NovelToon NovelToon
Happy Ending ?

Happy Ending ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: Ar's

​"Briar" adalah seorang wanita muda berusia 20-an yang tengah berjuang menata kembali hidupnya. Terluka oleh trauma masa kecil dan kehilangan berbagai hal berharga, ia harus bertahan di dunia seorang diri.

​Kesederhanaan, kepolosan, dan paras cantiknya tanpa sengaja mempertemukannya dengan Adrian, tetangga baru yang juga seorang CEO muda penuh kesempurnaan.

Tanpa ragu, Adrian masuk ke dalam hidup Briar, dan dalam waktu singkat, hubungan mereka berlabuh dalam ikatan pernikahan. Untuk pertama kalinya, Briar merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

​Namun, di balik hangatnya sikap sang suami, pertanyaan-pertanyaan kelam mulai menghantui:

​Mengapa pria sesempurna Adrian begitu terburu-buru menikahinya?

​Rahasia gelap apa yang disimpan Adrian rapat-rapat?

​Ketika takdir mulai mempermainkan segalanya, sanggupkah cinta mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ar's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Andy teman baruku

"Hai...?" sapa Andy yang sudah muncul pagi-pagi sekali.

​"Hmm? Andy, kamu sudah di sini?" tanyaku heran sekaligus penasaran.

​"Iya, aku baru saja mengantarkan sarapan untuk seseorang," ucapnya santai.

​"Seseorang? Siapa? Dia sakit apa?" tanyaku ingin tahu.

​"Hehehe... Ada lah. Yang jelas bukan pasanganku, jadi kamu tenang saja," goda Andy sambil terkekeh.

​"Jadi, kamu tidak pergi bekerja hari ini?" tanyaku saat melihat Andy tampak nyaman duduk di sebelahku.

​"Kerja? Kamu lupa hari, ya? Hari ini itu Sabtu, jadi aku libur," jawabnya seraya tertawa kecil.

​"Oh... iya, ya." Aku ikut tersenyum malu.

​"Hmm... jadi, kapan kamu boleh pulang?" tanya Andy kemudian.

​"Sepertinya sebentar lagi. Kata dokter aku sudah boleh pulang, asal banyak beristirahat," jawabku.

​"Baguslah. Kalau sudah di rumah nanti, apa ada yang mengurusmu?" tanyanya lagi.

​Aku hanya membalasnya dengan gelengan kepala.

​"Lalu... kalau boleh tahu, di mana suamimu?" bisiknya hati-hati.

​"Suamiku... sudah pergi sebelum dia tahu aku mengandung," jawabku lirih.

​"Oh... tapi kamu sudah memberitahunya, kan?" tanya Andy pelan.

​"Tidak... Aku bahkan tidak punya kesempatan lagi untuk bicara dengannya," balasku dengan wajah sendu, menatap kosong ke depan.

​"Sudah, tidak usah dibahas lagi. Sekarang lebih baik kamu bersiap-siap untuk pulang. Aku yang akan mengantarmu," ucap Andy cepat, mengalihkan pembicaraan agar aku tidak semakin larut dalam kesedihan.

-

​"Di sini rumahnya..." ucapku pada Andy saat mobilnya berhenti tepat di depan pagar.

​"Jadi, kamu tinggal di sini?" tanya Andy menatap bangunan di depannya.

​"Iya... Ayo masuk," ajakku. Andy mendampingiku seraya membawakan tas bahuku.

​"Silakan duduk dulu," kataku sambil berjalan pelan menuju kamar untuk menaruh tas.

​"Rumah sebesar ini kamu tempati sendirian?" tanya Andy heran saat melihat sekeliling ruang tamu.

​"Iya... Awalnya bersama suamiku. Tapi karena kami berpisah, akhirnya aku tinggal sendiri."

​"Begitu... Tapi sebaiknya kamu tidak tidur di lantai atas, ya. Bahaya kalau kamu sampai terjatuh dan tidak ada orang yang tahu," tutur Andy menunjukkan rasa khawatirnya.

​"Iya, kamu benar, Andy," balasku mengangguk setuju.

​"Oh iya... sudah berapa bulan usia kandunganmu?" tanyanya lagi.

​"Sudah masuk empat bulan."

​"Lalu, bagaimana caramu memenuhi kebutuhan sehari-hari? Apalagi sekarang kamu harus banyak istirahat."

​"Kamu lihat mesin itu?" tunjukku ke sudut ruangan. "Aku menjahit pakaian untuk mencari nafkah."

​"Pasti berat sekali..." gumam Andy sambil menatap mesin jahit itu dengan tatapan iba.

​Tiba-tiba, dadaku terasa sesak. Air mataku menetes begitu saja tanpa bisa ditahan. Mungkin karena hormon kehamilanku yang sedang tidak stabil, atau mungkin karena aku memang sudah sangat lelah menanggung semuanya sendirian.

​"Hei... tak apa..." Dengan lembut, Andy menarikku pelan dan merengkuh kepalaku ke bahunya. Dia membiarkanku menangis sepuasnya di sana hingga aku merasa tenang.

​Setelah keadaanku membaik, Andy mengajakku keluar untuk membeli bahan makanan sebagai persediaan di kulkas. Semua belanjaan itu murni dibayar menggunakan uang Andy. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menolaknya dan memakai uangku sendiri, tetapi dia bersikeras membayarkannya.

​"Andy, aku benar-benar merasa tidak enak padamu..." ucapku saat kami sampai kembali di rumah.

​"Kalau begitu, ajak aku makan di rumahmu kapan-kapan," balasnya tersenyum manis saat berpamitan.

​"Baiklah..." balasku ikut tersenyum sambil melambaikan tangan.

​Andy benar-benar pria yang baik. Bahkan tadi dia sempat membantuku merapikan semua belanjaan ke kulkas sebelum pergi. Bukan hanya baik, tapi wajahnya pun juga cukup tampan.

​Tiba-tiba, ponselku berdering. Nama Mbak Dwi tertera di layarnya.

​"Halo, Mbak?"

​"Kamu ke mana saja? Semalam Mbak sama Mas Adam ke rumahmu, tapi rumahmu gelap gulita," tanya Mbak Dwi dari seberang telepon dengan nada cemas.

​"Mmm... aku baru saja pulang dari rumah sakit, Mbak. Kemarin sempat dirawat..."

​"Loh, kok tidak ngabarin?! Kenapa bisa sampai dirawat?" kejar Mbak Dwi panik.

​"Aku hampir tertabrak mobil waktu jalan mau cek kandungan, Mbak. Tapi tenang saja, aku selamat. Cuma mengalami sedikit pendarahan, tapi kata dokter bayiku aman kok," jelasku cepat agar Mbak Dwi tidak terlalu cemas.

​"Ya ampun... Ya sudah, nanti Mbak ke rumahmu, ya."

​"Iya, Mbak..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!