Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.
Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Menara Kaca
Kegelapan total menyelimuti lantai 40 gedung Central Axis setelah ledakan sabotase Gito memutus aliran listrik utama. Suara dengungan server yang biasanya mendominasi kini digantikan oleh kesunyian yang mencekam, hanya diinterupsi oleh napas yang terengah-engah dan derit kursi roda Rina yang bergeser di atas lantai marmer.
"Kau gila, Agil!" teriak Thorne di tengah kegelapan. Suaranya yang semula tenang kini dipenuhi getaran murka. "Flashdisk itu adalah satu-satunya jaminan keselamatanmu!"
"Jaminan bagi kalian, bukan bagiku!" balas Agil. Ia tidak diam di satu tempat. Mengandalkan memori visualnya sesaat sebelum lampu padam, ia menarik Laila ke balik pilar struktural yang kokoh.
Perang di Dalam Bayang-Bayang
Agil merasakan jantungnya berdegup kencang. Di tangannya, serpihan plastik dari flashdisk merah itu menusuk kulitnya yang melepuh, namun ia tidak peduli. Ia membisikkan instruksi ke telinga Laila.
"Laila, dengar. Gito akan memicu alarm kebakaran di seluruh gedung dalam enam puluh detik. Saat sprinkler air menyala, semua sistem biometrik akan mengalami reset paksa. Kita harus sampai ke lift darurat sebelum Thorne menyadari apa yang terjadi."
Namun, Thorne bukan amatir. Ia mengeluarkan sebuah suar (flare) militer dan memantiknya. Cahaya merah yang intens seketika membakar kegelapan, melemparkan bayang-bayang raksasa ke dinding.
"Cari mereka! Bunuh Agil, bawa wanita itu hidup-hidup!" perintah Thorne kepada dua pengawalnya.
Di sudut ruangan, Rina tertawa parau. Wajahnya yang terbalut perban tampak mengerikan di bawah cahaya merah suar. "Agil... kau selalu merasa paling benar. Kau pikir dengan menghancurkan data itu kau bebas? Data itu ada di dalam kepalaku! Aku adalah salinan aslinya!"
Sprinkler dan Kekacauan
Tepat saat pengawal Thorne mendekati pilar tempat Agil bersembunyi, suara sirine yang memekakkan telinga meledak di seluruh lantai. Detik berikutnya, ribuan liter air menyembur dari langit-langit gedung.
"Sekarang!" teriak Agil.
Air yang mengguyur membuat cahaya suar menjadi kabur dan membingungkan. Agil menerjang pengawal terdekat, menggunakan berat tubuhnya untuk menjatuhkan pria itu ke lantai yang kini licin. Ia berhasil merebut senjata laras pendek dari pinggang pengawal tersebut.
DOR! DOR!
Agil melepaskan tembakan ke arah lampu darurat agar tidak memberikan kesempatan bagi Thorne untuk membidik. Di tengah hujan buatan itu, Laila berlari menuju kursi roda Rina. Ia tidak melarikan diri ke lift; ia menuju wanita yang telah menghancurkan hidupnya.
"Laila, jangan!" teriak Agil, namun suaranya tenggelam oleh suara sirine.
Konfrontasi Dua Wanita
Laila menerjang Rina, menjatuhkan wanita lumpuh itu dari kursi rodanya ke lantai yang tergenang air. Di bawah guyuran air sprinkler, Laila mencengkeram perban di wajah Rina.
"Kau membunuh ayahku! Kau merampas kehormatanku!" Laila berteriak dengan amarah yang selama ini ia pendam. "Kau pikir kau bisa lolos hanya karena kau bersembunyi di balik kursi roda ini?"
Rina tercekik, namun tangannya yang kurus mencoba mencakar mata Laila. "Kau... kau hanya bidak, Laila! Kau seharusnya mati bersama ayahmu yang tidak berguna itu!"
Agil sampai di samping mereka tepat saat Thorne mengarahkan pistolnya ke arah Laila.
"Lepaskan dia, Thorne!" Agil menodongkan senjatanya ke arah tangki gas pemadam api yang ada di dekat Thorne. "Satu peluru dariku, dan lantai ini akan meledak sebelum kau sempat keluar!"
Thorne berhenti. Matanya menatap tangki tersebut, lalu beralih ke Agil. Ia tahu Agil tidak sedang menggertak. Agil telah kehilangan segalanya, dan orang yang tidak punya beban adalah orang paling berbahaya di dunia.
"Kau ingin mati di sini, Agil? Demi wanita ini?" tanya Thorne.
"Aku lebih baik mati sebagai manusia daripada hidup sebagai budak Konsorsium sepertimu," jawab Agil tegas.
Langkah Terakhir Gito
Tiba-tiba, pintu lift darurat terbuka dengan paksa. Gito muncul dengan masker gas dan pelontar granat asap. Ia melepaskan tembakan asap ke tengah ruangan, membuat pandangan semua orang benar-benar tertutup.
"Pak Agil! Ambil Ibu! Cepat!" teriak Gito melalui radio.
Agil menyambar tangan Laila, menariknya paksa menjauh dari Rina yang meronta-ronta di lantai. Di tengah kabut asap dan hujan air, mereka berlari menuju lift.
"Mama..." Agil sempat menoleh ke arah bayangan ibunya.
Rina berteriak dalam kegelapan, sebuah jeritan panjang yang penuh dengan keputusasaan dan kegilaan. Ia mencoba merangkak menuju Thorne, meminta pertolongan, namun Thorne yang pragmatis justru melangkah mundur. Bagi Thorne, Rina kini tidak lebih dari sekadar barang bukti yang memberatkan.
Thorne melepaskan satu tembakan ke arah Rina untuk membungkamnya selamanya sebelum ia sendiri melarikan diri ke arah tangga darurat.
Runtuhnya Sang Raksasa
Agil, Laila, dan Gito berhasil mencapai lantai parkir tepat saat pasukan keamanan gedung mulai mengepung area tersebut. Mereka masuk ke dalam mobil jip hitam yang sudah disiapkan.
Saat mereka memacu mobil keluar dari gedung Central Axis, sebuah ledakan besar mengguncang lantai 40. Api berkobar keluar dari jendela-jendela kaca, mengirimkan hujan serpihan kaca ke jalanan Sudirman. Sabotase Gito pada tangki gas dan sistem kelistrikan telah menghancurkan seluruh lantai server tersebut.
Laila menatap ke belakang, ke arah gedung yang terbakar. Air matanya mengalir, bercampur dengan air sprinkler yang masih membasahi rambutnya.
"Apakah dia... apakah Mama mati?" tanya Laila dengan suara bergetar.
Agil menggenggam tangan Laila. "Thorne tidak akan membiarkan ada saksi hidup. Mama sudah menjadi bagian dari api itu, Laila. Sama seperti catatan Surya Wijaya, dan sama seperti semua rahasia busuk mereka."
Di Atas Puing-Puing
Mobil itu melaju kencang meninggalkan pusat kota Jakarta. Di kursi belakang, Agil membuka telapak tangannya. Di antara luka bakarnya, masih ada chip kecil yang merupakan inti dari flashdisk yang ia pecahkan tadi.
Ia tidak benar-benar menghancurkan datanya. Ia hanya menghancurkan pelindungnya agar Thorne mengira data itu hilang.
"Apa yang akan kita lakukan dengan itu, Pak?" tanya Gito sambil menatap lewat spion.
Agil menatap chip itu sejenak, lalu menatap Laila yang kini tertidur karena kelelahan luar biasa di bahunya. Ia menyadari bahwa selama chip ini ada, mereka tidak akan pernah benar-benar aman. Konsorsium akan mengirim orang lain, Thorne akan kembali dengan nama baru, dan lingkaran setan ini akan terus berputar.
Tanpa ragu, Agil membuka jendela mobil dan membuang chip tersebut ke dalam selokan air yang mengalir deras di pinggiran tol.
"Kita akan benar-benar mulai dari nol, Gito," ucap Agil. "Bukan sebagai pewaris Baskoro, bukan sebagai buronan Rina. Tapi sebagai manusia yang merdeka."
Namun, di sebuah bandara swasta di pinggiran Jakarta, Thorne sedang menaiki jet pribadinya. Ia memegang ponselnya, berbicara dengan seseorang di ujung sana dengan suara yang sangat rendah.
"Operasi Central Axis gagal total. Rina sudah dilenyapkan. Tapi Agil... Agil masih memegang protokol terakhir secara mental. Kirim tim 'Wraith' ke perbatasan. Kita tidak butuh data lagi. Kita hanya butuh anak itu untuk diekstraksi."
Perang ini belum berakhir. Kekaisaran mungkin telah runtuh, namun bayang-bayang yang tersisa kini jauh lebih haus darah.