Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Cerita
Hawari tersenyum lebar. "Adek dari mana? Aku 'kan anak tunggal. Istriku, iya. Dia punya kakak. Malah bersaudara banyak."
"Jadi ...." Lana makin bingung.
"Fian ini dititipi ibunya padaku. Besoknya dia meninggal."
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun," gumam Lana. "Ayahnya?" Wanita ini masih melongo.
"Itulah yang aku minta dari Fian. Dia tidak mau mencarinya." Hawari melirik Fian.
Lana ikut-ikutan melirik suaminya tapi juga menatap mertuanya. "Kenapa mencari? Apa ayahnya menghilang?"
"Justru aku tak kenal keduanya. Karena itu aku minta Fian mencari."
"Lho, kenapa begitu?" Lana kembali menatap keduanya.
"Sudahlah, Lana. Aku tidak tertarik mencari. Aku sudah punya ayah dan ibu. Itu ya ... mereka berdua ini. Aku sudah nyaman dengan ini. Mencari lagi, entah apa yang terjadi. Belum tentu kamu menyukainya juga." Fian menatap istrinya.
"Apa kamu tidak penasaran?" Lana berpindah menatap Hawari. "Memangnya Ayah juga gak kenal ibunya? Bukankah dia yang menyerahkan Fian pada kalian?"
"Aku bertemu dengan wanita asing yang membuntuti kami berdua waktu di Itali. Akhirnya dia mengaku minta tolong untuk mengasuh anaknya."
"Tu-tunggu dulu." Lana berusaha mencerna cerita dari Hawari. "Tapi kenapa ibunya besoknya meninggal?"
"Seseorang membunnuhnya. Karena itulah ibunya menyerahkan Fian padaku. Ia yakin dirinya takkan selamat."
"Astaghfirullah alazim." Lana menutup mulutnya karena terkejut. "Memangnya apa yang terjadi? Kenapa dia diincar?"
"Aku tidak tahu. Karena itu aku minta Fian mencari ayahnya tapi dia selalu menolaknya."
"Itu berbahaya, Ayah. Mungkin saja mereka berharap aku tidak kembali, agar aku selamat." Fian sekedar menebak.
"Atau kamu memikirkan perasaan ibu," sahut Sarah tiba-tiba.
"Ibuu ...." Fian mendessah pelan. Ia memang begitu khawatir akan perasaan ibunya.
"Ibu tahu, ibu sayang padamu, tapi juga harus sadar kamu bukan milik ibu." Wajah Sarah tampak sedih.
"Ibu ... sudah ya. Kita tidak bahas ini lagi." Fian mengingatkan. Setiap kali Sarah bersedih, ia merasa bersalah.
"Tapi Fian, mereka pasti mencari kamu dan kamu mau tak mau harus pergi menemui ayah kandungmu, Fian," imbuh Hawari.
Fian terlihat santai walau sebenarnya kesal. Ia hanya menunduk menghindari pandangan orang-orang terhadapnya. "Ya, biarkan itu terjadi. Aku tidak ingin memikirkannya sekarang." Ia merapikan kemejanya. "Sekarang 'kan kita sedang membicarakan kehamilan Lana."
"Oh, iya." Sarah tersenyum lagi walau terlihat jelas matanya sempat berkaca-kaca. "Apa kita akan mengadakan nujuh bulanan nanti di rumahmu?"
Fian menatap sang ibu. "Boleh. Ibu boleh undang siapa pun yang ibu ingin untuk datang." Ia berusaha menyenangkan Sarah.
Sarah menyatukan kedua tangan dan bernapas lega. "Haah ... ibu undang siapa aja ya ...."
***
Keduanya masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Fian melangkah lebih dulu karena malas dengan pandangan Lana padanya seolah butuh penjelasan. Malah mereka bertemu Lynda di ruang tengah.
"Mas ...."
Fian terkejut Lynda kembali ke mode awal, berbaju seksi, tapi ia tak peduli. "Sudah berubah lagi?" sindirnya setengah hati.
"Mumpung aku masih di Jakarta, jalan-jalan, yuk! Nginep juga boleh. Aku lagi bosen nih ... gak ada kegiatan," ajak Lynda.
"Maaf, aku lagi gak mood." Fian bergerak mundur ke belakang dan malah menarik tangan Lana. "Aku malah ingin tidur-tiduran dengan calon anakku di kamar. Temanmu 'kan banyak. Kenapa gak pergi dengan mereka saja?"
"Tapi aku ingin pergi bersamamu ...," rengek Lynda.
"Salah sendiri, kenapa kamu biarkan suamimu menikah lagi," ledek Fian. Ia tak peduli lagi saat Lynda merengek di belakang dengan berbagai macam permintaan. Yang ia inginkan saat ini adalah bersama Lana.
Lana hanya diam saja. Ia takut mengomentari perseteruan mereka karena keduanya sama-sama kuat dalam memberi bantahan. Tinggal dirinya terombang-ambing dalam tuntutan yang diminta keduanya.
"Lana, kamu duduk sebentar di sini." Fian mendudukkannya di tepi ranjang.
Lana menurut. Ia duduk di tepian.
"Bukan begitu," sahut Fian. "Coba bersandar ke belakang." Rupanya Fian ingin istrinya bersandar di kepala ranjang.
Lana pun bergeser dan melakukan yang suaminya minta. Fian kemudian menarik laci nakas dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dan diserahkan pada Lana.
"Apa ini?" Lana sebenarnya sudah pernah melihat kotak itu tapi tak bisa membukanya, karena kotak itu dikunci.
Fian menyodorkan sebuah kunci kecil sehingga Lana bisa membukanya. "Identitasku."
Wanita berkerudung segitiga berwarna kuning itu membuka tutupnya. Sebuah kalung pendant dan selembar guntingan kertas koran tua terlihat di dalamnya. Lana mengambil pendant berukir yang terkait pada kalung emas dan memperhatikannya.
"Itu bisa dibuka." Fian mengambilnya dari tangan sang istri dan membukanya. Lalu memperlihatkan pada Lana ada dua buah foto terpasang di kanan kirinya. Di kirinya gambar seorang wanita bule yang cantik dan di kanan gambar seorang bayi. "Ini foto ibu kandungku dan yang satu lagi foto aku ketika bayi. Ibuku yang sekarang yang memasang fotoku di sini." Ia menyebut Sarah sebagai "ibuku yang sekarang".
Lana kemudian mengambil guntingan kertas koran lama yang terlipat, lalu membukanya. Kertas itu sudah mulai berwarna kecoklatan dan isinya ditulis dalam bahasa Inggris. Ia membacanya pelan-pelan dalam hati dengan bahasa Inggris sesuai kemampuannya. Akhirnya ia mengerti apa yang tertulis di sana. "Keluarga mafia?"
Saat menoleh ternyata Fian tidak ada di tempatnya. Tiba-tiba pria itu datang dari arah berbeda dan mengambil kotak itu dari pangkuan Lana. Sebagai gantinya, pria itu meletakkan kepalanya di sana.
"Mas?" Lana menunduk.
"Kamu sudah baca semua?"
"Iya. Ini maksudnya, keluarga mafia itu kamu?"
"Itulah yang aku pikirkan. Tidak aneh kalau ibu kandungku terbunnuh. Bukankah kehidupan mereka seperti itu? Membunnuh atau terbunnuh. Aku ingin hidup damai, apa itu tidak mungkin? Mungkin, kan, selama aku tidak mencari mereka?"
"Tidak tahu ya, tapi Ayah menyuruhmu mencari ayahmu. Apa kamu tidak ingin menemui mereka?"
"Sebenarnya aku lebih memikirkan ibu." Fian menerawang ke langit-langit.
"Apa kamu takut dengan kehidupan mereka?"
Fian menatap istrinya. "Kalo kamu, gimana?"
"Eh, aku?" Lana tampak bingung. "Aku maksudnya gimana?"
"Apa kamu tidak takut hidup sebagai istri seorang mafia?"
"Tidak jadi mafia pun, Mas Fian memang galaknya seperti mafia." Lana merengut sebentar. "Hidup dan mati itu semua atas izin Allah. Kalau takdir tak bisa dihindari, hanya berserah diri kepada Allahlah sebaik-baik perlindungan."
Kembali kata-kata bijak istrinya membuat Fian terperangah. Ia seketika duduk dan mendekap hangat istrinya dari samping.
Lana terkejut.
Pria itu berbicara dengan menempelkan wajahnya di samping wajah Lana hingga terasa jenggot dan kumis tipis Fian menyentuh pipi sang istri. "Jadi kamu takkan pergi bila suatu saat aku tertembbak atau kembali lumpuh?" Suara baritonnya yang berat membuat jantung wanita itu berdetak cepat dan jadi salah tingkah. Pria itu tahu bagaimana membuat hatinya bergetar hebat setiap kali dekat dengannya. Rasanya seperti mimpi berharap pria itu mencintainya.
"Aku bukan orang seperti itu, kamu tahu sendiri, kan?" Lana menatap ke arah lain. Ia selalu gugup tiap kali pria itu menatap wajahnya. Apalagi sedekat ini, seakan ingin mengetahui isi hatinya yang paling dalam.
"Bagus!" Fian makin mempererat dekapan. Ia begitu senang wanita ini begitu setia apa pun yang terjadi padanya. "Ayo, temani aku tidur. Aku ingin tidur ditemani calon bayi ini." Ia menyentuh perut Lana.
"Ini masih sore, Mas. Mas ngak ngajar?" Lana mengingatkan. Biasanya sore seperti sekarang, suaminya pergi mengajar karate di perguruan silat selama beberapa jam.
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp