Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Zara
“Tidur di sini saja,” kata Budi pada Reza dan Yola. “Kebetulan, kamar ada yang kosong,” lanjutnya.
“Ah, terima kasih. Kami mau langsung pulang saja ke Jakarta,” tolak Reza.
“Ini sudah malam. Apa tidak apa-apa?” tanya Budi lagi.
“Gak apa-apa. Kami bawa sopir,” kata Reza.
“Oh … begitu. Ya sudah hati-hati kalo begitu,” ujarnya.
“Iya … Pak. Nanti kita bersilaturahmi lagi, kita bahas acara resepsi mereka (Reynan dan Zara) di Jakarta,” kata Reza.
“Boleh … boleh … saya tunggu,” balas Budi.
Reza menganggukan kepalanya seraya tersenyum.
Mereka pun pamit, lalu pergi meninggalkan rumah Budi.
Mereka berjalan ke rumah Reynan, karena mobil terparkir di sana.
“Beneran gak mau nginep Pah, Ma?” tanya Reynan.
“Besok Papa ada meeting. Jadi lebih baik pulang,” kata Reza.
“Ya sudah kalo begitu,” balas Reynan.
“Semoga sukses besok,” ujar Reza.
“Papa gak mau lihat live besok?” guraunya.
“Ah ngapain. Lebih baik Papa kerja, dari pada liat live orang-orang serakah,” jawabnya.
Reynan terkekeh kecil. “Ya sudah hati-hati. Nanti kemalaman di jalan,” ucapnya seraya menepuk pundak sopir.
“Mari, Mas.” sopir pamit pada Reynan.
Reynan menganggukan kepalanya.
Kedua orang tuanya pun masuk ke dalam mobil, setelah Reynan dan Zara mencium punggung tangannya.
Reynan masih berdiri di sana dengan kedua tangannya yang masuk ke dalam saku celanaya. Begitu juga dengan Zara, yang berdiri di samping Reynan.
“Ayo masuk,” ajak Reynan pada Zara.
Kini keduanya masuk ke dalam rumah. Keduanya bergantian masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Zara sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sedangkan Reynan, masih duduk di sofa dengan mata fokus ke layar laptopnya.
Seketika Zara teringat dengan penuturan sang mertuanya tadi. Jika Reynan lelaki yang tidak pernah dekat dengan perempuan. Sampai dikira menyimpang.
Sekarang Zara berpikir, apa lelaki di depannya ini benar-benar menyimpang? Contohnya, menikah hampir seminggu, lelaki itu cukup anteng.
Apa menikahinya, hanya untuk menutupi aib?!
“Apa gue coba aja?” batin Zara.
“Haih … apa sih gue,” lanjutnya.
“Tapi penasaran, apa dia memang menyimpang? Gak doyan cewek, gitu?”
“Apa gue goda aja?”
“Ah … kayak cewek murahan dong gue. Nggak … nggak, ya.”
“Terus gimana? Gue benar-benar penasaran.” Zara membatin seraya menggigit kuku-kukunya.
“Apa gue coba, gue pake baju kurang bahan gitu, ya? Kita lihat, reaksinya gimana.”
“Kalo gue diterkam gimana? Gue belum siap anu.”
“Kalo dia menyimpang, gak bakalan anu ‘kan?”
“Tapi kalo dia gak menyimpang, dia normal, habislah gue …” Zara mengacak-acak rambutnya.
“Tapi gue pengen tau. Dia menyimpang atau nggak-nya.”
“Arrrggghh …”
“Kenapa kamu?” tanya Reynan.
“Eh, a-anu nggak.”
Reynan pun kembali menatap layar laptop, dengan jari-jemari tangan menari lincah diatas keyboard.
“Nah ‘kan? Dia kayak gak ada keinginan untuk anu,” batinnya lagi.
“Apa memang benar, dia nikah cuma mau menutupi ketidak normalnya?!”
“Ish … ish …”
Karena terus saja berperang dengan hati dan pikirannya, Zara pun pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Siapa tau dengan begitu, otaknya kembali normal lagi.
***
“Cie … ketemu mantan,” goda Yola pada Reza.
“Apa sih, Ma …” Reza bicara seraya membuka baju kemejanya.
“Seneng gak Pah, ketemu mantan lagi. Setelah berpuluh-puluh tahun gak ketemu?” tanya Yola.
“Biasa saja sih,” jawab Reza.
“Ah, masa …” Yola kembali menggoda.
“Cukup ya, Ma. Itu cuma mantan dan Mama tau, Papa cintanya sama Mama seorang.” Reza bicara seraya mencolek dagu Yola.
“Ah, masa …”
“Iya, Mama. Buktinya, sampai punya anak tiga,” ujar Reza, seraya mengecup dahi Yola.
“Kita bikin adek buat Salsa,” lanjut Reza, seraya membawa Yola ke atas ranjang.
***
“Aku liat, tadi kamu terus liatin si Zara,” ucap Zara.
Danish diam.
“Kamu masih cinta?” tanya Lea lagi.
Danish masih dengan diamnya.
“Benar, kamu masih cinta dia?” kali ini suaranya naik satu oktaf.
“Apa sih, Lea … ini udah malam, aku capek.”
“Jawab dulu, kamu masih mencintainya?”
“Sebenarnya ini tidak perlu di bahas. Ingat, ini malam pertama kita, Lea. Masa malam pertama diisi dengan pertengkaran,” ujar Danish.
Seketika, Lea pun diam. Iya, dirinya baru ingat jika malam ini adalah malam pertamanya.
Terlalu cemburu pada Zara, sampai ia melupakan hal sebesar ini.
Lea beringsut mendekat pada Danish. Tangannya ia lingkarkan pada pada tangan Danish, bibir bawahnya ia gigit pelan.
“Em- apa k-kamu …” Lea menjeda ucapannya.
“Aku, capek. Kapan-kapan saja, ya. Lagian kita udah sering juga ‘kan?” tolak Danish. Seraya menyingkirkan tangan Zara dari tangannya dengan pelan.
“Kok gitu? Tadi katanya ini malam pertama kita. Tapi kamu gak mau nyen—”
“Bukan gitu … aku capek, Lea. Nanti gak bisa maksimal gimana?” tanya Danish.
“Lagian, kamu sedang hamil muda. Ingat itu,” lanjutnya.
Lea memanyunkan bibirnya. Raut wajah yang semula terlihat kesal, kini terlihat sudah biasa lagi.
“Kalo lagi hamil muda itu, rawan ya?” tanyanya.
“Iya, rawan. Kasian anak kita,” ucap Danis seraya mengusap perut Lea yang masih datar.
“Malam pertamanya, kita tidur, kita istirahat. Ayo, aku peluk kamu.”
Lekas Lea pun merebahkan tubuhnya, begitu juga dengan Danish.
Lea tersenyum senang. Sedangkan Danish, nampak sekali kebingungan di wajahnya.