**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat dari Lemari Kayu
"Keponakan Lalu Mustiadi."
Aina menurunkan ponsel dari telinganya perlahan. Kamar itu sunyi. Hanya terdengar napas teratur Fajar dan Mentari di ayunan kain.
Perempuan bertubuh mungil itu berjalan pelan ke kamar tamu dan mengetuk pintunya. Sekar membuka pintu dengan mata mengantuk.
"Sekar, maaf membangunkanmu. Aku harus menanyakan sesuatu." Aina menarik napas. "Kamu punya sepupu bernama Lalu Arman?"
Perempuan berwajah teduh itu terdiam. Kantuk di wajahnya langsung hilang.
"Kak Arman?" ulangnya pelan. "Anak bibiku, adik perempuan Ayah. Kami jarang bertemu sejak kecil karena bibiku tinggal di Mataram." Sekar memegang kusen pintu. "Ya Allah. Jadi lelaki yang selalu datang malam-malam ke rumah Ayah itu Kak Arman? Aku tidak mengenalinya. Terakhir kali bertemu, aku masih SD."
Aina menceritakan semua yang didengarnya dari Raka. Sekar mendengarkan dengan wajah semakin pucat.
"Ayah sudah dipenjara karena memalsukan dokumen," bisik Sekar. "Sekarang sepupuku melakukan hal yang sama. Mengambil tanah yang sama. Dari orang yang sama."
"Bukan orang yang sama," jawab Aina pelan. "Kali ini Lalu Arman juga menipu Mbak Laila."
Sekar menunduk lama. Lalu perempuan berwajah teduh itu mengangkat wajahnya dengan sorot mata tegas.
"Besok aku akan menemui Ayah di rumah tahanan."
Dua hari kemudian, Raka dan Hamdan kembali dari Sumbawa. Mereka tidak datang hanya bersama Baiq Laila.
Dari jok belakang mobil, Raka membantu seorang perempuan bertubuh ringkih turun dan duduk di kursi roda. Kulitnya sawo matang dan pucat. Pipinya cekung. Namun, matanya cokelat terang, sama seperti mata putrinya.
"Ibu Nurmala bersikeras ikut," kata Raka kepada Aina. "Katanya, kesaksiannya harus disampaikan langsung di pengadilan."
Perempuan bertubuh ringkih itu tersenyum lemah kepada Aina. "Saya sudah terlalu lama diam, Nak. Diam saya membuat anak saya hampir menjadi alat orang jahat."
Di pangkuan Ibu Nurmala ada sebuah map cokelat yang sudah lusuh. Di dalamnya tersimpan salinan surat wasiat kedua Lalu Wiradana. Salinan yang dulu diberikan notaris H. Lalu Bahri langsung kepadanya. Di baris yang menyebut letak tanah, tertulis dengan jelas: sebidang kebun kelapa di Desa Labuhan, Kabupaten Sumbawa.
Huruf-huruf di baris itu tidak lebih tebal. Jaraknya rata. Sama persis dengan baris-baris lainnya.
Aina menyentuh kertas itu dengan hati-hati. Perempuan bermata sayu itu menatap Ibu Nurmala. Seorang perempuan lain yang pernah menunggu Lalu Wiradana datang dan pergi. Seorang perempuan lain yang hidup di balik bayangan.
"Terima kasih sudah datang, Bu," ucap Aina pelan.
Sidang pertama gugatan Lalu Arman digelar di Pengadilan Negeri Praya dua minggu kemudian.
Ruang sidang itu lebih besar daripada ruang sidang pengadilan agama yang dulu Aina datangi. Bangku-bangku kayu panjang berjajar di depan meja hakim. Di sisi kiri duduk Lalu Arman dengan setumpuk berkas. Di sisi kanan duduk Hamdan bersama seorang advokat perempuan dari lembaga bantuan hukum tempatnya bekerja, Ibu Rahmawati.
Ibu Sumi duduk di bangku paling depan, di samping Raka. Perempuan berambut putih itu mengenakan kebaya putih pemberian Lale Rukmini. Tangannya terus meremas ujung selendang. Aina duduk di belakangnya bersama Sekar dan Lale Rukmini. Fajar dan Mentari dititipkan kepada ibu Aina di rumah.
Baiq Laila duduk di bangku tengah, terpisah dari kedua pihak. Ibu Nurmala duduk di kursi roda di sampingnya.
Sidang dibuka. Lalu Arman membacakan gugatannya dengan suara lantang dan meyakinkan. Lelaki berjas hitam itu menyerahkan salinan surat wasiat yang menyebut tanah Tanak Awu, beserta surat kuasa yang ditandatangani atas nama Baiq Laila.
Ketika giliran pihak tergugat tiba, Ibu Rahmawati berdiri.
"Yang Mulia, kami keberatan dengan keabsahan surat kuasa tersebut. Pemberi kuasa, Saudari Baiq Laila, hadir di ruang sidang ini. Kami mohon Yang Mulia menanyakannya langsung."
Hakim ketua, seorang lelaki paruh baya berwajah tenang, menoleh ke bangku tengah. "Saudari Baiq Laila, silakan maju."
Perempuan berkerudung hitam itu berdiri. Lututnya gemetar, tetapi langkahnya mantap. Lalu Arman menatapnya tajam dari meja penggugat.
"Apakah Saudari menandatangani surat kuasa ini?" tanya hakim sambil memperlihatkan dokumen itu.
Baiq Laila menatap surat itu, lalu menatap Lalu Arman. Kemudian perempuan muda itu menatap hakim.
"Tidak, Yang Mulia. Saya tidak pernah menandatangani surat kuasa untuk mengambil arsip notaris. Saya juga mencabut kuasa saya kepada Saudara Lalu Arman sejak hari ini."
Ruang sidang menjadi riuh. Lalu Arman berdiri dari kursinya. "Yang Mulia, klien saya sedang dipengaruhi pihak tergugat!"
Hakim mengetukkan palu. "Tenang."
Ibu Rahmawati lalu menyerahkan salinan surat wasiat milik Ibu Nurmala. Advokat perempuan itu juga mengajukan Bidan Rohani sebagai saksi dan meminta pemeriksaan forensik atas surat wasiat yang diajukan penggugat.
Setelah bermusyawarah sebentar dengan dua hakim anggota, hakim ketua mengumumkan keputusannya. Kedua surat wasiat akan diperiksa oleh ahli forensik. Sidang ditunda tiga minggu.
Aina keluar dari ruang sidang dengan perasaan lega. Langkah pertama sudah mereka menangkan.
Di tangga pengadilan, Ibu Sumi berjalan pelan sambil berpegangan pada lengan Raka. Perempuan berambut putih itu tampak sangat lelah. Wajahnya pucat, dan keringat dingin membasahi pelipisnya meskipun udara di luar tidak terlalu panas.
"Ibu baik-baik saja?" tanya Raka cemas.
"Tidak apa-apa, Bayu. Ibu hanya…" Perempuan bungkuk itu berhenti di tengah kalimat. Tangannya mencengkeram dada.
"Ibu?"
Lutut Ibu Sumi tiba-tiba lemas. Tubuh rentanya terhuyung ke depan.
Raka menangkap tubuh ibunya sebelum jatuh menghantam anak tangga. Aina berlari menuruni tangga. Sekar berteriak memanggil petugas pengadilan.
Di pelukan Raka, mata Ibu Sumi perlahan tertutup.