Season 1 : Nadia dan Nathan (Tamat)
Season 2 : Nara dan alex (Tamat)
Baca juga kelanjutannya dengan judul dan kisah baru "Pernikahan Paksa Karina"
Seperti biasanya, baca lima episode dulu ea biar enak bacanya.
Nadia Ayu Purnama adalah seorang gadis cantik berusia sembilan belas tahun yang terpaksa menikah dengan seorang rentenir.
Menjadi istri muda dari seseorang yang lebih pantas disebut paman olehnya membuatnya tersiksa. Apalagi tekanan dari Devi, istei pertama Bondan yang selalu menyiksanya bukan hanya dengan fisik, tapi juga dengan perkataan yang selalu membuat air mata Nadia meleleh.
Akankan seumur hidup dia berada dalam kubangan menjadi istri kedua yang menderita? Atau apakah dia dapat terlepas dari laki-laki yang membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri?
Mari kita Do'akan agar Nadia menemukan laki-laki yang dapat menyelamatkan hidupnya dan menerima Nadia dengan cintanya yang tulus. Aamiiin.
Ikuti ceritanya ya Zheyenk 😘
Jangan lupa Vote dan Rate dulu dong 😁
Terus masukin juga jadi favorit kamu 😎
Ya udah deh. Silahkan membaca 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_OK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Aku Kehilangan Semuanya
Nadia telah sadar tiga puluh menit yang lalu. Saat ini dia berada di sebuah ruangan VIP dengan fasilitas lengkap di dalamnya. Joni duduk di kursi tepat di depan brangkar tempat wanita cantik itu terbaring. Wajahnya menunduk dalam. Sedangkan Dokter Nathan sedang pergi menemui adiknya yang notabene dokter kandungan yang merawat Nadia ketika tiba di klinik tersebut.
Nada tidak tahu apa yang terjadi hingga ia berada di ruangan yang ia kenali sebagai ruang rawat sebuah rumah sakit yang khas dengan aroma obat-obatan yang menyengat. Dari tadi pun Joni hanya diam.
“Sudah cukup penderitaanmu Nadia. Lebih baik kamu segera pergi dari sini. Aku akan membantumu kabur dari juragan.” Kata Joni setelah sekian lama dia merenung dan berfikir.
Nadia terkesiap mendengar pernyataan yang dilontarkan Joni.
“Kenapa kamu bilang seperti itu Jon? Tidakkah kamu sadar jika perkataan mu itu bisa membahayakan keluargamu?”
Tentu saja Joni tahu. Joni telah menghabiskan hidupnya di desa itu. Tumbuh di sana bersama warga yang lain. Tidak ada yang tidak tahu apa akibatnya jika menghianati Juragan Bondan. Dan apa yang dikatakan Joni barusan sudah cukup untuk termasuk di dalamnya.
“Tidak akan ada yang tahu. Aku akan mengatur segalanya untuk itu.”
“Ini sangat berbahaya Jon.”
“Aku tahu. Tapi aku sudah tidak tahan melihatmu menderita lebih jauh Nad. Kamu sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Dan aku ikut merasa sedih dengan semua penderitaanmu Nadia.”
“Terima kasih atas semua perhatian dan kasih sayangmu Jon. Tapi...”
“Dengarkan aku Nadia, aku mempunyai seorang teman yang bisa membawamu jauh dari tempat terkutuk itu. Kamu bisa memulai hidup baru disana. Sudah cukup semua penderitaanmu selama ini. Kamu berhak bahagia.” Potong Joni cepat. Dia sudah memikirkan ini sejak lama. Ia tidak tega melihat Nadia tersiksa lebih lama lagi.
“Aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap Jon.”
“Anak apa yang kamu maksud Nadia?”
“Maksudmu apa Jon?” tanya Nadia pilu.
“Mereka berhasil Nadia. Anakmu tiada. Mereka berhasil merenggut anak yang ada di dalam rahimmu Nadia.”
Bagai tersambar petir. Nadia meraba perutnya yang datar. Air matanya luruh.
“Anakku Jon...” gumamnya. Joni segera memeluk Nadia. Menepuk punggungnya. Memberikan kalimat penenang untuknya.
“Kenapa mereka sangat tega Jon? Aku tidak pernah meminta apapun dari mereka. Kenapa mereka merenggut satu-satunya yang aku miliki....”
“Tenanglah Nadia. Semua pasti ada hikmahnya.”
“Kamu tidak tahu apa yang aku lalui selama ini demi anak itu Jon. Anak itu adalah cucu yang diinginkan bapakku di akhir hidupnya. Dan sekarang dia... dia....” tangis Nadia semakin pilu.
Joni melepaskan pelukannya. Memegang kedua bahu Nadia. Menatap Nadia dengan pandangan yang serius.
“Itulah mengapa aku memintamu untuk berhenti sampai di sini. Kebahagianmu bukan berada di sini.”
Nadia memikirkan semua perkataan Joni. Memang benar kata Joni. Jika ia tetap disini, dia tidak akan mendapatkan kebahagian sampai kapanpun. Tapi apakah ia akan meninggalkan semuanya disini? Meninggalkan semua cita-cita dan harapannya.
“Tidak Jon, kini semua yang ada padaku sudah hilang. Aku sudah tak punya orang tua, anakku juga sudah pergi. Bahkan aku tidak memiliki cinta saat ini. Tapi aku masih punya kamu dan Nita. Sahabatku yang berharga. Aku tidak akan pernah mengorbankan kalian demi kebahagianku semata.” Sebuah keputusan yang Nadia buat membuat Joni menghela nafas dalam. Ia memalingkan wajahnya dari Nadia dan berjalan menjauh. Membelakangi Nadia.
“Aku dan Nita akan senang melakukan itu untukmu Nadia. Kamu harus bahagia. Pergilah, benar apa yang kamu bilang, sekarang paman Rahmat yang biasanya digunakan untuk mengancammu telah tiada. Anakmu pun juga sudah tiada. Tidak ada lagi beban yang harus kamu tanggung di sini. Pergilah, cari kebahagianmu di tempat lain. Temukan cinta yang akan membahagiakanmu” Joni kembali menggenggam erat tangan Nadia.
“Tidak Jon, aku tidak akan membiarkan pengorbananku selama ini sia-sia. Aku akan tetap di sini. Memastikan tidak akan ada lagi Nadia yang lain di desa ini. Aku tidak akan membiarkan gadis lain merasakan apa ang aku rasakan selama ini.”
“Aku mohon berhentilah Nadia.” Suara Joni bergetar. Air matanya luruh. Joni sang bodyguard meneteskan air matanya untuk Nadia. “Sudah cukup penderitaan yang kamu dapatkan. Kamu berhak bahagia.”
“Hei Jon. Apa ini? Kamu menangis Hah?”
“Kamu tahu apa artinya ini Nadia? Ini adalah batas akhir kesabaranku melihat penderitaan yang kamu dapatkan. Mau tidak mau aku akan membawamu pergi dari tempat terkutuk itu.”
“Joni, terima kasih atas semua yang kamu lakukan. Tapi panggilan hatiku memintaku melakukan hal lain disini.”
“Berhentilah sampai di sini Nadia. Egoislah sedikit saja sekarang.” Tangis Joni semakin luruh. Ia merasa gagal sebagai seorang kakak yang melindungi adiknya.
Nadia mengulurkan tangannya yang tidak diinfus. Menghapus air mata yang luruh di pipi sang bodyguard.
“Aku sudah kehilangan banyak hal hingga sampai di sini Jon. Tinggal sedikit lagi.”
“Kita tidak tahu sampai kapan masalah ini akan berlanjut. Tapi,...”
“Joni, aku butuh bantuanmu untuk mendukung setiap langkahku. Jangan mengecewakanku Jon.”
“Baiklah kalau begitu. Aku akan selalu mendukungmu apa pun keputusanmu. Aku harap ini menjadi keputusan yang tepat.” Nadia tersenyum mendengarnya.
Di luar ruangan, dua orang kakak beradik mendengarkan percakapan dua orang di dalam sana dengan seksama. Keduanya begitu terharu dengan apa yang mereka dengar. Persahabatan yang dalam. Melebihi ikatan persaudaraan.
Kasih sayang antara keduanya begitu tulus. Membuat siapapun yang melihat pasti akan merasa iri. Hubungan seperti inilah yang diinginkan oleh semua orang.
“Sebenarnya siapa dia kak?” tanya Nathasya pada Nathan. Sebelumnya ia mengira jika Joni lah suami Nadia.
“Dia wanita terhebat yang pernah aku temui.”
“Lalu dimana suaminya? Kenapa aku belum melihatnya? Dia pasti sangat beruntung mempunyai istri sehebat dia.”
“Ya. Laki-laki tua itu memang sangat beruntung.”
Nathan pun menceritakan apa yang ia ketahui tentang kehidupan Nadia. Nathasya sangat terenyuh hingga meneteskan air matanya.
“Cita-citanya sangat mulia. Tapi jika suatu saat dia berubah fikiran. Aku akan senang hati menolongnya.” Kata Nathasya dengan mantap. “Sebaiknya aku masuk sekarang Kak. Waktunya aku memeriksa kondisinya.” Dokter Nathan mengangguk. Ia tidak ikut masuk dan lebih memilih duduk menunggu di luar. Tak lama setelah itu, Joni pun menyusulnya dengan helaan nafas yang panjang saat sang Bodyguard itu menjatuhkan dirinya di atas kursi stainles di depan ruang rawat Nadia.
“Bu Nadia beruntung mempunyai orang sepertimu di sampingnya Jon. Jagalah ia sebaik-baiknya.”
“Bagi saya. Nadia itu seperti adik. Saya juga ikut merasakan kesedihan yang ia alami. Sayalah saksi seberapa banyaknya kesedihan yang harus ia lalui selama ini.”
“Kita semua mendo’akan yang terbaik untuknya Jon. Bu Nadia berhak bahagia.” Lagi-lagi Joni menghela nafas. Ia masih berharap Nadia menuruti keinginannya untuk pergi dari desa mereka. Tapi Nadia adalah orang yang keras kepala. Jadi, yang bisa ia lakukan adalah mendampingi dan melindunginya.
“Tetaplah berada di samping Bu Nadia Jon.”
“Saya akan selalu mendukungnya Dokter. Mulai sekarang, saya akan melakukan apapun untuk membuat Nadia lekas terbebas dari sini.”
*
*
*
Terima Kasih Sudah Mampir...😊
Kalau sudah mampir, sepertinya tidak afdhol deh kalau belum kasih jejak 🐾
Ayo kasih like dan komen nih cerita....
Kritik dan saran disambut baik demi kesempurnaan cerita yang akoh buat, terima kasih...🐤