Ibrahim Adlan baru menyadari telah jatuh cinta pada Najwa aulia,di saat gadis itu sudah di persunting oleh kakak sepupunya sendiri yang bernama Irfan Zidni.
Mempercepat keberangkatannya untuk melanjutkan study ke Ummul-Quro adalah langkah yang di tempuh oleh Ibrahim Adlan untuk menghindari pernikahan gadis yang di cintainya begitu dalam itu.
Disaat,Ibrahim Adlan sudah memiliki kemantapan hati untuk melupakan perasaannya setelah dua tahun berlalu,ia mendapat kabar kalau Irfan Zidni meninggal karna sebuah kecelakaan.Bukannya pulang untuk meraih kembali cintanya,Ibrahim Adlan justru menyerahkan perjalanan cintanya pada kehendak Taqdir.
Saat ia pulang dua tahun kemudian,keluarganya menjodohkannya dengan Aisha,gadis cantik yang sepadan dengannya.yakni sama-sama anak Kyai pemilik pesantren.Di saat yang sama ia juga kembali bertemu dengan Najwa Aulia yang masih di cintainya tanpa jeda.
Siapakah kemudian yang akan di pilih oleh Ibrahim Adlan.Apakah Aisha yang telah di anggapnya sebagai adik,ataukah Najwa yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengannya,yang mungkin tidak akan di setujui orang tuanya..
Untuk tau jawabannya,simak ceritanya yukk..
ENGKAULAH TAQDIRKU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Engkaulah Taqdirku 35
K.h Umar Fanani sejenak terdiam,setelah apa yang di tuturkan oleh putranya.Dalam raut wajahnya yang tenang,tak dapat di tebak,kiranya apa yang ada dalam maya pikiran Beliau.
Ibrahim Adlan Fanani pun diam, dengan kepala menunduk sopan , menunggu akan hal apa yang akan di sampaikan oleh Aba-nya setelah apa yang di utarakannya.
Nyai Mabruroh yang ada di antara keduanya, juga diam.membuat suasana dalam ruang keluarga itu menjadi hening.
" Adlan!!"
" Dhalem Aba.."
" Jika aku setuju dengan keputusanmu, apa pendapatmu?"
" Saya sangat berterima kasih kepada Aba dan Ummi.juga sangat bersukur kepada Allah,atas segala
karuniaNya." Ibrahim Adlan menjawab mantap.
" Dan jika aku tidak setuju dengan keputusanmu??"
Kyai Umar Fanani menatapnya dengan seksama.
"Aba pasti punya alasan,dan jika alasan itu dapat di benarkan,sebisa mungkin saya akan mematuhi Aba".
" Meskipun kau sudah bagitu mantap dengan dengan
pilihanmu??"
" Ia".
" Alasannya??"
" Karna mematuhi orang tua,adalah sebagian dari jalan mematuhi Allah."
" Sekalipun orang tuamu salah??"
" Allah pasti akan menunjukkan jalan kebenaranNya".
Entah kenapa,Nyai Mabruroh yang justru nampak terlihat tegang dengan tanya jawab yang terjadi di antara suami dan putranya itu.Meskipun ia tau kalau
kalau Kyai Umar Fanani hanya ingin melihat keteguhan hati , Ibrahim Adlan Fanani saja.
" Nak!,aku tau," sejenak Kh Umar Fanani menghela nafas." Ketika kau sudah menyampaikan keputusanmu padaku,tentu karna kau sudah merasa yaqin dengan pilihanmu.Dan sudah melewati proses untuk menuju keyaqinan tersebut...aku percaya padamu".
Nyai Mabruroh tersenyum dengan ucapan suaminya,ada rasa bangga tersendiri sebagai seorang ibu atas diri putranya.
"Dan aku melihat,kalau Najwa Aulia itu sudah memenuhi kriteria yang sesuai seperti apa yang di anjurkan oleh baginda nabi". kata Kyai Umar Fanani.
Seperti sudah di ketahui bersama, bahwa ada empat kriteria yang di anjurkan oleh baginda nabi terhadap seorang laki-laki , bila ingin memilih pendamping hidup.
Pertama, wajahnya.kedua ,nasabnya atau garis keturunan.ketiga, hartanya.dan ke empat,Agamanya.
Seorang ulama' sholih menafsirkan , kenapa wajah menjadi kriteria yang pertama di sebut.Karna sebuah ikatan harus ada landasan cinta.dan awal mula tumbuh rasa cinta di antara pria dan wanita adalah dari pandangan mata.(walaupun tidak selalu begitu).
dan yang di pandang pertama, di awal berjumpa,adalah wajahnya.wajah yang menarik,meneduhkan di pandang,akan memberi kesan tersendiri di hati.
Kedua,nasab atau garis keturunan.
Di anjurkan dari keturunan yang baik,bukan yang berarti harus anak Kyai,Ustadz ataupun anak seorang Habib.bukan pula harus dari keturunan orang-orang berpangkat.Tapi yang di maksud keturunan yang baik adalah berasal dari keluarga yang paham agama dan
dan berusaha menjalankannya.
Karna kemuliaan di sisi Allah adalah karna taqwanya,bukan karna ia anak keturunan dari siapa.
Ketiga, hartanya.Karna materi adalah salah satu penunjang,menjalankan ibadah dengan tenang dalam hidup berkeluarga.juga menjadi penunjang untuk mensyiarkan kebaikan.
Dan yang keempat, adalah Agamanya.yakni seorang yang yang beragama dengan baik.karna yang menganjurkan beberapa kriteri ini, adalah baginda nabi Muhammad SAW, nabinya kaum muslimin, maka yang di maksud agama disini,adalah Islam tentunya.
Kenapa agama di sebut terakhir, karna agama adalah kunci dari ketiga kriteria sebelumnya.
Nabi melanjutkan dalam sabdanya, jika kriteria satu, dua , dan tiga tidak ada.tapi kriteria empat ada.maka itu sudah cukup.tapi jika kriteri satu, dua, dan tiga ada.tapi yang ke empat tidak ada.maka itu tidak cukup.Yakni tidak di anjurkan.
Demikian,ulama sholih itu menafsirkan.
Wallahu A'lam.semua di kembalikan pada kefahamannya masing- masing.
Tapi disini, Kyai Umar Fanani beserta keluarga,mengambil kefahaman sesuai penafsiran tersebut.Dan seperti itulah cara pandang mereka selama ini dalam memilih pasangan hidup, dengan di tambah satu kriteria lagi tentunya.Yang bisa menjadi pendidik serta tauladan yang baik untuk anak- anaknya, keluarganya, dan para santri nya .
Dan semua , sudah ada dalam diri Najwa Aulia, seperti yang di ucapkan oleh Kyai Umar Fanani barusan.
"Kau bisa anggap, kalau Aba dan Ummi sudah setuju Adlan.".
Ibrahim Adlan terdongak, menatap kedua orang tuanya dengan senyum.dan selaksa kalimat syukur bertebaran dalam dadanya.
Meski ia tau.kalau Abanya itu belum selesai bicara.
" Tapi.." Kyai Umar menggantungkan kalimatnya sejenak. tuh, benar kan firasatnya Adlan.tapi jangan
negativ dulu.Kyai Umar Fanani adalah seorang yang
bijaksana.
" Aku tidak mengijinkan, kau melaksanakan rencana itu sekarang.Tapi tunggulah beberapa waktu ke depan!".
Ibrahim Adlan tampak menghela nafas.Pasalnya, sang Aba tidak menjelaskan waktu tersebut secara rinci.yang bisa jadi, waktu itu sebentar lagi, atau masih cukup lama dari saat ini.
Bisa jadi satu tahun lagi, atau dua tahun lagi, atau...
Aahhh..padahal, sudah hampir lima tahun ia memendam perasaannya kepada Najwa Aulia.
yang semakin lama perasaan itu bukan semakin pudar, tapi semakin bertambah saja.Membuat keyaqinannya untuk menghalalkan wanita itu, semakin tak terbantahkan.
Sang ayah tersenyum kecil, melihat raut wajah tampan putranya, yang tampak ada beban di sana.
" Adlan, Aba tidak memintamu menunggu dalam waktu lama.Seperti lamanya waktu Nabi Ya' qub menunggu untuk dapat menikah dengan Dewi Rohil.
atau seperti lamanya waktu Siti Zulaikha menunggu untuk dapat hidup bersama dengan Nabi Yusuf.
karna pasti, kau tidak akan sanggup untuk itu.".
Ibrahim Adlan tersenyum dan menunduk dengan sindiran kecil dari Kyai Umar itu.Ada rasa malu dalam dirinya, sekaligus lega.
Malu karna dirinya sudah mengeluh dengan waktu yang sudah di jalaninya.Waktu yang memang sudah di tentukan oleh Allah untuknya.yang sebenarnya tidak lah seberapa lama bila di bandingkan dengan kisah- kisah Nabi yang di sebutkan olah Kyai Umar Fanani barusan.
Nabi Ya'qub mencintai Dewi Rohil, ibunda dari Nabi Yusuf, namun tak langsung dapat menikah dengan wanita yang di cintainya, karna ia di syaratkan untuk menggembala domba dulu selama kurang lebih tujuh tahun.Dan setelah itu Nabi Ya'qub di minta untuk menikah dengan kakak dari Dewi Rohil terlebih dahulu yang bernama Lia,setelah beberapa tahun, barulah bisa menikah dengan Dewi Rohil dan memiliki putra Nabi Yusuf.
Begitupun dengan Siti Zulaikha yang jatuh cinta pada Nabi Yusuf.Ia harus melewati waktu menunggu selama tiga puluh tahun lamanya.Dalam masa itu Allah mengarahkan cintanya yang semula dari cinta nafsu semata, menjadi cinta murni karna Allah.Barulah setelah itu, ia bisa hidup bersama dengan Nabi Yusuf setelah tiga puluh tahun lamanya.
Demikian di kisahkan dari beberapa sumber.
Wallahu A' lam.(Allah yang lebih mengetahui kebenaranNya).
Maka bila mengingat cerita di atas, tak seharusnya ia mengeluh.Kalaupun toch Abanya memintanya untuk
menunggu satu atau dua tahun lagi, tetaplah tidak sebanding dengan apa yang para Nabi itu alami.
Benar.Dirinya hanya seorang pemuda biasa, bukan Nabi.yang tak akan bisa se-sabar dan seteguh mereka yang tlah di bekali kemuliaan yang tinggi.Namun dalam kisah- kisah para Nabi itu, ada uswah atau teladan yang perlu di pelajari dan di contoh.
Lalu apa,maksud dari Kyai Umar Fanani, yang meminta putranya itu untuk menunggu, beberapa waktu lagi??.
nangiss bombay malam2 😭😭