Menjadi seorang model terkenal ternyata membuat Laluna Bachtiar menjadi sosok yang angkuh dan keras kepala. Luna, kembali ke Indonesia setelah lima tahun menetap dan menjadi model terkenal di Amerika, setelah memergoki sahabat dan kekasihnya berselingkuh.
Kehidupan hedonis yang terbiasa dijalani Luna selama berada di Amerika membuat Rafli Bachtiar (Ayah), marah dan cemas.
Giovanni Halim, supir pribadi kepercayaan Rafli akhirnya menugaskan Gio untuk menjaga Luna kemana pun anak gadisnya itu melangkah.
"Aku benci kamu!" Hardik Luna pada Gio setiap kali Gio berhasil menyeretnya pulang dari club malam.
Gio hanya menatap Luna dingin. Semakin hari keduanya malah semakin akrab. Hingga pada akhirnya, Luna menyadari ada yang mulai aneh dengan perasaannya pada supir pribadinya itu.
Giovanni tidak mampu menolak pesona Nona muda kesayangan Tuannya itu, sementara di kampung halaman, Gio telah bertunangan dengan Dewi.
Bagaimana akhir perjalanan cinta Gio dan Luna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kak Zeva, Asistenku Yang Penuh Kejutan!
Esok hari di perusahaan, Luna menunggu Zeva yang nampaknya sengaja datang terlambat hari ini. Zeva sendiri hanya tersenyum sepanjang perjalanan, membayangkan akan sekesal apa Luna padanya nanti.
Selama ini, selain menjadi asisten setia Laluna, wanita itu juga adalah orang yang paling dipercaya oleh Tuan Rafli. Ia tentu saja tahu bahwa Gio tidak jadi menikah dengan Dewi. Ia juga yang membantu Tuan Rafli untuk menjaga dan menghalangi para lelaki yang hendak mendekati Luna.
Sandiwaranya itu semakin sempurna setiap kali ia berpura-pura menyarankan Luna untuk membuka hati bagi pria lain padahal yang sesungguhnya, ia lah orang yang menggagalkan pria-pria itu untuk mendekati Laluna.
"Zeva, aku percayakan Luna pada mu. Jangan sampai ia menjalin hubungan dengan pria lain selama di London. Buatlah rencana kita senatural mungkin, aku sedang mempersiapkan Gio untuknya disini." Ujar Tuan Rafli melalui sambungan telepon.
"Percayakan semuanya padaku, Tuan. Rencana ini akan berjalan mulus seperti pantat bayi." Zeva dan Tuan Rafli terkekeh bersamaan. Ia tahu Zeva adalah orang yang bisa ia andalkan.
Dan seperti itulah skenario yang telah mereka rancang selama ini. Luna benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa ia memiliki asisten yang sangat misterius seperti ini.
Suara ketukan di pintu ruangannya membuat Luna memutar kursi yang sedang ia duduki. Zeva masuk ke dalam ruangan itu dengan santai.
"Kak Zeva."
"Iya, Lun, agenda kita hari ini bertemu dengan.."
"Stop! jangan bahas masalah pekerjaan dulu." Luna menghentikan Zeva yang sudah tersenyum simpul sedari tadi. Ia tahu sebentar lagi ia akan banyak sekali menghadapi pertanyaan dari atasannya ini.
"Lalu apa yang akan kita bahas, Lun, selain masalah pekerjaan?" Tanya Zeva pura-pura lugu. Luna menatap perempuan itu gemas.
"Kakak jangan pura-pura begitu." Luna sudah mencak-mencak dengan tangan berada di pinggang.
"Baiklah, ayo tanyakan apa yang ingin kau tanyakan." Zeva mengakhiri sandiwaranya lalu menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Apa Kak Zeva dan Papa sekongkol?" Tuding Luna langsung.
"Sekongkol apanya Lun?" Urat jahilnya timbul lagi. Zeva terkikik dalam hati.
"Kak Zeva!" Pekik Luna gemas. Zeva tidak kuasa menahan tawanya. Ia tertawa kencang sekali.
"Bagaimana Lun, apa aku sudah bisa menjadi artis sepertimu dulu? aktingku bagus kan?"
"Benar sekali Kak, kau pemain peran yang sangat baik. Sekarang, jelaskan semuanya kak."
Luna kembali duduk di kursinya. Ia menunggu Zeva kembali bersuara dan menceritakan segalanya.
"Papa mu telah mengatur semua ini dengan sangat baik, Lun. Ia sengaja menahan langkah Gio untuk segera menemui mu waktu ia gagal menikah. Papa ingin Gio memperjuangkan mu. Ia juga memberi modal besar agar Gio bisa membangun kerajaan bisnis. Selama berjuang, Gio selalu memantau dirimu dari kejauhan. Ia rindu sekali padamu. Setelah tiga tahun, Gio sukses besar. Namanya ada diantara jajaran pengusaha terkaya di Indonesia. Dia siap bertemu denganmu dalam keadaan sudah benar-benar mapan. Dan.. maafkan aku memberi passcode itu juga padanya." Zeva terkekeh di akhir cerita.
Luna tertawa kecil, tidak menyangka Gio telah sukses. Tidak menyangka, papa melakukan banyak sekali untuk hubungan mereka.
"Kak Zeva, walaupun Mas Gio Masih seperti dulu, hanya seorang ajudan pribadi, aku tetap mencintainya." Ujar Luna dengan mata berkaca-kaca.
"Ya, tetapi lihatlah betapa tidak hanya kau yang mencintainya, Lun. Papamu bahkan telah mempersiapkannya dengan sangat baik hanya untukmu."
Luna tersenyum lagi lalu menghampiri Zeva dan merentangkan kedua tangannya.
"Give me a hug, sis."
Zeva segera memberi pelukan hangat untuk Luna yang telah ia anggap sebagai adiknya itu.
"Kak Zeva terima kasih banyak ya."
"Sekarang waktunya kau berbahagia dengan cinta sejati mu, Lun." Zeva mengusap lembut punggung Luna. Luna mengangguk.
"Kau asistenku yang penuh kejutan." Luna melepaskan pelukannya. Zeva menatapnya hangat.
"Jadi dimana Tuan Giovanni? apa ia tidak ikut bersamamu?" Tanya Zeva celingukan.
"Dia sedang di apartement, Kak. Aku meninggalkannya karena dia terlihat lelah sekali." Sahut Luna sambil tersenyum kala mengingat Gio.
"Kalian pasti sudah membuat ranjang berantakan semalaman ya?" Goda Zeva.
"Aku inginnya begitu, Kak. Tapi Mas Gio tidak akan menerobos keperawanan ku sebelum kami benar-benar menikah." Sahut Luna.
"Kau serius? Luna aku kira.."
"Kak Zeva kira aku sudah tidak perawan?" Luna mendelik. Zeva hanya mengacungkan jarinya mengisyaratkan bendera damai.
"Aku bangga padamu, Lun." Sekali lagi Zeva memeluk Luna.
Zeva pernah mendengar bagaiman kehidupan hedonis yang Luna jalani ketika berada di Amerika dulu. Ia pikir ya Luna pasti sudah tidak suci lagi mengingat pergaulannya yang terlampau bebas itu dahulu.
Tapi ternyata ia salah, Luna tetap bisa menjaga kesuciannya. Ia memang sempat nakal, tapi tidak sampai membuatnya kehilangan kehormatan.
"Aku pernah berjanji pada Mama, tidak akan pernah menodai ini sebelum menikah dengan pria yang benar-benar mencintaiku, Kak." Luna menerawang. "Meskipun aku sering kali meminta pada Mas Gio untuk bercinta denganku, tapi ia tetap tidak mau melakukannya. Itulah yang membuat aku sangat mencintainya." Sambung Luna lagi.
Zeva mengangguk paham. Tuan Rafli nampaknya memang tidak salah memilih Gio sebagai menantunya kelak.
Saat sedang sama-sama terdiam, pintu kembali terbuka. Luna melihat Gio sudah rapi dan gagah dengan kaus ketat yang membentuk otot tubuhnya. Zeva baru sekali itu melihat Gio dari jarak dekat, sebab selama ini ia hanya berkomunikasi dengan pria itu melalui ponsel. Gio memang tampan, hanya itu yang pas untuk menggambarkan perawakan lelaki itu.
"Kau meninggalkanku, sayang." Gio menghampiri Luna yang segera menyambut lelaki itu.
"Mas Gio masih tertidur tadi. Aku tidak tega membangunkan mu." Sahut Luna dengan lengan masih merengkuh pinggang Gio.
Zeva hanya geleng kepala melihat Luna. Ia menjadi sosok yang sangat berbeda ketika Gio telah bersamanya. Ia nampak manja, dan itu terlihat menggemaskan.
"Terima kasih atas bantuan mu selama ini, Zeva." Gio tersenyum dan Zeva mengangguk.
"Kak Zeva, aku akan keluar bersama Mas Gio. Tolong awasi perusahaan ya." Luna meriah tas lalu melenggang keluar bersama Gio.
Zeva tersenyum senang melihat kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu. Di luar ruangan, semua staff gempar. Ratu mereka telah bertemu dengan lelaki yang baru sekali ini mereka lihat.
Para staff perempuan menelan ludah melihat Gio yang nampak sempurna. Luna tersenyum hangat pada siapa saja yang menyapanya.
Gio merangkul bahu Luna lembut. Saat mereka masuk ke dalam mobil, Gio kembali mencium bibir gadis yang akan segera menjadi istrinya itu.
Nampak nafas keduanya memburu. Gio melepaskan ciumannya, ia menyatukan keningnya dan kening Luna. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Aku tidak sabar ingin segera menikahi mu, Laluna Bachtiar." Gumam Gio setelah nafasnya berangsur normal kembali.
Luna memeluk Gio, pelukan ini selamanya akan menjadi milik Luna seorang. Tidak akan pernah terbagi lagi.