NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Suasana di dalam rumah kayu itu terasa tenang, hanya ada suara gemericik air dari pancuran di luar. Namun, ketenangan itu pecah saat pintu depan terbuka dan dua orang warga masuk sambil memikul keranjang anyaman berisi sayuran segar dan hasil panen.

"Permisi, Pak Tua. Ini hasil panen dari ladang bawah untuk stok dapur desa," suara itu terdengar hangat dan akrab.

Naura, yang tadinya sedang mencoba melemaskan otot kakinya, seketika membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak.

Deg

Suara itu

suara yang sangat ia kenali, suara yang selama ini hanya ia dengar dalam mimpi-mimpinya yang paling dalam.

Ia mendongak pelan, dan di ambang pintu berdiri seorang pria paruh baya dengan topi caping dan seorang wanita dengan kain yang melilit kepalanya. Mereka adalah Mama dan Papa Naura.

"Eh, ada tamu ya?" tanya wanita itu ramah. Ia menatap Naura dan Arkan dengan senyum tulus, namun matanya tidak menunjukkan kilatan pengenalan sama sekali. Kosong.

"Kalian pendaki yang tersesat ya? Kasihan sekali, wajahnya sampai pucat begitu."

Naura meremas pinggiran balai-balai bambu hingga buku jarinya memutih. Ia ingin berteriak, ingin menghambur ke pelukan mereka, tapi dia tidak boleh gegabah.

"I-iya, Tante... kami tersesat," suara Naura bergetar hebat. Ia menunduk dalam, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya agar air matanya yang mulai menggenang tidak terlihat.

"Ya sudah, istirahat yang cukup ya. Pak Tua, kami permisi dulu mau ke pasar," kata Papa Naura sambil menepuk bahu pria tua pemilik rumah, lalu mereka berdua berbalik dan pergi begitu saja.

Begitu sosok kedua orang tuanya hilang di balik pintu, keheningan menyelimuti ruangan. Arkan, yang sejak tadi hanya diam mengamati, melirik ke arah Naura. Ia melihat bahu gadis itu gemetar hebat.

"Nau, sudahlah," bisik Arkan dengan nada agak kesal. "Pengejaran belum berakhir. Jangan buang energi buat ekting menangis begitu. Lo aman sekarang, mereka cuma warga biasa."

Naura tidak menjawab. Ia justru membungkam mulutnya sendiri dengan tangan, mencoba menahan isak tangis yang mulai meledak. Air matanya luruh dengan deras, membasahi lantai kayu rumah itu.

Arkan mengerutkan kening. Ia merasa ada yang aneh. Naura yang ia kenal adalah gadis yang selalu punya jawaban untuk setiap sindirannya, bukan gadis yang akan menangis tersedu-sedu hanya karena lelah.

"Naura? Lo denger gue?" Arkan mendekat, suaranya sedikit melunak karena rasa khawatir yang mulai muncul. "Kaki lo sesakit itu? Atau ada luka lain yang belum lo bilang?"

Arkan berlutut di depan Naura, mencoba melihat wajah gadis itu.

Deg

Saat Naura mendongak, Arkan tertegun. Mata Naura merah padam, dan sorot matanya menunjukkan luka yang jauh lebih dalam daripada sekadar cedera fisik.

"Mereka... mereka orang tua gue, Arkan," bisik Naura dengan suara yang pecah.

Arkan terdiam seribu bahasa. Matanya membelalak kecil. Ia menatap ke arah pintu tempat kedua warga tadi pergi.

"Tapi mereka... mereka nggak kenal gue," lanjut Naura di sela isakannya. "Mereka lihat gue kayak orang asing. Mama... Papa... mereka bener-bener nggak ingat kalau punya anak perempuan."

Arkan merasakan dadanya sesak. Ia yang selama ini hidup dengan kedisiplinan militer dan kaku seperti kulkas, kini merasa tidak berdaya melihat kehancuran di depan matanya.

Arkan perlahan mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya menepuk bahu Naura dengan kaku namun lembut.

"Gue nggak tahu harus bilang apa," gumam Arkan pelan. "Tapi kita di sini sekarang untuk menghancurkan mereka yang melakukan ini pada lo. Kita nggak boleh berhenti sekarang."

Naura menghapus air matanya dengan kasar, mencoba mengumpulkan sisa kekuatannya. "Gue akan hancurkan Black Ledger, Arkan. Gue bersumpah."

Arkan mematung. Kata-kata Naura seperti hantaman telak yang meruntuhkan dinding pertahanan emosinya. Ia melihat gadis yang biasanya paling berisik, paling keras kepala, dan paling lincah itu kini tampak begitu rapuh, seolah jika disentuh sedikit saja, ia akan hancur menjadi serpihan.

Isak tangis Naura semakin menyesakkan dada. Ruangan kayu yang sempit itu terasa dipenuhi oleh duka yang teramat dalam.

"Arkan..." suara Naura nyaris hilang, tercekik oleh tangisnya sendiri. Ia mendongak, matanya yang sembap menatap Arkan dengan tatapan memohon yang belum pernah Arkan lihat sebelumnya. "Boleh... boleh gue minta peluk? Sebentar saja. Gue cuma perlu tahu kalau ini semua nyata... kalau gue masih punya seseorang yang kenal siapa gue."

Arkan mematung. Permintaan Naura seolah menghentikan sistem dalam otaknya. Ia menatap gadis di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan.

​Melihat Arkan yang hanya diam membeku, Naura menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Ia merasa bodoh karena telah menunjukkan kerentanan yang begitu besar di depan rekan setimnya yang paling tidak ekspresif.

​"Kalau lo nggak mau, nggak p—"

​Belum sempat Naura menyelesaikan kalimatnya, Arkan bergerak maju secara tiba-tiba. Ia menarik Naura ke dalam pelukannya dengan satu gerakan mantap, memutus jarak di antara mereka. Naura terkesiap, namun sedetik kemudian ia menyandarkan kepalanya di dada Arkan, membiarkan pertahanannya runtuh sepenuhnya.

​Tangannya meremas jaket taktis Arkan dengan kuat, sementara isak tangisnya kembali pecah, lebih lirih namun penuh dengan emosi yang selama ini ia pendam.

Arkan tetap diam, namun ia melingkarkan lengannya dengan protektif di bahu Naura. Ia tidak pandai berkata-kata, tapi lewat tindakan itu, ia seolah menegaskan bahwa Naura tidak sendirian dalam kegelapan ini.

​Cukup lama mereka dalam posisi itu, sampai napas Naura mulai teratur dan getaran di bahunya mereda. Perlahan, Arkan melonggarkan pelukannya, membiarkan Naura menjauh sedikit untuk menghapus sisa air mata di pipinya.

​"Makasih," gumam Naura, suaranya masih serak. Ia mencoba memaksakan senyum kecil, meski matanya masih tampak sembap. "Maaf, gue cengeng."

Arkan berdeham, kembali memasang wajah datarnya meski telinganya sedikit memerah. "Jangan dibahas lagi. Sekarang, cuci muka lo. Kita punya misi yang harus diselesaikan"

Naura mengangguk tegas. Kilatan amarah kini mulai menggantikan kesedihan di matanya. "Ya. Mari kita buat mereka menyesal karena sudah membiarkan kita tetap hidup."

......................

Suasana di luar rumah panggung itu semakin ramai. Kabar tentang dua remaja kota yang tersesat dan terluka cepat menyebar dari mulut ke mulut. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang mantap menaiki tangga rumah kayu tersebut.

Rupanya warga berinisiatif memanggil Pak Kades. Pria itu datang dengan raut wajah cemas namun menenangkan. Di belakangnya, beberapa pemuda desa mengikuti, membawa kotak kayu berisi ramuan tradisional.

"Kasian sekali anak-anak ini," bisik seorang ibu paruh baya di luar pintu. "Lihat yang perempuan, matanya sampai merah begitu. Pasti ketakutan sekali semalam di tengah hutan."

"Iya, untung temannya ini sigap. Kalau tidak, entah jadi apa mereka," timpal warga lain sambil menatap Arkan dengan penuh simpati.

Pak Kades melangkah masuk dan segera menghampiri mereka. Ia melihat Naura yang masih mencoba menstabilkan napasnya dan Arkan yang terus berada di sisi gadis itu.

"Jangan takut, Nak. Saya Kades di sini," ujar Pak Kades dengan suara kebapakan. Ia melirik pergelangan kaki Naura yang mulai membiru. "Neng, kakinya sepertinya terkilir parah. Di sini fasilitas terbatas, tapi di rumah saya ada obat-obatan dan istri saya bisa membantu membalut luka kalian dengan benar."

Arkan hendak menolak secara halus karena insting waspadanya, namun Pak Kades sudah memberikan instruksi kepada para pemuda.

"Ayo, bantu pindahkan mereka ke rumah saya. Di sana lebih luas dan tenang agar mereka bisa istirahat," perintah Pak Kades. Ia kemudian menatap Arkan. "Jangan sungkan, Nak. Di desa kami, tamu adalah titipan Tuhan. Kalian harus diobati dulu sebelum memikirkan cara untuk pulang."

Warga desa pun berbondong-bondong membantu. Ada yang membawakan tas mereka, ada yang menyiapkan payung karena matahari mulai terik, dan beberapa pemuda bersiap membantu Arkan jika ia butuh bantuan untuk memapah Naura.

"Terima kasih banyak, Pak... kami benar-benar merepotkan," ujar Naura lirih, mencoba menyembunyikan sisa kesedihannya di balik senyum tipis.

"Sama sekali tidak merepotkan, Neng. Mari, rumah saya hanya di depan balai desa itu," jawab Pak Kades ramah.

Sambil berjalan pelan menuju rumah Pak Kades, Naura dan Arkan mendengar bisik-bisik tulus dari warga yang mereka lewati.

"Sing sabar ya, Dek... nanti kalau sudah sembuh, kami antar ke terminal pasar," seru seorang nenek dari teras rumahnya.

Kehangatan warga ini terasa sangat kontras dengan dinginnya organisasi yang sedang mengejar mereka. Bagi warga desa ini, Arkan dan Naura hanyalah dua remaja malang yang tersesat, tanpa tahu bahwa di balik identitas itu, ada rahasia besar yang bisa mengancam nyawa siapa saja.

Sesampainya di rumah Pak Kades yang lebih besar dan nyaman, Naura didudukkan di sofa empuk. Istri Pak Kades segera datang membawa baskom air hangat dan kain bersih.

"Biar Ibu lihat kakinya ya, Neng," ujar istri Pak Kades lembut.

Istri pak kades pun memijat dan mengompres kaki naura dengan penuh hati hati

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!