakak berterima kasih sama Zila, karena Kakak bisa tidur berduaan dengan Gege," Ucap Zila lagi.
Xiodi dan Adit saling tatap karena perkataan Zila.
"Ya sudah biar Aldi tidur di sini dulu, kasian kalau di bangunkan," ucap Xiodi yang mau keluar kamar Zila.
"Tuh kan! Kakak ninggalin Aldi sama Zila biar bisa berduaan sama Gege,"Ucap Zila.
Xiodi yang tadinya sudah mau keluar pintu jadi membalikkan badannya dan matanya melotot kearah Zila.Adit yang mendengar adik iparnya itu bingung sendiri.
"Iya-iya keluarlah kalian, saya akan menjaga anak kalian, jangan khawatir tidak akan ada yang menggangu kalian," ucap Zila karena takut Kakaknya marah kepadanya.
Adit dan Xiodi langsung berjalan ke kamar. Setelah sampai kamar Adit menjatuhkan tubuhnya keranjang. Membuat Xiodi heran kenapa suaminya itu tidak siap-siap ke kantor.
"Kok enggak ke kantor Pak?" tanya Xiodi sambil membereskan tempat tidur.
"Enggak! Lagi pengen di rumah saja"
"Mau di rumah saja atau mau nunggu Cese?" tanya Xiodi membuat Adit kaget sejak kapan Xiodi jadi seperti itu.
"Kenapa! Cemburu?" yanya Adit.
Hah apa-apaan ini! Cemburu? Enggak mungkin lah! Gr banget. Batin Xiodi.
"Enggak lah!" jawab Xiodi sambil menggelengkan kepala.
"Tapi kalau kamu cemburu sih wajar-wajar saja, kan suamimu ini memang sangat tampan!" ucap Adit membanggakan dirinya sendiri
Bener-benar duda ini sudah gila. Tampan katanya? Ya Tuhan kenapa umatmu harus menikah dengan orang kayak gini. Batin Xiodi.
Xiodi tak menjawab pertanyaan suaminya itu. Dia berjalan kearah kamar mandi.
"Hoodie kamu mau kemana?" tanya Adit.
"Buang air kecil," jawab Xiodi.
Xiodi yang sudah buang Air kecil dia memutuskan untuk mandi sekalian.Namun setelah selesai mandi Xiodi lupa kalau dia niatnya hanya buang air kecil saja bukan mandi.
Sial! Kenapa bisa lupa, niat cuma buang air kecil kenapa mandi. Dan kenapa disini tidak ada handuk atau kimono. Kira-kira Pak Adit masih di sana enggak ya! Coba panggil dululah siapa tahu masih di sana kan bisa minta tolong kepada dia. Batin Xiodi.
" Pak!"panggil Xiodi yang di dengar Adit namun dia tak menjawabnya.
"Pak Adit apa anda masih di sana?" teriak Xiodi dari dalam kamar mandi. Adit dia masih diam tak menjawab.
"Pak Adit, jika anda masih ada di sana tolong ambil kan saya handuk..." teriak Xiodi. Adit dia masih diam.
"Saya tadi enggak niat buat mandi, jadi saya enggak bawa baju ganti..." teriak Xiodi yang ada di dalam kamar mandi. Adit hanya diam entah apa yang ia pikirkan.
Hah! Mungkin saja Pak Adit sudah keluar. Jadi enggak ada siapa-siapa di kamar, jadi aku aman kalau begitu! Baiklah sudah selesai.Batin Xiodi.
Xiodi membuka pintu itu.
"Cekklek," Adit melihat pintu kamar mandi terbuka. Dia mengalihkan pandangannya ke pintu itu.Dan matanya melihat kaki kiri itu keluar dari pintu kamar mandi.Setelah itu kaki kanannya. Mata Adit yang semula memandang kakinya kini penglihatannya beralih ke paha itu.Perlahan tapi pasti pandangannya yang semula ada di bagian paha sekarang naik bagian atas.
Heh! Adit apa yang kau pikiran! Kenapa otak mu! Apa sudah hilang? Hah apa²an ini kenapa otak ku mesum. Batin Adit yang memukul kepalanya.
Xiodi yang mau berjalan kearah ruang ganti dia shock karena Adit masih di sana.
"Pak Adit, Tutup matanya!" ucap Xiodi yang menutupi bagian paha karena dia memakai hoodie yang tadi ia pakai. Hoodie yang di pakai Xiodi hanya sebatas bawah bokongnya saja. Jadi hal itu membuat Xiodi malu.Karena ada Adit. Adit dia tak mengikuti apa yang istrinya bilang kepadanya.
"Pak Adit saya bilang tutup matanya!" ucap Xiodi sambil menekankan kata tutup matanya. Adit tidak menutup matanya dia malah ingin menggoda istrinya.
"Wah wah Hoodie! Kenapa tidak pakai celana?" tanya Adit membuat Xiodi kesal bukannya menutup matanya tapi malah bertanya sesuatu yang tidak penting menurut Xiodi.
"Pak saya bilang tutup mata!" ucap Xiodi.
"Emang kenapa?" pertanyaan itu membuat Xiodi kesal dengan Adit.
Xiodi memutuskan untuk berlari. Dari pada harus meladeni ocehan suaminya.
Xiodi pun berlari menuju ruang ganti. Namun saat tengah perjalanan dia kepeleset.
"Bruk!" Xiodi jatuh dengan posisi tengkurap.
"Awwwww..." rintihan Xiodi kesakitan.
Adit yang melihat hal itu dia langsung lompat dari ranjang dan menghampiri istrinya itu.
"Hoodie enggak apa-apa kan?" tanya Adit yang mau membantu istrinya. Namun Xiodi dengan cepat duduk dari posisi tengkurap.
"Sudah saya bilang, Bapa tutup matanya, kenapa enggak di tutup?" tanya Xiodi yang masih menutupi pahanya.
"Sini aku bantu," ucap Adit yang mau membantu Xiodi.
"Tidak Perlu!" ucap Xiodi dengan mata berkaca-kaca. Adit yang melihat hal itu sedikit heran karena dia tak pernah melihat Xiodi menangis.
"Kenap Apa sakit?" tanya Adit sambil memegang kaki Xiodi. Hal itu malah membuat Xiodi mengeluarkan isak tangis yang ia tahan.
"Bapa budek atau bagaimana, saya sudah bilang tutup matanya ya tutup mata!" ucap Xiodi yang tak sadar jika dia mengatai suaminya budek.
Adit tak mempermasalahkan hal itu. Dia tak tahu kenapa istrinya menangis.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Adit yang tak tahu jika Xiodi malu karena hanya mengenakan hoodie.
"Bodoh..." jawab Xiodi bangkit dan berjalan kearah ruang ganti.
Tok.. Tok.. Ketukkan pintu dari luar membuat Adit bangun dari duduknya dan harus membukanya.
"Cakklek..." Adit membuka pintu itu dan melihat wanita yang selalu mengejar-ngejar dirinya.
TBC....
ceritanya bagus
walau tidak selurus jalan raya
terima kasih untuk author
yang sudah buat cerita nya bagus
dan agak dikit lain.
🙏🙏
sukses selalu buat authornya
Tuhan memberkati selalu🙏
salam kenal 🙏