Pertemuan antara widia dengan angga, pria yang merenggut kesuciannnya yang membuat hidupnya hancur. Yang membuat dia harus berpisah dengan kekasih yang sangat widia cintai.
Lalu setelah 8 tahun berlalu dia kembali bertemu dengan angga pria yang telah menghancurkan masa depannya.
Perlahan cinta antara widia dan angga. Akankah angga dan widia bisa bahagia, atau malah sebaliknya.
Bagaimana kisah Cinta widia dan angga selanjutnya.
Ig:@KismiBebby.
Jangan Lupa like dan Votenya. Agar author semakin semangat membuat novelnya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AngelKiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps.35
Terlihat widia hanya bisa menahan rasa sedihnya, dia tak ingin berpisah dengan irwan tapi apa boleh buat dia tak bisa bersama dengan irwan karena dia sedang mengandung anak orang lain.
Kini widia dan ibunya sudah berada di terminal bus, mereka berniat pergi ke bandung ke kampung halaman ibu widia.
Drett, drert, drett...
Handphone widia bergetar, dan saat di lihat nama yang tertera di layar ponselnya seketika widia menangis. Dengan suara serak widia mengangkat panggilan dari irwan.
"Hallo wi, kamu dimana?"
"Mas!"
"Iyah wi."
"Ki..ta akhiri aja hubungan ini."
"Widia, widia april mop udah kelewat sayang, kamu jangan bercanda. Hahaha."
"Aku serius mas."
Seketika irwan dibuat terkejut dengan ucapan widia.
"Ini gak lucu widia, kita bentar lagi nikah loh!"
"Hiks, maafkan aku mas, semoga kamu dapet pengganti yang lebih baik dari aku."
"Kamu kenapa widia, aku gak mau pisah sama kamu. Sekarang kamu dimana?"
"Kamu jangan cari aku lagi."
"widia, widia..."
Tut, tut, tut...
Widia langsung mematikan panggilan tersebut, kini widia hanya bisa menahan rasa sedihnya dia tak mau membuat irwan malu dan jika dia melanjutkan hubungan ini widia akan merasa berdosa telah membohongi irwan.
"Wi." Panggil bu rahayu.
"Iya bu." Jawab widia sambil menyeka air matanya.
Terlihat bu rahayu memandang sendu putri semata wayangnya.
"Ayo bu busnya sebentar lagi berangkat."
Lalu mereka menaiki bus tersebut, terlihat widia memandang keluar jendela karena sekarang adalah hari terakhir dia bisa melihat pemandangan kota jakarta yang menjadi saksi kisah cintanya dengan irwan.
Di lain tempat...
Terlihat irwan mencari keberadaan widia, dia sudah mencari widia ke rumahnya tapi hasilnya nihil widia tak ada di sana. Dan sekarang irwan mencari widia ke terminal bus.
Skip.
Kini irwan sudah berada di terminal bus, tapi tetap saja irwan tak memukan keberadaan widia, terlihat irwan memegangi kepalanya dia bingung harus mencari widia kemana lagi.
Dan saat sebuah bus melewati irwan, dua mata saling bertatapan satu sama lain.
"Widia."
"Mas irwan." Ucap widia pelan.
"WIDIA." Teriak irwan sambil berlari mengejar bus tersebut tapi percuma irwan tak bisa mengejar bus tersebut.
Kini irwan hanya bisa duduk di tepi jalan, sambil menahan isak tangisnya.
"Kenapa? kenapa kau meninggalkanku widia, Apa salah ku widia." Ucap irwan.
Di lain tempat...
Widia tengah manahan air matanya, dia tak menyangka jika akan bertemu dengan irwan. Widia tahu jika rasa cinta irwan pada dirinya sangat besar dan begitu juga dirinya sangat mencintai irwan tapi takdir berkata lain.
Kini widia dan ibunya akan pergi ke daerah bandung, tepatnya di kab.Bandung barat, kec. Cipeundeuy. Di sana adalah tempat tinggal ibunya dulu sebelum menikah dengan almarhum ayah widia. Dan di sana juga ada rumah peninggalkan kakek dan nenek widia karena mereka berdua sudah meninggal dan sekarang mungkin rumahnya sudah tak terurus.
Kini widia memegangi perutnya yang masih rata karena usianya yang masih kecil sehingga belum terlihat.
"Maafkan ibu nak, karena berniat untuk membunuhmu dan sekarang ibu janji akan menyayangimu sepenuh hati ibu." Uca widia pada janin yang ada di dalam perutnya, sambil tersenyum widia terus mengelus perutnya.
Sementara bu rahayu yang melihat widia hanya tersenyum karena sekarang widia bisa menerima keberadaan anak yang ada di perutnya.
sedangkan hukum buat alat musik dan musik itu sendiri adalah harom'
dan di tambah dengan Joget" di depan para Ikhwan 😥 miris